Chapter 01
Matahari bersinar di ufuk barat, pertanda senja telah mendatang. Cahayanya yang keemasan menembus dan menimpa daun-daun di hutan itu, menimbulkan pemandangan yang sangat indah. Batang pohon dan dedaunan bagaikan disaput sinar keemasan. Ada cahaya menembus rimbunnya dedaunan, bagaikan tangga emas menuju ke atas.
Hutan itu sungguh indah, suara satwa pulang ke sarang memenuhi pohon-pohon. Bercoetan saling sapa di antara teman. Suara nyaring burung bercicit, menceritakan pengalamannya di siang hari. Keindahan yang menentramkan hati.
Keindahan itu agaknya terganggu oleh datangnya seekor kuda yang dilarikan kencang. Menembus jalan setapak di tengah hutan itu, membuat burung-burung yang sedang bercengkerama kaget, terbang sambil mengeluarkan bunyi kepak sayapnya yang membelah udara.
Kuda itu membedal cepat, penunggangnya seorang gadis cantik. Tampak gagang pedang menyembul di belakang punggung. Agaknya seorang pendekar wanita yang sedang melakukan perjalanan.
Ketika kuda itu melewati sebuah pohon yang tinggi, rimbun oleh daun yang memenuhi cabangnya, tiba-tiba tampak sinar putih membelah udara, melesat ke arah si penunggang kuda. Tiga sinar belati menuju ke dada dan kepala, dengan kecepatan kilat.
"Haaiiittt!" Sambil mengeluarkan teriakan nyaring, perempuan itu melenting ke atas. Meloncat menghindar dari sambaran belati yang melesat bagaikan kilat. Ketiga belati yang tidak mengenai sasaran itu lewat dengan cepatnya di bawah kakinya, meninggalkan desir angin dingin.
Tubuh perempuan itu melayang turun, dengan ringannya kakinya menapak ke tanah tanpa menimbulkan suara sedikitpun, menandakan ilmu meringankan tubuhnya sudah lumayan. Baru saja kedua kakinya menginjak tanah, kembali lima belati meluncur cepat ke arah tubuh dan kakinya.
Dua belati mengarah kedua pahanya, dan dua belati lagi mengarah pada perut dan dadanya, sedangkan yang terakhir tepat mengarah ke wajah perempuan itu. Saking cepatnya gerak tangan kanannya dalam mencabut pedang, tahu-tahu tangannya telah menghunus sebatang pedang.
Memutarnya di depan tubuh, bagaikan sebuah baling-baling cepatnya putaran pedang itu. Melindungi tubuh dari ancaman senjata yang meluncur ke arah tubuh dengan kecepatan bagai kilat.
"Tingggtinggg!" Empat belati yang meluncur tertangkis oleh pedang itu. Sedangkan belati yang mengarah kaki sengaja ditendang kembali menuju dari mana senjata-senjata itu tadi berasal.
Belati itu meluncur cepat sekali menuju ke gerumbulan semak di mukanya. Namun, ketika belati itu menerobos semak, hilang begitu saja tanpa mengenai sesuatu.
Kenangasari, demikian nama gadis itu, mengerutkan alisnya, dia memandang ke semak-semak di mana tadi belati itu melesat dan menanti apa yang akan terjadi.
"Bangsat curang! Hayo keluar, jangan hanya berani menyerang secara pengecut! Tunjukkan batang hidungmu!" bentak Kenangasari.
Kedua matanya mengawasi semak-semak di dekat pohon besar. Pohon yang rimbun oleh daun sehingga sukar untuk melihat. "Hayo, keluar! Hadapilah Kenangasari kalau kau memang bukan pengecut!" Hening! Teriakan Kenangasari tidak mendapat sambutan.
Hanya suara cicit burung di dahan terdengar dengan jelas. Orang yang menyerang tetap tidak menampakkan diri. Kenangasari tetap waspada, seluruh perhatiannya ia siagakan, siap untuk menanggulangi apabila ada serangan mendadak.
Pedang diangkat depan dada, mata ditebarkan ke sekeliling untuk mengawasi dan telinganya bergerak-gerak halus. Mendengarkan gerakan yang tidak wajar. Urat di sekujur tubuh menegang, dipenuhi dengan tenaga dalam yang mengalir membentengi diri.
Pedang di tangannya bergetar, penuh disaluri tenaga dalam. "Haha?" Kenangasari, bocah ayu, aku berada di sini. Ha-ha-ha!" Suara tawa mengumandang memenuhi hutan.
Burung-burung menjadi kaget dan terbang pergi sambil me-ngepakkan sayapnya. Suara itu seakan-akan datang dari segala penjuru. Sukar untuk menentukan dengan tepat di mana orang yang mengeluarkan suara itu.
Bagaikan suara iblis saja karena orangnya tidak nampak. "Iblis!" Tunjukkan dirimu kalau engkau memang manusia jantan. Bukan hanya berani menyerang secara pengecut!" Kembali Kenangasari membentak.
Sedikitpun ia tidak merasa gentar menghadapi orang itu. Kenangasari maklum, mendengar ketawa yang mengandung getaran hebat itu, lawan itu tentulah seorang yang mempunyai tenaga dalam hebat.
Ini terbukti dari suara yang tidak keras dan mengumandang di sekelilingnya, memenuhi tempat itu. Sehingga sukar ditebak di mana orang yang mengeluarkan suara itu bersembunyi.
"Ha-ha-ha!" Aku datang, manis! Belum hilang gemanya dari atas meluncur sesosok bayangan hitam, bagaikan burung besar menyambar turun. Tahu-tahu di depan Kenangasari telah berdiri seorang yang mengenakan topeng.
Kain topengnya menutup dari bawah mata ke bawah. Sepasang mata itu mengeluarkan sorot tajam seakan dapat menembus langsung pada yang dipandangnya. Orang bertopeng itu memandang lekat-lekat tubuh Kenangasari, seakan dengan pandang matanya ia menggerayangi kemontokan tubuh di depannya itu.
Melihat kemuncullan orang bertopeng, tanpa memberi kesempatan lagi Kenangasari membabatkan pedangnya. Berkeredepan pedang itu mengarah leher orang bertopeng dengan kecepatan bagai kilat di kala hujan.
Agaknya Kenangasari bermaksud dengan sekali serang dapat membuat kepala lawannya menggelinding ke bumi. Tetapi apa yang terjadi? Orang bertopeng itu mengeluarkan dengusan pendek.
Melihat kelebatan pedang yang mengarah leher nya, tanpa berpindah tempat dia lalu menekuk kedua lututnya sehingga tubuhnya menjadi pendek. Pedang itu pun lewat di atas kepala dengan meninggalkan desir angin dingin.
Kenangasari lalu memutar pergelangan tangannya dan pedang yang tidak mengenai sasar an itu berubah arah, memhabat ke pinggang lawan. Ketika lawannya meloncat ke atas menghindarkan diri dari babatan pedang, ia susuli dengan pukulan tangan kiri menggunakan Aji Tapak Gunting.
Angin pukulan mengandung hawa panas menerjang dada orang bertopeng di tengah udara. "Sungguh berbahaya! Sayang gerakanmu kurang cepat, bocah ayu! Ha-ha-ha!" Sambil membuat putaran di udara, orang bertopeng itu mengelakkan pukulan Kenangasari yang mengarah dada tanpa mengalami kesukaran sedikitpun juga.
Agaknya tipu silat Kenangasari itu telah dikenalnya dengan baik. Kenangasari lalu keluarkan semua kepandaiannya. Pedangnya berkelebatan menyilaukan mata, mengejar ke mana lawannya itu mengelak dari cecaran pedangnya.
Tubuh kedua orang itu tidak nampak lagi, yang ada hanya bayangan pedang yang berkelebatan dan bayangan hitam berputaran di sekeliling Kenangasari. Ilmu meringankan tubuh orang yang bertopeng itu sungguh hebat.
Hujan serangan pedang Kenangasari dielakkannya dengan mudah seakan tubuh itu hanya sehelai bulu ayam dimainkan angin! "Tingggg!" Tubuh Kenangasari terhuyung ke belakang beberapa langkah.
Ternyata pedangnya telah tersentil oleh jari lawan. Entah bagaimana pedang yang berkelebatan itu dapat disentil. Tenaga yang menyentil pedangnya sungguh luar biasa membuat tangan kanan itu gemetaran.
Kenangasari merasa angin kuat mendorong dari orang bertopeng itu membuatnya terhuyung. "Ha-ha-ha! Kenangasari, coba sambut seranganku ini!" Sambil tertawa ia menyerang Kenangasari.
Tubuhnya berkelebat cepat hanya nampak bayangan menyambar-nyambar tubuh Kenangasari. Kenangasari cepat memainkan pedangnya, memutar pedang di sekeliling tubuh. Menabas bayangan hitam yang mendekati dirinya.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam disalurkan ke ujung pedang membuat pedang itu bergetar-getar mengeluarkan suara berdengung. Akan tetapi orang bertopeng itu sungguh hebat, dengan tertawa-tawa dia mempermainkan lawannya.
"Menyerahlah saja, Kenangasari. Aku cinta padamu, manis! Sudah lama aku menahan rindu ku kepadamu. Ha-ha-ha!" "Bangsat! Iblis! Mampuslah!!" Kenangasari melompat memapaki bayangan hitam itu dengan tetakan pedangnya.
Seleret sinar menabas bayangan hitam. Ujung pedang bergetar menjadi tiga mengarah tiga bagian mematikan di tubuh bayangan hitam itu. Begitu serangan tidak mengenai sasaran, dia bolang-balingkan pedang itu menjadi kelebatan menyilang menabas tangan lawan yang menyelonong masuk ke arah dada.
"Hampir kena... eit, hampir... hampir. Ha-ha-ha!" Orang bertopeng menarik tangannya sambil tertawa. "Kenangasari, kau tidak akan menang melawanku. Percuma saja kau membuang tenaga.
Lebih baik kau menyimpan tenaga untuk melayaniku! Ha-ha-ha!" "Keparat! Hayo tunjukkan kepandaianmu. Jangan mengelak saja, setan! Kalau kau punya kepandaian kalahkan Kenangasari, murid Ki Jenggrik." Tangan kanan diangkat ke atas lalu diturunkan lagi ke bawah bersamaan dengan tangan kiri membuat lingkaran di depan dada.
Dari gerakan ini keluarlah angin di sekitar tubuh Kenangasari. Ketika ia memutar pedangnya keluarlah angin menderu merontokkan daun-daun di sekitar tubuhnya. Sungguh hebat Ilmu Pedang Badai Mengamuk!
Kenangasari bagai mendapat tenaga tambahan dari udara di sekitar dia berdiri. Sayang sekali Kenangasari belum menguasai ilmu itu seluruhnya. Melihat ini orang bertopeng kaget.
Kenangasari agaknya telah menguasai Ilmu Pedang Badai Mengamuk dari Ki Jenggrik. Ilmu pedang langka yang menjagoi di dunia kependekaran. Melihat gerakan yang dimainkan diapun maklum bahwa Kenangasari belum menguasai ilmu itu secara sempurna.
Mungkin hanya tiga empat bagian saja. Hatinya menjadi lega. Dia menekuk kedua kakinya, merendahkan tubuh dan tangan kanan ditaruh depan dada membentuk cakar elang sedangkan tangan kiri menyentuh tanah.
Tubuhnya bergetar, lalu tangan kanannya bergerak naik turun.