Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 106

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 106

Sepak terjang Giam Liong memang tak tertandingi dan membuat pasukan berkuda lawan porak-poranda. Wi Hong terkekeh-kekeh bergerak di belakang putranya itu, begitu juga Chu Kiang dan anak buahnya yang berpesta pora.

"Hi-hik, maju semua, tikus-tikus busuk. Mari rasakan pedangku dan menyingkirlah ke neraka!" Sepak terjang nyonya ini menggiriskan. Pedangnya tak kenal ampun dan setiap membacok selalu mengenai sasaran. Wi Hong memainkan Ang-in Kiam-sut dan ilmu pedang Awan Merah miliknya bergerak naik turun menyambar lawan. Siapa saja yang tersambar pasti roboh, berteriak, dan terjungkal, sehingga musuh mundur dengan gugup. Mereka pucat dan gentar oleh kelihaian nyonya ini.

Karena Wi Hong maupun putranya tak dapat dilawan, pasukan besar itu kocar-kacir. Cong-ciangkun kembali berteriak agar pasukannya mundur dan melepaskan anak panah.

"Mundur! Lepaskan anak panah dan serang mereka dari jauh!"

Pasukan tersadar. Dibabat dan dibantai seperti rumput kering, mereka pucat dan menjauh. Kuda-kuda meringkik dan mengangkat kaki depannya dengan panik. Mereka bingung oleh perintah tuannya yang kacau; banyak yang saling bertabrakan hingga suasana menjadi gaduh. Ketika gedung Coa-ongya mulai dibakar oleh orang-orang Chu Kiang yang bersorak-sorai, pasukan kerajaan benar-benar semrawut dan hingar-bingar. Mereka jatuh disambar pedang atau terinjak-injak oleh teman sendiri dan kuda yang panik.

Namun, ketika pasukan itu mundur dan melepaskan panah sesuai perintah Cong-ciangkun, beberapa anak panah menyambar dan mengenai anak buah Dewa Hitam Chu Kiang. Mereka roboh dan menjerit, membuat Chu Kiang yang bertubuh tinggi besar terkejut. Laki-laki itu mengamuk di belakang Wi Hong, membabat lawan dengan golok, serta mencoba menghalau panah. Ternyata Chu Kiang adalah seorang ahli panah. Namun, karena musuh amat banyak sementara yang mampu menangkis hujan panah hanyalah Wi Hong dan putranya, pejuang-pejuang itu mulai berjatuhan. Sebuah teriakan tiba-tiba ditujukan kepada Giam Liong agar menyelamatkan si tinggi besar, keturunan dinasti Chu tersebut.

"Sin-siauwhiap, tolong lindungi dan bawa Chu-goanswe dari sini. Dia satu-satunya keturunan Chu yang tak boleh habis!"

Giam Liong tertegun. Saat itu, ia sedang berkelebat dengan golok di tangan, membabat bagai rajawali menerkam mangsa. Hujan panah yang diarahkan kepadanya tak ada satu pun yang berhasil. Jika tidak rontok oleh goloknya, anak panah itu patah sendiri saat mengenai tubuhnya yang kebal. Pemuda itu telah mengerahkan sinkang untuk melindungi diri hingga lawan terbelalak karena tak satu pun anak panah mampu melukainya.

Namun, ketika teriakan itu terdengar dan Giam Liong mendengar keluhan pendek, ia terkejut melihat sosok yang berseru itu roboh terhuyung-huyung. Dialah si Papan Besi, orang nomor dua setelah Chu Kiang, yang ternyata juga merupakan seorang Chu-goanswe.

"Cepat..." Laki-laki itu terduduk, jatuh, dengan dua batang panah menancap di pundak dan punggungnya. "Tolong dan selamatkan Chu-goanswe, siauw-hiap. Jangan biarkan keturunan dinasti Chu musnah!"

Giam Liong terbelalak. Ia meruntuhkan delapan anak panah yang menyambar dari depan dan hendak bergerak, tapi si Papan Besi tiba-tiba menjerit saat sebatang panah kembali mengenainya. Ketika Giam Liong membentak gusar kepada para pemanah dan melepaskan giamtonya, Chu-goanswe atau jenderal tinggi besar itu berseru keras ke arah temannya yang sudah terguling.

"Tidak, kita roboh atau keluar bersama, Wan Mo. Jangan hanya memikirkan aku sementara kau binasa di sini!"

"Heii, awas!" Wi Hong tiba-tiba berteriak melihat sebatang panah menyambar laki-laki itu. "Lempar tubuhmu, Chu-goanswe! Atau kau mampus!"

Chu-goanswe terkejut. Ia menoleh dan melihat datangnya anak panah itu, mencoba mengelak namun kalah cepat. Ketika panah menancap di pundaknya dan jenderal itu mengerang, Cong-ciangkun berteriak agar memusatkan serangan panah ke arah laki-laki tersebut.

"Bunuh dan serang dia! Itu ternyata si Chu-goanswe!"

Wi Hong terkejut. Pasukan kerajaan melepaskan panah ke arah jenderal itu. Chu-goanswe menggerakkan gendewanya, namun sebatang panah kembali menancap. Menyadari laki-laki itu adalah sosok yang penting dan Wi Hong melihat harapan baik untuk masa depan anaknya kelak, nyonya itu berkelebat dan terbang menghalau hujan panah. Pedangnya diputar secepat kitiran untuk melindungi jenderal Chu.

"Heii, selamatkan Chu-goanswe. Kita harus pergi dari sini, Liong-ji. Bawa teman kita keluar!"

Giam Liong terkejut melihat Chu-goanswe alias Chu Kiang roboh terguling. Ia tadi berusaha menolong temannya, namun justru menjadi korban. Karena ibunya bergerak melindungi jenderal itu sementara hujan panah semakin gencar, Giam Liong mengeluarkan bentakan mengguntur yang membuat orang-orang di sekitar terpental.

"Minggir, kalian enyahlah!"

Giam Liong mengayunkan tangannya ke kiri dan ke kanan, disusul jerit ngeri dari para pemanah yang terjengkang tewas seketika akibat hujan golok kecil yang menancap di tenggorokan mereka. Giam Liong menyapu tiga puluh pemanah hingga tewas, membuat yang lainnya pucat. Ketika musuh mundur, Giam Liong menyambar tubuh Chu-goanswe, sementara ibunya diperintahkan membawa si pendek gempal, Papan Besi, yang pingsan. Lawan memberi jalan, dan setelah sekali dua kali melepas serangan yang tak berarti, rombongan itu berhasil keluar meninggalkan tempat berdarah tersebut.

Giam Liong telah dikenal sebagai Naga Pembunuh. Wajah dan rambutnya yang kemerahan terasa lebih menyeramkan daripada mendiang ayahnya dulu. Pemuda itu tampak seperti iblis haus darah. Karena Golok Maut berada di tangannya dan tak satu pun senjata sanggup menandingi, Giam Liong bersama pengikut Chu-goanswe berhasil lolos dari istana. Mereka terus melarikan diri ke selatan hingga ke hutan. Meski mandi keringat, pengalaman itu sungguh menggembirakan. Orang-orang tersebut bersorak-sorai meluapkan kebahagiaan. Namun, ketika mereka memasuki hutan dan Giam Liong berhenti, ibunya mengangkat tangan tinggi-tinggi, menandakan mereka harus beristirahat.

"Berhenti, kita beristirahat di sini!"

Anehnya, orang-orang itu mengeluh. Mereka gemetar dan menjatuhkan diri di rumput. Teman yang tewas atau luka diletakkan di sana, hampir bersamaan dengan tubuh mereka yang roboh lunglai. Wi Hong meletakkan tubuh si Papan Besi, sementara putranya meletakkan Chu-goanswe. Ibu dan anak itu bekerja dengan cekatan.

"Aku tidak membawa obat-obatan untuk sedemikian banyak orang. Kalian saling menolong saja; yang lukanya ringan supaya menguatkan hati dan menolong yang lain!"

Orang-orang itu mengangguk. Mereka bangkit kembali karena Giam Liong maupun ibunya tidak beristirahat. Mereka merasa malu jika hanya berdiam diri. Saat semua saling membantu, Giam Liong mencabut tiga batang panah yang menancap di tubuh sang jenderal, sementara ibunya mencabut beberapa batang panah dari tubuh si pendek gempal. Giam Liong memberikan obat luka luar dan menempelkan lengannya di pundak jenderal itu untuk menyalurkan sinkang.

Ketika jenderal itu lebih dulu siuman, ia tertegun lalu memandang Giam Liong dengan mata berbinar. "Aku di mana? Bagaimana dengan Wan Mo?"

"Hm, temanmu itu selamat, Goanswe, ditolong ibuku. Tapi dia masih pingsan."

"Tidak mati?"

"Untung tidak, masih hidup."

"Aku mau melihatnya!"

Namun, ketika jenderal itu hendak terguling dan mengaduh, Giam Liong menekan bahunya karena luka yang diderita cukup besar, meskipun tidak fatal.

"Aku baru saja mencabut tiga batang anak panah yang menancap di tubuhmu dan melumurinya dengan obat. Harap Goanswe tidak banyak bergerak dan tenang saja di sini."

"Ah, terima kasih, Siauw-hiap. Tapi bagaimana pula dengan teman-temanku yang lain?"

"Kami selamat di sini, Goanswe. Tapi yang lain gugur..." sebuah suara terdengar serak. Chu-goanswe menoleh dan tampaklah seorang laki-laki pucat bangkit terhuyung. Ia mengangguk kepada jenderal itu.

"Ci Cak, berapa teman kita yang terbunuh? Berapa yang selamat?"

"Kalau tidak ada Sin-kongcu ini, tentu kita semua terbunuh, Goanswe. Tapi karena ada pemuda ini, separuh dari kita selamat. Yang lain tewas..."

"Ah, usaha kita gagal. Tapi kita dapat mengulanginya lain kali!"

Ketika laki-laki itu mengangguk dan melepaskan tangannya, Giam Liong diam tak mencampuri. Tiba-tiba ibunya memanggil karena si pendek gempal mengeluh dan tubuhnya panas seperti dibakar.

"Dia seperti terserang racun. Coba kau periksa dan lihat lukanya!"

"Hm!" Giam Liong bergerak menyambar laki-laki itu. "Luka di pundak kirinya bengkak, Ibu. Panah yang menancap di sini ternyata mengandung racun. Kau benar, biar kusedot racunnya!"

Giam Liong mengerahkan sinkang dan menyedot luka yang tiba-tiba menghitam dan berbau busuk itu. Benar saja, darah kehitaman tersedot keluar. Giam Liong mengerutkan kening namun terus bekerja. Tak lama kemudian, rasa panas menghilang dan darah yang keluar pun kembali merah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment