Chapter 02
Ketika tangis bayi terdengar lagi, wanita itu bangkit duduk dan meminta anaknya diserahkan kepadanya. "Aku ingin mendekapnya. Aku ingin menyusuinya. Berikan kepadaku..." pinta wanita itu. Si kakek berkerut kening, ragu dan enggan memberikan. Namun, ketika pandangan matanya bertemu dengan mata wanita itu, secercah cahaya menyambar, dan tiba-tiba si kakek membungkuk serta cepat-cepat memberikan bayinya, dengan rasa gentar. "Ini..." si kakek terbata. "Anakmu sehat dan montok, hujin. Dan tangisnya luar biasa sekali!" Wanita itu tersenyum, menerima dan mencium bayinya dengan berseri-seri.
Kemudian, ketika si bayi menangis dan wanita itu cepat membuka bajunya untuk menyusui, si kakek melengos karena istrinya melotot melihat dia memperhatikan segumpal buah dada segar. "Laki-laki...!" wanita itu mendesis. "Ah, terkabul niatmu, Hauw-ko. Anak kita laki-laki, hi-hik!" wanita itu terkekeh, bangkit berdiri, dan menciumi anaknya dengan gembira. Dia tadi telah membuka selimut dan memperhatikan jenis kelamin anaknya, ternyata laki-laki. Namun, ketika si bayi tiba-tiba tersedak dan menangis, air susu ibunya belum keluar, wanita ini tertegun dan bingung. "Cup-cup..." katanya. "Diamlah, anakku sayang. Diamlah... ibu rupanya masih kurang minum!" dan menyambar guci air di tangan si nenek, yang diminum habis. Wanita itu menyesapkan kembali puting buah dadanya yang segar.
Si kakek kembali dipaksa melengos karena istrinya menyambar tajam. Nenek itu rupanya cemburu, ah, lucu! Namun, ketika air susu tak keluar juga dan si bayi menangis melengking-lengking, nenek ini berkata bahwa si ibu harus dibuatkan jagung "sangan", digoreng tanpa minyak. "Kau baru melahirkan, air susumu belum keluar. Marilah ke rumah dan kubuatkan jagung sangan." "Benar," si kakek tiba-tiba berseru, menimbrung. "Kau dapat tinggal di rumah kami, hujin. Kebetulan sekali kami tak punya anak. Marilah, kita kesana dan kau istirahat di sana!"
Wanita ini mengerutkan alisnya. Sebenarnya dia bingung, tetapi mengangguk ketika si nenek menawarkan lagi jasa baiknya. Nenek itu telah menolong persalinannya, dan dia selamat karena nenek ini. Ketika si nenek dianggap lebih berpengalaman dan dia bingung kenapa air susunya belum keluar, wanita muda itu menyetujui dan sudah terhuyung dipapah si nenek. Si kakek sendiri sudah melompat kegirangan menyambar kayu kering istrinya. Dia akan kedatangan rezeki, rumahnya akan diisi tangis bayi. Maka ketika dia berteriak kegirangan dan istrinya sudah menuntun wanita muda itu, tak lama kemudian wanita yang baru melahirkan ini sudah berada di rumah yang sederhana di pinggir sebuah hutan kecil.
Kiranya nenek dan kakek itu tinggal di tempat yang sunyi. Mereka jauh dari tetangga, dan wanita ini tampak lega. Tadi dia sudah was-was kalau si nenek mempunyai tempat tinggal di daerah yang ramai. Dia tak menghendaki itu. Maka begitu sebuah gubuk sederhana menyambutnya dan nenek itu sudah membuka pintu rumahnya, nenek ini terkekeh menyiapkan balai-balai bambu untuk si ibu. "Di tempat ini hanya ada dua tempat tidur. Biasanya kami tidur sendiri-sendiri. Heh-heh, sekarang kau datang, anak baik. Biarlah tempat tidurku kau pakai dan aku tidur bersama suamiku!" "Terima kasih..." "Dan, eh.... siapa namamu? Bagaimana aku memanggil?" "Aku... aku tak punya nama. Biarlah kau sebut aku dengan sebutan hujin!"
"Mmmm....!" sang nenek tertegun. "Dan anakmu ini, apakah juga tak diberi nama?" "Dia Giam Liong, Sin Giam Liong!" "Giam Liong" She Sin" Ah, suamimu she Sin, hujin" Jadi kau adalah Sin-hujin (nyonya Sin)" Dan anakmu bernama Giam Liong. Ih, nama itu berarti Naga Maut!" si nenek ngeri, terkejut, dan tergetar, tetapi segera terkekeh-kekeh karena nama hanyalah sebutan saja. Nama bisa berarti macam-macam, tapi tentu nama itu tak seganas artinya. Maka begitu dia tertawa dan mengangguk-angguk, ngeloyor ke belakang, nenek ini sudah membuat makanan untuk si ibu agar air susunya cepat keluar.
Dan benar saja, susu si nyonya tiba-tiba membanjir. Buah dada yang menggelembung penuh itu mendadak deras sekali ketika diberi jagung sangan. Sin-hujin atau nyonya Sin itu tampak berseri-seri melihat anaknya yang menyusu demikian lahap. Air susunya disedot dan dihisap kuat-kuat. Bayi itu seolah anak kelaparan! Dan ketika beberapa hari kemudian ibu ini tinggal di tempat itu, Lui-ma, si nenek penolong menjadi gembira karena rumahnya menjadi ramai. Tangis bayi itu meninggalkan kesan kuat yang enak didengar. Entahlah, si nenek terkekeh-kekeh kalau bayi itu menangis. Tangis itu seolah lagu gembira yang membuat si nenek berseri-seri. Maklumlah, bertahun-tahun ini dia hidup kesepian tanpa anak. Rumah yang kosong dan hanya berdua dengan suami yang juga sudah sama-sama tua membuat nenek itu rindu akan hadirnya seorang bocah. Mereka adalah suami istri mandul yang tak memiliki harapan untuk mempunyai keturunan. Lui-ma dan suaminya memang sepasang manusia yang menderita.
Maka begitu hari-hari berikut tempat tinggal mereka diisi tangis bayi dan wanita cantik yang hanya dikenal sebagai Sin-hujin itu mau tinggal bersama mereka, seminggu kemudian ketika kesehatan ibu muda itu sudah benar-benar pulih, nenek ini menjadi tercengang ketika tumpukan kayu keringnya di dapur tak pernah surut! "Eh, seperti siluman saja. Kaukah yang mengisinya kemarin, pek-pek" Kau menambahi kayu bakar ini?" "Tidak, kenapakah?" "Persediaan kita tak pernah kurang. Kemarin sudah surut tapi sekarang tahu-tahu sudah bertambah sekian banyak lagi. Ah, siapakah yang memberi" Silumankah?" "Atau Sin-hujin itu?" si kakek terheran, membelalakkan matanya. "Mana mungkin?" sang istri menyahut. "Sin-hujin tak pernah keluar, pek-pek. Lagi pula tak biasa baginya bekerja kasar. Lihat tangan dan kakinya yang halus begitu. Wanita macam begitu adalah priyayi tulen, bangsawan atau anak orang kaya, bukan seperti kita yang miskin dan papa ini. Ah, tak mungkin!" "Lalu siapa?" "Entahlah, aku tak tahu. Dan anehnya pula periuk tempat berasku selalu penuh. Begitu juga persediaan ikan dan daging!! Ah, kita jadi makan enak setiap hari."
Pa-pek, kakek she Pa ini mendelong. Dia jadi mengerutkan kening berulang-ulang setelah istrinya bercerita seperti itu. Dan benar, beras dan segala kebutuhan lauk-pauk di tempatnya selalu penuh. Mereka sekarang bukan lagi makan sayuran melulu, melainkan juga ikan dan daging, bahkan di tempat mereka ada anggur segala, bukan anggur sembarang anggur, melainkan anggur merah yang wangi dan menyehatkan. Minuman itu biasanya di tempat orang kaya dan bukan di gubuk seperti milik mereka itu. Aneh! Dan ketika kakek itu mengangguk-angguk dan bersinar matanya, menduga bahwa Sin-hujin itu adalah istri seorang hartawan atau bangsawan kaya, suatu malam kakek ini berkasak-kusuk dengan istrinya. "Kau tahu siapakah dia" Bagaimana kira-kira?" "Maksudmu?" "Aku menduga Sin-hujin ini istri seorang hartawan atau bangsawan, Lui-ma. Tapi istri muda atau barangkali gundiknya. Kita harus berhati-hati!" "Ah, maksudmu?" "Aku takut kalau dia melarikan diri atau diusir. Kalau melarikan diri, hmm... berarti ada sesuatu yang tidak beres di rumah suaminya. Siapa tahu barangkali dia mencuri!" "Pa-pek!" sang nenek terkejut. "Kau bicara apa ini" Kau mencurigai orang yang tidak-tidak?" "Sst, jangan keras-keras. Aku sekarang jadi curiga dan mengetahui siapa yang mengisi ransum makanan kita, Lui-ma, ternyata benar Sin-hujin itu. Semalam dia lenyap, dan aku heran. Tapi ketika aku mau bangun dan melihat bayinya sendirian, mendadak Sin-hujin itu muncul lagi dan di tangannya penuh bawaan seperti beras dan lain-lainnya itu. Dialah yang mengisi ransummu, dan dia meletakkan itu di dapur!" "Kalau begitu kita mendapat rezeki. Sin-hujin membawa keberuntungan!" "Hush, keberuntungan bagaimana" Bagaimana kalau barang bawaannya itu hasil curian?" "Apa?" "Benar, aku jadi curiga pada tamu kita ini, Lui-ma. Kalau benar dia gundik seseorang dan melarikan diri karena mencuri, maka jangan-jangan kebiasaan jeleknya itu dibawa-bawa dan kita bisa celaka oleh hasil perbuatannya!"
Sang nenek tertegun. "Aku tak percaya..." katanya. "Aku lihat Sin-hujin itu orang baik-baik, pek-pek. Buktinya dia tak pernah mengganggu kita dan justru menolong kita dengan mencari makanan. Masalah mencuri, ah, kau terlalu menduga jelek. Bukankah dia juga memiliki gelang dan cincin permata" Siapa tahu barang-barangnya itu sebagian dijual dan digantikan ransum atau makanan untuk kita itu!" "Ya, tapi siapa tahu gelang atau cincinnya itu hasil curian! Aku melihat wanita ini aneh, Lui-ma. Sikapnya pendiam dan kadang-kadang bola matanya berputar seperti gila!" "Ah, kau..!" nenek ini marah. "Tak perduli baik atau tidak, tapi dia sudah mengisi rumah kita, Pa-pek. Kita sudah mendapat teman dan anaknya yang mungil itu menjadi bagian hidupku. Aku tak mau kau membuat gara-gara kalau tak ada bukti!" "Hm-hm...!" si kakek mengangguk-angguk. "Kalau begitu lihatlah saja, Lui-ma. Tapi kalau benar omonganku maka jangan salahkan aku!"
Dua kakek nenek itu lalu tidur. Mereka tak bicara dan kasak-kusuk lagi, dan si kakek tak tahu betapa sepasang mata berkilat mengawasinya dari balik dinding. Sebuah gerakan tampak ditahan, dan itulah lengan Sin-hujin. Wanita itu mendengar dan sorot matanya mengeluarkan api. Sebatang jarum siap di tangan, tetapi tak jadi digerakkan. Hampir saja jarum itu melayang dan menembus kepala si kakek. Dan ketika dua suami istri itu tak berbisik-bisik lagi dan mereka tidur di balai-balai mereka, wanita ini mendengus dan mencengkeram hancur sebuah batu yang juga siap disambitkan. Batu itu menjadi tepung, dan kalau si kakek melihat ini, tentu dia ngeri, mungkin semangatnya sudah terbang mendahului keberaniannya.