Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 01

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 01

Usianya masih muda, tak lebih dari dua puluh satu tahun. Tapi wajahnya yang cantik dan beringas menunjukkan dendam setinggi langit ketika terseok dan terhuyung di bukit bebatuan itu. Tinjunya berkali-kali terkepal, mendesis dan menyebut-nyebut nama seseorang penuh benci.

Dan kalau orang melihat sinar matanya, maka orang akan bergidik menyaksikan sorot penuh benci di bola mata yang kadang berputar setengah liar itu. "Siapakah dia?" Kita dengar saja gumam dan kutuk di bibirnya.

Wanita itu mendaki bebatuan terjal ketika tiba-tiba ia mengeluh, mendekap perut dan berhenti. Dan ketika ia menyeringai dan jatuh terduduk, menahan sakit, tiba-tiba ia menangis dan mengguguk di situ.

"Hauw-ko, tolonglah aku, jangan biarkan aku mati sebelum anak ini lahir!" Orang akan merinding. Gadis atau wanita itu tiba-tiba tersedu-sedu, tangisnya mengguncang batin.

Dan ketika dia mengguguk dan memanggil-manggil nama kekasihnya, mendadak dia berteriak dan melengking tinggi, melompat bangun. "Kedok Hitam, aku akan membunuhmu. Biar aku mati menghadapi seribu pasukan, namun aku akan merajang dan mencincang tubuhmu!" dan berteriak serta mencak-mencak di situ, tiba-tiba wanita ini menjambak dan memukul-mukul tubuhnya sendiri.

Tangis dan sedu-sedan itu kini bercampur dengan pekik dan benci. Wanita itu tiba-tiba melolong dan menjerit-jerit seperti gila. Dan ketika ia bergerak terhuyung-huyung dan menyambar sebuah batu hitam, sekepalan tinjunya tiba-tiba batu itu digigit dan dikeremus.

"Kedok Hitam, aku akan menggigit dan mengunyah jantungmu. Seperti ini.... krius-kriuss!" batu itu hancur, dimamah, dan lenyap memasuki tenggorokan itu, dan wanita ini terkekeh-kekeh.

Sekarang dia melahap lagi sebuah batu yang lain, mengeletak dan menggigitnya putus seperti orang makan agar-agar. Dan ketika batu itu belah dan hancur dimamah mulutnya, maka benda sekeras karang ini sudah menjadi seperti kerupuk dan lenyap di kerongkongan wanita itu, wanita yang cantik tapi rupanya gila!

"Hi-hik, aku akan membuatmu seperti ini, Kedok Hitam. Aku akan memamah dan mengunyah semua daging dan tulang-belulangmu. Awas kau, heh-heh.... awas suatu hari aku membalas padamu!" Wanita itu menyambar lagi pasir dan bebatuan di pinggir jalan.

Mulutnya tertawa-tawa, tapi tak pernah berhenti mengunyah makanan aneh ini, pasir dan lumpur, hingga mulutnya pun menjadi kehitam-hitaman. Namun, ketika sesuatu berjengit di perutnya, dan wanita itu berteriak, tiba-tiba ia membuang semua sisa-sisa pasir dan batu di tangannya itu.

"Aduh, keparat jahanam. Jangan menyakiti ibumu, nak. Jangan meronta-ronta di perut ibumu seperti itu. Aduh, tolong, Hauw-ko. Anak kita nakal....." dan wanita ini, yang mengerang dan bergulingan di tanah, lalu menangis dan merintih-rintih lagi.

Bukan memaki-maki si Kedok Hitam, melainkan memaki-maki anak di perutnya itu. Kiranya wanita ini hamil. Dan ketika dia menangis dan meraung-raung di tanah, maka wanita itu bergulingan, memanggil-manggil kekasihnya lagi.

"Hauw-ko, anak kita kurang ajar. Aduh, kenapa punya anak seperti ini?" Ah, sakit, Hauw-ko..... sakit....!" Wanita itu mengguguk. Akhirnya, dia terlempar dan jatuh dalam satu keadaan yang menyedihkan.

Perutnya didekap-dekap, tapi akhirnya dipukuli. Wanita itu membentak anaknya, kenapa begitu menyakitkan. Dan ketika sang anak tak menghiraukan, dan rupanya membuat satu gerakan kuat karena kaget dan marah dipukuli ibunya, mendadak gadis atau wanita ini berteriak dan roboh pingsan.

"Aduh, mati aku!" Selanjutnya, tak ada gerakan. Wanita itu terguling, diam tak bergerak-gerak. Tubuhnya membujur kaku dan dingin. Agaknya, dua tiga jam dalam keadaan begitu, barangkali dia akan tewas.

Wanita itu pingsan. Tapi, tepat wanita itu terguling dan menjerit, mengeluh mati, mendadak muncul seorang nenek-nenek yang tertegun di situ.

"Ah, wanita hamil... seorang ibu muda..." Aduh, kasihan sekali kau, nak. Rupanya mau melahirkan, dan tak ada siapapun yang menolongmu. Celaka...!" dan nenek ini, yang tergesa dan bergegas melangkah, tiba-tiba berlari dan pucat menuju ke tempat itu, tersandung dan jatuh, tapi si nenek sudah bangun lagi.

Kayu kering di punggungnya terlempar, tak dihiraukan. Dan ketika nenek ini berjongkok dan meraba tubuh yang dingin, namun jantung masih berdenyut, maka nenek itu berkomat-kamit dan mengucap puja-puji semacam mantra penolong orang sakit.

"Aduh, Thian Yang Agung. Kandungannya sudah tua...!" dan sibuk mengurut atau memijat sana-sini, akhirnya nenek itu berhasil menyadarkan wanita ini, yang merintih dan mengerang.

"Cepat, tahan napas!" nenek itu berseru. "Kau akan melahirkan, hujin. Bagaimana sampai sendirian di sini. Ah, mana suamimu yang kejam itu? Kenapa tidak mengantar?" tapi, melihat si cantik menangis, tiba-tiba nenek ini terkejut, menghibur.

"Ah, sudahlah, maafkan aku. Kau rupanya baru bertengkar dan meninggalkan suamimu. Jangan khawatir, aku akan menolongmu, anak baik. Dan sekarang tahan napas kuat-kuat untuk dua detik!" Wanita itu mengguguk.

Melihat munculnya seorang nenek, tiba-tiba dia merasa mendapat teman. Memang, dalam keadaan seperti itu, dia butuh teman, atau dia akan mati. Maka, ketika si nenek menghibur dan mengurut sana-sini, maka gadis atau wanita ini tersedu.

"Kau... kau siapa?" "Aku nenek Lui, anak baik. Aku sedang mencari kayu bakar ketika melihat kau di sini. Sudahlah, tahan napas, dan turut kata-kataku. Aku akan membantumu melahirkan!" Wanita itu menangis.

Akhirnya, dia menahan napas seperti yang dikatakan nenek ini, mengerang dan merintih ketika kembali diserang rasa sakit yang hebat. Dan ketika nenek itu menyuruh ini-itu sambil meniup pusarnya, maka kain panjang terpaksa dilepas, dan si nenek menelentangkan calon ibu muda itu di rumput.

"Tenang... tenang, jangan membuat aku gugup. Bayi ini akan lahir, hujin. Aku akan membantumu. Mengejan, dan tahan napas kuat-kuat!" Wanita itu bercucuran air mata.

Akhirnya, dia menjerit ketika gerakan di perutnya menghebat. Si nenek mengurut, dan membuka pahanya. Dan ketika setengah jam kemudian, nenek itu mandi keringat karena wanita ini meronta-ronta, dan berteriak menahan sakit, padahal dia harus melawan gerakan-gerakan itu, maka sebuah kepala bayi mulai tersembul.

"Awas, jangan meronta-ronta. Kepala bayimu mulai keluar, hujin. Mengejanlah! Yang kuat! Akan kubantu menariknya, dan jangan berteriak-teriak membuat aku ketakutan!" Ternyata si nenek ketakutan. Dia terlempar, dan terpelanting ketika tadi wanita itu menamparnya.

Tenaganya demikian kuat, dan luar biasa, si nenek seolah dihempas angin topan! Maka, ketika nenek itu terbelalak, dan ngeri, tapi juga kasihan, perasaan yang campur aduk, maka dia harus kembali lagi untuk melakukan pertolongan itu.

Si cantik menjerit-jerit ketika bayi mulai keluar, tidak cepat, tapi perlahan-lahan. Dan ketika nenek itu menarik, tapi ditendang, mencelat, dan terguling-guling, maka nenek ini gentar melihat kedahsyatan tenaga si cantik!

Selanjutnya, wanita itu mengaduh, dan berteriak tak keruan. Hal ini membuat si nenek memberanikan diri untuk mendekat lagi, gemetar, dan berjongkok di bawah sepasang kaki itu untuk menarik si bayi yang semakin panjang, kena dua kali tendangan lagi, tapi si nenek tak perduli, terlempar, dan datang lagi dengan risiko kena tendang.

Jerit, dan rintih yang menyayat itu jauh lebih menguasainya dari pada rasa takut. Dan ketika nenek ini berjuang susah payah, sementara wanita muda itu melolong, dan meraung-raung, akhirnya kepala bayi ditarik semua, dan tangis yang melengking memecah keheningan angkasa.

"Sruput...!" Sang ibu muda mengeluh pendek. Perjuangan panjang akhirnya ditutup kelegaan besar. Bayi itu telah keluar, lahir.

Dan ketika tangis menggantikan jerit, atau lolong wanita muda ini, maka si nenek ganti disibukkan karena bayi itu tak mau diam! "Celaka, cerewet melebihi ibunya. Aduh... diam, anak baik.... diam, Aku akan membersihkan tubuhmu, dan lihat nenek Lui berlepotan darah!" nenek itu bingung, gugup membersihkan sana-sini, dan si bayi ditepuk-tepuk perlahan, maksudnya mau mendiamkan bayi, tapi si orok tak mau diam juga.

Nenek itu gemetaran, dan mandi keringat. Ah, dia pun semakin bingung. Tapi, ketika seseorang muncul di situ, dan nenek ini ditegur, maka kakek tua renta terkejut melihat menggeletaknya seorang ibu yang baru melahirkan.

"Ah, apa ini? Kau melakukan pertolongan darurat?" "Hei, serahkan saja anak itu kepadaku, Lui-ma. Biar kudiamkan, dan kau tolong ibunya!" Si nenek terkejut, tapi segera menjadi girang.

"Kau, Papek... Ah, kebetulan sekali. Cepat, diamkan anak ini, dan kubersihkan ibunya dulu!" Si kakek meloncat. Kiranya dia adalah suami nenek ini, dan cepat menerima bayi itu.

Bajunya rangkap dua cepat dilepas, dipakai sebagai selimut. Dan ketika anak itu sudah dibungkus, dan merasa hangat, maka si anak diam, dan kakek itu meninabobok.

"Ha-ha, kau bodoh, Lui-ma. Bocah ini kedinginan. Lihat, begitu kuselimuti dengan bajuku rangkap dua, tiba-tiba dia diam. Ah, kau bodoh. Tak tahu keinginan anak kecil!" dan si kakek yang tertawa-tawa, dan bernyanyi kecil, lalu menciumi, dan girang sekali mendapatkan anak itu.

Tak perduli pada isterinya yang tertegun, tapi segera tersenyum, menghampiri ibu si bayi, membersihkan sisa-sisa darah, dan akhirnya wanita muda ini mengeluh, menyatakan lapar. Perutnya berkeruyuk, juga haus.

Dan ketika si nenek mengangguk, dan berlari menghampiri buntalannya, yang terselip di kayu kering, maka dia sudah membuka, dan "Makanlah, aku tak punya apa-apa. Tapi ini sementara cukup untukmu." "Dan air...?" wanita itu mengeluh, menjilat bibirnya yang pucat.

"Aku haus, nek..... aku ingin minum!" "Ah-ah, ada. Aku lupa!" dan si nenek yang menyambar, dan membuka seguci air, lalu memberikannya, dan menuangkannya di mulut sang ibu.

Wanita ini menggelogok, dan tampak lahap, bibirnya seketika menjadi merah, dan segar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment