Chapter 08
"Siapa yang membawa anakku ke sini?" tanya nyonya itu. "Pa-lopek," jawab lelaki itu tiba-tiba bersinar.
"Dialah yang membawa anakmu, hu-jin, dan dialah yang meracun isterinya pula!" "Apa?" kening nyonya itu terangkat. "Kakek tua bangka itu?" "Benar, hujin. Dia... dia..." "Teruskan!" nyonya itu membentak. "Ceritakan jangan terputus-putus, tikus busuk. Atau aku nanti menendangmu dan kau mampus tak dapat bicara!"
Hu-san ketakutan. Akhirnya, laki-laki ini menceritakan bahwa kakek Pa itulah yang membawa Giam Liong ke hutan, meracun isterinya, dan mengharap mereka semua dapat menangkap si nyonya. Dan ketika Sin-hujin merah padam dan mendengarkan cerita itu, maka si nyonya bertanya apa yang menjadi maksud atau tujuan Pa-lopek itu.
" Dia... dia ingin memperisterimu. Kakek itu jatuh cinta kepadamu!" "Bedebah!" muka itu semakin merah padam. "Kakek itu mau memperisteri aku, dan untuk itu dia sampai meracun isterinya sendiri" "Keparat, katakan di mana kakek jahanam itu sekarang, Hu-san. Atau kau terbang ke akherat!" "Ampun...!" Hu-san ketakutan.
"Tidak, hujin. Jangan bunuh aku. Kakek itu masih bersembunyi di hutan ini. Tadi dia di belakang Bin Kiat Tung dan menggigil di balik..." "Hm, kalau begitu kau cari dia. Juga kau!" nyonya itu menuding laki-laki pertama. "Cari dan seret kakek itu ke mari, tikus-tikus busuk. Dan jangan coba-coba lari kalau tak ingin kubunuh. Kuberi waktu seperempat jam atau kalian mampus!"
Hu-san dan laki-laki pertama ketakutan. Mereka ngeri dan segera dua laki-laki itu memasuki hutan, mencari, dan tak lama kemudian sudah membawa kakek itu. Ternyata benar, Palopek bersembunyi di hutan, jauh di tengah. Dan begitu kakek ini tertangkap dan melihat begitu banyaknya mayat di situ, maka kakek ini ditendang dan Hu-san berusaha mencari muka di depan Sin-hujin, yang matanya seperti mengeluarkan api!
"Katakan dan akui semua perbuatanmu di depan Sin-hujin. Atau aku akan mencekikmu dan kau kubunuh!" "Tidak. Ampun, Hu-san... ampun!" "Jangan minta ampun kepadaku, tetapi kepada Sin-hujin... dess!" kakek itu terlempar, jatuh tepat di depan Sin-hujin, dan nyonya ini menyambar rambut si kakek, memelintirnya, dan berteriak-teriaklah kakek itu oleh pelintiran si nyonya.
Dan ketika Sin-hujin bertanya kenapa kakek itu meracun isterinya, seperti yang dikata Hu-san, maka kakek itu menangis. "Ampun... aku mencintaimu, hu-jin. Aku ingin hidup berdua denganmu. Aku membenci isteriku yang tiba-tiba cerewet. Kalau kau tak suka kepadaku, biarlah kutarik niatku, jangan kau membunuhku!" "Hm, menarik niat setelah meracun isterimu. Menarik niat setelah kau takut kubunuh" "Keparat, kau tua bangka tak tahu malu, Pa-lopek. Sungguh menjijikkan dan memuakkan tingkahmu ini. Hayo kubur isterimu itu, dan minta ampun di..."
"Dan kalian!" nyonya itu membalik. "Bersihkan dan kubur semua mayat-mayat ini, Hu-san. Setelah itu ikut aku ke nenek Lui!" Hu-san mengangguk. Merasa mendapat harapan dan ampunan, si nyonya tiba-tiba laki-laki itu sudah bergegas mengumpulkan mayat teman-temannya. Temannya membuat lubang, dan Hu-san pun tak lama kemudian sudah membantu. Sebenarnya, dua orang itu ngeri dan hampir muntah-muntah oleh pemandangan yang amat mengerikan ini.
Kaki dan tangan terpisah di mana-mana, terakhir kepala Bin Kiat Tung tampak menggelinding di bawah semak, bercampur dengan tahi kerbau! Tapi ketika semua itu dilakukan dua orang ini dan menahan muntah mereka, terus memasukkan mayat-mayat itu, maka Sin-hujin akhirnya menendang Pa-lopek untuk ganti mengubur mayat isterinya.
"Tap... tapi berjanjilah dulu bahwa kau tidak akan membunuhku, hujin. Bahwa kau akan mengampuniku seperti mengampuni dua orang ini!" "Hm, aku memang tidak akan membunuhmu. Terlalu kotor tanganku menyentuhmu!" "Ah, terima kasih, hujin. Kalau begitu, terima kasih!" Dan si kakek yang mencium serta menjatuhkan diri berlutut di kaki si nyonya akhirnya ditendang, mencelat lagi, bangun merangkak, dan terhuyung berdiri tersenyum-senyum, dan tidak ketakutan seperti tadi.
Agaknya, janji si nyonya dipercaya penuh, padahal Hu-san dan temannya saling lirik dan curiga. Mata si nyonya menyinarkan nafsu pembunuhan, tak mungkin dipercaya begitu saja. Tapi ketika mereka mengiring dan berdebar melihat semuanya itu, maka tiga orang ini akhirnya tiba di rumah nenek Lui yang membujur kaku.
Pa-lopek akhirnya diminta mengubur isterinya dan meminta ampun. Kakek itu biasa-biasa saja dan tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Rupanya kakek itu berdarah dingin, atau mungkin tiba-tiba menjadi dingin dan sinis karena maksudnya gagal. Sin-hujin tak berhasil diraihnya sebagai isteri, sebuah impian yang terlampau muluk!
Dan ketika semuanya selesai dan jazad nenek Lui sudah dikuburkan, maka Hu-san mendapat isyarat agar membunuh kakek itu, menggorok lehernya! "Apa?" laki-laki ini terkejut. "Membunuhnya, hujin. Bukankah kau berjanji tak akan membunuhnya?" "Hm, aku memang tak akan membunuhnya, Hu-san. Tanganku terlampau bersih untuk dikotori darahnya yang jahat. Tapi aku tak berjanji untuk meminjam tangan orang lain, dan kaulah yang kupilih!" Hu-san terkejut.
Akhirnya, dia sadar bahwa si nyonya memang betul. Pa-lopek tak dibunuh, dan justeru dialah yang kini dipinjam. Kakek itu harus menemui kematian, bukan oleh tangan Sin-hujin melainkan oleh tangannya. Dan ketika Palopek terbelalak dan pucat mendengar itu, tersentak, maka laki-laki ini sudah tertawa dan mencabut goloknya.
"Lopek, rupanya kau terlalu banyak dosa. Lihat dan dengar sendiri kata-kata Sin-hujin. Maaf, aku harus mengantar nyawamu ke neraka!" "Tidak...!" sang kakek tiba-tiba memutar tubuhnya, lari lintang-pukang. "Aku mendapat janji tak akan dibunuh, Husan. Aku sudah dinyatakan mendapat ampun!" "Ha-ha, kau salah mengartikan. Sin-hujin memang mengampunimu, lopek. Tapi aku tidak. Dan aku akan membunuhmu!"
Dan Hu-san yang mengejar serta membentak si kakek agar berhenti tiba-tiba menyusul dan mengayunkan goloknya. Kakek Pa mengelak, namun dia tersandung jatuh, berteriak, dan ngeri melihat Hu-san menggerakkan goloknya ke arah leher. Kakek itu menggulingkan tubuh, dan golok menghajar tanah, luput.
Tapi ketika Hu-san menggeram dan darah pun membasahi bumi, Hu-san tertawa bergelak dan puas melaksanakan perintah sang nyonya. Dia merasa mendapat ampun dan kepercayaan. Tapi ketika dia mau menyarungkan goloknya dan berbalik melapor hasil, tiba-tiba Sin-hujin berkelebat dan menyuruh dia memotong lidah, dengan goloknya itu!
"Apa...?" lelaki ini pucat, mundur dua tindak. "Mem... memotong lidahku, hujin. Kau hendak membunuhku?" "Hm, tidak," sang nyonya menggeleng, tersenyum dingin. "Aku tidak membunuhmu, Hu-san. Hanya memerintahkan kau mengerat lidahmu itu dengan golokmu sendiri. Aku tak membunuhmu kecuali kau membangkang!" "Tapi hujin mengampuni aku!" "Benar, dan karena itu kau tidak kubunuh. Tapi sekarang kalian berdua mengenal aku sebagai isteri Si Golok Maut, Husan. Dan aku tak suka kalian menceritakan ini kepada orang lain. Aku ingin memotong lidah kalian agar terjamin bahwa kalian tak bercerita pada orang lain!"
"Ah!" Dan Hu-san yang terbelalak serta ngeri tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, menangis. "Aku bersumpah tak akan menceritakan keadaan dirimu kepada orang lain, hujin. Aku bersumpah demi langit dan bumi, juga arwah semua nenek moyangku!" "Benar," temannya, yang ketakutan dan juga pucat oleh keputusan itu tiba-tiba ikut menjatuhkan diri berlutut, menangis. "Akupun bersumpah seperti itu, hujin. Percayalah bahwa kami berdua tak akan menceritakan dirimu kepada orang lain!" "Aku tak ingin banyak omong," sang nyonya tiba-tiba berkilat. "Laksanakan perintahku atau kalian mampus, Hu-san. Cepat dan jangan membuat aku marah!"
Hu-san tiba-tiba memekik. Golok yang ada di tangannya tiba-tiba ditusukkan ke depan. Sang nyonya ada di depannya, dan laki-laki inipun melompat bangun. Kemarahan dan kengerian akhirnya membuat laki-laki itu nekat, menubruk, dan menusuk perut si nyonya dengan bentakan sengit.
Tapi ketika nyonya itu mendengus dan tak mengelak, membiarkan golok menusuk perutnya, tiba-tiba golok patah, dan Hu-san berteriak tinggi. "Aduh... pletak!" Kiranya patahan golok menancap di tubuh laki-laki itu sendiri. Dengan gerakan cepat dan luar biasa, Sin-hujin menggerakkan kakinya, sedikit saja, tapi golok sudah dicungkil ke atas.
Dan karena golok menyambar cepat dan ujung yang lancip itu menuju dada, maka robohlah Hu-san dengan patahan goloknya sendiri! "Nah," Sin-hujin menghadapi lawan satunya. "Kau saksi terakhir yang masih hidup, tikus busuk. Tinggal melaksanakan perintahku atau menyusul arwah Hu-san!" "Ak... aku mau!" laki-laki itu menggigil. "Ak... aku akan melaksanakan perintahmu, hujin. Dan aku akan memotong lidahku!" Tapi bingung tak melihat senjata tajam di situ, laki-laki ini gemetar, tapi segera ditunjuk si nyonya agar mengambil patahan golok di dada Hu-san.
"Pakai itu, dan kerat lidahmu!" Laki-laki ini menangis. Akhirnya, apa boleh buat, dia mencabut patahan golok di dada temannya itu, lalu sekali dia menjulurkan lidah dan mengerat, maka lidahnya putus. Tapi begitu lidahnya putus, maka laki-laki inipun juga ambruk dan roboh pingsan!
"Hm, kurcaci-kurcaci menyebalkan," nyonya ini tertawa dingin, sama sekali tak tergerak oleh tiga tubuh yang malang-melintang itu. "Selamat tinggal, nenek Lui-ma. Dan semoga arwahmu tenang di alam baka!" Lalu sekali bergerak dan menyambar bayinya, yang tertidur dan pulas di situ, tiba-tiba nyonya ini sudah menghilang dan tidak memperdulikan kakek Pa atau lain-lainnya itu.
Di Hek-yan-pang, perkumpulan Walet Hitam, tinggal dua orang gagah yang menjadi tokoh-tokohnya, sepasang suami isteri yang baru setahun menikah dan disegani para penghuninya. Dan bagi para pembaca yang sudah membaca Golok Maut, kisah sebelum kisah ini, tentu mengenal siapa dua orang gagah itu, suami isteri lihai yang tinggal dan memimpin perkumpulan Walet Hitam ini.