Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 04

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 04

Ketika Hu-san berteriak dan nenek Lui-ma serta suaminya berteriak kaget, wanita itu muncul lagi dan sebuah tendangan menghajar pantat laki-laki itu. Hu-san mencelat menumbuk pohon. Laki-laki itu tak menyangka dan baru saja berkutat menarik golok, tentu saja terkejut dan menjerit, dan kontan kepalanya beradu keras.

Laki-laki itu mengeluh dan pingsan, seketika roboh kelengar. Dan ketika dua yang lain tertegun dan tersentak, pucat melihat ini, maka wanita itu membalik karena saat itu bayinya menangis. "Cup-cup..." katanya tenang. "Tak ada apa-apa disini, Liong-ji. Ibu hanya menghajar dan membuat si kumis itu pingsan. Kau diamlah, ibu akan melindungimu," dan mengeluarkan buah dadanya menyesapi bayinya dengan puting yang penuh dan segar, maka wanita itu berjalan dan memasuki rumah, tak perduli pandang mata dua teman Husan yang lain dan juga kakek Pa, tak perduli pada keadaan sekitar karena saat itu juga ia harus menyusui bayinya yang terbangun dan menangis oleh sedikit keributan itu.

Tapi ketika wanita ini memasuki rumah dan dua laki-laki di luar sadar, mendadak mereka membentak dan mencabut golok, hal yang membuat nenek Lui-ma menjerit. "Heii...!" dua laki-laki itu berteriak "Tunggu dan berhenti, wanita siluman. Kau menghajar dan membuat Hu-twako pingsan. Kau jangan sombong!" Wanita itu berkilat, sudah dikepung. "Kalian mau apa?" Dua laki-laki itu tertegun. Mereka merasa dingin juga mendengar suara yang tidak berperasaan ini. Suara itu seperti suara mayat, kaku dan dingin.

Tapi karena teman mereka dihajar dan wanita ini sudah menjual lagak maka mereka yang ingin menuntut balas tapi tertegun oleh buah dada yang segar montok itu tiba-tiba naik turun jakunnya menelan ludah. Wanita itu membiarkan saja buah dadanya terlihat laki-laki! "Kami.... kami...." laki-laki di sebelah kiri melotot. "Kami ingin kau menyerah dan minta maaf!" "Benar," temannya di sebelah kanan juga melotot, bahkan sebesar jengkol! "Kami tak mau kau bersikap sombong, nyonya. Kalau kau mau baik-baik minta maaf dan ikut kami maka kesalahanmu ini kami ampuni!"

"Hm!" suara itu kembali terdengar, dingin dan tak berperasaan. "Kalau begitu kalian tunggu aku diluar. Biar kususui anakku ini dan baru sete lah itu kalian boleh bicara lagi..... dess!" dan dua laki-laki itu yang mencelat oleh sebuah tendangan kilat tiba-tiba menjerit dan terbanting di luar roboh. Mereka tadi tak tahu kapan datangnya serangan itu, baru mau bersiap-siap tapi mendadak tendangan sudah melayang. Tentu saja mereka berdebuk! Dan ketika dua laki-laki itu merintih dan tak dapat bangun berdiri, karena sebelah kaki mereka patah maka nenek Lui berteriak dan tiba-tiba mengambil palang pintu serta menghajar dua laki-laki itu.

"Bedebah, terkutuk jahanam. Kiranya kalian pengganggu dan pengacau liar. Hih rasakan ini, orang-orang busuk. Berani benar kalian memaksa dan berkurang ajar kepada Sin-hujin.... buk-buk-buk!" alu atau palang pintu itu sudah menghantam pulang balik, tujuh delapan kali menghajar dua laki-laki itu dan tentu saja dua laki-laki ini berteriak kesakitan. Mereka tak dapat menangkis atau mengelak karena kaki sedang patah. Maka begitu dihajar dan jatuh bangun meminta-minta ampun maka keduanya kontan berseru pada Pa-lopek. "Aduh, tobat. Tolong, Pa-lopek. Suruh isterimu ini berhenti dan jangan biarkan kami dipukuli!" Pa-lopek bergerak. Melihat isterinya memukuli orang-orang itu, kakek ini terkejut.

Mereka menjadi korban adalah garagaranya, jadi mau tak mau dia harus menolong dan sudah menyambar alu di tangan isterinya itu. Dan ketika sang isteri memekik dan mereka bersitegang, yang satu menarik dan yang lain menahan maka kakek itu berseru, "Jangan.... jangan hajar lagi mereka itu, Lui-ma. Cukup! Biarkan mereka pergi dan jangan siksa lagi!" "Apa, pergi? Keparat jahanam, mereka itu orang-orang yang menghina Sin-hujin, Pa-pek. Dan Sin-hujin adalah penyelamat jiwa isterimu ini. Mereka tak boleh pergi, Sin-hujin menyuruh tunggu!" "Tidak, jangan...!" sang suami pucat. "Hujin sudah masuk ke dalam, Lui-ma. Hujin sudah tidak memerlukan mereka lagi. Biarkan kita ampuni dan jangan pukuli lagi!" Dua suami isteri itu berkutat. Sejenak sang nenek tak mau mengalah dan ngotot mempertahankan senjatanya. Tapi ketika alu itu berhasil direbut dan sang kakek membuangnya maka kakek itu membujuk agar isterinya tidak marah-marah lagi.

"Yang bersangkutan sudah membiarkan orang-orang ini. Sin-hujin tak membunuhnya. Biarlah untuk sekali ini kita ampuni mereka dan biarkan mereka pergi!" "Terkutuk!" si nenek mengepal tinju. "Sekali lagi berani datang tentu tak mau aku mengalah, Pa-pek. Baiklah, biar mereka pergi dan hitung-hitung ini sebagai hajaran buat mereka!" Pa-lopek lega. Isterinya sudah didorong dan disuruh masuk ke dalam. Sin-hujin barangkali perlu bantuan dan kakek itu mengangkat bangun dua laki-laki itu. Di sini kakek itu berbisik agar mereka tak usah datang lagi. Korban kiranya bukan daging yang empuk melainkan batu yang atos. Seatos batu karang. Tapi ketika dua laki-laki itu mengancam bahwa mereka akan datang lagi, dengan kawan yang lebih banyak maka kakek itu pucat mendengar kata-katanya.

"Isterimu ikut campur, kami tak terima. Kami akan datang dengan jumlah yang lebih banyak, lopek. Dan kami akan membalas semua kejadian ini. Perempuan itu akan kami bunuh, dan isterimu juga!" "Tidak!" sang kakek pucat. "Isteriku tak tahu apa-apa, Wiyung. Jangan kau mengancamnya seperti itu. Kalau kalian penasaran kepada Sin-hujin itu boleh saja kalian membalas, tapi jangan disini. Sebaiknya kuatur waktu agar kalian dapat menemuinya di hutan!" "Hm, ini semua gara-garamu, dan kau masih juga membela mereka. Keparat, kau harus membunuh isterimu itu, Pa-pek. Atau kami membuka rahasia ini bahwa kaulah biang keladinya!" "Jangan.... tidak! Ah, sudahlah. Aku akan mengatur untuk kalian pembalasan ini dan sekarang baiklah pergi cepat-cepat. Bawa si Hu-san itu!" Dua laki-laki itu mendengus. Mereka babak-belur dihajar si nenek. Kalau saja mereka sebelumnya tak dihajar Sin-hujin itu tentu si nenek bukan apa-apa. Dan si nenek menjadi demikian berani karena mereka sudah dihajar wanita muda itu. Keparat!

Mereka tertatih dipapah bangun, berbisik dan mengancam bahwa si kakek harus melakukan sesuatu untuk mereka, atau kakek itu akan mendapat pembalasan. Dan ketika Pa-lopek mengangguk-angguk dan gemetar kenapa dia mengundang orang-orang ini, mencari penyakit, maka dua laki-laki itu terpincang membawa pemimpinnya. Tapi bayangan Sin-hujin tiba-tiba berkelebat menghadang. "Siapa suruh pergi?" Dua laki-laki itu pucat, menggigil. "Aku tak menyuruh kalian pergi, tikus-tikus busuk, melainkan menunggu. Hukuman kalian belum selesai!" "Ampun," Pa-lopek tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. "Aku yang menyuruh mereka pergi, hujin. Aku yang mintakan ampun untuk mereka. Kau biarkanlah mereka pergi dan sudahilah kejadian ini!" "Hm, kau mulai mencurigakan," Sin-hujin itu memandang kakek ini. "Aku tak memberikan ampun, Pa-lopek. Kau minggirlah dan jangan ikut campur!" Pa-lopek pucat. Tiba-tiba dia melihat isterinya muncul dan menggendong Giam Liong, anak laki-laki itu. Dan merasa bahwa hanya isterinya inilah yang dapat membujuk Sin-hujin maka kakek itu berlari dan berlutut di depan isterinya.

"Lui-ma, kau tolonglah aku. Mereka akan membunuhku kalau tidak dibebaskan. Bujuklah Sin-hujin agar menyudahi masalah ini!" Si nenek mengerutkan kening. Giam Liong tiba-tiba menangis lagi. Sang bocah terganggu oleh ribut-ribut itu. Tapi ketika nenek ini melihat suaminya menangis dan baru kali itu dilihatnya begitu ketakutan maka nenek ini menarik bangun suaminya dan tergopoh-gopoh menyerahkan anak laki-laki itu. "Hujin, sudahlah. Aku jadi bingung kalau ada dua laki-laki menangis begini. Aku mengasihani suamiku, dan anakmu pun juga menangis lagi. Kau biarkanlah mereka pergi, hujin. Lepaskanlah mereka yang tak mungkin berani datang lagi!" Wanita itu bersinar-sinar. Pandangan matanya yang tajam menusuk membuat kakek Pa tak berani membalas. Kakek itu ketakutan dan gemetar. Tapi ketika dia mengangguk dan menerima anaknya yang menangis maka wanita ini membalik dan berkelebat pergi.

"Baiklah, kubebaskan mereka, Lui-ma. Tapi sekali lagi mereka berani menggangguku maka hukuman mati tak dapat kubatalkan!" Kakek Pa girang. Begitu Sin-hujin lenyap dan masuk ke dalam maka kakek ini tergopoh-gopoh menghampiri dua laki-laki itu. Wi-yung dan temannya disuruh pergi, secepatnya. Dan ketika dua laki-laki itu melotot namun jerih, di samping dendam maka Hu-san pemimpin mereka kembali dibawa dan dua laki-laki itu terpincang meninggalkan tempat celaka itu, mendesis menahan sakit. "Pa-lopek, kau telah melakukan sesuatu untuk kami, terima kasih. Tapi beri tahu kami kapan kami dapat menemui siluman betina itu di hutan!" "Sudahlah," kakek ini tergesa, bingung "Sasaran kita ternyata batu karang, Wi-yung, bukan barang yang empuk. Lain kali saja kuberi tahu dan pergilah cepat-cepat!" Dua laki-laki itu pergi. Mereka mengancam dengan suara perlahan dan si kakekpun gemetar. Kejadian hari itu tak akan dilupakan dan Pa-lopek tetap dituntut untuk mempertemukan mereka dengan Sin-hujin itu, di hutan.

Dan ketika mereka lenyap dan nenek Lui mengerutkan kening maka nenek itu menegur apakah suaminya mengenal orang-orang itu. "Tidak, mereka tahu-tahu sudah ada di belakang rumah kita. Aku tak mengenal mereka kecuali Wi-yung!" "Dan kau berbisik-bisik dengan mereka itu. Apa yang kau lakukan, Pa-pek? Kau main-main api?" "Tidak... tidak!" sang kakek tergopoh. "Aku tak tahu apa-apa tentang semuanya ini, Lui-ma. Mungkin si Wi-yung itu kebetulan tahu Sin-hujin ada disini dan mengajak temannya untuk maksud yang tidak baik!" "Hm, kau bicara benar?" "Tentu saja. Aku tak pernah berbohong, Lui-ma. Kau tahu itu!" Sang isteri lega. Memang selama ini ia tahu bahwa suaminya tak pernah berbohong. Pa-lopek biasanya jujur dan suka bicara apa adanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment