Chapter 108
Yu Yin terisak saat menyambut ayahnya. Ia menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya terguncang, lalu meremas lengan ayahnya dengan erat.
Namun, ketika gadis itu teringat sesuatu dan melepaskan diri, ia memandang tangan ayahnya yang baru saja meremas hancur sebuah batu hitam.
"Ayah, kau... kau memiliki *sinkang* yang mengejutkan! Kau meremas hancur batu hitam itu?"
"Ah, siapa bilang? Aku meremas hancur batu yang sebelumnya memang sudah retak itu, Yu Yin. Tapi bagaimana kau datang dan baru sekarang kembali? Lihat, ayahmu mendapat cobaan, tempat tinggal kita dibakar orang. Ada orang jahat hendak membunuh ayahmu!"
Saat pangeran itu menegur putrinya dan mengalihkan perhatian dengan menunjuk orang-orang yang bekerja di sana, gadis itu tertegun dan melupakan kesaktian ayahnya yang mampu menghancurkan batu hitam.
"Apa yang terjadi? Aku mendengar berita di jalanan mengenai kedatangan para pengacau di tempat Ayah. Siapa mereka dan bagaimana gedung kita habis dibakar?"
"Hm, pemberontak-pemberontak hina datang mengacau kita, Yu Yin. Mereka adalah orang-orang Chu Wen!"
"Chu Wen? Bukankah dia sudah meninggal?"
"Benar, tapi saudaranya masih hidup. Semalam Chu Kiang mengacau di sini dan anak buahnya membakar gedung kita!"
"Tapi ada Paman Kedok Hitam di sini!" sang putri menukas, terkejut dan heran. "Bukankah pembantumu itu paling lihai, Ayah? Apakah dia tidak ada sehingga para pengacau itu dapat berbuat sekehendak hatinya sendiri?"
"Mereka berjumlah banyak, seratus lima puluh orang..."
"Tapi istana juga memiliki pasukan, jumlahnya ribuan!"
"Hm, itu betul, Yu Yin. Tapi ada sesuatu yang tidak kita duga."
"Apa itu? Katakan. Biar kucari mereka dan kuhancurkan satu per satu!"
Coa-ongya kagum. Ia berseri-seri dan gembira melihat keberanian putrinya, lalu tiba-tiba tertawa. Yu Yin yang gagah dan tidak kenal takut itu diraih dan dipeluknya. Namun, ketika anaknya itu memberontak dan melepaskan diri karena marah oleh cerita ayahnya yang belum selesai, gadis itu mengedikkan kepala dengan wajah merah padam.
"Ayah, orang telah menghancurkan tempat tinggal kita. Aku tidak bisa tertawa dan jangan tertawa. Apa yang tidak kau duga itu dan mengapa tempat ini bisa hancur?"
"Hm, keturunan Golok Maut mencariku, Yu Yin. Dan bocah inilah yang tidak kita duga. Dia datang menolong atau membantu para pemberontak itu. Bocah itu luar biasa dan lihai hingga kami semua tak ada yang dapat melawan!"
"Keturunan Golok Maut datang ke sini? Hm, ceritakan kepadaku, Ayah. Aku juga sudah mendengar itu tapi kurang jelas. Coba kau ceritakan siapa pemuda itu. Kurang ajar benar dia berani mengacau!"
"Namanya Giam Liong...."
"Ya, ya, aku juga mendengar begitu. Katanya berjuluk Si Naga Pembunuh! Hm, keparat kurang ajar. Awas, kubunuh dia nanti. Lalu bagaimana?"
Ketika Coa-ongya menarik napas dalam-dalam, Yu Yin—yang tidak tahu bahwa pemuda bernama Giam Liong itu adalah Han Han yang dulu pernah ditemuinya—mendengarkan ayahnya bercerita mengenai kejadian semalam. Betapa mulanya datang kaum pemberontak yang dipimpin Chu Kiang yang hampir dibasmi, namun tiba-tiba muncul keturunan Si Golok Maut, Sin Hauw. Saat pemuda ini mengobrak-abrik tempat itu dan tak ada seorang pun yang mampu menandingi, Yu Yin berseru heran.
"Aneh, masa begitu saja tak dapat dilawan, Ayah? Bukankah di sini ada Paman Kedok Hitam? Ke mana dia dan apakah dia membiarkan saja musuh berbuat seenaknya?"
"Bocah itu terlalu lihai, Pamanmu Kedok Hitam sendiri merasa tak sanggup."
"Apa? Paman Kedok Hitam kalah? Bocah itu memangnya iblis?"
"Hm, dia memiliki sesuatu yang saat ini tak ada bandingannya, Yu Yin. Pemuda itu membawa Golok Maut, senjata ayahnya dulu. Karena tak ada senjata yang dapat dipakai melawan senjata itu, Pamanmu mundur dan aku memanggil pasukan besar untuk mengepung pemuda itu."
"Nanti dulu, katanya ada seorang wanita lagi yang datang!"
"Benar, dia itu ibunya..."
"Dan mereka berhasil meloloskan diri? Ayah benar-benar tak sanggup?"
"Hm," Coa-ongya memerah mukanya. "Pemuda itu lihai dan luar biasa, Yu Yin. Kalau saja tidak membawa Golok Maut, barangkali Pamanmu dapat mengatasi. Tapi bocah iblis itu dibantu senjatanya. Tak ada satu pun yang mampu melawan!"
"Aku tidak takut, aku akan mencoba!" gadis itu berseru, wajahnya menyala. "Kita telah dihina dan dipermalukan seperti ini, Ayah. Tunjukkan di mana pemuda itu dan biar kucari dia!"
"Kau jangan gegabah," Coa-ongya menyambar dan mencengkeram putrinya. "Tak ada satu pun yang dapat melawan kalau pemuda itu masih menyimpan goloknya, Yu Yin. Aku sudah menghadap Kaisar dan Sri Baginda telah menitahkan sesuatu. Dengar, aku mendapat pikiran baik dan ada dua jalan merobohkan pemuda itu. Kau mau membantu Ayah?"
"Tentu saja!" gadis itu mengangguk, tak melihat kilatan aneh di mata ayahnya. "Urusanmu urusanku juga, Ayah. Perintahkan apa yang harus kulakukan!"
"Kau cari dan rayu pemuda itu. Pergunakan kecantikanmu untuk mencuri Golok Mautnya!"
"Apa?" Yu Yin terlonjak dan melepaskan diri. "Merayu? Menipu dan mencuri goloknya?"
"Sabar," sang ayah melihat wajah anaknya yang merah padam. "Ini hanya taktik belaka, Yu Yin, jangan salah paham. Aku hendak minta tolong padamu dan hanya kaulah yang dapat melakukan ini. Laki-laki biasanya tunduk kepada wajah cantik, kau..."
"Tidak!" bentakan itu terdengar melengking. "Kau menghina aku, Ayah. Kau merendahkan aku. Tak sudi aku merayu pemuda untuk melakukan tipu muslihat itu. Ah, kau selalu menyakitkan aku. Kita selamanya tak pernah ada kecocokan. Biar aku pergi!"
Yu Yin membalikkan badan dan terbang pergi. Sang ayah kaget sekali karena pembicaraan belum selesai, namun putrinya sudah marah. Ketika sang pangeran bergerak melejit seperti ular dan menangkap lengan putrinya, Yu Yin terkesiap.
"Yu Yin, jangan pergi dulu. Dengar kata-kata Ayah yang belum habis!"
"Kau... kau..." gadis itu pucat. "Kau juga memiliki ilmu *ginkang*, Ayah? Kau dapat mengejar aku?"
"Ah, kebetulan saja. Aku memotong larimu, Yu Yin, jangan pikirkan itu. Aku hendak bicara!"
Sang ayah membujuk dengan suara rendah, "Jangan buru-buru marah. Itu tadi hanya taktik, siasat. Aku tidak menyuruhmu terlalu jauh, cukup merobohkan pemuda itu saja. Kalau hatinya sudah takluk, maka kau ambil goloknya dan bawa ke mari. Kita tak perlu takut lagi dan selesailah tugasmu."
"Ini tidak dapat kulakukan!" gadis itu kembali melepaskan diri. "Kau penuh rahasia, Ayah. Kau banyak menyembunyikan sesuatu!"
"Hm, omongan apa ini? Apa yang kusembunyikan?"
"Kau rupanya bukan laki-laki lemah seperti yang disangka orang. Kau memiliki *sinkang* dan *ginkang* yang mengejutkan!"
"Hm, semuanya itu sedikit benar, Yu Yin. Kau tahu bahwa aku memang bisa silat, tapi tak selihai yang kau sangka. Aku masih kalah jauh denganmu, apalagi dengan pamanmu si Kedok Hitam."
"Kalau begitu coba Ayah kejar aku lagi. Aku mau pergi!"
Gadis itu pergi meninggalkan ayahnya. Coa-ongya tampak bingung dan tidak berani mengejar demi menjaga rahasianya. Setelah putrinya menghilang, ia hanya bisa menggeram gemas. Namun, begitu putrinya hilang dari pandangan dan sang pangeran masuk ke dalam gedung, sebuah bayangan lain keluar dari balik gedung: itulah si Kedok Hitam.
Yu Yin merasa marah dan malu sekali mendengar permintaan ayahnya. Ia adalah gadis baik-baik, disuruh merayu dan menjatuhkan seorang pemuda. Permintaan macam apa itu? Apakah ia gadis genit yang murahan? Sungguh keterlaluan ayahnya itu. Jika bukan karena ayahnya, tentu ia sudah menampar dan memaki.
Meski marah, ia akhirnya memutuskan untuk pergi mencari pemuda yang menghina ayahnya itu. Ia akan menuntut balas. Pemuda itu telah mengacau istana dan membakar gedung ayahnya, hal yang tidak akan diampuni. Setelah mendengar ke mana arah pelarian pemuda itu, ia langsung melesat ke hutan.
Yu Yin berhenti di tempat rombongan itu berada, namun ia tidak menemukan mereka. Rombongan Chugoanswe telah pindah ke hutan lain yang penuh dengan gua persembunyian. Gadis itu lalu melacak jejak dengan memperhatikan tetesan darah di atas rumput. Ketika ia sampai di pinggir hutan lain yang gelap dan lebat, jejak itu berhenti.
"Mereka ada di sana," gumamnya.