Chapter 02
Dari gerakan itu, keluarlah hawa yang melindungi tubuhnya. Sepasang matanya bagaikan bersinar, mengawasi gerak-gerik lawan. Dengan memajukan kaki kirinya, Kenangasari lalu memutar pedangnya, memainkan Ilmu Pedang Badai Mengamuk. Dari putaran pedang itu, keluar angin menderu, berputaran, menerjang orang bertopeng.
Orang bertopeng menggelinding maju, mendekat dengan tangan kiri terbuka, memukul ke depan. Dari tangan kirinya, keluarlah angin dingin, mendorong ke arah pedang, dan tangan kanannya bergerak cepat, melakukan cakaran ke arah kedua paha. "Wutttt! Duukkkk!" Tangan kanan Kenangasari terpental, dan pahanya terancam cakaran jari tangan. Cakaran itu didahului oleh angin dingin, menerpa paha.
Kenangasari melenting ke atas, mengelak dari cakaran itu. Dari atas, pedangnya berputar, membabat tengah tubuh. Angin pedang menderu, menerpa tubuh lawan, dan dedaunan di belakang ikut tersapu, rontok, berhamburan. Lawannya mengelak dan membalas, keduanya lalu terlibat kembali dalam pertempuran yang seru. Tipu dibalas tipu, saling serang, silih berganti. Saling elak dan hindar.
Keduanya mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat tingkat tinggi. Ketika orang bertopeng melihat lowongan di dada Kenangasari, tangan kanannya bagaikan kilat, menyelonong ke depan. Kenangasari, yang sedang mengangkat pedang, tidak sempat untuk menangkis. Sedangkan tangan kiri yang menangkis tendangan itu tidak keburu untuk ditarik mundur. "Bretttt"...! "Aihhhh"...! Suara kain sobek disusul teriakan Kenangasari.
Baju atas Kenangasari terkena cakaran elang. Robekan kain berada di tangan lawan. Tampak kutang merah muda, menonjol ke depan, membungkus sepasang bukit kembar, menimbulkan pemandangan yang aduhai. Sambil meloncat mundur, Kenangasari berusaha menutupi dadanya dengan tangan kirinya. Kulit di atas penutup dada itu nampak halus, membuat mata orang bertopeng melotot lebar.
"Ha-ha-ha"...! "Harum baunya"...! "Sedapppp!" Kenangasari, jangan ditutup bukitmu itu. "Ha-ha-ha"...! Orang bertopeng ini sejak tadi agaknya hanya mempermainkan Kenangasari, bermaksud menguras tenaga Kenangasari, membuatnya lengah, ini terbukti dengan disobeknya kain penutup dada itu. Serangan yang kurang ajar!
Ketika melihat sepasang bukit kembar di balik kain merah itu, sepasang matanya melotot! Tatapan matanya seakan meremas kedua bukit itu. Dengan mengangkat pedang di depan, tangan kiri menutupi sepasang bukit Kenangasari, siap membela diri mati-matian. Lebih baik mati daripada terhina! Demikian tekatnya.
Melihat lawannya maju mendekat, Kenangasari lalu menyongsong dengan babatan pedang ke arah pinggang, dan tangan kiri yang menutup dada dipukulkan ke depan, mengarah dada lawan dengan tenaga penuh. Melihat lawan mengelak mundur, kaki kiri Kenangasari maju, menyerampang, disusul babatan pedang ke arah leher lawan. "Ehh, sabar"...! "Tidak usah ngotot! Heh-heh-heh"...! Sambil menghindar, tangan orang bertopeng menyampok pedang, disusul cakaran tangan kiri mengarah muka.
Gerakannya cepat sekali, membuat Kenangasari gugup, dengan susah payah mengelak dari cakaran itu. Serangan yang luput itu diteruskan dengan cakaran saling susul mengarah tubuh depan. Kenangasari mundur-mundur, pedangnya berusaha membabat tangan di depan itu. Babatan itu tiada yang mengenai sasaran, tidak membawa hasil seperti yang diharapkan! Orang bertopeng menyapukan kakinya, Kenangasari meloncat ke atas, menghindarkan diri.
Lawannya menerjang maju, menggerakkan kedua tangan, dan... "Brett?"!! Robeklah celana Kenangasari. Nampaklah paha yang putih di balik robekan kain itu. Begitu turun, Kenangasari membalik cepat. Tangan kiri berusaha menutupi tempat kain terobek itu. Usahanya ini sia-sia belaka, kain yang terobek terlalu lebar, sehingga tetap saja pahanya yang putih mulus itu terlihat. "Uwahhh?" "Harumnya"...! "Betul-betul denok ayu merak ati, hemmm"...! "Harumnya!" Orang ini tanpa malu-malu, lagi membawa robekan kain celana itu ke mukanya, dan menciuminya di depan Kenangasari.
"Kubunuh kau, bangsat! Lebih baik aku mati daripada tidak dapat menghancurkan lumatkan tubuhmu!" Dengan teriakan lantang, Kenangasari mengamuk dengan pedangnya. Dia sudah tidak memperdulikan lagi penjagaan dirinya lagi. Menyerang kalang-kabut, niat hati membunuh atau terbunuh! Kenangasari telah mata gelap. Merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kehormatannya sebagai pendekar wanita telah dinodai orang bertopeng itu.
Melihat ini, sambil tertawa mengejek, orang bertopeng itu menggunakan kelincahan tubuhnya, mengelak ke sana-sini. Tadipun, ketika Kenangasari menggunakan Ilmu Pedang Badai Mengamuk, dia berlaku agak hati-hati. Ilmu Pedang Badai Mengamuk telah lama malang melintang di dunia persilatan, dan jarang menemui tanding, saking hebatnya. Sayang sekali, tenaga dalam Kenangasari yang belum sempurna itu tidak menunjang. Apabila tenaga dalam yang dimiliki Kenangasari lebih tinggi dua tingkat dari sekarang, agaknya sukar untuk mengalahkannya dengan mudah.
Apalagi kini Kenangasari tidak menggunakan Ilmu Pedang Badai Mengamuk. Mengikuti emosi dan mata gelap. Amarah yang berlebihan itu membuat serangan pedang tidak terarah lagi. Sambil tertawa-tawa mengejek, dia berkelit, dan tangannya dengan Ilmu Cakar Elang menyambarnyambar tubuh Kenangasari. "Brett-breett-breett"...! Terdengar kain robek beberapa kali. Kenangasari hampir telanjang dibuatnya, tubuhnya yang putih mulus menyembul dari lubang kain yang terobek.
Cakaran itu sedikitpun tidak menyentuh kulit. Ilmu Cakar Elang betul-betul hebat sekali! Orang bertopeng itu agaknya tidak ingin mencelakai Kenangasari, hanya ingin mempermainkan saja. "Sungguh elok"...! "Bagus sekali"...! "Hemm"...! "Mulus dan menggairahkan!" Kenangasari berusaha untuk menutupi tempat-tempat rahasia dengan kedua tangannya. Pandang matanya mencorong, bagaikan ada bunga api dalam sepasang matanya. Seakan dengan pandang mata itu, Kenangasari hendak membakar wajah di balik topeng itu.
"Setan! Siapakah kau sebenarnya? Buka topengmu, bangsat!!" "Ha-ha-ha"...? "Sampai matipun engkau tidak akan mengenalku, Kenangasari! Ha-ha-ha"...!!" Melihat kemarahan Kenangasari, orang bertopeng itu malah tertawa-tawa. "Kau ingin tahu siapa diriku, baik! Akulah orang yang membuat heboh di Wonowoso! Ha-ha-hehheh"...!
"Keparat! Kiranya engkaulah Iblis Cabul Elang Hitam, pemerkosa dan pembunuh gadis-gadis itu!" "Ha-ha-ha"...! "Terlambat, Kenangasari! Terlambat kau mengetahui ini semua. Ha-ha-ha"...! "Sekarang cepat letakkan pedangmu! Kalau kau dapat memuaskan hatiku, kau tidak akan kubunuh, ha-ha-ha"...! Aku sayang padamu, bocah ayu!" "Lebih baik mati! Siapa sudi melayani nafsu bejadmu!" "Ha-ha-ha"...!
Kenangasari mengangkat pedangnya di atas kepala. Pedang itu ujungnya bergetar-getar. Semua tenaga disalurkan ke tangan kanan sampai ke ujung pedang. Kenangasari, yang merasa tidak akan dapat meloloskan diri dari nafsu bejad si Iblis Cabul, mengambil keputusan nekat. Lebih baik ia bunuh diri dari pada menjadi barang permainan si Iblis cabul! Dia bermaksud membuat kecewa Iblis Cabul, agar tidak dapat menyalurkan nafsu iblisnya terhadap tubuhnya.
Tangan kanannya bergerak, bukan untuk menyerang lawan, melainkan menusuk perutnya sendiri. Pedang di tangan kanannya meluncur cepat ke perut! "Tranggg"...! "Bukk!" Pedang Kenangasari terlempar entah ke mana. Tahu-tahu, tubuh Kenangasari telah berada dalam pelukan si Iblis Cabul. Orang bertopeng ini agaknya dapat membaca maksud dan tujuan Kenangasari. Bagaikan kilat saja, tubuhnya meluncur ke depan.
Tangan kanan melempar pisau belati. Pedang yang meluncur turun terkena lemparan pisau belati yang mengandung tenaga dalam yang hebat. Begitu kena pisau belati, pedang di tangan Kenangasari terlempar jauh entah ke mana. Disusul tubuh Kenangasari, yang menjadi lemas oleh totokan jari tangan. "Haha"...! Sambil tertawa bergelak, Iblis Cabul memondong tubuh Kenangasari di pundaknya. Tubuh Kenangasari tidak dapat bergerak, lemas terkena totokan.
Sekali berkelebat, tubuhnya lenyap di balik gerombolan pohon. Hanya suara kepuasan si Iblis Cabul yang tinggal.