Chapter 09
Mereka adalah Swi Cu dan suaminya, Beng Tan, yang dikenal sebagai Pek-jit Kiamhiap, seorang pemuda gagah perkasa yang pernah digunakan oleh istana untuk menandingi dan menghadapi Si Golok Maut, pembunuh yang membuat geger di istana dan telah menjatuhkan tangan mautnya dengan membunuh ratusan orang.
Si Golok Maut telah membunuh tak kurang dari sepuluh orang lihai yang membantu istana. Ketika Ci-ongya akhirnya terbunuh dan menemui ajal di tangan Si Golok Maut, yang juga tewas di Bukit Iblis, sepak terjang Si Golok Maut menjadi buah bibir.
Beng Tan ditarik ke istana untuk menjaga keselamatan kaisar dan dua adik tiri kaisar, Coa-ongya dan Ci-ongya. Namun, ketika Ci-ongya tetap binasa dan Golok Maut dikejar, dikeroyok lima ribu orang dipimpin si Kedok Hitam yang misterius, Golok Maut akhirnya terbunuh dan mengalami nasib mengerikan di Bukit Iblis, mati terpotong-potong.
Kematian Si Golok Maut membuat Beng Tan kecewa, terutama karena kematian itu terjadi akibat ketidaksetiaan kaisar sendiri dengan kata-katanya. Beng Tan menarik diri dan tidak mau lagi bekerja di istana. Pemuda itu mengalami kekecewaan berat dan rasa terguncang yang hebat oleh kematian Golok Maut dan hadirnya seorang tokoh yang mengejutkan, si Kedok Hitam yang misterius.
Beng Tan mencoba melupakan semua itu dengan tinggal di Hek-yan-pang, perkumpulan yang sebenarnya milik isterinya, Swi Cu. Beng Tan pernah menolong perkumpulan ini dari sergapan Si Golok Maut beberapa kali, sehingga hadirnya di Hek-yan-pang dapat diterima dengan baik, terutama setelah menikah dengan Swi Cu.
Hek-yan-pang awalnya merupakan perkumpulan yang dihuni wanita-wanita saja, dengan peraturan yang ketat untuk tidak mengijinkan laki-laki masuk. Namun, ketika Golok Maut dapat keluar-masuk sesukanya, peraturan itu hancur, dan ketua mereka, Wi Hong, jatuh cinta dengan Golok Maut dan hamil. Para anggota Hek-yan-pang terguncang dan merasa tidak adil, tetapi karena Wi Hong sudah meninggalkan perkumpulan, sumoinya, Swi Cu, menggantikan posisinya.
Swi Cu memimpin bersama suaminya, Beng Tan, dan beberapa perubahan dilakukan. Pertama, mereka boleh berhubungan dengan laki-laki, dan lelaki dapat memasuki markas Hek-yan-pang. Hek-yan-pang tidak lagi merupakan perkumpulan yang dihuni wanita-wanita saja, melainkan juga lelaki atau pemuda-pemuda tegap yang menjadi murid di situ.
Beng Tan, yang telah menjadi tokoh idaman bagi banyak murid perempuan Hek-yan-pang, telah memilih Swi Cu sebagai isterinya. Mereka menikah dan menetap di Hek-yan-pang, setelah melalui beberapa kejadian pahit-getir yang membuat keduanya semakin dewasa dan matang.
Ketika Beng Tan menetap di Hek-yan-pang, dia secara resmi ditunjuk sebagai ketua, dengan Swi Cu sebagai wakil ketua. Beng Tan awalnya ragu-ragu, tetapi akhirnya setuju untuk memimpin perkumpulan itu. Dia mengusulkan untuk menerima murid laki-laki, tetapi Swi Cu awalnya menolak, khawatir bahwa murid-murid perempuan akan terpengaruh.
Beng Tan kemudian menjelaskan alasannya untuk menerima murid laki-laki, dan Swi Cu mulai memahami. Beng Tan ingin membawa perubahan besar pada Hek-yan-pang, dan menerima murid laki-laki adalah langkah pertama untuk mencapai tujuan itu. Swi Cu mulai terbuka untuk mendengarkan rencana suaminya, dan keduanya mulai membahas masa depan Hek-yan-pang bersama.