Chapter 107
Saat si pendek gempal membuka mata dan sadar, laki-laki itu mengeluh sembari mengucapkan terima kasih.
"Tadi Kedok Hitam berkelebat di antara pasukan, menyambitkan panahnya. Namun, karena hujin dan siauw-hiap ada di dekat situ, dia lenyap lagi dan menghadiahiku sebatang panah. Terima kasih, Giam-lo-ong belum menghendaki nyawaku!"
Saat bergerak minta dibangunkan, laki-laki itu bertanya, "Bagaimana dengan Chu-goanswe? Aku boleh mati, tapi Chu-goanswe harus hidup. Mana dia dan apakah dia selamat?"
"Aku di sini," sahut Chu-goanswe dengan haru seraya bangkit duduk. "Hujin dan Sin-siauw-hiap ini telah menolong kita semua, Wan Mo. Aku masih hidup dan kau pun selamat!"
"Ah, syukurlah, kau tidak apa-apa, Goanswe. Banyak terima kasih!" Wan Mo mencoba berdiri, namun gagal; ia terhuyung dan jatuh.
Tiba-tiba Giam Liong berkata agar laki-laki itu beristirahat. "Kau baru saja terbebas dari maut, jangan banyak bergerak. Beristirahat dan tenang saja di sini."
Akan tetapi, Chu-goanswe menggeleng dan memaksa bangkit berdiri. Ia berkata bahwa tempat itu kurang aman. "Di sini masih terlalu dekat dengan kota raja. Sebaiknya kita menerobos hutan lain; di sana ada gua-gua perlindungan untuk teman-temanku semua. Apakah siauw-hiap sudi mengantar?"
"Hm, di sini pun aku tak takut, Goanswe. Tapi kalau kau menghendaki begitu, tentu saja aku tak keberatan. Namun, bagaimana pendapat ibuku?"
"Hi-hik, kita harus melindungi Chu-goanswe, Liong-ji. Kalau dia minta diantar, sebaiknya ikuti saja. Aku juga tidak takut, tapi kita harus berhati-hati dengan si Kedok Hitam itu. Dia licik dan amat curang. Siapa tahu dia melakukan sesuatu di tempat seperti ini dan kita tak bisa melindungi semua orang," sahut sang ibu.
"Baiklah, mari, Goanswe, kita berangkat. Atau barangkali ada teman-temanmu yang kelelahan dan minta menunggu sebentar lagi?"
"Tidak, kami cukup sehat, siauw-hiap. Kalau Goanswe menghendaki ke hutan di luar sana, kami masih sanggup berjalan. Memang di sana ada gua-gua persembunyian."
"Kalau begitu mari, kita berangkat!" Giam Liong menolong dan memapah sang jenderal. Ia mengangguk melihat orang-orang itu mau meneruskan perjalanan lagi. Mereka sebenarnya kelelahan, namun berani mengeraskan hati demi keselamatan diri sendiri. Saat rombongan kembali bergerak dan mereka yang luka-luka dipondong oleh rekannya, Chu-goanswe menunjuk tempat persembunyian yang baik untuk memulihkan diri dari luka-luka selama mengadu jiwa di gedung Coa-ongya.
Istana benar-benar gempar. Keesokan harinya, setelah terang tanah, kaisar mendapat laporan tentang kejadian itu. Bukan main marahnya Sri Baginda; tujuh ratus orang tewas sementara ratusan lainnya luka-luka. Coa-ongya, yang semalam entah ke mana, tiba-tiba pagi itu muncul dengan muka merah padam. Ia harus memberi laporan, dan tentu saja laporannya diputarbalikkan. Ia mengatakan bahwa pengikut-pengikut Chu Wen kini muncul lagi, dipimpin saudaranya yang bernama Chu Kiang.
Namun, ketika kaisar bertanya apakah jumlah pemberontak itu ribuan banyaknya hingga pasukan kerajaan hancur porak-poranda, pangeran itu tertegun dan berkata bahwa jumlah pemberontak hanya sekitar seratus lima puluh orang saja.
"Seratus lima puluh orang? Dan tak dapat dibunuh oleh ribuan pasukan kita, bahkan menimbulkan begitu banyak korban?"
"Maaf, Sri Baginda. Orang-orang itu sendiri tidaklah berarti bagi kita dan sebenarnya dapat ditumpas. Namun, karena ada keturunan Golok Maut di situ, pasukan kita hancur porak-poranda."
"Golok Maut? Manusia itu ada lagi?"
"Bukan Golok Maut, Sri Baginda, melainkan keturunannya. Ada seorang pemuda lihai yang tak dapat kami lawan..."
"Tapi kau memiliki Kedok Hitam, pengawal tangguh yang biasanya amat kauandalkan!"
"Kedok Hitam terluka, Sri Baginda. Sebelumnya ada cekcok dengan dua kakek, India Sudra dan Mindra. Bocah itu datang ketika Kedok Hitam baru saja bertanding dengan dua kakek itu dan kehabisan tenaga..."
"Terkutuk, keparat! Kau selalu memiliki pengawal pribadi yang tak pernah akur. Heh, aku sebal mendengar ini, Adik Coa. Aku tak mau tahu, lihat berapa kerugian yang kita derita. Ini lagi-lagi persoalanmu dulu. Sudah kubilang agar kau menghabisi Golok Maut itu dan kekasihnya. Kenapa sekarang ada keturunannya yang melanjutkan sepak terjang bapaknya? Kau sungguh sial, bekerja hanya setengah-setengah!"
Pangeran Coa merah padam. Ia tak dapat bercerita kepada kaisar bahwa dulu ada Ju Beng Tan yang menghalangi sebagian pekerjaannya. Kala itu, Wi Hong atau kekasih Si Golok Maut dilindungi oleh pendekar tersebut. Pendekar itu harus membela kekasihnya yang kini menjadi istrinya karena Swi Cu, nyonya itu, tak mungkin membiarkan sucinya dibunuh. Swi Cu dan Beng Tan sendiri marah atas perbuatan Pangeran Coa yang mengirim lima ribu pasukan ke Lembah Iblis, karena pendekar itu sebenarnya ingin menyelesaikan masalah dengan menghadapi Si Golok Maut secara berhadapan, satu lawan satu, dan bukan dengan pengeroyokan yang amat memalukan.
Ketika pangeran itu tertegun dan diam, kaisar bersungut-sungut memerintahkan untuk mencari dan menumpas para pemberontak itu, termasuk bocah keturunan Si Golok Maut.
"Aku tak dapat lagi membiarkan ini. Urusan sudah bercampur dengan masalah pribadimu. Bagaimana bocah itu dapat datang dan berkawan dengan para pengikut Chu Wen!"
"Chu Kiang dan kawan-kawannya semula datang sendiri-sendiri, Sri Baginda. Tapi keturunan Golok Maut itu datang dan menolong belakangan."
"Dan bocah itu membawa Chu Kiang?"
"Benar."
"Dan Kedok Hitammu itu tak berguna. Ah, pengawal pribadimu itu gentong kosong belaka!"
"Maaf, bocah itu membawa Golok Maut, Sri Baginda. Di tempat ini tak ada senjata pusaka yang dapat menandinginya. Sri Baginda jangan terlalu menyalahkan karena pembantu hamba tak memiliki senjata tandingan!"
"Golok Maut? Bocah itu membawa Golok Penghisap Darah?"
"Benar, Sri Baginda. Paduka tahu tak ada senjata lain yang dapat menandinginya, kecuali Paduka memiliki senjata ampuh yang dapat menghadapi kehebatannya!"
"Hm, ada," Sri Baginda tiba-tiba berseri, wajahnya menunjukkan kegirangan. "Ada senjata lain yang mampu menghadapi Golok Penghisap Darah itu, Adik Coa. Dan kau tentunya tahu akan ini!"
"Tapi Paduka mengatakan tak ada senjata istimewa di gudang senjata!"
"Bukan di gudang senjata, melainkan di luar!"
"Di luar? Maksud Paduka..."
"Bodoh! Kau tentu ingat pembantuku paling lihai, Adik Coa. Pengawal pribadiku yang sayang tak mau bekerja lagi di sini. Dia itulah yang kumaksud. Panggil saja dia kemari dan beritahukan undanganku. Agaknya hanya dia lagi yang dapat mengatasi kesulitan ini!"
"Pek-jit-kiam Ju Beng Tan?" Coa-ongya tertegun. "Ketua Hek-yan-pang itu?"
"Ha-ha, benar. Siapa lagi? Panggil dan undang kemari bekas pengawalku itu, Adik Coa. Suruh dia menghadap dan katakan maksudku. Atau, kalau dia tidak mau, pinjam saja Pedang Mataharinya dan berikan kepada si Kedok Hitam!"
"Mana mungkin itu," sang pangeran terkejut. "Pek-jit-kiam tak mungkin boleh dipinjam, Sri Baginda. Beng Tan laki-laki gagah yang menyamakan senjata dengan nyawanya. Hilang senjata berarti hilang pula nyawa. Pedang itu tak mungkin dipinjam!"
"Kalau begitu, panggil dia kemari. Suruh saja menghadap dan berikan undangan ini, dariku pribadi!"
Ketika kaisar memberikan surat pribadi—hal yang amat langka—Pangeran Coa tertegun, membungkuk, serta menerima surat itu. Ia harus memanggil pendekar yang amat lihai tersebut dan ini akan menorehkan getah pahit di mukanya. Pendekar itu belum tentu mau. Ada sesuatu antara dirinya dengan Pek-jit-kiam Ju Beng Tan, hal yang amat pribadi sekaligus rahasia!
Karena perintah sudah diterima dan surat itu mau tidak mau harus disampaikan, pangeran pun mohon diri. Namun, Sri Baginda tiba-tiba bertanya tentang puterinya.
"Mana anak perempuanmu? Kenapa tidak kelihatan?"
"Dia... dia pergi, Sri Baginda. Sudah enam bulan ini," Coa-ongya agak tertegun.
"Hm, anak perempuan tak selayaknya dibiarkan sendiri, Adik Coa. Puterimu itu rupanya berani dan bandel. Atau barangkali Yu Yin tak kerasan di istana!"
"Hamba tak tahu, tapi dia memang nakal. Terima kasih atas perhatian Paduka."
Ketika pangeran itu mengundurkan diri sementara kaisar masuk ke dalam, pangeran itu tertegun di gedung lain, mengamati tempatnya yang hancur dan roboh di mana puluhan orang bekerja menyingkirkan puing-puing. Kebakaran yang terjadi cukup hebat karena si jago merah melahap habis tempat tinggalnya. Tak ada sisa sedikit pun yang berharga.
Ketika mata pangeran itu tiba-tiba mencorong dan menakutkan, hawa yang aneh keluar dari tubuhnya; tanpa sadar, ia meremas sebuah batu hingga hancur dan remuk. Orang akan terkejut dan terheran-heran melihat kejadian ini. Coa-ongya, yang diketahui tak memiliki ilmu silat dan lemah, tiba-tiba saja meremas hancur sebuah batu hitam. Kekuatan silumankah itu? Kejadian ajaib yang amat kebetulan?
Ketika batu itu luruh dan bertaburan di tanah, sang pangeran membuka telapaknya. Tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan langsing yang berseru tertahan, "Ayah...!"
Coa-ongya terkejut. Untuk kedua kalinya ia tertegun dan menoleh ke kiri. Bayangan itu memanggilnya dan tahu-tahu berdirilah seorang gadis cantik di depannya, gadis yang berpakaian seperti laki-laki. Saat pangeran itu agak tercengang karena gadis ini menyembunyikan rambutnya di balik tutup kepala, wajah pangeran itu berseri dan berserulah ia menyambut sambil merentangkan tangan.
"Yu Yin...!"
Gadis itu tahu-tahu sudah dipeluk. Sang ayah kegirangan dan menubruk atau menyambar puterinya ini.