Chapter 07
Tanpa sadar, delapan orang pengawal itu memegang gagang golok.
Bau bangkai yang terbawa angin itu mereka kenal betul!
Bangkai orang mati!
Pedagang Gendut menoleh ke kanan kiri.
Matanya jelalatan, hatinya was-was.
Takut kalau-kalau ada lagi perampok yang datang mencegat.
Kedelapan pengawal sekarang berjalan di samping gerobak.
Agak ke depan berjalan dua orang, di kanan kiri gerobak dijaga dua orang, dan sisanya berjaga-jaga di samping belakang.
Semuanya berjalan dengan hati dag-dig-dug, jantung berdenyut kencang.
Tangan yang memegang golok siap membacok siapa saja yang berani menghadang!
"Itu... itu... di sana, ada bangkai! Cepat, cepat tinggalkan tempat ini!" teriak Pedagang Gendut.
Tangan menunjuk-nunjuk samping kiri, di mana sesosok tubuh tergolek telanjang.
Lapat-lapat terdengar suara si kusir, yang tanpa diperintah pun telah melecut punggung sapinya sambil berdiri dan berteriak-teriak.
Kedua sapi penarik gerobak yang kaget dan kesakitan itu menarik sekuat tenaga.
Gerobak itu pun berjalan lebih cepat dari tadi.
Semua pengawal berlari kecil mengikutinya tanpa menoleh lagi ke arah mayat itu.
Mereka sama sekali tidak mau mendekat.
Baru melihat saja mereka telah panik!
Takut akan sesuatu yang mengganggu mereka.
Lebih mementingkan keselamatan gerobak dan barang-barang yang dibawanya.
Pedagang Gendut takut kalau sampai ada apa-apa yang membuatnya merugi.
Dia selalu memandang semua persoalan dengan untung-rugi bagi dirinya.
Gerobak itu berlalu dengan cepat, meninggalkan tempat itu dengan suara geluduk-geluduk dari roda gerobak yang melanggar batu.
Sekali-kali teriakan kusir membelah udara!
Tidak berapa lama kemudian rombongan itu lenyap di balik tikungan!
Tidak berapa lama setelah gerobak itu lewat, terdengar suara langkah kuda yang dilarikan cepat.
Tampak lima penunggang kuda, beriringan datang dengan cepat.
Melihat pakaian yang menempel di tubuh mereka, jelaslah bahwa mereka berlima itu pastilah para ahli silat.
Pakaian yang ringkas dan pedang yang tersembul di balik punggung menandakan bahwa kelimanya adalah orang yang biasa merantau dan berkepandaian.
Ini terlihat nyata dari cara mereka menunggang kuda.
Tubuh tegak naik turun seirama dengan goncangan naik turun punggung kuda.
Begitu sampai di tempat itu, kuda-kuda mereka meringkik keras mencium bau mayat!
Kelimanya berusaha menenangkan kuda masing-masing.
Setelah kuda dapat ditenangkan, mereka pun maju mendekat.
Terlihatlah mayat perempuan cantik telanjang di tempat itu.
Mayat yang terlantar!
Sambil menutupi hidung karena bau mayat yang menyengat dari tubuh yang telah membusuk.
Wajah wanita itu cantik dan tubuhnya juga aduhai!
Sejenak mereka mengawasi mayat itu.
Orang tertua berkata, "Hayo, kita pergi saja! Urusan kita sudah cukup banyak! Biar mayat ini menjadi santapan binatang buas!"
Salah seorang turun untuk memungut pedang yang tidak jauh dari tubuh wanita itu.
Baru dua langkah dia berjalan, terdengar bentakan keras.
"Wiro! Naiki kudamu! Kita telah ditunggu-tunggu, nanti terlambat! Hayo cepat!"
Orang yang dipanggil Wiro menoleh, lalu menunjuk pedang yang menggeletak itu dan berkata, "Pedang itu kelihatannya sangat bagus, lihat cahayanya, Kang!"
"Buat apa pedang itu, ayo cepat naiki kudamu! Kita berangkat!"
Wiro mengangkat kedua pundaknya, menggerutu, tetapi kembali menaiki kuda dan mengejar teman-temannya yang telah memacu kudanya.
Kelimanya lalu meninggalkan tempat itu, tidak peduli akan apa yang telah dilihatnya.
Seperti melihat bangkai seekor binatang saja!
Salah seorang malah hanya melihat pedang yang tergeletak, tidak mau tahu tentang mayat manusia yang terlantar itu.
Biarpun telah meninggalkan bau yang menyengat hidung.
Mereka tidak mau kehilangan tenaga untuk menguburkannya.
Agaknya hati kelimanya telah mengeras, bagaikan batu yang keras.
Hanya mementingkan diri sendiri.
Seharusnya mereka berlima sebenarnya dapat menguburkan mayat itu.
Tetapi kenapa tidak mau? Melihat mereka berlima jelas adalah ahli silat, seharusnya sebagai pendekar mereka berhati emas, bukan berhati batu!
Semua ini terlihat nyata, mereka berlima jelas bukanlah para pendekar yang berhati welas asih, pembela kebenaran dan keadilan!
Tetapi kelimanya adalah para jagoan yang mencari untung demi diri sendiri!
Ini tampak dari sikap mereka yang menemui mayat wanita itu.
Matahari telah naik tinggi, sinarnya yang terang dan mengandung kehidupan itu menyengat panas.
Tanah-tanah yang basah oleh embun menguap terkena sinar matahari.
Jalan setapak di hutan itu telah sepi dan jarang sekali orang lewat.
Kalau kebetulan ada orang lewat, mereka menutup hidung, tidak menoleh ke kanan kiri, tidak mau tahu di mana asal bangkai itu.
Suara tembang itu melantun lantang di tengah hutan.
Terdengar bening dan merdu menyanyikan lagu gembira dan jenaka.
Penyanyinya agaknya seorang yang riang dan jenaka.
Makin lama makin jelas, agaknya orang itu mendekati hutan.
Tampaklah seorang pemuda tampan berusia belasan tahun, melangkah santai dan sesekali melompat-lompat kecil, seakan kelinci yang sedang bercanda.
Senyum manis tidak pernah meninggalkan bibirnya, dan sepasang mata itu bagaikan sepasang matahari kembar yang berseri-seri melihat pemandangan dan segala sesuatu yang tertangkap oleh lensa matanya.
Rambut itu tidak tebal, berwarna hitam diikat dengan kain putih, membuat wajah itu semakin menarik karena lekukan kecil di tengah dagunya.
Apabila kebetulan ada orang yang melihatnya akan ikut merasakan keriangan anak muda itu!
Ketika dia mencium bau menyengat, dia berhenti.
Menoleh ke kanan kiri, mencari dari mana bau itu berasal!
Siapakah pemuda ini? Dia tak lain adalah Suryo, pengelana dari Mataram!
Suryo memandang ke arah semak, matanya memandang seakan bertanya-tanya.
Langkah kaki ringan ketika maju sambil menahan napas untuk mengurangi bau busuk yang menyengat.
Uhhhhh!!
Matanya terpaku pada penglihatan di dekat semak!
Kasihan!! bisiknya pelan.
Suatu bisikan yang keluar begitu saja dari lubuk hatinya, tanpa disadari, keluar secara spontan!
Matanya tajam mengawasi sekeliling, mencari sesuatu yang dapat membantunya menguak misteri mayat perempuan itu.
Ketika matanya melihat sebatang pedang tergeletak tak begitu jauh dari semak serta melihat sinar pedang itu, mulutnya tersenyum lebar.
Tanpa ragu lagi, Suryo mengambil pedang dan mencari tempat yang baik.
Lalu tanpa ragu kedua tangannya bergerak, membuat lubang yang cukup dalam.
Walaupun pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang ringan, tetapi dia melakukannya dengan bersiul-siul.
Wajahnya tetap ceria, hatinya berbunga melakukan pekerjaan itu, tidak mau tahu biarpun matahari makin condong ke barat.
Setelah lubang itu cukup dalam, dia memandang ke arah mayat, maju mendekat, meneliti, mungkin ada sesuatu yang dapat dijadikan tanda.
Tanpa sengaja pandangan mata Suryo tertuju ke arah tangan kanan!
Dia pun berjongkok, membuka telapak tangan itu.
Benda bersinar hitam tersembul dari telapak tangan itu.
Sebuah kancing baju!
Ketika mendekati mayat itu, ujung hidungnya telah ditutup dengan kain pembungkus kepala yang di dalamnya telah ia isi dengan bunga, membuat bau menyengat tidak begitu memengaruhinya.
Dengan hati-hati, Suryo mengangkat jenazah itu.
Diturunkannya sendiri ke dalam lubang yang dibuatnya. Setelah selesai, dia pun lalu mencari daun-daun untuk menutupi tubuh jenazah.
Kuda putih itu mendengus-dengus di dekat gundukan tanah.
Perlahan Suryo mendekat, tangannya mengelus leher kuda.
Aneh!
Mengapa kuda itu menjadi jinak? Agaknya kuda itu pun tahu bahwa anak muda yang mendekatinya tidak bermaksud jahat.
Diam, mengangguk-anggukkan kepala seakan mengucapkan terima kasih atas semua yang telah dilakukan terhadap tuannya.
Suryo pun girang, lalu menuntun kuda ke jalan.
Menoleh sekali lagi ke arah gundukan tanah yang baru itu.
Ia tidak tahu nama wanita itu dan siapa yang telah membunuhnya. Hanya kancing baju hitam yang berada di tangan wanita itu mungkin milik si pembunuh.
Dia akan berusaha untuk menyingkap tabir ini!
Perbuatan Suryo ini dilandasi oleh kasih terhadap sesama!
Kasih yang diajarkan ayahnya, tatkala dia masih kecil.
Pelajaran tentang kasih, di mana semua manusia itu sama, mereka adalah saudara-saudara kita!
Ibadah kita haruslah hidup, bukan mati!
Hidup berarti berkembang!
Berkembang dan berbuah!
Hasilnya untuk sesama, mengenalkan jalan lurus menuju Pemilik Yang Maha Menciptakan langit dan bumi beserta isinya!
Menjauhkan diri dari jalan yang menjadi larangan-Nya.
Menaati jalan yang telah ditunjukkan!
Kita akui dosa-dosa kita di hadapan-Nya, kita tidak dapat berbuat apa-apa.
Semua hanya karena kasih-Nya!
Kita serahkan semuanya ke dalam tangan-Nya dan Dia-lah yang akan menyelamatkan kita.
Menuntun kita di jalan yang menjadi kehendak-Nya dan menjauhkan kita dari yang jahat.
Kita percaya bahwa Dia telah mendahului kita di jalan yang kita tuju!
Ke mana pun kita pergi!
"Tidak berbohong, Gusti. Apa yang hamba ceritakan semua benar adanya," Suryo kembali berkata.
Tetapi tentang kancing baju hanya disimpannya untuk dirinya sendiri.
Suryo hanya menceritakan bahwa dia mengubur jenazah itu di hutan jati.
Semua diceritakannya dengan singkat dan jelas.
"Suryo... perempuan yang tidak kau kenal itu, dia... dia... Kenangasari... anakku..." Ki Jagabaya berkata sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Menangis pelan, air mata menetes di kedua pipinya.
Tiada suara keluar dari mulutnya dan dadanya turun naik, menahan kesedihan yang menyesak.
Suryo terlongong.
Tidak mengira sama sekali.
Tertunduk penuh haru dan tidak tahu harus berkata apa.
Keduanya diam dengan pikiran masing-masing memenuhi benaknya, sehingga bagaikan patung diam membisu.
Setelah dapat menguasai perasaannya, Ki Jagabaya menarik napas panjang berulang-ulang untuk mengisi dadanya penuh dengan udara.