Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 102

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 102

"Tapi keturunan Golok Maut itu datang dan menolong belakangan."

"Dan bocah itu membawa Chu Kiang?"

"Benar."

"Dan Kedok Hitammu itu tidak berguna. Ah, pengawal pribadimu itu hanya gentong kosong belaka!"

"Maaf, bocah itu membawa Golok Maut, Sri Baginda. Di tempat ini tak ada senjata pusaka yang dapat menandinginya. Sri Baginda jangan terlalu menyalahkan karena pembantu hamba tidak memiliki senjata tandingan."

"Golok Maut? Bocah itu membawa Golok Penghisap Darah?"

"Benar, Sri Baginda. Paduka tahu bahwa tidak ada senjata lain yang dapat menandingi senjata itu, kecuali Paduka memiliki senjata ampuh yang dapat menghadapi kehebatannya."

"Hm, ada," Sri Baginda tiba-tiba berseri, wajahnya menunjukkan kegirangan. "Ada senjata lain yang mampu menghadapi Golok Penghisap Darah itu, Adik Coa. Tentunya kau tahu akan hal ini!"

"Tapi Paduka mengatakan tidak ada senjata istimewa di gudang senjata!"

"Bukan... bukan di gudang senjata, melainkan di luar!"

"Di luar? Maksud Paduka..."

"Bodoh! Kau tentu ingat pembantuku paling lihai, Adik Coa. Pengawal pribadiku yang sayang tidak mau bekerja lagi di sini. Dialah yang kumaksud. Panggil saja dia ke mari dan beritahukan undanganku. Agaknya hanya dia yang dapat mengatasi kesulitan ini!"

"Pek-jit-kiam Ju Beng Tan?" Coa-ongya tiba-tiba tertegun. "Ketua Hek-yan-pang itu?"

"Ha-ha, benar. Siapa lagi? Panggil dan undang ke mari bekas pengawalku itu, Adik Coa. Suruh dia menghadap dan katakan maksudku. Atau, kalau dia tidak mau, pinjam saja Pedang Mataharinya dan berikan kepada si Kedok Hitam!"

"Mana mungkin itu," sang Pangeran terkejut. "Pek-jit-kiam tidak mungkin boleh dipinjam, Sri Baginda. Beng Tan adalah laki-laki gagah yang menyamakan senjata dengan nyawanya. Hilang senjata berarti hilang pula nyawa. Pedang itu tak mungkin dipinjam!"

"Kalau begitu, panggil dia ke mari. Suruh saja menghadap dan berikan undangan ini, dariku pribadi!"

Ketika Kaisar memberikan surat pribadi—hal yang amat langka dan jarang terjadi—Pangeran Coa tertegun, lalu membungkuk dan menerima surat itu. Ia harus memanggil pendekar yang amat lihai tersebut, dan ini akan menorehkan getah pahit di mukanya. Pendekar itu belum tentu mau. Ada sesuatu yang amat pribadi dan rahasia antara dirinya dengan Pek-jit-kiam Ju Beng Tan.

Namun, karena perintah sudah diterima dan surat itu mau tidak mau harus disampaikan, ia tidak boleh menolak. Pangeran pun memohon diri. Akan tetapi, Sri Baginda tiba-tiba bertanya tentang putrinya.

"Mana anak perempuanmu? Mengapa tidak kelihatan?"

"Dia... dia pergi, Sri Baginda. Sudah enam bulan ini," jawab Coa-ongya agak tertegun.

"Hm, anak perempuan tidak selayaknya dibiarkan sendiri, Adik Coa. Puterimu itu rupanya berani dan bandel. Atau barangkali Yu Yin tidak kerasan di istana?"

"Hamba tidak tahu, tapi dia memang nakal. Terima kasih atas perhatian Paduka."

Ketika Pangeran itu mengundurkan diri dan Kaisar berbalik masuk ke dalam, Pangeran tersebut tertegun di gedung yang lain. Ia mengamati gedungnya yang hancur dan roboh di mana puluhan orang bekerja menyingkirkan puing-puing. Kebakaran yang terjadi di tempatnya cukup hebat karena jago merah melahap habis tempat tinggalnya. Tidak ada sisa sedikit pun yang berharga.

Ketika mata Pangeran ini tiba-tiba mencorong dan menakutkan, hawa aneh keluar dari tubuhnya. Tanpa sadar, ia meremas sebuah batu hingga hancur dan remuk. Aneh! Orang akan terkejut dan terheran-heran melihat kejadian ini. Coa-ongya, yang selama ini diketahui tidak memiliki ilmu silat dan lemah, tiba-tiba saja meremas hancur sebuah batu hitam. Apakah itu kekuatan siluman? Kejadian ajaib yang amat kebetulan?

Namun, ketika batu itu luruh dan bertaburan di tanah, sang Pangeran membuka telapaknya, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan langsing yang berseru tertahan.

"Ayah...!"

Coa-ongya terkejut. Untuk kedua kalinya ia tertegun dan menoleh ke kiri. Bayangan itu memanggilnya, dan tahu-tahu berdirilah seorang gadis cantik di depannya; gadis yang berpakaian seperti laki-laki. Ketika Pangeran itu agak tercengang karena gadis ini menyembunyikan rambutnya di balik tutup kepala, wajah Pangeran itu tiba-tiba berseri. Ia berseru menyambut sambil merentangkan tangan.

"Yu Yin...!"

Gadis itu tahu-tahu sudah dipeluk. Sang ayah kegirangan dan menyambar putrinya. Yu Yin terisak dan menyambut, menangis terisak-isak dan mengguncang tubuh ayahnya. Namun, ketika gadis itu teringat sesuatu dan melepaskan diri, ia memandang tangan ayahnya yang tadi meremas hancur batu hitam.

"Ayah, kau... kau memiliki sinkang yang mengejutkan? Kau meremas hancur batu hitam itu?"

"Ah, siapa bilang? Aku meremas hancur batu yang sebelumnya sudah retak itu, Yu Yin. Tapi bagaimana kau datang dan baru sekarang kembali? Lihat, ayahmu mendapat cobaan dan tempat tinggal kita dibakar orang. Ada orang jahat hendak membunuh ayahmu!"

Pangeran itu cepat-cepat menegur putrinya untuk mengalihkan perhatian sembari menuding orang-orang yang bekerja di sana. Gadis itu tertegun dan lupa pada kesaktian ayahnya.

"Apa yang terjadi? Aku mendengar berita-berita di jalanan tentang datangnya para pengacau di tempat Ayah. Siapa mereka itu dan bagaimana gedung kita habis dibakar?"

"Hm, pemberontak-pemberontak hina datang mengacau kita, Yu Yin. Mereka orang-orangnya Chu Wen!"

"Chu Wen? Bukankah dia sudah meninggal?"

"Benar, tapi saudaranya masih hidup. Semalam Chu Kiang mengacau di sini dan anak buahnya membakar gedung kita!"

"Tapi ada Paman Kedok Hitam di sini!" sang Putri menukas, terkejut dan terheran-heran. "Bukankah pembantumu itu paling lihai, Ayah? Apakah dia tidak ada sehingga para pengacau itu dapat berbuat sekehendak hatinya sendiri?"

"Mereka berjumlah banyak, seratus lima puluh orang..."

"Tapi istana juga memiliki pasukan, jumlahnya ribuan!"

"Hm, itu betul, Yu Yin. Tapi ada sesuatu yang tidak kita duga..."

"Apa itu? Katakan. Biar kucari mereka dan kuhancurkan satu per satu!"

Coa-ongya kagum. Ia berseri dan gembira melihat putrinya yang gagah dan tidak kenal takut itu. Ia meraih dan memeluk Yu Yin. Namun, ketika anaknya itu memberontak dan melepaskan diri karena marah oleh cerita ayahnya yang belum selesai, gadis itu mengedikkan kepala dengan mata yang bersinar-sinar.

"Ayah, orang telah menghancurkan tempat tinggal kita. Aku tidak bisa tertawa dan jangan tertawa. Apa yang tidak kau duga itu dan mengapa tempat ini bisa hancur?"

"Hm, keturunan Golok Maut mencariku, Yu Yin. Bocah inilah yang tidak kita duga. Dia datang menolong atau membantu para pemberontak itu. Bocah itu luar biasa dan lihai hingga kami semua tidak ada yang dapat melawan!"

"Keturunan Golok Maut? Datang ke sini? Hm, ceritakan kepadaku, Ayah. Aku juga sudah mendengar itu tapi kurang jelas. Coba kau ceritakan siapa pemuda itu. Kurang ajar benar dia berani mengacau!"

"Namanya Giam Liong..."

"Ya-ya, aku juga mendengar begitu. Katanya berjuluk Si Naga Pembunuh! Hm, keparat dan kurang ajar. Awas, kubunuh dia nanti. Lalu bagaimana!"

Coa-ongya menarik napas dalam-dalam. Yu Yin tidak tahu bahwa pemuda bernama Giam Liong itu adalah Han Han yang dulu pernah ditemuinya. Gadis itu mendengarkan ayahnya bercerita tentang kejadian semalam: betapa mulanya datang kaum pemberontak yang dipimpin Chu Kiang yang hampir dibasmi, namun tiba-tiba muncul keturunan Si Golok Maut Sin Hauw itu. Ketika pemuda ini mengobrak-abrik tempat itu dan tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya, Yu Yin berseru memutus dengan muka keheran-heranan.

"Aneh, masa begitu saja tidak dapat dilawan, Ayah? Bukankah di sini ada Paman Kedok Hitam? Ke mana dia dan apakah membiarkan saja musuh berbuat seenaknya?"

"Bocah itu terlalu lihai, Pamanmu Kedok Hitam sendiri merasa tidak sanggup..."

"Apa? Paman Kedok Hitam kalah? Bocah itu memangnya iblis?"

"Hm, dia memiliki sesuatu yang saat ini tidak ada bandingannya, Yu Yin. Pemuda itu membawa Golok Maut, senjata ayahnya dulu. Karena tidak ada senjata yang dapat dipakai melawan senjata itu, pamanmu mundur dan aku memanggil pasukan besar untuk mengepung pemuda itu."

"Nanti dulu, katanya ada seorang wanita lagi yang datang!"

"Benar, dia itu ibunya..."

"Dan mereka berhasil meloloskan diri? Ayah benar-benar tidak sanggup?"

"Hm," Coa-ongya merah mukanya. "Pemuda itu lihai dan luar biasa, Yu Yin. Kalau saja tidak membawa Golok Maut, barangkali pamanmu dapat mengatasi. Tapi bocah iblis itu dibantu senjatanya. Tidak ada satu pun yang mampu melawan!"

"Aku tidak takut, aku akan mencoba!" gadis itu tiba-tiba berseru dengan wajah yang terbakar. "Kita telah dihina dan dipermalukan seperti ini, Ayah. Tunjukkan di mana pemuda itu dan biar kucari dia!"

"Kau jangan gegabah," Coa-ongya menyambar dan mencengkeram putrinya. "Tidak ada satu pun yang dapat melawan kalau pemuda itu masih menyimpan goloknya, Yu Yin. Aku sudah menghadap Kaisar dan Sri Baginda telah menitahkan sesuatu. Dengar, aku mendapat pikiran baik dan ada dua jalan merobohkan pemuda itu. Kau mau membantu ayahmu?"

"Tentu saja!" gadis itu mengangguk, tidak melihat kilatan aneh di pandangan mata ayahnya. "Urusanmu urusanku juga, Ayah. Perintahkan apa yang harus kulakukan!"

"Kau cari dan rayu pemuda itu. Pergunakan kecantikanmu untuk mencuri Golok Maut-nya!"

"Apa?" Yu Yin terlonjak, memberontak dan melepaskan diri. "Merayu? Menipu dan mencuri goloknya?"

"Sabar," sang ayah melihat muka anak gadisnya yang merah padam. "Ini hanya taktik belaka, Yu Yin, jangan salah paham. Aku hendak minta tolong padamu dan hanya kaulah yang dapat melakukan ini. Laki-laki biasanya tunduk kepada wajah cantik, kau..."

"Tidak!" bentakan itu terdengar melengking dan penuh marah. "Kau menghina aku, Ayah. Kau merendahkan aku."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment