Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 10

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 10

Aku melihat sesuatu yang membuat murid-murid Hek-yan-pang gelisah, Cu-moi. Dan itu adalah karena mereka tidak ada yang menyanding. Jelasnya, beberapa mata kulihat iri memandangmu! "Iri" Murid-muridku sendiri? "Hm!" pemuda ini semburat.

Sebagai lelaki, aku dapat melihat itu, Cu-moi, dan sebagai perempuan, agaknya kau tidak. Benar, murid-murid Hek-yan-pang iri memandangmu, dan itu kulihat jelas! "Soal apa?" "Tentang apa?" "Tentang kita!" "Kita?" "Ya, kita, Cu-moi. Kebahagiaan yang kita peroleh ini, pernikahan kita!" "Aku tidak mengerti," sang isteri mengerutkan kening.

"Apakah maksudmu itu mereka ingin menggantikan aku, koko? Mau bercokol dan duduk sebagai hu-pang-cu?" "Hm, salah, bukan begitu. Maksudku, hmm.... mereka itu juga ingin kawin, menikah!" "Hah?" "Benar, mereka ingin seperti kita, Cu-moi. Murid-murid Hek-yan-pang itu butuh laki-laki dan pendamping!" "Ah, hi-hik!" Swi Cu tiba-tiba tertawa, lenyap kekagetannya.

"Kukira apa, koko. Tak tahunya itu. Ih, salah. Semua murid-murid perempuan di sini sudah biasa hidup sesama jenis dan tidak memikirkan laki-laki!" "Tapi mereka tetap manusia, Cu-moi. Mereka iri dan ingin menikah seperti kita!" "Tak mungkin, biar kutanya mereka!" Dan Swi Cu yang berkelebat dan sudah meninggalkan suaminya sambil terkekeh lalu memanggil semua murid-murid Hek-yan-pang, ditanya satu per satu dan apakah mereka mau kawin, pertanyaan yang tentu saja mengejutkan murid-murid itu dan Beng Tan sendiri sampai terhenyak.

Pemuda ini pucat dan bingung sekali. Swi Cu tahu-tahu bersikap seperti itu, memanggil semua murid dan menanyai mereka, tentu saja tak ada yang mengaku! Dan ketika Swi Cu terkekeh dan kembali berkelebat di depan suaminya maka gadis, eh... nyonya muda ini berkacak pinggang. "Lihat, penglihatanmu keliru, koko. Mereka tak ada yang ingin kawin, semua murid Hek-yan-pang tak menghendaki adanya laki-laki, kecuali kau di sini!" "Tapi... tapi..." sang pemuda gugup.

"Mata hatiku melihat itu, Cu-moi. Dan tentu saja murid-murid itu tak ada yang mengaku. Mereka perempuan, malu!" "Hm, tidak. Di sini sudah dilatih untuk bersikap jujur, koko. Siapapun yang ingin bicara dan mau melakukan sesuatu dipersilahkan bicara. Kau terlalu berlebihan!" "Ah, tidak. Aku serius!" tapi ketika sang isteri terkekeh dan meninggalkannya maka Beng Tan termangu dan tak berdaya, bingung dan tak tahu harus berbuat apa karena sesungguhnya gejala-gejala itu dilihatnya jelas.

Banyak murid-murid Hek-yan-pang yang memandangnya dengan pandangan aneh, dan satu di antaranya adalah Ki Bi! Dan ketika pemuda itu tergetar dan pucat membayangkan ini maka teringatlah dia akan kejadian beberapa hari yang lalu. Waktu itu, untuk sesuatu keperluan di luar Swi Cu meninggalkan Hek-yan-pang. Isterinya itu mengajak enam murid yang lain karena mereka membutuhkan bahan makanan untuk semua penghuni.

Beras dan ransum-ransum lain habis, persediaan tinggal menipis. Dan ketika isterinya pergi untuk dua tiga hari maka terjadilah peristiwa malam itu yang membuat Beng Tan terguncang. Ki Bi, murid pertama di situ tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya. Saat itu dia sedang siulian atau duduk bersamadhi untuk mengembalikan tenaga. Empat jam sudah dia berlatih dan Beng Tan beristirahat, ingin memulihkan tenaga.

Maka ketika pintu kamar diketuk dan Beng Tan heran serta terkejut bagaimana malam-malam begitu ada anak murid yang mendatanginya di kamar maka Beng Tan bertanya siapa itu dan ada keperluan apa. "Aku Ki Bi... aku.... aku ingin menghadap pangcu (ketua)." Beng Tan tertegun. Cepat dia menyuruh gadis itu masuk dan Beng Tan teringat wajah Ki Bi yang cantik dan manis.

Gadis ini adalah murid nomor satu di situ dan kepandaiannya pun setingkat di bawah isterinya. Ki Bi selama ini dikenalnya sebagai gadis yang lemah lembut dan gemulai, meskipun tentu saja di balik semua kelemah-lembutannya itu Ki Bi adalah gadis yang berkepandaian tinggi. Gadis ini mahir menguasai Ang-in Kiam-sut dan hanya dalam pukulan Ang-inkang atau Pukulan Awan Merah itu dia masih kalah dengan Swi Cu, karena Swi Cu memiliki sinkang setingkat di atas murid utama ini.

Maka ketika Beng Tan menyuruh masuk dan tak bercuriga apa-apa, karena biasanya gadis itu juga tak berbuat apa-apa maka Beng Tan tersentak ketika tiba-tiba gadis itu masuk dan menjatuhkan diri berlutut dengan pakaian yang tembus pandang, basah kuyup! "Ampun...!" gadis itu menggigil. "Aku... aku masuk mengganggumu, pangcu. Aku habis bertempur dengan seseorang dan jatuh ke telaga!" "Bertempur dengan seseorang" Jatuh di telaga?" "Benar," gadis itu tiba-tiba menangis.

"Aku menghadapi lawan tangguh, pangcu. Dan aku kalah. Musuh memasuki tempat ini dan karena kuanggap kuat maka pangcu "Ah!" Beng Tan meloncat dari atas pembaringannya. "Siapa dia itu, Ki Bi? Dari mana?" "Aku tak tahu, tapi... tapi dia amat kuat!" "Dan kau tidak membunyikan tanda bahaya!" "Maaf, aku tak berani mengganggu murid-murid yang lain, pangcu. Aku ingin agar pangcu sendiri yang menangani dan membekuk penjahat itu!" "Di mana dia!" "Memasuki lorong bawah tanah...." "Ah, mari kita kejar, Ki Bi. Dan biar kutangkap!" "Nanti dulu!" Ki Bi tiba-tiba meloncat bangun, tubuhnya yang berpakaian tipis dan tembus pandang membuat darah Beng Tan tersirap.

"Aku juga ikut, pangcu. Dan jangan tinggalkan aku. Aku takut!" "Hm, marilah!" dan Beng Tan yang menyambar serta menarik gadis ini lalu menekan debaran jantungnya lagi dan berhasil menguasai diri. Kalau saja dia tidak mendapat laporan akan adanya musuh yang datang tentu dia akan menegur dan memaki Ki Bi kenapa berpakaian seperti itu. Hampir seluruh lekuk-lengkung gadis itu tampak, tercetak ketat karena pakaian Ki Bi pun basah kuyup.

Pemandangan ini cukup membuat darah lelaki tergetar dan Beng Tan juga begitu. Namun karena dia adalah pemuda yang berbatin bersih dan Beng Tan bukanlah pemuda hidung belang maka keadaan Ki Bi yang seperti itu hanya sempat mengguncangnya sejenak tapi tidak untuk seterusnya. Pemuda ini berhasil menguasai dirinya dan rangsangan nafsu yang menggodanya itu cepat dapat dipadamkan.

Beng Tan sudah bergerak dan berkelebatan menuju ruangan bawah tanah. Ruangan itu adalah penjara dan biasanya dipergunakan untuk menghukum anak-anak murid yang bersalah. Dan ketika Beng Tan mulai memasuki ruangan ini sementara Ki Bi ditarik dan selalu berada di sampingnya maka Ki Bi menggigil ketika mereka mulai berada di ruangan yang gelap.

"Ki Bi, buatlah obor. Kita lacak jejak orang itu!" "Ah, tidak, jangan pangcu, musuh nanti lari. Sebaiknya biar begini saja dan kita tangkap secara diam-diam!" "Hm, begitukah" Baik!" dan Beng Tan yang tidak bercuriga dan menganggap benar lalu menarik Ki Bi dan bersama wanita itu sudah memasuki lorong bawah tanah.

Namun Ki Bi bersikap aneh. Wanita ini tiba-tiba mendesah, gugup dan kelihatannya tak keruan. Beng Tan harus dua kali berhimpitan badan ketika melalui lorong yang sempit, merasa betapa gadis itu berdekatan muka dan pipi mereka nyaris berciuman! Pemuda ini harus menahan napas karena napas Ki Bi justeru menerjang mukanya, panas dan aneh.

Dan ketika Beng Tan diganggu perasaan tak enak dan cepat menjauhkan diri maka selanjutnya mereka sudah keluar masuk ruangan bawah tanah itu namun bayangan musuh yang dicari tak kelihatan batang hidungnya. "Benarkah dia memasuki ruangan ini" Atau sudah lari?" "Tak mungkin, musuh itu mendekam di sini, pangcu. Dan aku tahu bahwa dia belum keluar!" "Tapi kau tadi ke kamarku!" "Benar, tapi kawat yang kuletakkan di depan pintu masuk tadi juga masih tak berubah, pangcu. Benda itu masih di sana dan pangcu sendiri tahu!" "Hm, betul juga. Kalau begitu mari terus masuk!" dan Beng Tan yang berin-dap serta berhati-hati melanjutkan langkahnya lalu memeriksa ruangan demi ruangan.

Tinggal empat ruangan lagi yang akan diperiksa dan Ki Bi tampak tegang sekali. Beng Tan merasa aneh tapi tidak heran. Mereka sedang mencari musuh, melacak jejaknya. Tapi bahwa Ki Bi tampak demikian ketakutan dan napasnya memburu, hal yang dirasa aneh maka Beng Tan berkata bahwa gadis itu tak usah terlalu ketakutan.

"Aku ada di sini, di depan. Kalau musuh menyerang maka akulah yang lebih dulu terkena. Kenapa kau demikian gelisah dan ketakutan, Ki Bi? Mana itu keberanianmu sebagai murid utama Hek-yan-pang?" "Maaf," wanita ini menggigil, tersedak. "Ak.... aku hanya tegang, pangcu, bukan takut. Aku tegang bahwa musuh yang kita cari itu belum ketemu!" "Hm, pasti ketemu kalau benar-benar ada di ruangan bawah tanah ini. Tinggal empat ruangan lagi yang kita periksa, Ki Bi. Dan kalau betul dia di situ tentu akan kita dapatkan!" Ki Bi tak menjawab.

Wanita ini sekarang mencengkeram lengan Beng Tan erat-erat. Lengan yang lembut namun terasa panas itu menjalar juga di tubuh Beng Tan. Pemuda ini merasa heran dan ganjil kenapa lengan wanita itu seperti terbakar, layaknya seperti orang demam! Tapi karena mereka berada di ruangan bawah tanah dan ketegangan yang memuncak memang bisa saja membawa seseorang ke dalam perasaan yang tinggi maka Beng Tan diam saja ketika mereka mulai mendekati ruangan pertama, ruangan yang mulai remang-remang karena mendapat sedikit cahaya bulan, dari celah-celah batu di atas sana.

"Ih!" Ki Bi berteriak. "Ular, pangcu. Ada ular di sini!" Beng Tan bergerak cepat. Entah dari mana datangnya tiba-tiba seekor ular melejit dan terbang di mukanya. Ular itu menyerang Ki Bi dan wanita itu berteriak, kaget. Tapi ketika Beng Tan berhasil menangkap dan meremas kepalanya, sementara Ki Bi menabrak dan menumbuk dinding batu maka baju wanita itu sobek dan sebagian pundaknya yang mulus Suara ini membuat Beng Tan tertegun.

Dia semburat merah menyaksikan pundak yang merangsang itu. Berada berduaan saja dengan seorang wanita cantik macam Ki Bi memang mudah menimbulkan bayangan macam-macam, apalagi Ki Bi dengan pakaian seperti itu, masih tembus pandang dan basah oleh air. Wanita itu tak sempat berganti pakaian karena Beng Tan mengajaknya ke situ, mengejar musuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment