Halo!

Misteri Elang Hitam - Chapter 13

Memuat...
Misteri Elang Hitam

Chapter 13

Wajah seorang pemuda belasan tahun yang sangat tampan dengan senyumnya yang menawan.

Elang Hitam menjadi penasaran!

Tidak mungkin bocah itu telah memiliki kepandaian yang begitu tinggi dan dalam satu gebrakan saja dapat membuatnya terlempar.

Mungkin tadi ia terlalu memandang rendah lawannya.

Suryo memandang ke sekeliling sambil tersenyum, lalu berkata perlahan, "Harap semua mundur. Biarlah saya yang menghadapi iblis ini sendiri saja." Begitu ucapannya selesai, Suryo melihat dari arah utara datang serombongan orang.

Tampak paling depan berjalan Ki Jagabaya.

Sungguh, pandangan mata Suryo sekarang sangat tajam, ia dapat melihat orang dalam jarak sedemikian jauhnya!

Elang Hitam pun menoleh ke belakang.

Celaka, dari depan dan belakang ia telah terkepung.

Para pesilat yang berada di Wonowoso agaknya juga telah mendapat kabar. Sehingga, dipimpin oleh Ki Jagabaya sendiri, mereka datang mencegat.

Mata di balik topeng itu pun menyorot tajam, penuh kemarahan yang menyala di sepasang matanya. Ia pun lalu membuat gerakan untuk mengeluarkan ilmu tertinggi yang dimilikinya.

Melihat lawan telah membuat persiapan untuk menyerangnya, Suryo pun lalu menyiapkan dirinya. Kedua kakinya bergerak maju mundur dengan sangat ringan. Menanti jika lawannya menyerang lebih dahulu, agar dapat membalas dengan tepat.

Elang Hitam melihat Suryo hanya maju mundur di tempat, dengan senyum mengejek tersungging di mulutnya, ia menjadi tidak sabar. Tanpa memberi peringatan lebih dulu, ia lalu menggerakkan sepasang cakar besinya. Tangan kanan mengarah pelipis dan tangan kiri merobek perut.

Melihat serangan ini, Suryo berputar cepat sambil menundukkan kepala mengelak dan melangkah maju ke depan, menghindari cakaran ke arah perut. Ia seolah dapat membaca serangan lawan. Jika ia mundur mengelak, maka sepasang cakar itu pasti akan datang menyerang tanpa ampun lagi, tanpa memberi kesempatan untuk menyusun strategi. Suryo pun lalu menggerakkan tangannya untuk menusuk ketiak lawan yang terbuka, mengarah ke jalan darah menuju jantung.

Elang Hitam pun bukanlah jagoan kemarin sore. Ia telah berpengalaman dalam pertempuran seru dan telah banyak lawan tangguh yang dibabatnya dengan mudah. Banyak yang tewas oleh senjata cakar besinya, sehingga sampai sekarang ia dapat malang melintang dan merajalela, mengumbar nafsu bejat dan kesadisan dalam membunuh lawan yang dikalahkannya.

Elang Hitam meloncat maju ke depan, lalu membalik, dan tangan kanan bergerak menyerang ke belakang kepala Suryo, didahului angin dingin yang menyambar. Suryo menekuk sebelah kakinya dan membalik dengan cepat sambil menyapu kedua kaki Elang Hitam. Elang Hitam sangat kaget mendapat sapuan beruntun ini yang kelihatannya sederhana, akan tetapi semua gerakan silatnya sungguh mengagetkan dan di luar dugaan.

Begitu mendapat serangan balik itu, Elang Hitam meloncat ke atas, dan dari atas kedua cakar besinya bergerak bergantian. Suryo pun mengelak dan membalas serangan itu. Serangan ilmu silat cakar itu dilawan dengan ilmu silat Mliwis Putih yang kelihatan jinak, namun sangat sukar ditangkap.

Keduanya berkelebatan cepat, yang tampak hanya bayangan hitam dan putih bergabung menjadi saling membelit dan berkejaran cepat, terkadang berputar-putar. Penonton yang memenuhi lapangan di dekat hutan selatan Wonowoso menjadi kagum dan heran. Mereka pun menduga-duga siapa gerangan anak muda yang tampan dengan senyum di bibir yang amat manis itu. Tiada seorang pun yang mengenal pemuda itu.

Ki Jagabaya telah sampai di tempat itu. Hatinya sangat marah. Inilah orang yang telah melukainya dan membunuh anaknya, Kenangasari. Ia ingin menuruti dorongan hatinya untuk mencincang Elang Hitam dijadikan bakso. Tetapi, melihat pertempuran itu, hatinya gentar! Keduanya sungguh sukar untuk dilihat siapa yang menang dan siapa yang kalah, tidak seorang pun yang tahu.

Melihat juga datang mendekat untuk dapat melihat dengan jelas, ia maju untuk bersiap diri kalau-kalau Elang Hitam dapat mengalahkan pemuda itu. Begitu melihat kedatangan Ki Jagabaya, Melati lalu menghampiri untuk memberi salam, dan keduanya bercakap-cakap sambil menonton perkelahian adu nyawa. Ki Jagabaya menanyakan siapa sebenarnya pemuda itu. Melati menerangkan ciri-ciri si pemuda sambil menunjuk ke arah pertempuran.

Ki Jagabaya mengerutkan kening, mengingat-ingat, "Mungkinkah anak itu adalah anak yang lenyap dari rumahnya secara misterius?" Ia pun kembali teringat kejadian itu. Tatkala ia tersadar dari pengaruh aji penyirepan orang.

Ki Jagabaya mengolet, menarik otot-otot punggung yang terasa kaku. Sejenak bingung mengapa ia tertidur di kursi, pastilah ada yang tidak beres di rumahnya. Hatinya berdebar dan ia meneliti seluruh ruangan serta kamar, akan tetapi kamar Suryo kosong dan jendela kamar itu terbuka. "Pergi ke mana gerangan anak itu?" Otaknya penuh tanda tanya.

Ketika Ki Jagabaya memeriksa para penjaga, ia pun bertambah kaget melihat para penjaga tertidur. Tidak biasanya semua ini terjadi dan Ki Jagabaya semakin bingung. Harta bendanya masih lengkap, tidak ada yang hilang, hanya anak muda yang menjadi tamunya itu lenyap tak berbekas.

Ki Jagabaya melihat ke arah adu jiwa itu. Tepat pada saat kedua orang yang sedang bertarung itu terpisah beberapa langkah. Ki Jagabaya mengawasi si pemuda tampan dan tak terasa berbisik, "Tak salah lagi! Pasti dia. Wajahnya itu... aku tak akan lupa sampai kapan pun. Suryo... ya, Suryo... pengelana dari Mataram itu!!" Orang yang di samping kirinya dan Melati yang berada di kanannya itu menoleh, memandang Ki Jagabaya yang berbisik pelan. Salah dengar membuat orang mendengar nama Suryo Lelono dari Mataram.

Tanpa sadar, berteriaklah orang yang berdiri di kiri Ki Jagabaya, "Hidup Suryo Lelono! Pendekar Suryo Lelono! Hidup!!!" Teriakan ini disambut oleh teriakan yang sambung menyambung dari banyak pesilat membelah angkasa. "Hidup Suryo Lelono! Hidup Suryo Lelono! Hidup! Hidup! Bunuh Elang Hitam! Bunuh!!!" Sorakan gegap gempita ini menciutkan hati Elang Hitam. Matanya jelalatan memandang ke sekeliling. Ternyata ia telah terkepung.

Tanpa sadar, para pesilat itu telah membuat lingkaran mengepung Elang Hitam sambil berteriak-teriak memberi semangat dan mengacung-acungkan senjata ke atas. Suara teriakan ini membuat Elang Hitam menjadi lengah. Tangan Suryo yang menyambar dari jarak dekat tadi tak dapat dielakkannya. Pundaknya terkena tamparan tangan kiri dan kancing baju depan dadanya lepas tercomot sambaran tangan kanan Suryo.

Suryo mengamati kancing baju itu. Tangannya merogoh saku bajunya, mengeluarkan kancing baju hitam yang dipungutnya dari tangan Kenangasari di hutan itu. Mengamati kedua kancing baju itu dan melihat persamaannya. Ternyata keduanya sama persis! Jadi inilah iblis yang sadis dan telah membuat teror di Wonowoso itu.

Melihat keadaan pemuda itu, Elang Hitam mengira telah mendapat kesempatan baik. Sambil meloncat, Elang Hitam menggerakkan sepasang cakarnya, menyerang Suryo yang sedang diam mematung itu. Inilah kesalahan fatal yang dibuat Elang Hitam. Sebetulnya Suryo selalu siaga menghadapi lawan ini. Melihat serangan sepasang cakar besi itu, Suryo menggerakkan kedua tangan menyambut, dilambari dengan tenaga dalam yang hebat.

"Plaakk! Plaakkkk!!" Sepasang cakar mencelat ke udara! Melayang jauh entah ke arah mana, akibat tangkisan Suryo yang telah mengetahui siapa Elang Hitam itu. Para penonton yang melihat serangan Elang Hitam tatkala Suryo sedang menunduk melihat kancing itu, kaget dan merasa pasti bahwa pemuda itu tentulah akan menjadi korban sepasang cakar besi yang ampuhnya menggila. Tetapi, apa yang terjadi sungguh-sungguh di luar dugaan mereka semua!

"Horeee! Mampus kau sekarang, elang keparat! Menyerah saja! Aku akan membuat perkedel dari dagingmu!" Tubuh Elang Hitam kelihatan menggigil, gentar! Tetapi kemarahan lebih menguasai hatinya, maka ia pun lalu berkata, "Keparat, aku belum kalah!" "Mampus kau sekarang, elang brondol!" "Ha-ha-ha!"

Elang Hitam menggerak-gerakkan tangan. Suara berkerotokan terdengar nyata. Mata penonton melotot melihat tubuh Elang Hitam bergetar hebat. Tiba-tiba dari tubuhnya keluarlah asap hitam, melindungi tubuh itu dari pandangan. Elang Hitam telah terbungkus kabut hitam yang berbau bangkai!

Inilah agaknya ilmu tingkat tinggi yang dianut Elang Hitam. Suatu ilmu hitam yang dahsyat dari pemuja setan yang sudah tidak tertolong lagi! Udara dingin menyelimuti arena pertempuran. Orang-orang yang bersorak-sorai menjadi gentar dan meremang bulu kuduk mereka. Semua terkena pengaruh ilmu yang dikeluarkan Elang Hitam.

Suryo menatap tajam semua gerakan yang dilakukan Elang Hitam, hati kecilnya berbisik, "Sungguh hebat itu. Orang ini agaknya sudah menjadi budak setan, dan kuasa gelap telah menyelimuti tubuh itu sampai tiada tampak lagi!" Suryo teringat akan petuah gurunya, Pengemis Alis Putih. Terang akan mengalahkan kuasa gelap. Semua kuasa gelap tiada satu pun yang akan dapat mengalahkan terang dari Tuhan.

Suryo menetapkan hatinya dan memejamkan sepasang matanya, menujukan segenap akal budi, hati, dan jiwanya kepada Dia! Menggerakkan kedua tangannya dan kedua tangan itu bergetar makin lama makin cepat, saking cepatnya kelihatan seakan-akan berhenti! Suryo membuka matanya lalu memandang ke depan. Sepasang mata itu bersinar lembut menembus segala kabut yang menutup tubuh Elang Hitam. Ia pun dapat melihat gerakan yang dilakukan Elang Hitam di dalam kabut hitam itu.

Tiba-tiba ia melihat Elang Hitam menggerakkan kedua tangannya mendorong ke depan. Bau bangkai menyengat hidung dan tampak kedua tangan bercahaya. Dari tengah-tengah telapak tangan itu keluar sinar hitam meluncur ke arah Suryo berdiri. Suryo pun mengangkat kedua tangan dan mendorongkannya ke depan. Orang-orang yang mengelilingi tempat itu melongo, takjub!

Kejadian malam ini tidak akan mereka lupakan seumur hidup! Apa yang mereka lihat malam ini akan menjadi dongeng bagi anak cucu mereka. Sungguh sukar diterima oleh akal, akan tetapi mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment