Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 05

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 05

Suatu perubahan besar sedang terjadi, tetapi tak ada yang menyadarinya. Pa-lopek, seorang kakek yang telah menua, diam-diam menggILA melihat Sin-hujin, seorang wanita muda yang menyusui anaknya. Kakek itu tergila-gila dan terangsang nafsunya ketika melihat pemandangan tersebut.

Kakek itu bangkit berahi ketika segumpal buah dada segar terbayang di depan matanya. Ah, sudah puluhan tahun ini dia "kering" dari pemandangan seperti itu. Milik isterinya kempot, milik isterinya sudah tak menggairahkan lagi, dan terus terang dia terbakar melihat pemandangan itu. Apalagi kalau berhasil diintai secara mencuri-curi, ah, nikmatnya bukan main!

Kakek itu mulai dimabok nafsu dan berahi yang kian membakar, membuat kakek ini lupa diri. Dia bermaksud untuk merayu Sin-hujin itu dan membujuknya agar mau menjadi isterinya. Tapi di rumah itu ada Lui-ma, isterinya. Ah, isterinya yang ini dirasa mengganggu, dan dia bingung. Kalau menurutkan nafsunya, tentu ia ingin main seruduk saja dan tak perduli. Tapi kalau dia gagal dan Lui-ma juga marah, tentu dia akan kehilangan kedua-duanya. Dan itu rugi besar!

Pa-lopek memeras otak dan akhirnya ditemuilah jalan keluar itu. Dia meminta pertolongan Hu-san dan kawankawannya, menjanjikan perhiasan Sin-hujin itu sementara dia tubuhnya. Tapi ketika Sin-hujin berbalik menghajar tiga lakilaki itu dan kakek ini terkejut, tak menyangka, maka tiba-tiba kakek itu menjadi jerih dan gentar! Tapi nafsu tetaplah nafsu. Laki-laki tua itu hanya sebentar saja dibuat kecut.

Betapapun dia belum merasakan sendiri hajaran Sin-hujin. Kakek ini tak tahu siapa Sin-hujin itu, tak tahu bahwa ia adalah wanita ganas yang sedang mengalami goncangan jiwa. Sin-hujin menjadi tenang sejenak setelah nenek Lui memberinya kehangatan dan perhatian cinta kasih. Nenek itu telah menolongnya dan melepas budi kebaikan. Semuanya itu menormalkan gejolak di hati wanita muda ini, meskipun gejolak itu bisa berobah sewaktu-waktu kalau disulut sumbu peledaknya.

Ketika hari-hari berikut keadaan tenang kembali, sementara Lui-ma sudah melupakan kejadian itu, menghormat dan semakin dekat dengan Sin-hujin, tiba-tiba saja nafsu kakek itu bangkit lagi ketika suatu hari isterinya pergi ke hutan, melihat Sin-hujin menyusui anaknya di kamar, sendirian. "Heh-heh...!" kakek itu tak ma lu-ma lu, nyelonong begitu saja. "Anakmu semakin gemuk dan sehat, hujin. Ah, betapa lahap dan senangnya menikmati air susumu. Aduh, betapa Sang nyonya terkejut."

Kakek itu mengawasi anaknya yang menyusu atau mungkin buah dadanya sendiri mendadak Sin-hujin ini mengerutkan kening tapi membiarkan saja buah dadanya terbuka, tak tahu bahwa si kakek sampai mengilar, mendecak menelan liurnya sendiri! "Eh, kau ada apa, lopek? Kenapa masuk kesini?" "Heh-heh, aku... hm, aku ingin melihat anakmu itu. Kemarin menangis terus, apakah sakit? Kalau sakit cepat diobati, hujin. Ada beberapa ramuan obat yang kutahu. Atau berikan padaku dan biar kulihat!" si kakek maju, menjulurkan tangan dan tiba-tiba menyambar Giam Liong.

Dalam gerakan ini tentu saja dia harus menyentuh atau bersentuhan dengan buah dada si ibu, yang menyembul dan sedang menyusui anaknya, buah dada yang montok dan memang segar! Tapi ketika si kakek bergerak dan hampir bersentuhan tiba-tiba Sin-hujin itu mengelak dan membentak, melihat sinar mata si kakek yang ganjil, "Pa-lopek, jangan lancang. Anakku tak apa-apa. Pergilah!" Si kakek melotot lebar. Dalam mengelak dan menjauhkan diri itu tiba-tiba saja susu si ibu lepas dari mulut anaknya. Giam Liong terkejut dan menangis, susu ibunya menggantung di luar, kokoh dan padat, air susunya sampai menetes-netes!

Dan ketika Pa-lopek terbelalak dan kagum oleh pemandangan ini, buah dada seorang ibu muda yang sedang penuh air susu maka kakek itu tak tahan berseru memuji, mulutnya mendecak. "Aduh, nikmat benar. Air susumu menetes-netes, hujin. Ah, sayang dibuang. Biarkan aku menerimanya kalau anakmu tidak lapar!" dan sigap tertawa penuh nafsu mendadak si kakek yang menjadi jalang dan tak tahu malu ini tiba-tiba merunduk dan menjilat air susu yang menetes-netes itu. Sikapnya liar dan cabul sekali, mengejutkan sang nyonya yang tak menyangka bahwa seorang kakek seperti itu ternyata masih pula memiliki berahi, kini merunduk dan bersikap seperti anjing yang siap menjilat-jilat!

Sin-hujin tertegun dan tentu saja cepat menyambar bajunya, menutup bagian yang rupanya menimbulkan syahwat si tua bangka. Dan ketika si kakek terkejtut dan tampak kecewa, melotot, tiba-tiba nyonya itu mengeluarkan satu seruan pendek dan pinggang si kakek tertekuk menjadi dua ketika mendapat sebuah tendangan kuat. "Bedebah, kiranya kau binatang jalang!" Sang kakek menjerit. Pa-lopek berteriak karena tahu-tahu tubuhnya terlempar keluar, berdebuk dan jatuh terguling-guling di sana.

Dan ketika kakek itu merintih dan mengaduh-aduh, kesakitan, maka Sin-hujin berkelebat dan melepaskan lagi tendangan beruntun. "Keparat jahanam, kau tak tahu malu, Pa-lopek. Kurang ajar! Bedebah terkutuk, kiranya kau anjing hina-dina... desdes-dess!" si kakek menjerit-jerit, jatuh bangun dihajar sepasang kaki yang indah tapi menakutkan itu dan kakek ini terpental pulang balik. Sin-hujin marah memaki-makinya tapi akhirnya kakek itu berteriak minta ampun.

Sadarlah si kakek bahwa nyonya muda ini bukan wanita sembarangan. Hu-san dan dua bulanan dan berteriak mengaduh-aduh, teriakan yang tak dihiraukan mendadak dari luar muncul bayangan nenek Lui. "Ada apa? Apa yang terjadi?" Sang kakek dan sang nyonya sama-sama terkejut. Sin-hujin menghentikan tendangannya sementara si kakek lalu menelungkup. Pinggang kakek itu seakan patah-patah dan bingunglah dia mencari jawaban.

Isterinya muncul, celaka. Tapi ketika Sin-hujin membelalakkan mata dan menahan marah, anaknya menangis tapi sudah kembali disesapi buah dadanya maka si kakek tertatih dan gemetar bicara, tak berani memandangi buah dada yang membuat dia celaka itu, "Aku... aku jatuh tertimpa tangga. Seekor kucing lewat dan mengejutkan aku, miring dan akhirnya jatuh. Aduh, pinggangku serasa patah-patah, Lui-ma, tolong pijitin dan gosok minyak lumur!" Sang nenek tertegun. "Kucing? Disini ada kucing?" "Entahlah, barangkali kucing hutan, Lui-ma, kucing liar. Tadi Sin-hujin menggebuknya tapi kena aku...!"

Sang nenek menoleh. "Hm! Benarkah hujin? Di mana kucing itu sekarang?" "Aku tak tahu, tapi mungkin hinggap di hidung suamimu itu!" dan Sin-hujin yang membalik dan mendengus marah akhirnya membuat si nenek menjublak dan bengong, merasa ada sesuatu yang tidak beres tapi nenek ini tak bercuriga. Dia memang belum pernah cekcok mulut dengan suaminya itu, setidaknya dalam tujuh delapan tahun ini. Sang nenek tak tahu bahwa suaminya tiba-tiba kembali menjadi "muda", panas dan bergairah setelah sering mencuri lihat Sin-hujin menyusui anaknya. Pemandangan yang membuat kukoay itu bangkit dan penuh semangat, tak mengukur diri sendiri dan melihat siapa dia siapa Sin-hujin.

Tapi ketika si nenek mengangguk-angguk dan percaya itu, menolong suaminya maka nenek ini mengomel kenapa baru ditinggal pergi tahu-tahu ada kucing hutan menabrak tangga. "Sialan, membuat aku terkejut dan kaget saja. T uh, bantu aku menyeret kayu bakar itu, pek-pek. Aku tadi melemparnya ketika mendengar kau menjerit-jerit!" "Dimana?" "Diluar rumah!" "Baik," dan ketika si kakek bangun berdiri dan terpincang mengikuti isterinya maka kayu bakar dibawa masuk tapi mendadak Sin-hujin keluar berpapasan dengan mereka, membawa buntalan.

"Aku ingin pergi, tak betah lagi tinggal disini. Jaga dirimu baik-baik, Lui-ma. Mudah-mudahan lain hari kita ketemu lagi dan hati-hatilah menjaga dirimu." Sang nenek terkejut. "Kau... ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja pergi?" Ah, tidak! Sang nenek menjerit, menubruk dan melepaskan kayu bakarnya. "Aku tak mau, hujin. Kau tetaplah di sini atau aku ikut bersamamu! Aku mencintai anakmu itu, aku bahagia kau disini. Kau tetaplah bersamaku atau ajak sekalian aku pergi!" Sang nyonya tertegun. Nenek Lui sudah menangis dan menggerung-gerung. Nenek itu terkejut dan terluka, perasaannya terguncang.

Tapi ketika wanita ini mendorong dan menepuk pundak si nenek maka Sin-hujin berkata bahwa dia akan mencari suaminya. "Aku akan pergi, mencari suamiku. Tak mungkin kau ikut karena aku akan melakukan perjalanan jauh." "Kalau begitu berikan Giam Liong kepadaku. Aku akan memelihara dan menjaganya sampai kau kembali, hujin. Aku ingin mengikatmu agar kau tidak meninggalkan aku!" Sang nyonya terkejut. "Tak bisa," katanya. "Aku sudah cukup lama disini, nek Aku harus pergi dan tak mau merepotkanmu. Biarlah lain kali aku datang lagi dan kita bertemu." "Kalau begitu aku ikut!" sang nenek lari ke dalam, menyiapkan buntalannya. "Aku bosan hidup menyepi, hujin. Aku akan mengikutimu dan momong anakmu itu!"

Sang kakek terkejut. "Kau gila, Lui-ma! Kau mau meninggalkan aku?" "Kau ikutlah sekalian kalau kau suka. Aku bosan hidup disini, pa-pek. Tak ada anak atau momongan. Kita sudah tua-tua dan mau mati, lebih baik menikmati sedikit kegembiraan ini dengan menjaga Giam Liong!" Kakek Pa membelalakkan mata. Isterinya itu sudah berlari keluar membawa buntalan. Benar saja, nenek ini mau ikut. Ia tak perduli lagi pada suaminya dan rumah itu. Nenek ini sudah mendapatkan kebahagiaannya dengan kehadiran Sin-hujin, terutama si cilik Giam Liong itu, anak laki-laki yang baru berusia sebulan.

Dan ketika sang kakek membelalakkan mata sementara Sin-hujin sendiri terkejut dan tertegun maka nenek itu dengan gagah sudah berseru, "Mari, kita pergi, hujin."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment