Chapter 09
"Keluar kau, bangsat!
Hayo hadapi aku, kalau kau memang jantan.
Tunjukkan batang hidungmu, setan!" Tantangan dari Elang Hitam ini tidak mendapat sambutan sama sekali, dan yang menyambutnya malah bunyi burung hantu di pojok taman.
Elang Hitam bertambah marah dan ia menantang-nantang terus.
Tiba-tiba berkelebat sinar putih bergulung-gulung datang dari atas tembok.
Meluncur cepat ke arah di mana Elang Hitam berdiri.
Angin dingin mendahului kelebatan pedang yang bergulung-gulung menyerang Elang Hitam itu.
Dengan elakan cepat sekali, Elang Hitam pun lalu membalas serangan itu dengan cakaran tangan kanan.
Sedangkan pedang yang dielakkan dan luput mengenai sasaran itu diputar menahan serangan tangan. Keduanya lalu terlibat dalam pertempuran yang sengit.
Hanya kelebatan sinar putih dari pedang yang bergulung-gulung membuat pandang mata menjadi nanar, bergulat dengan asap hitam yang tertiup pergi datang di antara sambaran pedang.
Pemandangan yang indah namun mendebarkan hati.
Serang-menyerang silih berganti, dengan jurus-jurus pilihan.
Pada suatu saat, Elang Hitam dapat menyentil pedang itu.
Suara berdenting nyaring terdengar dan kedua bayangan itu pun terpisah.
Tampak seorang gadis yang cantik sekali berdiri dengan pedang di tangan kanan.
Pedang yang bersinar putih saking tajamnya dan berkilat tertimpa cahaya lampu di sudut taman.
Gadis itu masih muda sekali dan mengenakan pakaian serba hijau sehingga kulitnya yang putih tampak menonjol di malam yang agak gelap itu.
Elang Hitam memandang kagum pada gadis yang berdiri di depannya ini.
Sungguh cantik bukan main, pikirnya.
Walaupun usianya masih muda sekali, sekitar lima belas tahun.
Kulitnya yang putih itu agak kemerahan karena darah yang naik ke wajahnya dan oleh gerakan pedangnya dalam menyerang orang berkedok membuat darahnya berjalan lebih cepat.
Pemandangan di depannya ini membuat Elang Hitam tanpa terasa mengeluarkan pujian.
"Cantik sekali, bagaikan dewi yang turun dari surgaloka. Hemm!"
"Bangsat hina! Apa yang kau cari malam-malam berada di tempat ini!" bentak gadis itu.
"Ha-ha-ha! Aku mencarimu, bocah ayu. Aku rindu kepadamu!" Mendengar jawaban ini sepasang mata gadis yang jeli itu membelalak marah.
Bagaikan ada api kecil di sepasang matanya yang memandang orang berkedok di depannya.
"Bangsat mau mampus. Hadapilah Melati, murid Ki Jenggrik!" Elang Hitam tersenyum di balik kedoknya mendengar kata-kata si gadis itu.
"Keluarkanlah seluruh kepandaianmu, bocah ayu yang merak hati! Aku ingin main-main denganmu di malam yang dingin ini. Malam akan terasa lebih nikmat bila kita dapat bersama memadu kasih. Ha-ha-ha!"
"Mampus kau, bangsat!" Pedang itu membabat leher Elang Hitam dengan kecepatan kilat.
Elang Hitam merundukkan kepala lalu memajukan kaki kanan dan tangan kanannya terulur menyambar sepasang bukit di dada Melati.
Melihat pedangnya tidak mengenai sasaran dan dia mendapat serangan balasan yang kurang ajar itu, Melati mengeluarkan dengusan mengejek.
Memutar pergelangan tangannya dan membuat pedang itu membalik cepat menangkis tangan yang kurang ajar itu.
Sambil tertawa, Elang Hitam menarik tangan kanannya dan membuat putaran kaki, sebuah tendangan kaki yang cepat sekali meluncur mengarah tangan Melati yang memegang pedang.
Melati waspada, melompat ke samping lalu membalas menyerang lagi dengan hebatnya.
Ia mengeluarkan Ilmu Pedang Badai Mengamuk.
Elang Hitam menghadapinya dengan hati-hati sambil mengeluarkan ilmu Cakar Elangnya yang jarang menemui tanding itu.
Pertempuran yang berlangsung kini bertambah seru.
Jurus-jurus pedang pilihan dilawan dengan ilmu Cakar Elang yang jarang menemui tanding.
Saling mengincar kelemahan lawan; kalau Melati dengan niat agar dapat membunuh lawan, sedangkan Elang Hitam hanya ingin menangkap saja.
Sehingga Elang Hitam agak kesukaran dalam gerakannya.
Kalau untuk membunuh lawannya, terang akan dapat dilakukan dengan mudah, tetapi kalau untuk dapat menangkap hidup-hidup tanpa melukainya, itulah susahnya!
Kepandaian yang dimiliki Melati ternyata masih lebih tinggi dari kepandaian Kenangasari.
Ini terasa sekali oleh Elang Hitam.
Tadinya ia memandang rendah murid Ki Jenggrik yang masih muda ini.
Karena gadis yang lebih muda dari Kenangasari yang telah menjadi korbannya itu, pasti tidak mempunyai kepandaian yang berarti.
Maka pertempuran itu kini berlangsung seru, lambat, tapi pasti Elang Hitam mendesak Melati yang melawan dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannya itu.
Elang Hitam mengejek sambil mengeluarkan kata-kata jorok, mengacaukan pemusatan konsentrasi Melati dalam memainkan jurus-jurus ilmu pedangnya.
Melati mengeluarkan keringat dingin karena dia tidak menyangka sama sekali bahwa lawannya sekali ini betul-betul hebat di luar perhitungannya.
Kata-kata yang jorok itu sungguh sangat mengganggu dirinya.
Sambil mundur-mundur karena didesak oleh serangan cakar elang, Melati berusaha untuk memperbaiki posisi agar dapat menyerang lawan.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara halus bagaikan orang yang sedang berbisik di telinganya.
"Melati, pergilah kau, Nak. Iblis ini bukan lawanmu, mintalah pada gurumu untuk mengajarkan ilmunya yang terakhir. Kakak seperguruanmu, si Kenangasari telah dibunuh oleh lawanmu ini. Tuntutlah balas, Nak!"
Sepasang mata Melati yang berbinar terbelalak memandang tak percaya.
Hatinya tidak karuan rasanya mendengar berita bahwa kakak seperguruannya, Kenangasari, telah tiada.
Dibunuh orang bertopeng di depannya ini.
Kemarahan menguasai hatinya dan ingin rasanya ia dapat melumatkan orang bertopeng ini.
Tapi apa daya, kepandaiannya tidak menunjang.
Benar bisikan aneh di telinga yang memperingatkannya itu.
Dia harus segera melaporkan pada gurunya, Ki Jenggrik, tentang apa yang telah terjadi yang menimpa dirinya dan kakak seperguruannya, Kenangasari.
Melati memutar pedangnya mengarah dada lawan dan tangan kirinya menyusul bergerak, jarum-jarum halus menyerang Elang Hitam dari jarak dekat, akan tetapi si iblis ini betul-betul hebat.
Lengkingan yang tinggi dan nyaring keluar dari mulut Elang Hitam lalu tubuhnya meloncat ke atas, di udara tubuhnya membuat putaran sampai tiga kali baru meluncur turun jauh dari tempat itu.
Akan tetapi alangkah menyesalnya hati Elang Hitam ketika ia telah berdiri kembali ternyata tidak melihat Melati berada di situ.
Agaknya serangan tadi hanyalah tipuan saja.
Maksud yang sebenarnya ialah meloloskan diri dari depannya.
"Sialan...!" Elang Hitam pun teringat akan maksud dan tujuan kedatangannya ke sini, yaitu ingin membunuh anak muda yang menjadi tamu Ki Jagabaya.
Dia agaknya merasa takut kalau anak muda itu mengetahui rahasianya.
Elang Hitam takut akan bayangannya sendiri karena kedok mukanya telah terenggut oleh Kenangasari dan Kenangasari telah mengetahui siapa sebenarnya.
"Sungguh hebat! Sungguh perkasa kau, Elang Hitam!" Elang Hitam membalik dengan kaget, bagaimana tahu-tahu di belakangnya telah ada orang yang tertawa-tawa.
Sepasang matanya mengawasi dengan tajam.
Ternyata yang berdiri di depannya sekarang adalah seorang pengemis.
Pengemis tua yang alisnya telah putih semua!
Keheranan memenuhi lubuk hatinya karena dia sama sekali tidak tahu kapan pengemis ini datang ke tempat itu dan pendengarannya yang tajam kenapa tidak dapat menangkap kehadirannya!
"Siapa kau?"
"Aku siapa? Hayo... aku siapa... heh-heh-heh!"
"Bangsat tua bangka! Sebutkan namamu sebelum kau mampus di tanganku!"
"Heh-heh... aku... aku... heh-heh!"
"Sebutkan! Apa kau ingin mampus tak bernama?" Bentakan ini dikeluarkan oleh Elang Hitam yang sebetulnya merasa keder.
Pengemis ini betul-betul aneh, bagaimana tahu-tahu berada di belakangnya.
Apa bukan kakek ini yang telah main-main dengannya tadi!
Elang Hitam mengancam hanya untuk membesarkan hatinya sendiri.
Pengemis Alis Putih hanya tersenyum saja dan terkekeh geli.
Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Elang Hitam.
Tatapan matanya yang lembut itu berseri memandang sepasang mata Elang Hitam dan sorot matanya tenang bagai air telaga yang dalam.
Menghanyutkan orang yang dipandangnya.
Elang Hitam menjadi salah tingkah dan kemarahan yang memuncak membuat ia menjadi nekad.
Tubuhnya meloncat maju menerjang ke arah Pengemis Alis Putih.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke ujung jari-jari tangan yang membentuk cakar elang itu, membuat serangan itu mengeluarkan angin yang dahsyat mendahului menerjang ke depan.
"Heh-heh-heh!" Pengemis Alis Putih tertawa dan serangan itu pun lewat di samping tubuhnya.
Tangan kirinya bergerak ke depan.
"Tas!" Telinga kiri Elang Hitam kena disentil.
Tidak terlalu keras tetapi cukup mendatangkan rasa pedas di telinga yang tersentil itu.
Semangat Elang Hitam bagai melayang meninggalkan tubuhnya.
Agaknya pengemis ini bukan manusia, pikirnya.
Mungkin setan gentayangan yang datang menggodanya!
Serangan yang dahsyat tadi, menurutnya telah mengenai tubuh pengemis itu dengan telak, akan tetapi kenapa Pengemis Alis Putih tidak merasakan sama sekali? Pukulannya tadi tidak membekas seakan ia memukul sebuah bayangan saja.
Bulu-bulu di sekujur badannya berdiri semua melihat kenyataan ini.
Hatinya yang penasaran membuat ia kembali menyerang dengan bertubi-tubi melancarkan cakaran dengan tangan kiri dan kanannya bergantian ke arah tubuh Pengemis Alis Putih.
Sedangkan sepasang kakinya juga turut membantu dengan tendangan-tendangan yang dapat membuat batang pohon sebesar lengan menjadi patah.
"Hi-hi-hi...!" Bagai asap saja Pengemis Alis Putih berputaran dan anehnya semua serangan itu bagaikan menyerang asap.
Tubuh itu sama sekali tidak dapat disentuh oleh serangan yang datang bagaikan hujan itu.
Seperti ada hawa ajaib berputaran melindungi di sekitar tubuhnya, membuat semua serangan meleset sebelum mengenai tubuh yang berputar.
"Tas! Tas!" Kembali telinga kanan dan telinga kiri Elang Hitam mendapat hadiah sentilan jari tangan.
Walaupun sentilan itu tidak mendatangkan luka, akan tetapi tetap saja terasa pedas di telinganya.