Chapter 06
Aku siap melakukan apa saja demi kau dan anakmu itu! Sin-hujin tiba-tiba terharu. Mendadak dia menitikkan air mata dan nenek itu dipeluknya, menangis. Baru kali ini ada seorang tua memperhatikan dirinya begitu rupa.
Ah, tak dapat dia mengajak wanita ini bepergian tak tentu arahnya. Dia tadi berbohong dengan mengatakan bahwa dia akan pergi mencari suaminya, karena suaminya itu sesungguhnya sudah tewas, dibunuh seseorang. Maka ketika nenek ini mau ikut dan tentu saja hujin tak jadi pergi dan apa boleh buat melempar buntalannya, juga buntalan si nenek.
"Baiklah," wajah tua itu diciumi. "Aku tak jadi pergi, nek. Aku akan tinggal bersamamu lagi. Sekarang masuklah dan jangan buat aku diremas perasaan begini!" "Kau tak jadi pergi" Kau masih mau bersamaku disini?" "Hm, semuanya karena kau, nenek Lui. Meskipun ada sesuatu yang kurang menyenangkan disini. Aku pergi karena, hmm.. sudahlah. Aku sudah cukup bicara!" dan mengerling atau menyambar si kakek Pa dengan pandangan marah maka wanita ini masuk ke dalam dan tak jadi berangkat.
Dia diam-diam merencanakan pergi secara tak diketahui si nenek, akan menghilang seminggu dua minggu lagi kalau nenek itu sudah cukup terhibur. Dan ketika sang nenek girang sementara si kakek kecut, karena tahu apa yang sesungguhnya membuat Sin-hujin mau pergi maka hari demi hari dilewati lagi seperti biasa dan rumah itu kelihatan tenang.
Sekarang Sin-hujin kerap bepergian dengan si nenek. Wanita itu hampir tak pernah di rumah kalau nenek itu mencari kayu bakar. Hal ini dilakukan karena dia tak mau si kakek berkurang ajar lagi. Kalau tidak melihat muka nenek Lui barangkali nyonya muda ini tak sudi tinggal di situ. Maklumlah, ketidaksenangannya sudah mulai timbul sejak si kakek mau berkurang ajar. Kalau saja tidak ingin menjaga kerukunan nenek Lui dengan suaminya mungkin wanita ini sudah melapor apa yang diperbuat si kakek.
Sekarang Sin-hujin berhati-hati kalau dia menyusui anaknya. Tak pernah lagi kakek itu dapat menikmati buah dadanya kalau dia sedang menyusui Giam Liong. Semua itu demi ketenteraman dan ketenangan rumah tangga ini. Tapi ketika seminggu lewat dengan cepat dan Sin-hujin merencanakan untuk meninggalkan rumah itu keesokan harinya, melepas anting-anting dan gelangnya untuk ditinggalkan kepada si nenek mendadak saja si nenek terkapar dan merintih-rintih dengan mulut berbusa, di tengah ruangan.
"Apa yang terjadi, nek" Kenapa kau seperti ini?" "Ak... aku tak tahu..." si nenek menangis. "Aku baru makan nasi itu, hujin, ketika tiba-tiba perutku sakit dan melilit-lilit...!" "Di mana Pa-lopek?" "Aku tak tahu, katanya ke kebun...!" Sin-hujin bergerak cepat. Sekali lihat dia tahu bahwa nenek ini keracunan. Ah, racun yang berbahaya sudah memasuki perut.
Maka ketika dia menotok dan menjejalkan sebutir obat maka si nenek diangkat dan dibawa masuk ke ruangan dalam, di atas pembaringan. "Kau tunggu dulu disini, aku mencari air kelapa!" Sang nenek bercucuran air mata. Dia muntah-muntah tapi Sin-hujin sudah berkelebat keluar, menggapai dan memanggil namun sayang nyonya muda itu tak mendengar. Dan ketika Sin-hujin berkelebat datang dan membawa semangkok besar air kelapa ternyata si nenek sudah menggeletak dan terkulai wajahnya, kaku, tewas!
"Lui-ma...!" Jeritan itu menggetarkan rumah. Sang nyonya berteriak dan menubruk nenek itu, mengguguk. Orang yang dikasihinya tiba-tiba meninggal, begitu cepat. Dan ketika nyonya ini menangis dan suaranya memanggilmanggil si nenek maka aneh sekali Pa-lopek yang katanya ada di kebun tak muncul-muncul juga, Kebun itu tak terlalu jauh dan seharusnya kakek itu mendengar.
Hal ini menyadarkan si nyonya dan Sin-hujin itu tiba-tiba mencelat keluar, berteriak dan memanggil-manggil Pa-lopek. Namun ketika kakek itu tak muncul juga dan kebun di belakang sunyi, tak ada orangnya maka wanita ini heran karena teriakannya dan tangisnya yang mengguguk tadi tak membangunkan anaknya, yang sedang tidur. Padahal biasanya Giam Liong akan bangun dan menangis begitu ada suara sedikit saja. Anaknya itu biasanya peka dan mudah dibangunkan oleh sedikit suara gaduh.
Maka heran dan terkejut kenapa Pa-lopek tak ada sementara anaknya juga tetap diam dan tenang saja di kamar maka wanita ini berkelebat dan memasuki kamarnya. Tapi, apa yang dilihat? Giam Liong tak ada. Anaknya itu lenyap, kamar pun kosong! "Liong-ji!!..!" pekik atau lengking ini mirip lolong srigala. Wanita itu berteriak dan tiba-tiba berkelebat keluar. Kebun dan tempat-tempat kosong didatangi. Suara panggilannya bergema kemana-mana, merinding orang dibuatnya.
Tapi ketika semua tak ada dan tangis bayi sekonyong-konyong terdengar di hutan, kaget dan panjang tiba-tiba nyonya ini terkesiap dan terbang ke tempat itu, tempat yang memang belum didatangi "Liong-ji...!" Lengking atau seruan ini terdengar menyayat. Sin-hujin meluncur dan berkelebat ke hutan itu. Gerakannya seperti siluman terbang. Nyonya ini terkejut karena mungkin anaknya diculik harimau, atau mungkin binatang buas lain sewaktu dia mencari kelapa tadi.
Tapi ketika dia tiba di hutan dan tangis anaknya terdengar dekat, panjang melengking-lengking maka nyonya ini tertegun karena bukan harimau yang dijumpai melainkan belasan orang bersenjata lengkap! Sang nyonya terbelalak. "Wah, sehat dan montok sekali. Semontok ibunya!" Sang nyonya semburat merah. Suara tawa dan kekeh kurang ajar terdengar di sana-sini, belasan orang itu terbahakbahak dan satu di antaranya adalah Hu-san, laki-laki yang dulu dihajarnya pingsan itu.
Dan ketika Hu-san meminta anak itu diserahkan kepadanya dan laki-laki tinggi besar yang brewokan ini mengangguk menyerahkan anak itu maka Husan berkata agar nyonya itu menyerah. "Anakmu di tangan kami, dan inilah Bin-twako si Harimau Hitam. Menyerahlah baik-baik, hujin. Dan aku tak akan mengingat peristiwa lama kalau kau mau baik-baik bersama kami. Nah, berlututlah, serahkan dirimu!" "Keparat!" sang nyonya membentak. "Kau berani menculik anakku, Hu-san" Kau minta kubunuh" Serahkan puteraku, dan kaulah yang berlutut minta ampun!" "Ha-ha, gagah dan berani!" si brewok, yang rupanya disegani dan menjadi pemimpin di situ berseru, mendahului Hu-san.
"Wanita yang kaukatakan ini hebat sekali, Hu-san, dan cantik, meskipun kelihatan lemah lembut. Ah, aku tak percaya bahwa wanita selembut dan secantik ini dapat membuatmu pingsan!" "Hm, hati-hati," Hu-san, yang sudah mengenal dan merasakan kelihaian sang nyonya menyelinap di belakang punggung si brewok, melihat wanita itu akan menyambar anaknya. "Aku harus mengakui wanita ini gagah dan berani, Bin-twako. Gerakannya cepat seperti siluman. Kau lindungilah aku kalau dia menyerang!" "Ha-ha, kau takut" Tak usah takut, di sini ada aku, juga belasan teman yang lain. Kau serahkanlah anak itu dan biar wanita ini kutundukkan sendiri!" Hu-san menyeringai. Dia menyerahkan anak itu karena saat itu Giam Liong menangis keras-keras. Anak itu tak suka di pondongan laki-laki kasar ini dan Hu-san mencubitnya dengan kejam.
Laki-laki itu memang ingin membalas sebagian dendamnya dengan menyakiti si bocah, ingin melihat ibunya terbelalak dan pucat ketakutan. Tak tahunya Sin-hujin malah melengking dan tiba-tiba berkelebat dengan amat cepatnya ketika Giam Liong hendak diserahkan ke si tinggi besar. Dan ketika si brewok itu terkejut dan berseru mengelak, kaget oleh bayangan si nyonya yang benar saja mirip siluman terbang tahu-tahu Hu-san menjerit karena, serangan si nyonya yang dihindari si brewok mengenai mukanya, sebuah cengkeraman dari sepuluh kuku-kuku tajam. "Aduh..!" Hu-san menjerit bergulingan. Laki-laki ini melepas Giam Liong dan saat itu sang ibu menyambut, menggerakkan tangan yang lain dan disambarlah Giam Liong dengan cepat.
Dan ketika sang anak sudah kembali ke ibunya sementara sang ibu masih tidak puas dengan serangannya ke muka Husan maka sebuah tendangan mengiringi gerakannya hingga Hu-san mencelat terguling-guling, membentur pohon. "Kau binatang tak tahu diri. Enyahlah, dan jangan cobacoba mengganggu anakku..... dess!" Semua orang terpukau. Mereka kaget dan kagum oleh gerakan luar biasa dari si nyonya, begitu cepat, begitu aduh, melingkar di sana maka si brewok dan teman-temannya menjadi marah.
"Wanita siluman!" si brewok menggeram. "He, kepung rapat-rapat, kawan-kawan. Jangan sampai lolos dan hati-hati dengan serangannya!" dan kaget tapi juga marah oleh sepak terjang si nyonya, laki-laki ini menggulung lengan bajunya, memperlihatkan pergelangan tangannya yang kuat dan kekar, seperti bambu petung. "Nyonya, kau menghina kami. Hu-san adalah anak buahku. Hayo cepat minta maaf dan berlutut di depan Ang-houw Bin Kiat Tung!" "Hm, kau...!" si nyonya mendengus. "Jangan coba-coba menggangguku pula, Bin Kiat Tung. Aku tak ada urusan denganmu atau kaupun mengalami nasib sama seperti laki-laki itu. Minggir, kalian jangan menghalangi!" "Wah, kau begitu sombong" Berani menentang laki-laki sedemikian banyaknya?" "Hm, jangankan sekian. Seratus orang seperti kalian sanggup kusapu bersih, Bin Kiat Tung. Minggir dan sekali lagi jangan mengganggu aku. Anakku tak suka kalian menggonggong!" dan gugup melihat anaknya menangis dan melengking-lengking, kaget dan takut oleh semuanya itu maka si nyonya membuka bajunya dan apa boleh buat menyumpal mulut anaknya dengan puting buah dada yang segar, tak malu-malu atau segan-segan lagi demi si anak, agar diam.
Dan ketika ibu itu menepuk-nepuk pantat anaknya sambil bercup-cup agar tidak menangis maka belasan pasang mata melototkan memandang gratis pemandangan luar biasa itu. "Wah, padat dan penuh gizi sekali. Segar!" "Ya, dan mau rasanya aku menggantikan anak itu, Singtwako. Ah, betapa lezat dan nikmatnya!" "Hm, dan aku siap mati kalau sudah diberi segumpal saja. Huwaduh, tenggorokanku kering, Bin-twako.