Chapter 14
Tangan Suryo yang mendorong ke depan dan memapaki dorongan kedua tangan Elang Hitam itu; dari tengah-tengah telapak kanannya meluncur sinar merah, sedangkan dari tengah tangan kirinya keluar sinar putih.
Kedua sinar merah dan putih meluncur ke depan menyongsong sinar hitam!
Apa yang terjadi kemudian? Kedua sinar merah dan putih itu bertemu dengan kedua sinar hitam di tengah udara, di antara mereka berdua.
Sinar merah dan putih itu mendorong kedua sinar hitam kembali ke arah pemiliknya, tak tertahankan oleh apa pun.
Menembus kabut hitam!
"Aauuhhh!" Terdengar teriakan lirih Elang Hitam.
Kabut hitam menghilang!
Elang Hitam telentang di atas tanah, mati!
Kedua matanya melotot tak percaya!
Ternyata sinar dwiwarna telah melanggar dadanya.
Tiada luka yang tampak di kulit.
Aneh, tetapi nyata!
Jalan hitam tak dapat menahan ampuhnya dwiwarna, senjata sinar yang bersatu padu!
Menghancurlumatkan angkara murka yang dikuasai iblis, yang mengganggu ketenangan dan ketenteraman penduduk dan rakyat di sekitar Wonowoso.
Hanya dengan persatuan sinar merah dan putih itu dapat menerobos kuasa gelap yang dikeluarkan Elang Hitam.
Orang-orang yang tadinya terkesima, kemudian bersorak lalu maju sambil mengangkat senjata.
Siap untuk membuat daging cacahan dari tubuh Elang Hitam.
Mereka bergerak serentak maju bagaikan mendapat... "Tahan!
Tahan, Saudara.
Tahan senjata!" Terdengar suara lantang mencegah.
Orang-orang itu berhenti.
Akan tetapi, siap untuk maju kembali.
Senjata di tangan mereka bergerak-gerak.
Suryo berdiri sambil mengangkat kedua tangan.
"Jangan tergesa dulu, tunggu!
Kita semua bukanlah iblis yang haus darah!
Ingat, tubuh Elang Hitam itu tidak berdosa sama sekali.
Biarpun perbuatan Elang Hitam telah nyata, tidak perlu kita contoh!" Suryo memandang tajam ke sekeliling.
Orang yang bertemu pandang menunduk, malu!
Mereka sadar telah terbakar emosi dan mau menghancurkan jasad yang tiada tahu apa-apa itu.
Ucapan anak muda itu menyadarkan mereka!
Mereka mundur kembali, menanti apa yang akan terjadi.
Kemarahan dan sakit hati telah terusir pergi dari hati mereka.
Memandang tubuh Elang Hitam yang tergolek di tengah.
"Buka topengnya!" Entah siapa yang bicara ini.
Semua hampir bersamaan menyambut.
"Setuju!" Mereka semua ingin tahu, siapakah orang bertopeng yang telah mengacau dan membuat kerusuhan di Wonowoso dan sekitarnya itu.
Ki Jagabaya maju ke depan, menarik kedok hitam dan... bengong terlongong dengan mulut terbuka dan matanya terbelalak lebar!
Mukanya pucat, pandangan matanya tak percaya!
Mengapa Ki Jagabaya sampai terlongong begitu kedok itu terbuka dan melihat wajah itu?
Ia segera mengenalnya dengan baik!
Elang Hitam ternyata adalah Ki Wonowoso, orang yang paling terpandang dan terhormat di Wonowoso!
Hatinya seakan membantah melihat kenyataan ini.
Tidak mungkin orang yang demikian baik, rela mengorbankan banyak uang untuk berpesta tiga hari tiga malam, ternyata adalah penjahat terkutuk!
Sedangkan Ki Wonowoso telah mengumumkan, barang siapa dapat membekuk atau membunuh Elang Hitam, si penjahat keji, akan menerima hadiah seribu uang emas. Pengumuman ini dipasang di seluruh tempat di Wonowoso.
Tetapi apa kenyataannya? Kiranya dia sendirilah biang keladinya.
Sungguh sukar untuk diterima dengan akal sehat, tetapi kenyataannya tidak dapat dibantah!
Kenyataan adalah bukti paling kuat.
Bukti dari segala perbuatan yang kita lakukan dan lihat atau dengarkan.
"Dia? Dia Ki Wonowoso!" "Ya, benar.
Aku juga mengenalnya!" "Uaaahhhhhh, edan...
Kurang apa lagi orang itu?" "Busyeeeettt!" "Remuk saja mayatnya, beres!" Orang-orang itu bicara saling sahut tidak karuan.
Begitu mereka mengenai orang di balik topeng itu!
Mendongkol, marah, tidak percaya, dan entah perasaan apa lagi yang memenuhi benak mereka!
Sambil menyumpah-nyumpah, mereka pergi, kembali ke tempat masing-masing di mana mereka tadi menginap.
Yang tertinggal di tempat itu hanyalah Melati, Ki Jagabaya, dan para prajuritnya. Suryo juga belum meninggalkan tempat itu, memandang wajah Melati yang membetot pandang matanya.
Ki Jagabaya lalu menyuruh para prajurit untuk mengurus jenazah Ki Wonowoso, mengubur mayat itu dengan semestinya.
Ki Jagabaya memandang Melati dan Suryo bergantian dan berkata, "Melati, semua telah selesai dengan lancar.
Rahasia Elang Hitam telah tersingkap, dan semua sungguh di luar dugaan.
Aku tidak menyangka sama sekali!
Ki Wonowoso yang begitu baik, dermawan, dan terhormat itu adalah..." Ki Jagabaya tidak meneruskan bicaranya.
Termenung!
Lama sekali ia berada dalam keadaan seperti itu.
Suryo dan Melati saling beradu pandang, diam dalam keadaan seperti patung.
Semua orang berdiam diri, mengikuti jalan pikiran masing-masing.
Suryo sadar dari keadaan yang tidak semestinya itu dan dia pun lalu berkata.
"Paman Jagabaya." Suryo seketika memanggil Ki Jagabaya dengan sebutan paman.
Ki Jagabaya tersentak, lalu memandang Suryo sejenak kemudian memandang Melati.
"Pasangan yang serasi," bisiknya dalam hati.
Kemudian ia menjawab.
"Suryo, Paman mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.
Paman juga mewakili seluruh penduduk sekitar Wonowoso mengucapkan terima kasih kepadamu yang telah berhasil menyingkap misteri Elang Hitam!" "Aahhh, Paman.
Itu sudah sewajarnya, Paman tidak usah repot-repot mengucapkan terima kasih segala." "Tidak, Suryo.
Paman tadi benar," Melati pun menyela.
"Ha-ha-ha... mengapa harus bertengkar?" Dan ketiganya saling pandang, tertawa hampir bersamaan karena merasa lucu.
Lucu tentang keadaan mereka ini.
Suryo pun teringat bahwa dia belum memberitahu di mana tempat Kenangasari dikuburkan.
Lalu ia pun menjelaskan kepada Ki Jagabaya di mana letak kuburan Kenangasari itu.
Melati memandang Suryo penuh kagum.
Ini semua tidak terlepas dari pandang mata Ki Jagabaya yang telah banyak pengalaman.
Hemm, agaknya si Melati menaruh hati pada anak muda itu.
Sebelum Ki Jagabaya berkata, Suryo telah mendahului.
"Paman, semua persoalan telah selesai.
Saya mohon pamit, untuk melanjutkan perjalanan." Melati tidak dapat menahan diri untuk tidak berbicara, tetapi tidak jadi.
Memandang wajah Suryo penuh pertanyaan.
Suryo kebetulan juga menoleh memandangnya, dan dua pasang mata beradu pandang.
Berbagai perasaan mengaduk dalam hati kedua teruna itu dan membuat keduanya tersenyum, wajahnya kemerahan tersipu malu.
"Ke mana, Nak Suryo, akan pergi?" Pertanyaan ini membuyarkan kedua teruna itu dari keadaannya.
Tanpa disadari, hampir bersamaan keduanya menunduk sambil tersenyum kecil.
"Melanjutkan perjalanan untuk mencari arti kehidupan dan meluaskan pengalaman, Paman." "Sungguh nikmat dan senangnya.
Dapat mengembara bagaikan seekor burung di udara, terbang bebas ke mana pun ia suka." Melati menyela.
"Melati, mari, antarkan aku untuk mencari tempat di mana kakak seperguruanmu itu dimakamkan." Ketiganya lalu berpisah.
Suryo kembali ke timur, berjalan pelan.
Baru belasan langkah, ia menoleh ke arah Ki Jagabaya dan Melati yang pergi berdua menuju utara.
Kebetulan pada saat itu pun Melati menoleh, memandang ke arah mana Suryo tadi berjalan, dan tidak dapat dicegah lagi mereka pun saling beradu pandang.
Suryo dan Melati hampir bersamaan melambaikan tangan.
Ki Jagabaya menoleh lalu ikut pula melambaikan tangan!
Lambaian tangan perpisahan, entah kapan lagi dapat bertemu dan bercengkerama sepuasnya, menceritakan keadaan diri masing-masing, saling menuturkan pengalaman-pengalaman yang dialami setelah perpisahan ini!
Dalam sekejap mata saja, dua sosok bayangan yang menuju ke utara itu lenyap di kegelapan, tertutup kabut pagi.
Sebentar lagi agaknya Sang Bagaskara bangun dari peraduannya.
Membawa sinar kehidupan dan cahayanya yang membakar, menggugah semangat untuk mencari makan demi keluarga dan anaknya!
Cahaya kemerahan muncul dari timur di balik Gunung Lawu.
Mentari pagi membangunkan segala makhluk ciptaan-Nya untuk memulai hidup baru!
Hidup penuh kesukacitaan.
Hidup di dalam terang mentari dan dapat melihat jelas apa yang dilakukan di siang hari.
Bangun dari mimpi dan melihat kenyataan hidup yang sesungguhnya!
Bukan lagi alam mimpi di kala tidur!
Suryo berjalan sambil berdendang riang.
Suaranya melengking nyaring memecah keheningan di pagi itu.
Sinar matahari yang menyehatkan menimpa tubuhnya, seakan menambah tenaga untuk melakukan tugasnya dalam mengarungi kehidupan ini.
Dengan penuh percaya diri dia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi dan terkadang melompat kecil, melompati parit yang menghalang di jalan.
Di dalam terang tampak nyata jalan yang membentang di depannya.
Semua dijalani dengan sukacita, penuh dengan percaya diri!
Sampai di sini, kita berpisah dengan Suryo, si kelana dari Mataram itu.
Karena salah dengar, maka orang-orang lalu menyebutnya Suryo Lelono.
Dan kita pun selanjutnya akan menyebutnya begitu dan bertemu dengan Suryo Lelono ini dalam pengalamannya yang lain.