Chapter 80
"Selamat bertemu kembali, Ki Rangga Kidang Telangkas," sapa Gajahmada ketika mereka telah berada di sebuah barak besar di tengah hutan Rumpin.
Orang yang dipanggil Ki Rangga Kidang Telangkas itu terkejut mendengar sapaan Gajahmada.
"Ternyata Baginda Raja Ragasuci telah mengirim Tuan berdua berjuang bersama pasukanku. Sebuah kebanggaan hati bisa bersama Tuan-tuan," ujar Ki Rangga Kidang Telangkas menyambut kedatangan mereka.
"Terima kasih karena masih mengenal kami," balas Gajahmada kepada pemimpin pasukan itu.
Beberapa prajurit terlihat saling berpandangan. Mereka tidak menyangka bahwa pemimpin mereka mengenal kedua orang yang mereka bawa, bahkan bersikap sangat hormat.
"Maaf, Ki Rangga, kami datang bukan sebagai utusan Baginda Raja Ragasuci. Namun, kami datang sebagai utusan langsung Baginda Raja Rakata," kata Gajahmada sambil tersenyum.
"Aku tidak mengerti," sahut Ki Rangga Kidang Telangkas dengan wajah penuh kebingungan.
Perlahan, Gajahmada menjelaskan maksud kedatangannya di hutan Rumpin.
"Raja Pulau Api sampai saat ini masih mengakui kedaulatan dan kekuasaan Kerajaan Kawali. Pemberontakan Pangeran Rhawidu bukan menjadi tanggung jawabnya karena beliau sendiri tidak merestuinya. Percayalah kepadaku, kedatangan Ki Rangga bersama pasukan besar ini akan disambut dengan perjamuan kehormatan agung, bukan dengan pedang dan lembing. Itulah tanda bahwa Raja Pulau Api masih setia menjunjung tinggi kedaulatan Kerajaan Tanah Pasundan Raya," ujar Gajahmada meyakinkan Ki Rangga Kidang Telangkas.
"Aku kagum dengan Tuan berdua, masih muda dan memiliki kemampuan tinggi. Aku melihat sendiri bagaimana Tuan berdua memenangkan peperangan kami di hutan timur Kotaraja Kawali. Dan aku semakin mengagumi Tuan berdua yang dengan kerendahan hati mendatangi kami sebagai juru damai, mencegah peperangan yang menyakitkan. Bila saja Tuan berdua berada di pihak musuh, pasukan kami tidak akan berarti menghadapi Tuan berdua. Namun, pilihan Tuan berdua untuk tidak menggunakan kekerasan membuat diriku, yang sudah banyak merasakan kepedihan peperangan, merasa malu. Tuan berdua telah membukakan mata hatiku bahwa peperangan bukan jalan terakhir untuk menyelesaikan sebuah masalah," kata Ki Rangga Kidang Telangkas dengan penuh rasa hormat.
"Terima kasih, Ki Rangga, karena telah mengerti dan menangkap arti kedatangan kami di hutan Rumpin ini," jawab Gajahmada.
"Aku tidak sabar untuk segera mendatangi Kotaraja Rakata. Aku ingin melihat pasukanku menari dalam perjamuan besar, bukan mengerang menahan perih di ujung pedang dan lembing," ujar Ki Rangga Kidang Telangkas sambil tersenyum. "Besok kita berangkat. Malam ini kita akan berpesta menghabiskan ransum, karena perang tidak akan lagi kita temui di Kotaraja Rakata."
Demikianlah, Gajahmada berhasil meyakinkan pemimpin pasukan dari Tanah Pasundan itu bahwa tidak akan terjadi perlawanan apa pun dari Raja Pulau Api. Setelah bermalam di hutan Rumpin, Gajahmada, Pangeran Jayanagara, dan Lurah Jatayu keesokan harinya kembali ke Kotaraja Rakata bersama pasukan besar dari Tanah Pasundan.
Ketika pasukan itu tiba di Kotaraja Rakata, Raja Pulau Api menyambut mereka dengan sebuah perjamuan besar, sebuah perjamuan persahabatan dari seorang Raja yang mengakui kedaulatan Kerajaan Tanah Pasundan Raya.
"Putraku, kembali kamu telah menyelamatkan kerajaan ini dari peperangan besar, peperangan yang hanya meninggalkan kesedihan dan dukacita panjang," ucap Pendeta Darmaraya kepada putranya, Gajahmada, dengan penuh kegembiraan.
Sebagaimana Pendeta Darmaraya, Raja Pulau Api juga merasa gembira bahwa Gajahmada telah berhasil menyelamatkan kerajaannya dari peperangan.
"Apa artinya sebuah upeti dan kedaulatan bila kita harus mengorbankan begitu banyak nyawa, duka, dan air mata?" tanya Raja Pulau Api kepada Gajahmada.
Ki Rangga Kidang Telangkas bersama pasukannya pun diterima di Kotaraja Rakata dengan penuh kehormatan, sebagaimana menerima Raja Kawali, penguasa yang berdaulat di Tanah Pasundan pada saat itu.
"Sampaikan salam kami kepada keluarga istana Kawali. Kami akan segera mengunjungi mereka dalam waktu dekat," kata Gajahmada saat mengantar Ki Rangga Kidang Telangkas bersama pasukannya setelah sekitar sepekan mereka bermalam di Kotaraja Rakata.
"Salam Tuan akan aku sampaikan," jawab Ki Rangga Kidang Telangkas.
Raja Pulau Api, Pangeran Jayanagara, Gajahmada, dan ayahnya, Pendeta Darmaraya, mengantar pasukan besar dari Tanah Pasundan hingga batas gerbang kota.
"Alangkah indahnya bila sebuah perdamaian selalu menaungi bumi ini," ucap Pendeta Darmaraya sambil menatap barisan panjang pasukan Pasundan yang bergerak menuju arah pantai di sebelah timur gugusan perbukitan Rakata.
"Sayangnya, setiap hari terlahir manusia-manusia baru yang belum pernah merasakan kegetiran peperangan, kesedihan seorang anak, kepiluan seorang istri, juga rintih rindu membiru para kekasih hati yang ditinggal mati ayah, suami, dan kekasihnya dalam amuk peperangan," sahut Raja Pulau Api sambil terus memandang barisan pasukan Pasundan yang kian menjauh.
Sementara itu, matahari di atas gerbang batas kota sudah mulai naik sepenggalan. Terlihat dua ekor elang muda mengepakkan sayapnya menuju arah pantai.
"Mari kita kembali ke istana," ajak Raja Pulau Api.
Dua ekor elang muda di atas langit terlihat sudah terbang jauh, hingga ke ujung batas pandang mata. Namun, ketika mereka berempat hendak beranjak kembali ke istana, naluri seorang ayah dalam diri Raja Pulau Api memintanya berpaling ke belakang. Raja Pulau Api melihat seseorang berbaju compang-camping mendekati gerbang batas kota. Gajahmada, Pangeran Jayanagara, dan Pendeta Darmaraya terheran-heran melihat Raja Pulau Api berhenti melangkah.
Mata Raja Pulau Api menatap tajam orang berpakaian compang-camping itu yang terus berjalan mendekat.
"Pangeran Rhawidu," kata Gajahmada, mengenali lelaki yang sedang berjalan mendekati Raja Pulau Api itu.
"Ampuni anakmu yang durhaka ini, wahai Ayahanda," ucap lelaki berbaju compang-camping itu sambil bersimpuh di kaki Raja Pulau Api. Ternyata dia adalah Pangeran Rhawidu.
"Bangkitlah, pintu maafku seluas hamparan bumi ini, wahai putraku," jawab Raja Pulau Api.
"Dosa putramu sudah begitu besar," kata Pangeran Rhawidu sambil bangkit tanpa berani menatap wajah ayahnya.
"Tataplah Gunung Rakata itu, asapnya masih selalu terbang ke udara. Jangan sekali-kali membuat gunung itu marah karena seisi bumi ini akan menanggung derita, sementara kita hidup di atas tanahnya. Setiap manusia pasti pernah menempuh jalan tersesat, namun Gusti Yang Maha Agung telah memberikan akal kebenaran untuk dapat kembali mencari arah jalan pulang," tutur Raja Pulau Api penuh kasih sayang.
"Mari kita kembali ke istana, wahai adikku," ajak Pendeta Darmaraya kepada Pangeran Rhawidu.
Pangeran Rhawidu memandang Pendeta Darmaraya yang tersenyum kepadanya.
"Jangan heran, dia ini memang kakak kandungmu," ujar Raja Pulau Api sambil menceritakan sekilas mengenai jati diri Pendeta Darmaraya, tentang kejahatan Pendeta Rakanata yang telah menukar bayinya dahulu.
"Jadi, sebenarnya aku mempunyai seorang kakak laki-laki," kata Pangeran Rhawidu sambil menyalami Pendeta Darmaraya dengan kehangatan seorang adik kepada kakaknya.
"Kamu juga telah mempunyai seorang kemenakan," kata Raja Pulau Api sambil memperkenalkan Gajahmada kepada Pangeran Rhawidu.
"Kita pernah bertemu," sahut Pangeran Rhawidu yang masih mengenali Gajahmada saat mereka berada di dua kubu pasukan yang berseberangan di hutan sebelah timur Kotaraja Kawali.
"Kemenakanmu siap melanjutkan pertempuran kita yang belum selesai itu," kata Gajahmada sambil tersenyum kepada Pangeran Rhawidu.
Sejuk semilir angin bertiup lembut mengiringi langkah mereka dalam perjalanan pulang menuju istana Rakata. Wajah Pangeran Rhawidu tampak cerah menatap sekumpulan awan putih yang bergerak menutupi panas matahari. Ia merasa gembira telah diterima kembali oleh ayahnya untuk berkumpul bersama keluarga istana.
"Lihatlah, kerbau dan burung jalak itu dipertemukan dalam sebuah persahabatan alam," ujar Raja Pulau Api sambil menunjuk ke arah persawahan di sisi jalan, di mana terlihat tiga ekor burung jalak berdiri di atas punggung seekor kerbau yang sedang merumput. "Harusnya kita sebagai manusia menjadi malu bila sesama manusia masih saling bertikai dan menghancurkan satu dengan lainnya."
Pangeran Rhawidu berjalan sambil menunduk, merasakan ungkapan Raja Pulau Api sebagai kebenaran hidup untuk dirinya.
"Setiap manusia terlahir sebagai raja atas dirinya sendiri, dan Gusti Yang Maha Tunggal telah menitipkan alam ini kepada manusia untuk dijaga. Sebuah tugas yang tidak berani dipikul oleh gunung, laut, bahkan langit sekalipun. Berbanggalah kita sebagai manusia telah menerima amanat ini," kata Raja Pulau Api saat berjalan.
Pangeran Rhawidu masih terus menunduk, merenungi makna perkataan ayahandanya. Demikianlah mereka beriringan melangkah menuju istana Rakata yang sudah tidak jauh lagi. Akhirnya, mereka sampai di depan pintu gerbang istana Rakata.