Chapter 104
Mereka memang tak jauh di situ dan ia pun terlambat mencegah gadis ini.
Ketika Chu-goan-swe dan teman-temannya muncul, mereka terbelalak melihat kedatangan Yu Yin, sementara Yu Yin sendiri tertegun melihat orang-orang itu.
Curiga!
"Siapa mereka ini?" Giam Liong menarik napas panjang.
Agaknya, ia tak dapat menyembunyikan diri lagi. Yu Yin, yang mengenalnya sebagai Han Han, akan segera mengenalnya sebagai Giam Liong, tokoh "pemberontak" itu.
Namun, karena masing-masing pihak bertanya dan ibu serta Chu-goan-swe juga harus dijawab, maka cepat ia memegang bahu gadis itu dan memperkenalkan, "Dia ini adalah sahabatku, kebetulan saja datang. Namanya Yu Yin. Harap kalian tidak salah paham dan curiga yang bukan-bukan."
"Hi-hik, kapan kau berkenalan dengan gadis, Liong-ji? Kenapa tidak pernah memberitahu ibumu?"
"Maaf," pemuda itu tersipu merah. "Gadis ini kukenal secara kebetulan, Ibu. Dia adalah Jing-ci-touw yang amat lihai, Yu Yin yang pemberani dan dulu suka mengganggu orang."
"Jing-ci-touw (Copet Seribu Jari)? Kerjanya mencopet?"
Giam Liong tersenyum masam. Ia terpaksa memberi tahu bahwa pekerjaan mencopet bukanlah mata pencarian gadis itu. Gadis ini hanya melampiaskan watak nakalnya saja dengan menggoda atau mengganggu orang, karena banyak hasil copetannya diberikan kepada fakir miskin dan tak dipakai untuk diri sendiri.
Ketika Wi Hong terkekeh dan mengangguk-angguk mengerti, nyonya itu memandang Yu Yin dengan berseri-seri. "Kau mengagumkan, gagah, dan cantik. Sudah lama berkenalan dengan puteraku?"
Yu Yin tertegun. "Hujin adalah ibu Han Han?"
"Ya, aku ibunya. Tapi namanya yang benar bukan Han Han. Dia Giam Liong, Sin Giam Liong!"
"Apa?" Yu Yin terpekik, mencelat kaget. "Giam Liong?"
"Benar," Giam Liong tersenyum, menyambar dan menangkap lengan temannya itu lagi. "Akulah orang yang kaucari-cari, Yu Yin. Kau salah paham dan agaknya sekarang harus dijelaskan... heiii!"
Giam Liong terkejut dan melonjak bagai disengat lebah ketika tiba-tiba melihat sinar hitam menebas tangannya. Ia sedang menyambar lengan gadis itu untuk ditangkap secara bersahabat, sama sekali tak menduga bahwa Yu Yin mencabut pedang hitamnya dan langsung menyerang.
Karena ia tak menduga, namun secepat itu pula ia mengerahkan sinkang menerima bacokan, ujung bajunya memberebet, tetapi pedang terpental bertemu jari-jari Giam Liong yang kebal.
"Aihhh... tak-brett!" Yu Yin berjungkir balik dengan muka pucat.
Gadis itu gagal dan terhuyung oleh sinkang Giam Liong. Matanya berapi-api, muka tiba-tiba merah padam bagai dibakar. Ketika Giam Liong tertegun sementara ibunya dan semua orang terkejut, gadis itu memandang penuh nafsu membunuh. Yu Yin berteriak, "Giam Liong, aku musuh besarmu! Aku akan membunuhmu. Ah, tak kusangka kalau kau adalah keturunan Si Golok Maut Sin Hauw. Mampuslah!"
Pedang yang menerjang lagi diikuti bayangan si gadis tiba-tiba bergulung naik turun menyambar-nyambar Giam Liong. Giam Liong terkejut dan tentu saja terheran-heran, mengelak dan menangkis hingga pedang pun terpental bertemu kuku jarinya. Ketika gadis itu melengking-lengking dan menyerang semakin hebat, Giam Liong mengebutkan lengan bajunya menggubat pedang hitam itu yang saat itu mendesing membacok kepalanya.
"Kau aneh, kau seperti setan kelaparan. Hentikan seranganmu dan kenapa kau marah-marah, Yu Yin? Kenapa kau menganggap aku musuh besarmu yang harus kaubunuh!"
Ketika pedang ditangkis dan tergubat, Giam Liong menariknya hingga gadis itu tak tahan. Yu Yin terpelanting dan marah karena pedangnya terampas. "Serahkan pedangku, atau kau boleh bunuh aku!"
"Hm!" Wi Hong tiba-tiba berkelebat, marah oleh sikap gadis ini. "Kau kiranya liar dan tak tahu aturan, bocah. Roboh dan tutup mulutmu!"
Namun, ketika jari nyonya itu terpental menotok, Wi Hong ingin merobohkan tetapi gagal. Yu Yin sudah bergulingan meloncat bangun dengan wajah kehitam-hitaman. Marah besar!
Giam Liong menggeram. Ia sendiri sudah masuk dan berkelebat ke gedung Coa-ongya itu. Lawan melarikan diri sementara Sudra dan Mindra bergulingan meloncat bangun. Mereka pucat melihat kehebatan Giam Liong. Si Naga Pembunuh itu benar-benar mengerikan karena sekali mengeluarkan goloknya saja, tiba-tiba mereka pun terpelanting. Cambuk dan nenggala tak mampu lagi menghadapi golok di punggung pemuda itu. Bocah itu melebihi ayahnya!
Ketika orang-orang itu berteriak dan bersorak mengikuti Si Naga Pembunuh, para pengawal atau penjaga dibabat tanpa ampun. Dua kakek ini pun diterjang dan menerima kemarahan mereka.
"Bunuh kakek-kakek siluman ini. Tebas batang kepalanya!"
Dua kakek itu terkejut. Mereka sudah kehilangan senjata dan orang-orang bersaputangan itu pun beringas sekali menyerang mereka. Golok, tombak, atau pedang silih berganti menyambar bagai hujan. Namun, karena mereka adalah kakek-kakek yang lihai dan dengan tangan atau kakinya menghalau senjata, semua serangan terpental. Orang-orang itu berteriak memanggil Giam Liong, "Naga Pembunuh, bantu kami dulu. Dua kakek ini melawan!"
Sudra dan temannya tergetar. Mereka paling jerih kalau mendengar nama itu. Giam Liong merupakan pemuda mengerikan yang paling mereka gentari. Maka, begitu membentak dan berjungkir balik mengibas orang-orang itu, dua kakek ini lenyap melarikan diri, tak mau bertemu Giam Liong.
"Kalian tikus-tikus busuk yang beraninya hanya mengandalkan pemuda itu. Baiklah, kami pergi namun kelak kami akan datang menghajar... plak-plak-plak!"
Orang-orang itu menjerit bergulingan. Mereka terlempar roboh oleh kibasan atau dorongan pukulan dua kakek ini. Mindra dan Sudra memang masih terlalu lihai bagi mereka. Begitu dua kakek itu lenyap melarikan diri dan orang-orang itu memasuki gedung, Sudra dan Mindra hendak mencari si Kedok Hitam yang tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Suasana menjadi gaduh.
"Kejar, bunuh kakek itu. Tangkap mereka!"
Namun, Sudra dan Mindra menghilang di dalam. Mereka bergerak cepat dan tentu saja tak mau bertemu orang-orang bersaputangan ini. Mereka mendongkol namun terpaksa menahan marah. Kalau saja tak ada Si Naga Pembunuh, tentu mereka membalik, menghajar, atau merobohkan orang-orang itu. Tapi karena ada Si Naga Pembunuh dan nama itu menggetarkan hati mereka, biarpun dimaki dan disoraki dari belakang, tetap saja dua kakek ini lenyap dan tak mau melayani. Mereka hendak mencari si Kedok Hitam dan memaki-maki tokoh itu karena tidak mau keluar lagi. Mereka tertipu dan sekarang menyadari bahwa Kedok Hitam menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu, dua kakek ini pun mencaci maki dan mengutuk habis-habisan si Kedok Hitam.
Giam Liong sendiri mengobrak-abrik tempat itu diikuti ibunya. Pemuda ini pun marah dan geram karena setelah menyerangnya habis-habisan, ternyata musuhnya itu melarikan diri. Begitu enaknya!
Setelah seluruh kamar ditendang dan dibuka, ternyata Kedok Hitam tak ada di situ. Entah ke mana laki-laki itu, ibunya membanting kaki penuh sesal.
"Lihat, lihat kegoblokanmu. Kau ditipu mentah-mentah dan tak menuruti nasihat Ibu, Liong-ji. Kalau saja kau tak sombong dan memberinya sepuluh jurus cuma-cuma, tentu siluman yang licik itu dapat kita bunuh. Ah, kau tak tahu betapa sulitnya mencari laki-laki ini. Ayo cari saja Coa-ongya dan kita bekuk pangeran celaka itu!"
Giam Liong tak menjawab, wajahnya merah padam. Memang sekarang ia menyesal kenapa sikapnya begitu lunak. Ia terlalu mengalah kepada musuh besarnya itu. Baru sekarang ia tahu bahwa si Kedok Hitam itu benar-benar manusia yang amat licik dan licin. Sepak terjangnya curang!
Tapi ketika Coa-ongya pun tak dapat ditemukan dan ibunya gusar membanting-banting kaki, seorang pelayan ditangkap dan diinjak lehernya. "Katakan di mana majikanmu, atau nanti kau kubunuh!"
"Am... ampun!" Pelayan itu tentu saja tak tahu apa-apa. "Mu... mungkin di tempat kaisar, Hujin. Aku tidak tahu...!"
"Bohong!" Wi Hong membentak dan melepaskan marahnya. "Kaupun licik dan ingin menyelamatkan diri, tikus busuk. Kau persis majikanmu yang tidak tahu malu dan pengecut... krekk!"
Leher itu yang diinjak hancur akhirnya membuat pelayan terkulai. Giam Liong sendiri terkejut dan berubah mukanya.
"Kau mau marah? Kau mau memprotes? Ayo, bunuh ibumu kalau tidak suka, Liong-ji. Aku akan membunuh siapa saja yang ada di sini!"
Giam Liong yang tak jadi mendebat dan tertegun membelalakkan mata, tiba-tiba melihat ibunya keluar dan berteriak-teriak mencari pelayan atau siapa saja orang-orangnya Coa-ongya. Ibunya mata gelap dan marah sekali oleh lolosnya Kedok Hitam itu. Karena semua pelayan sudah melarikan diri dan gedung itu benar-benar kosong, meja kursi itulah yang menjadi korban. Isi gedung benar-benar porak-poranda dihajar nyonya ini. Wi Hong kalap dan putranya tertegun membelalakkan mata.
Ketika orang-orang bersaputangan juga muncul dan melihat kemarahan nyonya ini, tiba-tiba mereka pun bersorak-sorak dan menghancurkan pula segala perabot di situ.
"Bagus, kami bantu, Hujin. Bagus, ha-ha...!"
Giam Liong tak tahan. Akhirnya ia membentak, namun yang dibentak adalah orang-orang itu. Mereka dilarang ikut-ikutan, namun celaka sekali, ibunya justru membentaknya agar membiarkan orang-orang itu. Dua perintah berlawanan membuat orang-orang ini tertegun. Tapi ketika Wi Hong berkelebat dan menghajar mereka, mendadak saja orang-orang ini takut. Mereka panik dan mau tak mau harus menuruti kemauan nyonya itu. Giam Liong terlihat diam dan membiarkan saja orang-orang itu menghancurkan segala isi gedung.
Ketika ibunya puas dan orang-orang itu juga mundur, berkelebatlah seorang tinggi besar membuka saputangannya. "Siauw-hiap, Hujin... terima kasih atas bantuan kalian."