Chapter 03
Dapat mengatasi kesulitan yang menimpa, dengan segala usaha dan segala daya untuk menanggulangi kegelapan. Membuat api untuk mengusir gelap, menerangi sekitarnya, dan memberi tanda dari kejauhan. Walaupun kecil nyala api itu, tetapi dapat membuat tenteram hati, membuat kita dapat melihat apa yang terjadi di sekitar. Memilih jalan untuk dilalui dengan selamat, kaki kita tidak akan masuk ke dalam jurang yang dalam karena cahaya terang yang terpancar itu. Menerangi jalan di muka yang aman dilalui serta melihat jelas benda-benda dan binatang yang akan mendekati kita. Dengan cahaya, kita dapat memilih jalan, menghindari jalan berbatu penuh onak duri dan lubang-lubang yang memenuhi jalan.
Hati orang yang dicengkeram oleh kuasa kegelapan, membuat hidupnya mengikuti dorongan nafsu. Tidak melihat jelas apa akhir dari jalan yang ditempuhnya. Hati dan akal pikirannya telah diselimuti oleh kuasa kegelapan, tidak akan melihat dan mau tahu akan jalan terang yang telah ditunjukkan-Nya. Bersukaria di dalam dosa, tidak mau tahu perbuatannya itu merugikan orang lain maupun dirinya sendiri. Tidak menyadari bahwa dirinya dituntut ke tempat penyiksaan yang abadi. Terang diturunkan di dunia, menerangi hati yang gelap oleh kuasa kegelapan. Membawa manusia menuruti jalan yang menjadi kehendak-Nya, menyelamatkan manusia dari kejatuhan abadi. Membawa kedamaian hati dan sukacita dalam melalui hutan kehidupan dan membawa keselamatan manusia menuju tujuan-Nya. Kita berserah diri dalam kuasa-Nya dan Dia akan membimbing kita dengan kasih-Nya, membawa kita ke tempat penuh sukacita. Hanya dengan seutuhnya kita mengikuti jalan yang ditunjukkan, kita akan selamat sampai di tujuan dan sukacita dalam terang akan membimbing kita selama-lamanya.
Perbuatan orang berkedok hitam yang hanya menuruti nafsu yang memperbudaknya itu sungguh jauh dari jalan kebenaran. Hanya menuruti nafsu setan yang mengeram dalam relung hati, membuat tindakannya tidak terpuji, merugikan orang lain dan diri sendiri. Merasa senang bila berhasil mencelakakan orang lain.
Di balik gerumbul semak, di tengah lapangan rumput yang membentang luas, tampak dua sosok tubuh bergelut dengan hebatnya. Di bawah cahaya bintang yang berkelap-kelip, setan berpesta atas kemenangannya dalam diri sang Iblis Cabul. Dalam menikmati kemenangannya, Iblis Cabul menjadi lengah. Kenangasari yang merasa tubuhnya sudah bisa digerakkan, walaupun semua terasa sakit, tiba-tiba menggerakkan tangan merenggut topeng di wajah itu. Begitu melihat wajah di balik topeng, ia pun tidak dapat menahan kagetnya.
"Kau... kau... kiranya kau...!" Orang berjuluk Iblis Cabul Elang Hitam itu pun kaget tak terkira. Kain penutup wajahnya telah direnggut Kenangasari, ia menjadi sadar sepenuhnya dari keadaannya. Cepat ia mengenakan pakaiannya. Sewaktu Iblis Cabul Elang Hitam dengan tergesa mengambil baju, Kenangasari juga menarik baju itu. Tangannya tepat memegang kancing baju. Putuslah kancing baju itu.
Sang Iblis Cabul Elang Hitam, begitu melihat kenekadan Kenangasari, menggerakkan tangan kanannya menotok. Tanpa ampun lagi, tubuh Kenangasari menjadi lemas terkena totokan itu. Akan tetapi, sang Iblis Cabul tidak menyadari bahwa tangan kanan Kenangasari menggenggam kancing bajunya.
Dalam keadaan tak berdaya itu, Kenangasari teringat akan semua kejadian yang baru-baru ini di rumahnya. Terbayang kembali semuanya dengan jelas di pelupuk matanya.
Hari telah menjelang malam ketika ia memasuki gerbang rumahnya. Begitu turun dari kuda dan menyerahkan kuda itu kepada seorang penjaga, Kenangasari lalu memasuki pendapa. Kaget melihat ruang depan itu dipenuhi banyak laki-laki yang mengelilingi meja besar. Agaknya sedang membicarakan sesuatu yang penting. Ia melihat pula Ki Wonowoso, orang yang paling berkuasa di Wonowoso itu, duduk di sebelah kanan ayahnya. Juga tidak ketinggalan, para sesepuh dan kepala prajurit mengelilingi meja.
Semua orang yang sedang duduk, begitu melihat ia memasuki ruangan itu, menghentikan sejenak pembicaraan mereka. Pandang mata mereka tertuju kepada dirinya, penuh kagum dan gairah, terutama pandang mata Ki Wonowoso, bagaikan mata elang melihat ayam gemuk. Ia tidak mau melepaskan dirinya, sampai Kenangasari memasuki ruang dalam.
Lapat-lapat dari ruang dalam, ia mendengar pembicaraan tentang bagaimana langkah selanjutnya untuk menghadapi Iblis Cabul Elang Hitam, mengambil keputusan yang dirasa tepat, dan akan dipimpin sendiri oleh Ki Wonowoso, sesepuh dukuh. Pembicaraan berlangsung sampai larut malam. Kenangasari lalu memasuki kamar untuk tidur melepaskan lelah.
Keesokan harinya, ayahnya menemuinya di taman belakang. Wajahnya agak pucat karena kurang tidur. Begitu melihatnya, ia lalu menegur, "Kenangasari, mengapa kau datang? Apakah ada sesuatu yang penting sehingga kau diutus gurumu untuk pulang?"
"Ayah," Kenangasari mengawasi ayahnya, lalu menghela napas panjang sebelum meneruskan. Katanya kemudian, "Guru mendapat laporan dari penduduk yang kebetulan datang ke kota, bahwa di kota kita banyak terjadi pencurian dan perkosaan gadis. Malah penjahat itu melakukan pembunuhan setelah memperkosa korbannya."
"Memang benar," Ki Jagabaya menghela napas panjang, memenuhi dadanya dengan udara segar untuk melonggarkan perasaannya yang terhimpit.
Kenangasari memandang ayahnya penuh perhatian. Ki Jagabaya lalu meneruskan. "Bangsat itu sungguh kurang ajar, memainkan para penjaga dengan terang-terangan. Ketika terjadi pencurian di rumah Juragan Batik Srimpi, aku bersama dengan para prajurit memergokinya. Akan tetapi, seakan mengejek, Iblis itu memapaki kedatanganku. Tubuhnya berkelebat menerjang maju dan kami pun jatuh sungsang sumbel. Hanya aku yang dapat bertahan, akan tetapi, inilah hasilnya!" katanya sambil menunjukkan luka di dadanya.
"Begitu hebatkah iblis itu, Ayah?" Kenangasari menjadi khawatir melihat roman muka ayahnya yang putus asa. Lalu tanyanya, "Apa lagi yang membuat Ayah merasa putus asa? Kalau hanya iblis itu, kurasa Ayah tidak akan selemah ini. Ayah dapat memanggil para jagoan untuk menghadapinya."
Ki Jagabaya melihat anaknya dengan sayu. "Belum habis persoalan Iblis Cabul Elang Hitam, datang lagi persoalan baru. Begini, Kenangasari. Tadi malam Ki Wonowoso melamarmu untuk dijadikan selirnya. Aku belum berani memberi keputusan sendiri; aku menangguhkan keputusan itu untuk bertanya kepadamu."
"Tidak, Ayah. Aku tidak mau!" jerit Kenangasari.
"Tapi... tapi, Anakku... bagaimana aku harus menjawabnya?"
"Bilang saja aku telah ditunangkan, aku tidak mau menjadi selir si bandot itu!"
"Tapi... tapi..."
"Jangan takut, Ayah. Aku akan kembali menghadap Guru untuk minta pertolongan dalam menghadapi pinangan ini."
Sampai di sini Kenangasari tersentak kaget. Lamunannya buyar mendengar suara tawa terkekeh di sampingnya. Ternyata Iblis Cabul telah selesai mengenakan pakaiannya, memandangnya penuh ejekan. Kenangasari menyesal sekali mengapa baru sekarang ia sadar dan mengetahui rahasia itu. Ia yang memburu si iblis, malah diperkosa... dan ternyata iblis itu bukan lain adalah... belum sampai lamunan ini dilanjutkan.
Sang iblis berkata, "Kenangasari, kau telah mengetahui rahasiaku. Jalan kemuliaan tidak mau kaulalui, sekarang terimalah hadiahku ini..."
Tangan kanan Iblis Cabul Elang Hitam bergerak ke depan. Kenangasari yang tidak berdaya itu melihat tangan berkelebat ke arah dada... lalu semuanya gelap. Ternyata dada Kenangasari telah tercakar robek menganga lebar. Napasnya putus bersama dengan terobeknya dada itu. Sang Iblis Cabul melihat sebentar tubuh Kenangasari yang tergolek, meludah, dan berkelebat lenyap di kegelapan malam.