Chapter 04
Walaupun panas matahari menyengat tubuh, namun mereka seakan tidak peduli.
Wajah semua orang kelihatan ceria.
Berjalan-jalan melihat keramaian, sambil berbelanja.
Membeli kebutuhan mereka.
Para bangsawan berpakaian indah dan gemerlapan, sangat mencolok dibandingkan dengan pakaian para penduduk pedesaan.
Para putri bangsawan dan hartawan tidak ketinggalan pula ikut melihat keramaian.
Mereka diiringi oleh para pengawal.
Di tengah keramaian orang, tampak seregu prajurit berjalan.
Menjaga ketertiban dan keamanan agar tidak terjadi kerusakan karena banyaknya orang yang memasuki Wonowoso.
Sesekali, jalan yang sudah padat dengan orang berlalu-lalang dan berjualan itu, masih ditambah dengan lewatnya kereta bangsawan.
"Minggir, minggir!"
"Awas, kereta kuda mau lewat!" seru pengawal di depan.
"Tar-tar-tar!" "Minggir! Cepat minggir!" Orang pun semakin berdesakan ke tepi, takut tertabrak kuda.
Kedua pengawal itu tampak keren berwibawa dengan tubuh mereka yang besar dan tegap.
Duduk di atas kuda yang tinggi besar.
Berteriak-teriak mencari jalan sambil melecutkan cambuk.
Begitu rombongan ini lewat.
Ada penjual buah tomat mengeluh panjang-pendek.
"Heiii, hati-hati, Mas! Jangan... jangan mundur lagi!" Karena terus didesak, orang itu lalu nekat melangkah dan kakinya masuk ke tempat hamparan buah tomat di atas tikar itu.
Dan tak dapat dicegah lagi, remuklah buah-buah tomat itu!
"Maaf, Kang. Itu lho, orang depan mendesak terus." Ketika pedagang tomat hendak marah, tiba-tiba terdengar gelak tawa banyak orang.
Mereka berdua lalu menoleh, memandang bengong ke ujung jalan.
Apakah yang terjadi di sana? Seorang bertubuh gendut dengan badan penuh tepung!
Tadi saking asyiknya tawar-menawar, orang gendut itu tidak mendengar teriakan pengawal.
Membungkuk untuk membayar dan mengambil tepung yang dibelinya.
Orang-orang yang menepi ada yang menabraknya.
Tubuhnya yang gendut itu terjerembap ke depan.
Muka dan tubuhnya pun jatuh ke tepung itu.
Ketika berusaha bangkit berdiri, tangannya malah menarik tepung di keranjang kecil di depannya.
Tepung putih itu pun tanpa ampun menyirami tubuhnya!
Melihat kejadian itu, orang yang menginjak buah tomat tertawa terpingkal-pingkal.
"Haha?!" Kedua tangannya memegangi perut yang terasa kaku.
Karena terlalu emosi dalam tertawa, ia tidak sadar kakinya menginjak kulit pisang!
"Siuttt... bleekkkk!" Tubuhnya terpeleset, pinggulnya jatuh tepat di tempat tadi kakinya menginjak tomat.
"Ha-ha-ha... ha-ha-ha?!" Gelak tawa berderai memenuhi jalan itu, orang-orang menjadi geli melihat peristiwa yang beruntun itu.
Berjalan sambil tertawa geli teringat kejadian yang lucu itu!
Rumah-rumah makan di Wonowoso penuh dengan pengunjung, baik para langganan tetap maupun orang-orang yang berdatangan dari luar daerah.
Salah satu rumah makan di utara, dekat dengan pintu masuk atau gerbang utara itu, juga penuh dengan pengunjung.
Karena banyaknya pengunjung, orang yang ingin masuk terpaksa menunggu dengan sabar.
Kala itu, dari luar pintu gerbang, masuklah seorang pemuda dengan menaiki kuda.
Begitu memasuki gerbang, pandangan matanya mengawasi keadaan sekeliling.
Menarik kendali kuda dan membawa kuda mengarah ke rumah makan itu.
Kebetulan pada saat itu seorang pelayan melihat ada meja kosong.
Baru saja pemuda itu selesai menambatkan tali kendali kudanya, pelayan rumah makan menyambutnya dengan ramah.
Pemuda tampan berkulit putih kekuningan, senyum manis menghias bibirnya yang tipis dan lekukan dagu di bawah bibir itu semakin menambah daya tariknya.
Usianya sekitar tujuh belas tahun.
Pakaiannya putih dari kain kasar saja.
Sambil membungkuk hormat, pelayan itu menyambut.
"Silakan masuk, Den. Kebetulan di dalam masih ada meja yang kosong!" Pelayan itu tersenyum lebar.
Melihat senyum ramah itu, pemuda itu juga tersenyum.
Wajahnya makin menarik dan tampan jika tersenyum.
Pemuda ini pun mengangguk, mengikuti pelayan itu masuk rumah makan.
"Makanan apa yang perlu disediakan, Den? Nasi gudeg, nasi opor, pecel lele, atau nasi rames? Masakan spesial kami hari ini adalah sambal goreng hati." Begitu melihat tamunya telah duduk, pelayan itu langsung saja menawarkan, bagaikan senapan mesin memuntahkan pelurunya.
"Masih banyak lagi makanan dan masakan yang lain."
"Uwah, banyak sekali macamnya! Bagaimana aku harus memilih, Paman?"
"Betul, Den. Di sini memang menyediakan masakan bermacam-macam. Apalagi dengan adanya keramaian ini. Rumah makan kami ini sudah terkenal di Wonowoso. Para pembesar pun banyak yang memesan masakan dari sini." Pelayan itu terus menerangkan, mempromosikan rumah makannya.
"Dan yang paling terkenal di rumah makan kami adalah pecel lelenya! Sambal pecelnya, bukan main! Lezat!"
"Kalau begitu, boleh nasi pecel lelenya! Tolong bawakan sekalian teh manis, tetapi gulanya jangan terlalu banyak. Secukupnya saja, Paman!"
"Baik, Den!"
"Oh ya, Paman. Panggil saja namaku Suryo, tidak usah pakai den-denan segala!" Suryo memberitahukan namanya kepada pelayan itu.
Pelayan itu berlalu sambil mengangguk, dalam hati merasa heran.
Sudah menjadi kebiasaan dia memanggil tamu yang datang dengan sebutan Raden, ndara, dan sebagainya.
Panggilan untuk menghormati tamu.
Sekarang ada anak muda yang tidak mau dipanggil Den!
Setelah pelayan pergi, pemuda itu menebarkan pandangannya.
Mengawasi seluruh ruang makan itu, melihat barangkali ada orang yang mungkin telah dikenalnya.
Akan tetapi, tiada seorang pun yang dikenalnya.
Ia lalu mengalihkan pandangannya ke jalan, melihat orang berlalu-lalang.
Tiba-tiba Suryo merasa tertarik melihat seorang pengemis tua dikelilingi lima orang pengemis muda, dan sayup-sayup terdengar pembicaraan mereka.
"Tua bangka tak tahu diri! Tidak diam mencari jalan terang, malah usil!"
"Hajar saja! Biar mampus!"
"Sungguh sialan! Kalau kita dapat rezeki, semua akan kebagian," sambung orang lainnya.
"Kalau tidak dihajar, dia tidak tahu siapa kita!"
Pengemis tua menunduk saja.
Tidak mengacuhkan lima pengemis yang marah-marah kepadanya itu.
Diam!
Tangan kanan memegang tongkat penunjang tubuh.
Dengan tenang, tangan kirinya melepas caping penutup kepala.
Begitu caping itu terbuka, rambut pengemis itu masih terlihat hitam.
Hanya alisnya telah putih seluruhnya.
Perlahan sekali, mungkin karena otot-otot kakinya telah kaku, ia berusaha duduk di tepi jalan, tidak acuh terhadap kemarahan lima pengemis muda itu.
"Untung kita cepat lari! Kalau sampai ada yang tertangkap, sekarang kau mampus, akan kubunuh!"
Perhatian Suryo terpecah oleh kedatangan pelayan.
Pelayan itu menaruh makanan di atas meja di hadapannya.
Mempersilakan Suryo lalu mundur, kembali untuk menyambut tamu lain yang datang.
"Tunggu! Tolong bungkusan nasi pecel lele satu lagi!" Sebelum pelayan pergi, Suryo berkata.
Pelayan itu pun mengangguk dan berlalu.
Suryo menyantap nasi pecel lele, tidak tergesa-gesa.
Menikmati masakan itu dengan hati penuh puji syukur atas makanan pemberian-Nya. Pelayan datang membawa bungkusan pesanannya.
Sebelum bungkusan itu ditaruh di meja, Suryo berkata, "Paman, boleh saya meminta tolong?"
"Tentu saja. Apa yang dapat aku bantu?"
"Bungkusan itu tolong berikan kepada Bapak pengemis tua di ujung itu, Paman!" Suryo menunjuk pengemis tua berambut hitam beralis putih yang duduk di ujung rumah makan itu.
"Nasi ini untuk diberikan kepada pengemis tua?" Pelayan itu memandang heran penuh pertanyaan.
"Betul, Paman."
"Baik." Pelayan itu berlalu menuju keluar.
Dalam hatinya, ia merasa heran, nasi yang mahal harganya itu diberikan begitu saja.
Biasanya, hanya makanan sisa dari tamu saja yang diberikan kepada gelandangan di depan rumah makan.
"Betul-betul aneh! Jangankan diberikan, baru melihatnya saja kebanyakan orang sudah memalingkan muka. Anak muda ini betul-betul lain dari kebanyakan orang!" katanya dalam hati.
Pelayan berjalan keluar sambil berulang kali menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menyerahkan bungkusan kepada pengemis tua itu.
Agaknya terjadi pembicaraan singkat.
Terlihat dari tangan pelayan yang menunjuk-nunjuk ke arah Suryo!
Empat orang berpenampilan sangar masuk rumah makan.
Wajah mereka bengis dan pandangan mata liar jelalatan.
Pakaian mereka menunjukkan pakaian para jawara.
Berwarna serba hitam dan pinggang mereka tampak gagang golok menyembul keluar di balik baju.
Dengan dada terangkat, mereka memasuki rumah makan.
Lagak mereka seolah merasa paling jago sendiri!
Baru sampai di pintu, seorang pelayan muda menyambut dengan terbongkok-bongkok hormat.
"Maaf, maafkan... Tu... Tuan, meja... pe... penuh," katanya gagap.
Empat orang itu melotot.
Membuat kedua kaki pelayan itu gemetar.
Orang dengan codet di mukanya membentak.
"Keparat! Minggir kau!" Tangannya bergerak mendorong.
Pelayan itu terhuyung-huyung ke belakang.
Seolah-olah dia diseruduk gajah!
Kelihatannya tangan Si Codet belum menyentuh tubuh pelayan itu, tetapi nyatanya pelayan itu terhuyung-huyung.
Si Codet dan kawan-kawannya ini mempunyai kepandaian yang istimewa.
"Hayo mundur! Ha-ha-ha! Tidak lekas menyediakan makanan untukku? Minta ditampar kepalamu, ya?" bentak orang berkumis tebal itu pula.
Para pelayan lain tidak ada yang berani maju.
Takut kalau-kalau nanti mendapat hajaran mereka.
Mereka tahu bahwa empat orang itu adalah jagoan-jagoan di Wonowoso.
Empat Golok Setan! Ya, mereka menyebut diri mereka sendiri Empat Golok Setan.
Permainan golok mereka memang hebat dan jarang menemukan tandingan.
Di Wonowoso, mereka adalah kelompok teratas!
Memasuki ruangan, mata mereka jelalatan, mengawasi semua orang yang duduk di depan meja.
Orang-orang yang bertemu pandang dengan mereka lalu menunduk, tidak berani menatap langsung lama-lama.
Mereka lalu berjalan menuju ke arah Suryo yang sedang makan.
Mengitari meja, Si Codet membentak.
"Bocah! Minggat kau! Meja ini kupakai!" Suryo menunda makannya, mengangkat muka, memandang wajah empat orang itu bergantian.
Tepat di hadapannya adalah Si Codet.
Mukanya tampak menyeramkan oleh codet di mukanya itu.