Halo!

Misteri Elang Hitam - Chapter 05

Memuat...
Misteri Elang Hitam

Chapter 05

Di kanan Si Codet berdiri, terlihat wajah dengan kumis tebal dan brewok kasar bagaikan kawat memenuhi muka. Sepasang mata sebesar jengkol melotot bengis. Sementara itu, dua orang yang berdiri di belakang, sebelah kanan dan kiri, keduanya berwajah hampir serupa, sepertinya orang kembar, dan keduanya berkumis tipis. Yang seorang mempunyai tahi lalat di pipi kanan, tahi lalat sebesar kedelai. Sedangkan yang seorang lagi mempunyai tahi lalat di dagu. Mereka berdiri bertolak pinggang.

Suryo tersenyum. Sebelum ia bicara, ia telah didahului oleh orang yang berkumis tebal dan brewoknya kasar itu.

"Brak!" Jari-jari tangannya yang sebesar pisang ambon menggebrak meja, membuat air teh di dalam gelas meloncat keluar, sebagian bahkan memasuki nasi di piring. Suryo seketika hilang nafsu makannya!

Meskipun Suryo orangnya sabar, tingkah mereka berempat itu membuatnya marah juga. Berbuat sewenang-wenang di tempat ramai sungguh sudah keterlaluan, apalagi mengganggu orang yang sedang makan. Benar-benar melewati batas!

Akan tetapi, belum sempat Suryo menjawab, ia sudah didahului oleh Si Codet.

"Pergi, cepat! Tinggalkan meja ini, kalau tidak ingin kuhajar!" ancam Si Codet, sambil mengacungkan tangan kanannya ke muka Suryo.

Suryo perlahan-lahan bangkit berdiri. Senyumnya makin lebar melihat tingkah keempat orang itu. Kemarahan tidak tampak di wajahnya!

"Empat orang itu sungguh tidak tahu aturan," katanya dalam hati.

Si Codet, yang melihat Suryo berdiri dengan santai dan tersenyum lebar seakan menantang serta memandang rendah dirinya seperti anak kecil, hilang kesabaran. Tangan kanannya melayang ke arah muka yang tersenyum itu.

"Wut!" Kepalan tangan Si Codet menyambar wajah tampan Suryo. Apabila pukulan itu mengenai sasaran, dapat dipastikan akibatnya. Paling ringan mungkin akan membuat pemuda itu jatuh pingsan. Tetapi untungnya, kepalan itu luput!

Suryo yang melihat datangnya pukulan itu memiringkan tubuhnya, dan kepalan itu lewat di depan hidungnya. Membawa bau tidak enak dari baju yang tidak pernah dicuci. "Ya ampun... baunya...!" Suryo menutup hidung dan sepasang matanya memandang geli. Dia mundur untuk mencari posisi.

Para tamu rumah makan yang melihat kejadian itu lalu berusaha menghindar, takut jika nanti ikut terbawa-bawa. Sementara itu, pemilik rumah makan dan para pelayan berdiri bengong, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Untuk melerai mereka tidak berani. Mereka semua tahu siapa Empat Golok Setan itu. Mereka hanya merasa geli melihat ulah pemuda itu.

Si Codet bertambah marah karena pukulannya tadi dapat dielakkan begitu mudahnya oleh pemuda itu. Ia maju, melayangkan tangan menyerang. Tangan kanannya membacok ke leher dan tangan kirinya menggedor dada. Apabila salah satu dari serangan itu mengenai sasaran, dapat dipastikan pemuda itu akan terluka parah.

Suryo yang melihat datangnya serangan itu meloncat ke samping kanan dan merendahkan tubuh, dengan menekuk kaki kanannya dan menyodok ke arah tulang iga lawan dengan tangan kanannya. Tergesa-gesa, Si Codet menarik tangan kanan, melindungi iga kanannya dari sodokan.

"Duk!" Dua tangan beradu dan Suryo terdorong ke belakang. Ternyata ia kalah tenaga. Si Codet kembali menyerang, dan Suryo kembali mengelak. Saling serang-menyerang terjadi dengan cepat. Gerakan Suryo lincah, mengelak mengitari tubuh Si Codet. Pukulan Si Codet mengandung tenaga, mengeluarkan angin menderu tatkala melayang. Pertempuran itu pun bertambah ramai dan seru. Para penonton yang masih berada di ruangan itu berdebar-debar, mengkhawatirkan nasib pemuda itu!

Si Brewok menjadi tidak sabar. Lalu ia maju mengeroyok, tidak malu bahwa yang dikeroyok itu adalah seorang pemuda ingusan. Suryo bertambah repot. Baru menghadapi Si Codet saja ia sudah kewalahan, apalagi sekarang ia dikeroyok dua orang. Ilmu silat yang dimainkan Suryo sudah lumayan, sayang tenaganya tidak menunjang. Dengan lincah, pemuda itu mengelak ke kanan dan kiri, kadang melompati bangku, mengajak kedua lawannya main kucing-kucingan.

Sayang sekali, akhirnya ia terpojok ke pagar yang membatasi ruangan dalam itu dengan jalan. Saat mengelakkan pukulan Si Codet ke arah muka, Suryo tidak melihat tendangan Si Brewok dari samping. Tanpa ampun lagi, lambungnya terkena tendangan dengan telak.

"Buk!" Suryo terpelanting keluar pagar. Si Codet melompat tinggi, menyusul dengan melakukan tendangan terbang. Melihat datangnya tendangan, Suryo menggulingkan tubuh berkali-kali. Menggelinding pergi! Si Brewok menyusul, melompat pagar.

Kedua orang itu kembali mengeroyok Suryo. Pertempuran berat sebelah terjadi di depan rumah makan. Orang-orang berhenti memenuhi jalan untuk menonton perkelahian itu.

Pengemis Alis Putih menonton sambil berulang kali berdecak. Ia mengamati ilmu silat pemuda itu. Alis putihnya terangkat ke atas. Keningnya berkerut melihat gaya dan ulah Suryo. "Mengapa pemuda itu tidak mengeluarkan tenaga dalam? Kalau saja pemuda itu mengeluarkan tenaga dalam, tentu dengan mudah ia akan mengalahkan kedua lawannya!" pikirnya.

Suryo berulang kali dapat memasukkan pukulan ke tubuh lawan. Sayang, semua pukulan itu tidak membuat kedua lawannya bergeming. Agaknya, kekebalan tubuh kedua orang itu sangat kuat, dan semua pukulan Suryo seakan hanya belaian gadis saja ketika mengenai tubuh mereka. Kedua orang lawan itu menyerang dengan serangan silih berganti. Kadang pukulan mereka masuk ke tubuh Suryo. Ketika terkena pukulan, Suryo terdorong ke belakang. Semua ini membuat keadaan Suryo bertambah payah.

Mereka tidak peduli bahwa perbuatan mereka itu telah membuat jalan menjadi macet. Kedua orang itu merasa bangga dapat menunjukkan kegagahan mereka kepada khalayak ramai.

BAB 4

Seorang penjaga berlarian menuju rumah gedung Ki Jagabaya. Ketika sampai di pintu depan gedung, napasnya tersengal-sengal. Dua orang penjaga lain menegurnya, menahan agar ia tidak memasuki gedung Ki Jagabaya. Dengan gagap, penjaga itu mengutarakan maksudnya untuk menemui Ki Jagabaya. Ada sesuatu yang sangat penting untuk diberitahukan.

"Tolong laporkan kepada Gusti Jagabaya. Penjaga pintu gerbang utara mohon menghadap, tolong cepat!"

"Ya, tapi urusan apa? Sampai-sampai engkau berani merepotkan Gusti Jagabaya?" Salah seorang penjaga berkata. Lalu lanjutnya, "Apa kau tidak takut dimarahi beliau?"

Penjaga gerbang utara itu membanting-banting kakinya. Ia merasa jengkel terhadap rekannya itu. Ia tahu berita yang dibawanya sangat penting bagi Ki Jagabaya.

"Antarkan saja aku! Biar nanti aku yang bertanggung jawab kalau Gusti marah!"

"Baik, mari!" Salah seorang dari penjaga itu lalu mengajaknya masuk. Ia merasa khawatir juga melihat rekannya itu bersikeras hendak menghadap. Pasti ada sesuatu yang serius yang dibawa, kalau tidak, tidak mungkin rekannya itu bertingkah seperti itu. Ia takut jika nanti mendapat teguran dari Ki Jagabaya yang terkenal galak itu.

Ketika keduanya sampai di pelataran depan, Ki Jagabaya baru keluar dari dalam, menuju tempat duduk di pendapa itu. Melihat penjaga itu memasuki halaman, lalu ia menegurnya.

"Ada keperluan apa kalian masuk? Penjaga dari gerbang utara itu mengapa keluyuran sampai di sini? Apa komandanmu tidak tahu kalau aku sedang istirahat!"

Ki Jagabaya tahu bahwa yang datang adalah penjaga pintu gerbang utara. Memang para petugas jaga diberinya tanda khusus. Semua diatur dan diberi tanda-tanda yang memudahkan untuk membedakan para petugas jaga. Sabuk yang dikenakan penjaga di utara berwarna hitam, untuk di timur memakai sabuk berwarna putih, sedangkan yang di selatan sabuknya berwarna kuning, dan di barat memakai sabuk merah. Ini semua diatur untuk memudahkan ia meneliti jika ada terjadi sesuatu. Semua ini diatur setelah ia menjabat kepala keamanan.

"Lapor, Gusti! Penjaga utara mohon menghadap! Ada sesuatu yang katanya sangat penting."

"Hemm..., suruh maju ke sini! Kau boleh kembali ke depan!" kata Ki Jagabaya.

Penjaga itu memberi hormat lalu berbalik, pergi kembali ke tempatnya.

Penjaga utara itu maju, menyembah, lalu duduk bersila di lantai, di depan Ki Jagabaya. Kepalanya tunduk dan tangan menopang di atas paha. Sejenak Ki Jagabaya mengawasi. Pandang matanya menyorot tajam, lalu katanya, "Hemm..., keperluan penting apa yang membuatmu datang ke sini? Mengapa bukan komandanmu yang ke sini, menemui aku?"

"Ampun, Gusti. Hamba mohon ampun sebesar-besarnya apabila telah membuat Gusti tidak berkenan. Begini, Gusti, hamba... hamba pernah beberapa lama menjadi petugas di sini. Pagi tadi, ketika hamba mendapat tugas jaga di pintu gerbang utara, hamba melihat..."

"Ya? Teruskan, jangan ragu-ragu!" Ki Jagabaya berkata kepada penjaga itu. Ia melihat penjaga itu agak takut-takut untuk menceritakan apa yang dilihatnya. Ki Jagabaya lalu menenangkannya agar penjaga itu tidak merasa takut.

"Anu, Gusti... anu... begini, Gusti. Tadi ketika hamba sedang bertugas jaga, hamba melihat masuknya seorang pemuda tampan. Pemuda itu masih berusia belasan tahun." Penjaga itu berhenti sejenak.

Ki Jagabaya mendengarkan dengan penuh perhatian, karena hatinya mulai tertarik. "Ya, lalu apa?"

"Pemuda itu menaiki seekor kuda putih. Hamba mengenal kuda putih itu. Hamba pernah merawatnya ketika berada di tempat ini. Kuda putih itu bukan lain adalah kuda Den Roro Kenangasari, maka hamba lalu melapor kepada komandan jaga di sana."

"Lalu mengapa bukan komandanmu sendiri yang datang ke sini?"

"Komandan jaga memerintahkan hamba sendiri untuk menghadap Paduka. Menurut komandan jaga, hamba lebih mengetahui tentang kuda itu. Maka hamba lalu berlari ke sini, menghadap Gusti Jagabaya sendiri."

"Hemm..., terus bagaimana? Ke mana pemuda remaja itu perginya?"

"Hamba tadi mengawasi ke mana perginya pemuda itu. Mungkin pemuda itu sedang lapar, sebab tadi kudanya ditambatkan di depan rumah makan. Sekarang ini kemungkinan sedang makan di tempat itu."

Ki Jagabaya bertepuk tangan tiga kali. Terdengar keras sekali. Tak lama kemudian, muncul seorang laki-laki berpakaian pelayan dari dalam gedung. Dengan berjalan jongkok, lelaki ini datang menghadap. Ki Jagabaya memerintahkan pelayan itu, "Siapkan kudaku di depan! Suruh segenap prajurit yang tidak berjaga untuk menanti di depan!"

Ki Jagabaya berdiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment