Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 105

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 105

Kami adalah pejuang-pejuang setia yang memusuhi istana.

"Aku adalah Chu Kiang dan ini teman-temanku yang setia kepada mendiang Chu Wen. Kami akan memperkenalkan diri kepadamu!" Ketika laki-laki itu berseru pada teman-temannya agar membuka tutup muka, tampaklah wajah-wajah yang rata-rata gagah. Si tinggi besar itu ternyata simpatik dengan wajah kemerah-merahan, seperti Kwan Kong, tokoh legendaris dari kisah *Tiga Negeri*.

"Siauw-hiap (pendekar muda), sungguh luar biasa sekali. Kepandaianmu benar-benar seperti ayahmu atau bahkan lebih!"

"Benar!" orang-orang itu berseru hampir serempak. "Kami kagum kepadamu, Siauw-hiap. Sungguh gembira jika kami mendapat bantuan orang seperti dirimu. Kami mengharap Siauw-hiap mau memimpin kami!"

Giam Liong tertegun. Tiba-tiba si tinggi besar berlutut dan mengajak teman-temannya menjatuhkan diri. Mereka telah diselamatkan oleh pemuda ini, dan pertolongan Giam Liong sungguh besar. Setelah kata-kata itu disetujui, si tinggi besar mengangguk, lalu berseru nyaring, "Benar, kami mengharap kau mau memimpin kami, Siauw-hiap. Lanjutkan perjuangan ayah dan kakekmu yang gagal dibunuh musuh-musuhnya. Kami keturunan Chu tentu berhutang budi besar dan tak akan melupakan bantuanmu ini!"

"Kau keturunan keluarga Chu?" Wi Hong tiba-tiba berkelebat, menangkap dan mencengkeram pundak laki-laki gagah itu. "Kau apanya Chu Wen dan berapa pasukanmu hingga berani melabrak istana?"

"Uh!" si tinggi besar meringis dan mengerahkan tenaganya, cengkeraman itu serasa menembus tulang. "Lepaskan cengkeramanmu, Hujin. Biarkan kami menjawab pertanyaanmu."

Ketika Wi Hong melepaskan cengkeramannya, Chu Kiang bercerita bahwa pasukannya berjumlah sekitar lima ratus orang. "Kami tidak banyak, namun dengan lima ratus orang tentu kami dapat membuat istana geger. Maaf, kami orang-orang bodoh yang hanya berbekal keberanian dan tekad baja, Hujin. Meskipun kami bukan lawan si Kedok Hitam itu, dengan keroyokan tentu kami dapat membunuhnya. Sial, kami tak tahu bahwa dua kakek India itu ada di sini pula. Perhitungan kami agak meleset!"

"Hm, kalian benar-benar orang-orang gagah yang berani mati. Kalian telah berani datang ke sini!" Wi Hong mau tak mau kagum juga. "Kalian boleh, Chu Kiang. Tapi apa hubunganmu dengan mendiang Chu Wen?"

"Aku saudara lain ibu, Hujin. Chu Wen adalah kakakku satu ayah, meskipun usia kami terpaut jauh."

"Bagus, sekarang apa rencanamu?"

"Kami akan menyerang dan membunuh Coa-ongya. Dia inilah tulang punggung istana dan penasihat perang. Namun, karena dia dilindungi si Kedok Hitam, maka Kedok Hitam inilah yang harus kami habisi. Kami siap berkorban asal dapat membunuhnya!"

"Benar," tiga di antaranya berseru nyaring. "Pacul Kilat dan Tombak Maut telah menjadi korban, Hujin. Kami yang lain siap menyusul asal dapat membunuh si Kedok Hitam itu. Dia licik dan amat jahat. Dia pengganjal utama cita-cita kami!"

"Dia pun telah membunuh suamimu," Chu Kiang bicara membakar semangat. "Orang seperti ini tak layak dibiarkan hidup, Hujin. Kami dan kalian memiliki satu musuh dan satu keinginan. Biarlah kalian memimpin kami dan kami berdiri di belakang kalian!"

"Cocok!" yang lain berseru dan mengangkat senjata. "Dipimpin puteramu yang selihai ini, tentu kami dapat menumbangkan kaisar lalim, Hujin. Ayo, bunuh kaisar dan cari kembali Coa-ongya itu!"

Namun, ketika orang-orang itu mulai ribut, tiba-tiba Giam Liong berkelebat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Pemuda itu berseru agar mereka jangan gaduh karena ada sesuatu yang ia dengar. Ketika semua diam, terdengar bentakan dan derap kuda di luar gedung yang jumlahnya ribuan!

"Chu Kiang, kau biang pemberontak. Berlutut dan menyerahlah baik-baik. Kami pasukan kerajaan mengepungmu!"

Orang-orang itu terkejut. Namun, Chu Kiang berseru agar teman-temannya berhenti dan tidak bergerak sendiri-sendiri. Dari segala arah muncul obor yang ribuan jumlahnya, membuat gedung Coa-ongya mendadak terang-benderang.

"Kita telah mempunyai calon pemimpin di sini. Biarlah Siauw-hiap atau Sin-hujin memutuskan perintah. Dengar kata-kata mereka dan kita lakukan apa perintahnya!"

"Hi-hik!" Wi Hong bangga. "Kau telah dipilihnya, Liong-ji. Kau pimpinan di sini dan biar ibu di sampingmu saja. Katakan, apa yang harus dilakukan dan mereka tentu akan menyerbu seperti laron kesetanan!"

"Apa?" Giam Liong mengerutkan kening. "Aku menjadi pemimpin? Aku memimpin orang-orang ini? Ah, tidak. Aku tak tahu asal mula perjuangan ini, Ibu. Aku datang untuk urusan ayah dan mereka ini urusan mereka sendiri. Aku hanya menyarankan untuk pergi dari sini karena si Kedok Hitam telah melarikan diri!"

"Kami akan mengikuti perintahmu!" Chu Kiang berseru. "Tapi bagaimana dengan pasukan itu, Siauw-hiap? Mereka berjumlah ribuan orang!"

"Hi-hik, kita bantai saja!" Wi Hong bergerak hendak mendahului puteranya, namun ia ditangkap.

"Kita tak usah takut kepada mereka, Chu Kiang. Ada puteraku di sini dan biar Golok Maut-nya mencari darah!"

"Nanti dulu!" Giam Liong bergetar dan mengerutkan kening. "Aku tak ada urusan dengan mereka, Ibu. Yang kucari adalah Kedok Hitam. Aku tak berurusan dengan pasukan kerajaan!"

"Bodoh! Kaukira apa mereka itu? Kaukira apa si Kedok Hitam yang licik dan curang itu? Pasukan ini datang atas kehendaknya, Liong-ji. Bunuh mereka dan sikat habis!"

"Benar," Chu Kiang menimpali. "Pasukan ini datang atas suruhan Kedok Hitam, Siauw-hiap. Aku akan menyambut dan siap menghirup darah bersama teman-temanku!"

"Dan kita berpesta," Wi Hong terkekeh. "Dulu mereka merajang ayahmu, Liong-ji. Ayo, sekarang balas dan cincang mereka itu!"

"Bakar gedung Coa-ongya ini!" orang-orang itu berteriak. "Kami akan membalaskan dendammu pula, Siauw-hiap. Mari keluar dan perintahkan kami menyambut. Dengar, mereka berteriak dan menggonggong seperti anjing!"

Giam Liong bersinar-sinar. Wajahnya yang beku tiba-tiba menjadi dingin. Tak ada senyum atau perasaan di situ. Pemuda ini menggeram begitu ibunya menyebut kematian ayahnya. Ketika di luar terdengar seruan agar mereka menyerah, darah Giam Liong mendidih.

"Heii, bocah yang mengaku keturunan Golok Maut! Kau juga keluar dan cepat berlutut menyerahkan diri. Atau kami akan membunuhmu dan mencincangmu seperti mendiang ayahmu dulu!"

Giam Liong mengeluarkan pekik menggetarkan. Dengan kemarahan yang tak tertahan lagi, pemuda ini berkelebat dan mengayunkan tangannya. Tujuh sinar putih dilepas dan golok-golok kecil menyambar seorang laki-laki di atas kudanya. Laki-laki itu adalah Gouw-ciangkun, panglima yang menghina Giam Liong.

Begitu pemuda itu berkelebat, Gouw-ciangkun terbelalak melihat musuhnya. Gerakan Giam Liong seperti burung menyambar; tahu-tahu panglima itu menjerit dan roboh terjungkal dengan tujuh bagian tubuh yang putus dibabat *giam-to* (golok kecil).

"Aughhh...!" Pekik kematian itu menggetarkan tempat tersebut. Gouw-ciangkun roboh dengan tangan dan kaki terputus, sementara kepalanya menggelinding seperti bola. Darah menyembur bagai pancuran. Giam Liong mengamuk, disusul sorakan anak buah Chu Kiang yang menyerbu pasukan kerajaan. Wi Hong ikut berkelebat dengan pedang yang menyambar-nyambar. Tempat itu berubah menjadi ajang pembantaian.

"Mundur! Semua mundur! Jauhkan diri dan serang dengan anak panah!"

Kegaduhan dan kepanikan melanda pasukan kerajaan. Cong-ciangkun, wakil Gouw-ciangkun, berteriak memberi aba-aba, namun ia sendiri gemetar melihat sinar maut di tangan Giam Liong. Giam Liong bagai iblis haus darah; golok di tangannya tetap kering meskipun terus membabat korban karena "menghisap" darah yang mengenainya. Semakin banyak darah yang tumpah, semakin bercahaya golok itu dengan pancaran merah amis yang menyilaukan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment