Chapter 03
Malam itu berlalu tanpa kejadian apa pun, dan Sin-hujin mencium pipi anaknya sebelum tidur. Seminggu kemudian, kakek She Pa yang masih memiliki kecurigaan dan rasa was-was terhadap Sin-hujin, didatangi oleh tiga lelaki berwajah seram.
Saat itu, Sin-hujin tidak ada di rumah, dan nenek Lui sedang mencari kayu bakar. Kakek Pa menerima kedatangan tiga lelaki itu dan berbicara dengan mereka, tampak serius. Namun, ketika bayangan seseorang muncul di depan, diikuti dengan tangisan bayi, kakek Pa terkejut dan menyuruh tiga lelaki itu bersembunyi.
"Lihat, dia datang. Kalian menyelinap di belakang dan buktikan kata-kataku!" tiga lelaki itu mengangguk dan bersembunyi. Ketika kakek Pa keluar dan pura-pura menyambut Sin-hujin, dia tertegun melihat gelang-gelang emas di tangan Sin-hujin, yang berjumlah dua kali lipat dari yang dilihat sebelumnya.
"Ah, kau dari mana, hujin? Dan apa yang kau bawa itu pula?" kakek Pa terbelalak. Di samping gelang-gelang emas, Sin-hujin juga menyeret seekor harimau besar yang telah mati. Kakek Pa terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar.
Sin-hujin berhenti dan memandang kakek Pa tanpa berkedip, lalu berkata, "Pa-lopek, tak usah kau tanya dari mana aku. Tapi kulitilah dan kerat daging harimau ini untuk makan siang kita. Tadi Luima diserang harimau ini, kubunuh dan sekarang biar menjadi santapan kita. Kerjakan itu dan jangan menganggapku yang tidak-tidak."
Kakek Pa tertegun, "Ini... ini... bagaimana tadi? Lui-ma diserang harimau? Kau tadi membunuhnya?" Sin-hujin tidak menjawab. Wanita itu terus melangkah, dan kakek Pa tersentak ketika tiba-tiba dari luar sana terdengar jerit dan tangis Lui-ma.
Nenek itu muncul dan berlari-lari mengejar Sin-hujin, berkali-kali roboh tapi bangun lagi memanggil-manggil nyonya muda itu. Ketika Pa-lopek menghampiri dan menangkap lengannya, nenek itu terguling dan kayu di belakang punggungnya juga terlepas.
"Aduh, hampir aku mati. Celaka! Aku nyaris diterkam harimau, Pa-pek. Hampir aku terbunuh! Ah, untung ada Sinhujin itu. Dia menolongku.... dia menampar harimau itu... dan.... dan, ah.....harimau ini disini?" sang nenek tiba-tiba tertegun, seketika menghentikan teriakan-teriakannya dan matanya melotot memandang bangkai harimau itu.
Ketika nenek itu menjerit dan mengguguk menubruk suaminya, kakek Pa gemetar mencoba menghibur, masih kebingungan. "Apa yang terjadi? Bagaimana Sin-hujin membunuh harimau? Bukankah dia wanita lemah, Lui-ma? Masa dapat membunuh harimau?" "Ah, siapa bilang? Sin-hujin itu ternyata memiliki gerakan cepat seperti siluman, Pa-pek. Ketika harimau itu menerkam dan mau membunuh aku, tiba-tiba Sin hujin berkelebat dan menolong. Harimau itu ditampar, dan tahu-tahu roboh di depan mataku. Ah, hampir pingsan aku waktu itu! Dia... dia wanita hebat. Rupanya sakti dan dewi malaikat!"
Nenek itu melepaskan diri dan memasuki rumah, mengejar Sin-hujin. "Hujin, terima kasih. Kau telah menyelamatkan nyawaku!" Sin-hujin berhenti menoleh, melihat sang nenek menjatuhkan diri berlutut. "Aku menolongmu karena kaupun telah menolongku, Lui-ma. Tak ada terima kasih di antara kita. Bangunlah, dan tanya suamimu apa saja yang hari ini diperbuatnya!"
Sang nenek tertegun. "Suamiku... Dia... dia menunggu rumah!" Sin-hujin berkilat. "Hm, aku mencium bau tikus-tikus busuk disini. Apakah dia memelihara tikus-tikus pecomberan? Atau tikus-tikus itu yang sengaja datang dan mau mencuri makanan disini?" Ketika si nenek kebingungan dan tak mengerti apa yang dimaksud, Sin-hujin bergerak dan tahu-tahu telah berkelebat ke belakang rumah, persis di depan tiga laki-laki yang kaget bukan main karena persembunyian mereka diketahui.
"Hm, inikah?" Sin-hujin mendengus. "Siapa kalian, tikus-tikus busuk? Mau apa datang dan menggerayangi rumah orang?" Tiga laki-laki itu berteriak tertahan. Mereka mengintai dan bersembunyi disana, melihat dan mendengar semuanya itu dan diam-diam mereka merasa heran dan kaget juga bahwa Sin-hujin ini dikabarkan membunuh harimau, padahal binatang itu cukup besar dan tak masuk akal kiranya kalau wanita yang demikian lembut dan halus gerak-geriknya itu membunuh harimau.
Mereka dipanggil Pa-lopek yang menceritakan keganjilan itu, adanya seorang wanita muda yang cantik dan baru melahirkan tapi mempunyai perhiasan-perhiasan emas. Gelangnya ada enam buah sementara cincinnya sepasang. Pa-lopek mencurigai wanita ini karena setelah melahirkan Sin-hujin itu tak pergi mencari suaminya, jadi dugaan bahwa dia melarikan diri adalah kuat.
Dan karena Pa-lopek diam-diam mengincar perhiasan-perhiasan itu sementara jakunnya sering naik turun kalau melihat Sin-hujin menyusui anaknya, maka kakek ini akhirnya menemui tiga laki-laki itu dan merundingkan siasat. "Aku terhalang isteriku. Kalian rampaslah gelang-gelang emas itu dan kita bagi bersama. Sedang dia, hmm... bawa ke hutan di depan itu dan biarkan aku membujuknya untuk menjadi isteriku!"
Tiga laki-laki itu setuju dan berjanji akan melakukan rencana itu. Namun, ketika mereka bersembunyi dan menunggu kesempatan, Sin-hujin tiba-tiba berkelebat dan menemukan persembunyian mereka. "Hm, inikah?" Sin-hujin mendengus. "Siapa kalian, tikus-tikus busuk? Mau apa datang dan menggerayangi rumah orang?"
Hu-san, salah satu dari tiga laki-laki itu, tertawa lebar dan berkata, "Ha-ha, aku Hu-san, nyonya. Orang yang menguasai daerah ini sampai tapal batas gunung Yee-san!" Sin-hujin berkilat. "Hm, kau! Apa maksudmu ke mari? Kenapa bersembunyi?" Hu-san menjawab, "Aku, ha-ha.... terus terang datang karena tertarik padamu. Aku kasihan pada bayimu itu, ingin menawarkan jasa baik dan tinggallah di rumahku yang lebih baik. Kakek she Pa itu tak pantas untukmu. Jauh lebih pantas di tempatku dan kita dapat bersenang-senang, ha-ha!"
Sin-hujin berkilat. "Bersenang-senang? Apa maksudmu?" Hu-san menjawab, "Wah, artinya aku ingin mengambilmu sebagai isteri, nyonya. Kau cantik tapi sendirian. Tentu kau kesepian. Biarlah tinggal bersamaku dan segala kebutuhan hidupmu kujamin!" Sin-hujin marah dan menampar Hu-san, membuatnya terpelanting roboh menjerit dan terguling-guling. Pa-lopek berseru tertahan sementara dua teman Hu-san yang lain terkesiap.
Mereka kaget dan pucat ketika melihat Hu-san dibuat bergulingan hanya oleh sebuah tamparan saja. Hu-san meloncat bangun dan marah bukan main, berteriak, "Heh, wanita siluman. Keparat jahanam! Berani kau memukulku dan menamparku seperti ini? Bedebah, lekas jatuhkan diri berlutut kalau tak ingin golokku menyambar, nyonya siluman. Diajak baik-baik tak mau malah menghina aku. Terkutuk, cepat minta ampun dan jangan biarkan aku marah!"
Sin-hujin mendengus. "Hm, masih kurang? Orang macam kau tak pantas kuajak bicara lagi, Hu-san. Pergilah atau kau pulang tinggal nama!" Hu-san tertawa lebar dan mengeluarkan goloknya, berniat menyerang Sin-hujin. Namun, Sin-hujin berkelebat dan lenyap, membuat Hu-san menghajar tanah dengan goloknya.