Chapter 07
Tiba-tiba saja, suara tawa dan sorak-sorai mengiringi tepukan tangan, sehingga membuat Sinhujin berkilat dan menyambar-nyambar matanya. Saat itu, dia dikepung, dan ke manapun dia bergerak, mata lelaki pasti menyorotinya. Dia terpaksa menyusui anaknya karena hanya dengan begitulah puteranya mau diam.
Tapi ketika anaknya tersedak dan kaget oleh sorak dan tawa itu, melepaskan buah dadanya, maka Sin-hujin menutup baju dan secepat kilat tangan kirinya bergerak. "Crep-crep!" Dua orang roboh menjerit. Tiba-tiba saja, dua batang jarum amblas di tenggorokan dua orang itu. Mereka terjungkal dan berteriak sekali, terguling dan seketika tewas!
Dan ketika yang lain terkejut dan tentu saja mundur, berteriak tertahan, maka Sin-hujin itu sudah berkelebat dan keluar kepungan. "Siapa mengganggu akan mati seperti itu. Majulah, kalau ingin mendekati maut!" Gegerlah semua orang. Setelah mereka sadar dan tahu akan kematian temannya, tiba-tiba semua orang menjadi marah.
Ang-houw Bin Kiat Tung sampai mendelik matanya, lelaki itu terkejut dan marah sekali. Maka ketika si nyonya keluar dan anak buahnya mundur memberi jalan, otomatis, setelah melihat kejadian itu, maka laki-laki tinggi besar ini memekik dan menerjang maju. "Tangkap wanita ini, robohkan dia!" Sang nyonya mendengus.
Dia melihat si tinggi besar sudah menyerang dengan goloknya. Senjata yang lebar dan berat itu mengaung, tanda betapa hebat dan dahsyatnya tenaga si pengayun golok. Tapi ketika dia berkelit lincah dan golok menderu di samping telinga, ternyata yang lain maju meluruk dan tombak atau golok-golok lain berseliweran.
"Wut-wutsinggg..." Sang nyonya mengerutkan kening. Dia mampu menghindari semua serangan senjata tajam itu, tapi anaknya menangis melengking-lengking. Si nyonya terganggu dan apa boleh buat menangkis sebatang golok yang menyambar dari kiri, mementalkannya, dan si pemilik golok pun menjerit, terpelanting, memberi sebuah jalan, dan saat itulah Sin-hujin keluar kepungan untuk kedua kalinya lagi, meletakkan anaknya di atas rumput, dan selanjutnya nyonya ini beterbangan di antara senjata-senjata pengeroyoknya yang mengejar, menghalau, dan menolak balik semua senjata tajam itu dengan kebutan ujung bajunya.
Lawan sampai terpekik karena hanya dengan kebutan ujung baju itu saja, tiba-tiba senjata mereka terpental, persis bertemu lempengan baja atau kipas besi, dari ujung baju si nyonya. Dan ketika semua terkejut, dan Ang-houw Bin Kiat Tung sendiri terpekik oleh sebuah tolakan tenaga kebut, maka selanjutnya belasan laki-laki kasar itu jatuh bangun dan terpelanting atau terlempar oleh tenaga si nyonya.
Kiranya Sin-hujin memiliki sinkang kuat, dan angin atau hawa pukulannya itu sanggup menahan belasan senjata tajam, bukan main mengagumkannya. Dan ketika nyonya itu mulai membalas, dan Bin Kiat Tung serta teman-temannya dibuat kalang-kabut, maka lelaki itu berteriak agar membunuh si bayi yang ada di atas tanah, mengganggu konsentrasi si nyonya.
"Hajar dan bunuh anak laki-laki itu. Kacau perhatian ibunya!" Dua orang mengangguk. Mereka merasa sependapat dan tertawa girang, melompat, dan menghampiri anak laki-laki yang masih menangis itu, bahkan yang kian keras tangisnya karena ditinggal si ibu.
Tapi ketika mereka bergerak, dan golok terayun ke leher, keji hendak menetak, sekonyong-konyong terdengar tawa dingin, dan Sin-hujin itu menggerakkan dua sinar hitam ke arah dua laki-laki ini. "Ya, bunuh anakku, kalau kalian ingin mampus!" Dua orang itu menjerit. Sama seperti teman mereka yang pertama tadi, mendadak mereka berteriak, dan terjengkang roboh.
Dua jarum hitam itu menembus tenggorokan mereka, amblas, dan seketika membuat mereka terguling, tewas, dan mukapun segera menjadi kehitaman. Dan ketika dua orang itu roboh, dan yang lain tersentak, maka Bin Kiat Tung berteriak menyuruh yang lainnya lagi.
"Kutahan wanita ini, hajar dan bunuh bocah itu!" Empat orang kembali bergerak. Mereka marah, dan juga penasaran oleh kegagalan itu. Bin Kiat Tung sudah menerjang, dan menahan si nyonya. Menurut perhitungan, tentunya si nyonya sibuk, dan tak sempat menghalangi mereka, apalagi sekarang mereka maju berempat, dan bukannya berdua.
Tapi ketika si nyonya membentak, dan golok di tangan lawan diterima kedua jarinya, ditekuk, dan dihentak ke bawah, maka golok itu bengkok, sementara tangan si nyonya yang lain mengeluarkan lagi jarum-jarum hitam itu. "Crep-crep-crep!" Empat orang roboh berteriak ngeri. Ternyata mereka menjadi korban juga, sementara Ang-houw Bin Kiat Tung terpekik melihat goloknya melengkung.
Golok itu seperti benda lembek yang begitu gampang dibuat bengkok. Ah! Dan ketika laki-laki itu terkejut, dan tertarik maju, maka kaki si nyonya bergerak menendar, dan laki-laki ini mencelat. "Dess!" Ang-houw Bin Kiat Tung terlempar. Laki-laki ini berdebuk, dan terbanting mengaduh, sadar bahwa dia kiranya berhadapan dengan seorang wanita lihai, bukan sembarangan.
Tapi ketika dia terhuyun bangun, dan melotot gentar, ngeri, maka si nyonya berseru bahwa mereka semua patut dibunuh. "Tiga kali kalian mengganggu anakku. Cukup, itu sudah lebih dari cukup. Sekarang lihatlah apa yang kupegang, dan bersiaplah ke akherat!" Si Harimau Merah terbelalak.
Belum jelas dia melihat, tahutahu sinar putih berkeredep menyambar. Sinar itu bergerak cepat, dan tahu-tahu menuju dirinya, membabat, dan melewati tiga orang di depan yang seketika berteriak ngeri. Dan ketika tiga orang itu roboh, dan tangan atau kaki mereka beterbangan, entah bagaimana, tahu-tahu sinar putih itu juga sudah menyambar, dan membabat si Harimau Merah.
"Crass!" Darah memuncrat tinggi. Si Harimau Merah tak sempat memekik, karena tahu-tahu kepalanya putus. Batang kepala itu lepas dari tubuhnya, seakan disabet lidah seekor naga, atau mungkin lecutan seekor naga sakti yang sedang marah.
Dan ketika empat atau lima tubuh bertumbangan dengan kaki atau tangan putus-putus, terpisah dari tempatnya, maka sisanya yang lain terbelalak ngeri, dan tiba-tiba menjerit, memutar tubuh lari sipat kuping! "Jangan lari, kalian harus kubunuh.... cras-crass!" Tangan dan kaki beterbangan lagi, disusul jerit, dan robohnya tubuh-tubuh yang ambruk seperti batang pisang.
Lima laki-laki tiba-tiba sudah menjadi korban lagi dari keganasan sinar putih itu, yang ternyata sebatang golok, dan berlepotan darah, karena begitu dipenuhi darah, tiba-tiba golok ini sudah menghisapnya kering, dan bersih, golok yang diamati satu dari dua laki-laki terakhir yang jatuh terduduk, lunglai, dan ngeri oleh keberingasan si nyonya yang demikian sadis, sungguh jauh bedanya dengan tubuh atau gerak-geriknya yang lemah lembut itu, meskipun pandangan matanya meliar, dan tiba-tiba seolah orang yang tidak waras.
Dan ketika golok itu menyambar lagi, dan teman laki-laki ini terjengkang dengan kepala putus, maka satu dari tujuhbelas orang yang masih hidup itu berteriak, "Giam-to (Golok Maut)..." Sang nyonya tertegun. Teriakan atau seruan yang sebenarnya merupakan pengiring bagi kematian laki-laki itu tiba-tiba malah menyelamatkannya.
Golok berhenti, dan lekat di kulit, tak jadi membabat, bergetar, dan pucatlah laki-laki itu, menjatuhkan diri berlutut. Dan ketika si nyonya memandang dingin, dan golok masih menempel, dingin, dan mengeluarkan hawa menyeramkan, tiba-tiba lelaki itu sudah meratap.
"Am.... ampun. Aku tak tahu bahwa kau kiranya isteri Si Golok Maut, hujin. Kau kiranya Sin-hujin dari Hek-yan-pang itu. Am.... ampun.... aku jangan dibunuh!" Sang nyonya menarik goloknya. Cepat, dan luar biasa, tahutahu senjata itu lenyap di punggung.
Dan ketika pandang matanya dingin, menusuk, dan laki-laki itu rupanya mengenalnya, setelah dia mengeluarkan golok mautnya, maka nyonya itu menendang, tertawa aneh. "Tikus busuk, kau orang pertama yang dapat mengenal aku. Baiklah, kuselamatkan jiwamu. Tapi katakan dulu bagaimana semuanya ini bisa terjadi, dan anakku tahu-tahu diculik.... dess!" Laki-laki itu terlempar. Dia mengaduh, tapi berseru kegirangan bahwa si nyonya tak membunuhnya. Dia diampuni, dan itu berarti umurnya masih panjang.
Maka ketika dia meringis bangun, dan terhuyung menghampiri nyonya itu, menjatuhkan diri berlutut, maka segera dia ditanya bagaimana anak sang hujin tahu-tahu diculik. "Aku.... aku tak banyak tahu. Tapi Hu-san mengajak Anghouw Bin Kiat Tung mengganggu dirimu. Selanjutnya kau dihadang di sini, hujin, dan selanjutnya pula kau telah membunuh mereka....!" "Hm, Hu-san?" Laki-laki itu? "Benar," lawan bicara mengangguk, memandang Hu-san yang masih pingsan di tanah, karena laki-laki itulah yang pertama kali diserang si nyonya.
"Hu-san inilah yang membawa Bin Kiat Tung kepadamu, hujin. Dan siapa yang membawa anakmu ke sini sesungguhnya aku kurang jelas benar." "Kalau begitu seret dia ke mari. Aku ingin bertanya!" Hu-san disiram air dingin. Laki-laki ini memang pingsan, dan dia tidak terlibat pertarungan. Itulah sebabnya dia masih hidup, dan kini disadarkan.
Tapi begitu laki-laki ini siuman, dan terkejut melihat Sin-hujin, terbelalak melihat banyaknya mayat malang-melintang di sekitar dirinya, tiba-tiba lelaki itu menjerit, dan lari lintang-pukang. "He, kau ke sini!" Bayangan Sin-hujin berkelebat. "Berhenti, dan jangan lari, orang she Hu. Atau kau mati seperti yang lain-lain ini.... bluk!" Hu-san roboh tertotok, kaget melengking tinggi, dan ambruk di hadapan nyonya itu.
Lalu ketika laki-laki ini merintih kesakitan, dan meratap berulang-ulang, pucat, dan gentar, maka Sin-hujin itu menanyainya tentang penculikan anaknya. "Siapa yang membawa anakku ke sini, dan siapa pula yang membawa orang she Bin itu!" "Ak.... aku tak tahu!" Laki-laki ini pias. "Ampunkan aku, hujin.... ampunkan aku!" "Hm, temanmu itu mengatakan bahwa kaulah yang membawa orang she Bin. Berani kau menyangkal?" Hu-san terkejut. Baru dia sadar bahwa di situ ada temannya itu. Maka mengeluh, dan mengangguk gentar, terpaksa dia mengaku.