Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 100

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 100

"Aku tak berurusan dengan pasukan kerajaan!"

"Bodoh! Kaukira apa mereka itu? Kaukira apa si Kedok Hitam yang licik dan curang itu? Pasukan ini datang atas kehendaknya, Liong-ji. Bunuh mereka dan sikat habis!"

"Benar," Chu Kiang tiba-tiba menimpali. "Pasukan ini dapat datang karena suruhan Kedok Hitam, Siauw-hiap. Mereka tidak tahu tentang kami kalau tidak diberi tahu. Aku akan menyambut dan siap menghirup darah bersama teman-temanku!"

"Dan kita berpesta," Wi Hong terkekeh. "Dulu mereka merajang ayahmu, Liong-ji. Ayo, sekarang balas dan cincang mereka itu!"

"Dan bakar gedung Coa-ongya ini!" orang-orang itu tiba-tiba berteriak. "Kami akan membalaskan dendammu pula, Siauw-hiap. Mari keluar dan perintahkan kami menyambut. Dengar, mereka berteriak-teriak dan menggonggong seperti anjing!"

Giam Liong terdiam. Wajahnya yang beku tiba-tiba menjadi dingin dan tak bergerak. Tak ada senyum atau perasaan di situ. Pemuda ini menggeram begitu ibunya menyebut-nyebut kematian ayahnya dulu. Ketika di luar terdengar bentakan atau seruan agar Chu Kiang dan teman-temannya menyerah, Giam Liong berkilat. Darahnya mendidih saat di luar terdengar namanya disebut-sebut.

"Hei, bocah yang mengaku keturunan Golok Maut! Keluar dan cepat berlutut menyerahkan diri. Atau kami akan membunuhmu dan mencincangmu seperti mendiang ayahmu dulu!"

Giam Liong mengeluarkan pekik menggetarkan. Dengan kemarahan yang tak dapat ditahan lagi, pemuda ini berkelebat dan mengayunkan tangannya. Tujuh sinar putih dilepas; golok-golok kecil berkeredep menyambar seorang laki-laki di atas kudanya. Laki-laki itu adalah komandan pasukan yang menghina Giam Liong tadi, Gouw-ciangkun (Panglima Gouw).

Begitu pemuda itu berkelebat dan Gouw-ciangkun terbelalak melihat musuhnya, gerakan Giam Liong laksana burung menyambar. Panglima itu menjerit dan roboh terjungkal dengan tujuh bagian tubuhnya putus dibabat *giam-to* (golok kecil).

"Aughhh...!" Pekik kematian itu menggetarkan tempat tersebut. Gouw-ciangkun roboh tanpa wujud manusia lagi. Tangan dan kakinya putus, sementara kepalanya terbang dari tubuhnya, menggelinding, dan jatuh mencelat seperti bola. Darah menyembur bagai pancuran. Saat orang-orang berteriak, Giam Liong berkelebatan dan sinar putih lainnya bergerak naik turun, memutus anggota tubuh lawan.

Giam Liong mengamuk. Sorakan anak buah Chu Kiang menggegap-gempita, disusul gerakan mereka yang menyerbu pasukan besar tersebut. Wi Hong terkekeh dan berkelebat di belakang putranya; pedangnya menyambar dan menusuk, menjadikan tempat itu sebagai arena pembantaian hingga puluhan orang tewas seketika.

"Mundur... semua mundur! Jauhkan diri dan serang dengan anak panah!"

Kegaduhan dan kepanikan terjadi. Cong-ciangkun, wakil Gouw-ciangkun yang tewas, berteriak memberi aba-aba sementara dirinya sendiri berguling menjauh. Ia gentar oleh sinar maut di tangan Giam Liong yang telah merobohkan belasan orang dengan cara mengerikan. Giam Liong teringat kematian ayahnya dan kini membalas mereka dengan cara yang sama.

Pemuda itu bergerak bagai iblis haus darah. Golok di tangannya mengilap dan menyilaukan mata karena tetap kering meski dibasahi darah. Golok itu menghisap darah korbannya melalui kekuatan gaib; semakin banyak darah, semakin terang sinarnya yang kemerahan dan berbau amis.

Wi Hong terus bergerak di belakang putranya, begitu juga Chu Kiang dan anak buahnya. "Hi-hik, maju semua, tikus-tikus busuk. Mari rasakan pedangku dan menyingkirlah ke neraka!"

Sepak terjang nyonya itu menggiriskan. Pedangnya tak kenal ampun. Wi Hong memainkan *Ang-in Kiam-sut* (Ilmu Pedang Awan Merah) yang bergerak naik turun menerjang lawan. Siapa pun yang tersambar pasti roboh binasa. Pasukan kerajaan morat-marit, Cong-ciangkun kembali berteriak agar mereka mundur dan melepaskan anak panah.

Gedung Coa-ongya mulai dibakar, menambah suasana menjadi semakin semrawut. Pasukan kerajaan jatuh tersambar pedang atau terinjak-injak kuda sendiri. Namun, saat pasukan itu mundur dan melepaskan panah, anak buah Chu Kiang mulai berjatuhan. Chu Kiang sendiri mengamuk di belakang Wi Hong, ia juga seorang ahli panah yang tangguh. Karena jumlah musuh yang terlalu banyak, para pejuang mulai terdesak.

"Sin-siauwhiap, tolong lindungi dan bawa Chu-goanswe (Jenderal Chu) dari sini. Dia satu-satunya keturunan Chu yang tak boleh habis!"

Giam Liong tertegun. Ia sedang berkelebatan membabat lawan. Hujan panah tak ada yang berhasil melukainya karena ia telah mengerahkan *sinkang* hingga tubuhnya kebal. Namun, ketika teriakan itu terdengar dan ia melihat si Papan Besi—orang nomor dua setelah Chu Kiang—roboh tertancap dua panah, Giam Liong terkejut. Ternyata, si Papan Besi adalah Chu-goanswe yang sebenarnya.

"Cepat... tolong dan selamatkan Chu-goanswe, Siauw-hiap. Jangan biarkan keturunan dinasti Chu musnah!"

Giam Liong meruntuhkan delapan anak panah yang menyambar, namun si Papan Besi kembali menjerit saat terkena panah lainnya. Chu-goanswe yang terguling menolak ditinggalkan, "Tidak, kita roboh atau keluar bersama, Wan Mo. Jangan hanya memikirkan aku sementara kau binasa di sini!"

"Hei, awas!" Wi Hong berteriak melihat sebatang panah menyambar jenderal itu.

Chu-goanswe terlambat mengelak dan erangan keluar dari mulutnya saat panah menancap di pundak. Cong-ciangkun berteriak agar pasukannya fokus menyerang jenderal itu. Wi Hong segera berkelebat dan terbang menghalau hujan panah dengan pedangnya yang diputar secepat kitiran.

"Hei, selamatkan Chu-goanswe! Kita harus pergi dari sini, Liong-ji. Cukup, bawa teman kita keluar!"

Giam Liong mengamuk, mengeluarkan bentakan mengguntur yang membuat orang-orang di situ jatuh terpelanting. "Minggir, kalian enyahlah!"

Giam Liong mengayunkan tangannya, disusul pekik ngeri dari para pemanah yang tewas seketika dengan golok kecil tertancap di tenggorokan. Giam Liong menyapu tiga puluh pemanah sekaligus, meninggalkan sisanya dalam keadaan pucat ketakutan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment