Chapter 101
Ketika mereka terkejut dan mundur menjauh, Giam Liong telah mengibaskan lengannya ke sana sini. Pemuda itu menyambar Chu-goanswe, sementara ibunya menyuruh orang lain membawa si pendek gempal, Papan Besi, yang pingsan. Lawan memberikan jalan dan sesekali melepas serangan yang tak berarti, sehingga rombongan itu berhasil keluar dan meninggalkan tempat berdarah tersebut.
Giam Liong dikenal sebagai Naga Pembunuh, dan pemuda yang berdiri di balik pejuang-pejuang itu sungguh hebat. Wajah dan rambutnya yang kemerahan terasa lebih menyeramkan daripada mendiang ayahnya dulu. Pemuda itu tampak seperti iblis haus darah yang sedang mencari korban. Karena Golok Maut juga berada di tangan pemuda itu dan tidak ada satu pun senjata yang sanggup menandinginya, Giam Liong bersama pengikut Chu-goanswe akhirnya lolos dari istana.
Mereka terus melarikan diri ke selatan dan Giam Liong membawa teman-temannya ke hutan. Meskipun mandi keringat, pengalaman itu sungguh menggembirakan. Orang-orang itu bersorak-sorai meluapkan kegembiraannya. Namun, ketika mereka memasuki hutan dan Giam Liong berhenti, ibunya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Rasa lelah yang sangat mendadak mengusik pengikut Chu-goanswe.
"Berhenti, kita beristirahat di sini!"
Anehnya, orang-orang itu mengeluh. Mereka gemetar dan menjatuhkan diri ke rumput. Teman atau kawan yang tewas dan luka diletakkan di sana, hampir bersamaan dengan tubuh mereka sendiri yang roboh lunglai. Ketika Wi Hong meletakkan tubuh si Papan Besi sementara putranya meletakkan Chu-goanswe, ibu dan anak itu bekerja dengan cekatan.
"Aku tidak membawa obat-obatan untuk sedemikian banyak orang. Kalian saling menolong saja, dan yang lukanya ringan harus menguatkan hati serta menolong yang lain!"
Orang-orang itu mengangguk. Mereka bangkit lagi karena Giam Liong maupun ibunya tidak beristirahat. Mereka merasa malu dan tentu saja harus bergerak lagi. Ketika semua orang sibuk menolong dan merawat teman-temannya, Giam Liong mencabut tiga batang panah yang menancap di tubuh jenderal itu, sementara ibunya mencabut beberapa anak panah dari tubuh si pendek gempal. Giam Liong memberikan obat luka luar dan menempelkan lengannya di pundak jenderal itu untuk menyalurkan *sinkang*.
Ketika jenderal itu lebih dulu siuman, ia tertegun namun wajahnya bersinar memandang Giam Liong. "Aku di mana? Bagaimana dengan Wan Mo?"
"Temanmu itu selamat, Goanswe, ditolong ibuku. Tapi dia masih pingsan," jawab Giam Liong.
"Tidak mati?"
"Untung tidak, masih hidup."
"Aku mau melihatnya!"
Namun, ketika jenderal itu hendak berguling dan mengaduh, Giam Liong menekan bahunya karena luka yang diderita cukup besar, meskipun tidak berat. "Aku baru saja mencabut tiga batang anak panah yang menancap di tubuhmu dan baru saja kulumuri obat. Harap Goanswe tidak banyak bergerak dan tenang saja di sini."
"Ah, terima kasih, Siauw-hiap. Tapi bagaimana pula dengan teman-temanku yang lain?"
"Kami selamat di sini, Goanswe. Tapi yang lain gugur..." sebuah suara terdengar serak. Chu-goanswe menoleh dan tampak seorang laki-laki pucat bangkit terhuyung. Chu-goanswe tertegun, namun ketika orang itu mendekat dan sang jenderal menangkap lengannya, tiba-tiba Chu-goanswe menggigil.
"Ci Cak, berapa teman kita yang terbunuh? Berapa yang selamat?"
"Kalau tidak ada Sin-kongcu ini, tentu kita semua terbunuh, Goanswe. Tapi karena ada pemuda ini, separuh dari kita selamat. Yang lain tewas..."
"Ah, usaha kita gagal. Tapi kita dapat mengulanginya lain kali!"
Laki-laki itu mengangguk dan melepaskan tangannya. Giam Liong diam, tidak mencampuri pembicaraan, namun ibunya memanggil karena si pendek gempal tiba-tiba mengeluh dengan tubuh panas seperti dibakar.
"Dia seperti terserang racun. Coba kau periksa dan lihat lukanya!"
"Hm!" Giam Liong bergerak dan memeriksa laki-laki itu. "Luka di pundak kirinya bengkak, Ibu. Panah yang menancap di sini ternyata mengandung racun. Kau benar, biar kusedot dan kuambil racunnya!"
Darah kehitaman yang berbau busuk tersedot keluar. Giam Liong mengerutkan kening namun terus bekerja. Tak lama kemudian, rasa panas menghilang dan darah yang keluar kembali merah. Ketika si pendek gempal membuka mata dan sadar, laki-laki itu mengeluh dan mengucap terima kasih.
"Tadi Kedok Hitam berkelebat di antara pasukan, menyambitkan panahnya itu. Tapi karena Hujin dan Siauw-hiap ada di dekat situ, dia lenyap lagi dan menghadiahiku sebatang panah itu. Terima kasih, Giam-lo-ong belum menghendaki nyawaku!"
Laki-laki itu meminta dibangunkan dan bertanya bagaimana dengan Chu-goanswe. "Aku boleh mati, tapi Chu-goanswe harus hidup. Mana dia dan apakah dia selamat?"
"Aku di sini," Chu-goanswe berkata haru sambil bangkit duduk. "Hujin dan Sin-siauw-hiap ini telah menolong kita semua, Wan Mo. Aku masih hidup dan kau pun selamat!"
"Ah, kau tidak apa-apa, Goanswe? Syukur, banyak terima kasih!"
Wan Mo mencoba berdiri namun gagal. Giam Liong memintanya untuk beristirahat. Akan tetapi, Chu-goanswe memaksa bangkit dan berkata bahwa tempat itu kurang aman. "Di sini masih terlalu dekat dengan kota raja. Sebaiknya kita menerobos lagi ke hutan yang lain, di sana ada gua-gua perlindungan untuk teman-temanku. Apakah Siauw-hiap sudi mengantar?"
"Hm, di sini pun aku tak takut, Goanswe. Tapi kalau kau menghendaki begitu, tentu saja aku tak keberatan. Tapi bagaimana pendapat ibuku?"
"Hi-hik, kita harus melindungi Chu-goanswe, Liong-ji. Kalau dia minta diantar, sebaiknya ikuti saja. Aku juga tidak takut, tapi kita harus berhati-hati dengan si Kedok Hitam itu. Dia licik dan amat curang. Siapa tahu dia melakukan sesuatu di tempat begini dan kita tak bisa melindungi semua orang," sahut sang ibu.
"Baiklah, mari, Goanswe. Kita berangkat."
Giam Liong menolong dan memapah jenderal itu. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Meski kelelahan, mereka mengeraskan hati demi keselamatan. Ketika rombongan kembali bergerak, Chu-goanswe menunjukkan jalan menuju tempat persembunyian yang baik untuk memulihkan diri dari luka-luka selama pertempuran di gedung Coa-ongya.
Keesokan harinya, istana benar-benar gempar. Kaisar mendapat laporan tentang kejadian tersebut dan sangat marah. Tujuh ratus orang tewas, sementara ratusan lainnya luka-luka. Coa-ongya, yang semalam entah ke mana, muncul dengan muka merah padam. Ia harus memberi laporan dan memutar balik fakta. Ia mengatakan bahwa pengikut Chu Wen kini muncul kembali, dipimpin saudaranya yang bernama Chu Kiang.
Namun, ketika kaisar bertanya apakah jumlah pemberontak itu ribuan, pangeran itu tertegun dan menjawab bahwa jumlah mereka hanya sekitar seratus lima puluh orang.
"Seratus lima puluh orang? Dan tak dapat dibunuh oleh ribuan pasukan kita?"
"Maaf, Sri Baginda. Orang-orang itu sebenarnya dapat ditumpas. Namun karena ada keturunan Golok Maut di situ, pasukan kita hancur berantakan."
"Golok Maut? Manusia itu ada lagi?"
"Bukan Golok Maut, Sri Baginda, melainkan keturunannya. Ada seorang pemuda lihai yang tak dapat kami lawan..."
"Tapi kau memiliki Kedok Hitam, pengawal tangguh yang selalu kauandalkan!"
"Kedok Hitam terluka, Sri Baginda. Sebelumnya ada cekcok dengan dua kakek, Sudra dan Mindra. Bocah itu datang ketika Kedok Hitam baru saja bertanding dan kehabisan tenaga..."
"Terkutuk, keparat! Kau selalu mempunyai pengawal pribadi yang tak pernah akur. Aku tak mau tahu, lihat berapa kerugian yang kita derita. Ini lagi-lagi persoalanmu. Sudah kubilang agar kau menghabisi Golok Maut itu dan kekasihnya. Kenapa sekarang ada keturunannya yang melanjutkan sepak terjang bapaknya? Kau sungguh sial, bekerja hanya setengah-setengah!"
Pangeran Coa merah padam. Ia tak dapat bercerita bahwa dulu ada Ju Beng Tan yang menghalangi pekerjaannya, karena Wi Hong—kekasih Golok Maut—dilindungi oleh pendekar tersebut. Swi Cu pun tak mungkin membiarkan sucinya dibunuh. Pangeran itu hanya terdiam ketika kaisar bersungut-sungut memerintahkan untuk mencari dan menumpas para pemberontak, termasuk bocah keturunan Golok Maut tersebut.
"Aku tak dapat lagi membiarkan ini. Bagaimana bocah itu bisa berkawan dengan para pengikut Chu Wen?"
"Chu Kiang dan kawan-kawannya itu semula datang sendiri-sendiri, Sri Baginda," jawab Pangeran Coa.