Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 109

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 109

"Hm, kiranya di sini tikus-tikus busuk itu bersembunyi!" Yu Yin terdiam sejenak dengan mata penuh perhitungan, lalu tiba-tiba ia berkelebat memasuki hutan itu.

Karena harus berhati-hati dan tidak ingin gegabah, ia mencabut pedang hitamnya. Senjata itu kini siap di tangan dengan gerakan penuh kewaspadaan. Yu Yin menyelinap, namun tiba-tiba ia merasa seram berada di tengah hutan yang dingin dan mencekam itu.

Mengingat tujuannya untuk mencari musuh ayahnya—yang juga merupakan musuh negara karena telah mengacaukan istana—ia mengertakkan gigi dan terus bergerak dengan hati-hati. Tiba-tiba, sebuah tepukan mengenai pundaknya. Gadis itu terpekik dan seketika membalikkan badan, pedang hitamnya menyambar namun hanya membabat angin kosong. Ia berseru tertahan.

"Siluman!"

"Bukan, bukan siluman," sebuah suara terdengar. "Ini aku, Yu Yin. Ada apa kau di tempat ini dan membawa-bawa pedang?"

Yu Yin terkejut. Ia menoleh dan mendapati sesosok bayangan muncul di balik sebatang pohon besar. Ia bersiap menggerakkan pedangnya, tetapi tiba-tiba gadis itu tertegun. Saat laki-laki itu menampakkan diri sepenuhnya, Yu Yin terpekik dan menubruk ke depan, melepaskan pedangnya.

"Han Han!"

Giam Liong, pemuda itu, tersenyum. Ia memang sedang menjaga hutan untuk melindungi teman-temannya. Tidak semua temannya telah pulih, karena Chu-goanswe sendiri masih harus beristirahat satu atau dua hari lagi sebelum melanjutkan perjalanan, mengingat tempat itu masih cukup dekat dengan ibu kota. Begitu melihat bayangan gadis itu, ia merasa heran mengapa Yu Yin masuk seperti seorang musuh. Ia pun menegur dan menepuk pundak gadis itu sebelum akhirnya melesat menghindar saat gadis itu menyerang.

"Ya, aku..." Giam Liong tersenyum ketika Yu Yin memanggilnya dengan nama Han Han. Itulah namanya dahulu sebelum ia mengetahui rahasia dirinya, bahwa ia ternyata adalah keturunan mendiang Si Golok Maut, bukan putra Pek-jit-kiam Ju Beng Tan.

Namun, ketika Yu Yin menubruk dan memeluknya, Giam Liong merasa jengah dan mendorong perlahan pundak gadis itu. "Ada apa kau di sini? Mencari apa?"

"Ah," Yu Yin sadar dan tersipu malu. "Aku mencari musuh besarku, Han Han. Bocah bernama Giam Liong!"

"Giam Liong?"

"Ya, bocah keparat itu. Dia telah mengacau dan merusak istana. Aku ingin mencarinya. Tapi, bagaimana kau ada di sini? Sedang berbuat apa? Dan, eh, kenapa rambutmu itu? Kenapa merah marong seperti api menyala? Kau mengecatnya?"

Giam Liong tertegun. Pertanyaan yang bertubi-tubi itu membuatnya tak dapat segera menjawab. Ia mundur dan mengerutkan kening. Yu Yin mencarinya bukan sebagai Han Han, melainkan sebagai Giam Liong.

"Ada apa? Kenapa kau terkejut?" tanya Yu Yin.

"Tidak, tidak apa-apa," pemuda itu berusaha menguasai diri. "Aku heran dengan sikapmu, Yu Yin. Kenapa kau marah-marah dan hendak mencari pemuda itu? Apakah dia..."

"Hm," gadis itu mengerutkan kening, curiga. "Kau aneh dan lucu sekali, Han Han. Masa tidak tahu sepak terjang pemuda itu di istana? Dia mengacau dan menimbulkan huru-hara!"

"Lalu apa maksudmu? Apa maumu?"

"Aku hendak membunuh pemuda itu, minimal menangkapnya!"

"Hm, kau serius, Yu Yin? Kau tidak main-main?"

"Siapa main-main? Kau aneh dan mengherankan sekali. Justru kau yang main-main!"

"Baik, kalau begitu apa hubunganmu dengan itu? Kenapa kau membela istana?"

Yu Yin tertegun. Ia heran dengan sikap temannya yang rupanya tidak mendukung dirinya. Han Han bersikap dingin dan tak acuh, hal yang membuat Yu Yin curiga. Ketika dua pasang mata mereka bertemu, Yu Yin memancing, "Aku merasa terlibat karena itu adalah pemberontakan. Giam Liong dan teman-temannya itu pemberontak. Seluruh rakyat harus memusuhi mereka. Kau tentunya juga harus membantu istana dan membunuh pemuda itu!"

"Hm!" Giam Liong tertawa dingin. "Urusan ini kupikir lain, Yu Yin. Justru aku setuju dengan sepak terjang pemuda itu. Dia dan teman-temannya bukan pemberontak, melainkan pejuang. Karena kau tak tahu siapa pemberontak dan siapa pejuang, baiklah kita tak usah bicara tentang ini."

"Kau membela pemberontak-pemberontak itu?"

"Bukan pemberontak, melainkan pejuang..."

"Ah, mereka pengikut Chu Wen, Han Han. Mereka itu pemberontak!"

"Hm, sebaiknya tak usah bicara tentang ini. Kita bukan musuh, dan kau pun ternyata bukan antek istana. Kau hanya ikut-ikutan saja, Yu Yin, terbawa oleh rasa patriotmu. Bagus, aku kagum. Tapi jangan keras-keras atau teman-temanku nanti mendengar..."

Namun, baru saja Giam Liong menutup kata-katanya, mendadak berkelebat sebuah bayangan wanita. "Liong-ji, siapa ini?"

Yu Yin terkejut karena temannya dipanggil "Liong-ji" (anak Liong). Bersamaan dengan itu, berkelebatan bayangan lain dan berturut-turut muncul orang-orang gagah berpakaian hitam-hitam.

"Siauw-hiap, siapa gadis ini?"

Giam Liong terkejut. Ia khawatir suara keras mereka terdengar oleh ibu atau teman-temannya. Ia terlambat mencegah gadis itu. Saat Chu-goanswe dan teman-temannya muncul, mereka terbelalak melihat kedatangan Yu Yin. Yu Yin sendiri tertegun melihat orang-orang itu, timbul rasa curiganya.

"Siapa mereka ini?"

Giam Liong menarik napas panjang. Agaknya, ia tak dapat menyembunyikan diri lagi. Yu Yin, yang mengenalnya sebagai Han Han, akan segera tahu bahwa ia adalah Giam Liong, tokoh "pemberontak" itu. Ia memegang bahu gadis itu dan memperkenalkan, "Dia ini adalah sahabatku, kebetulan saja datang. Namanya Yu Yin. Harap kalian tidak salah paham."

"Hi-hik, kapan kau berkenalan dengan gadis, Liong-ji? Kenapa tidak pernah memberitahu ibumu?"

"Maaf," pemuda itu tersipu merah. "Gadis ini kukenal secara kebetulan, Ibu. Dia adalah Jing-ci-touw yang amat lihai, Yu Yin yang pemberani dan dulu suka mengganggu orang."

"Jing-ci-touw (Copet Seribu Jari)? Kerjanya mencopet?"

Giam Liong tersenyum masam. Ia menjelaskan bahwa mencopet bukanlah mata pencarian gadis itu. Yu Yin hanya melampiaskan watak nakalnya dengan menggoda orang, karena banyak hasil copetannya diberikan kepada fakir miskin. Wi Hong terkekeh dan mengangguk-angguk, lalu memandang Yu Yin dengan binar mata yang ramah.

"Kau mengagumkan, gagah, dan cantik. Sudah lama berkenalan dengan putraku?"

Yu Yin tertegun. "Hujin adalah ibu Han Han?"

"Ya, aku ibunya. Tapi namanya yang benar bukan Han Han. Dia Giam Liong, Sin Giam Liong...!"

"Apa?" Yu Yin terpekik kaget. "Giam Liong? Jadi... jadi..."

"Benar," Giam Liong tersenyum dan menangkap lengan temannya itu. "Akulah orang yang kaucari-cari, Yu Yin. Kau salah paham dan agaknya sekarang harus dijelaskan... heiii!"

Giam Liong terkejut dan melonjak bagai disengat lebah saat melihat sinar hitam menebas tangannya. Ia sama sekali tak menduga bahwa Yu Yin akan mencabut pedang hitamnya dan langsung menyerang. Ia mengerahkan sinkang untuk menahan bacokan itu. Ujung bajunya robek, namun pedang terpental saat bertemu jari-jari Giam Liong yang kebal.

Yu Yin berjungkir balik dengan muka pucat. Gadis itu terhuyung oleh sinkang Giam Liong, matanya berapi-api, dan wajahnya merah padam. Saat Giam Liong tertegun, gadis itu berteriak dengan penuh nafsu membunuh, "Giam Liong, aku musuh besarmu! Aku akan membunuhmu. Ah, tak kusangka kau adalah keturunan Si Golok Maut Sin Hauw. Mampuslah!"

Pedang yang menerjang lagi itu bergulung naik turun menyambar-nyambar Giam Liong. Pemuda itu mengelak dan menangkis hingga pedang terpental lagi. Saat gadis itu melengking dan menyerang semakin hebat, Giam Liong mengebutkan lengan bajunya untuk menggubat pedang hitam yang mendesing membacok kepalanya itu.

"Kau aneh, kau seperti setan kelaparan! Hentikan seranganmu, Yu Yin. Kenapa kau menganggap aku musuh besarmu?"

Saat pedang ditangkis dan tergubat, Giam Liong menariknya hingga Yu Yin terpelanting. Karena pedangnya terampas, Yu Yin marah. "Serahkan pedangku, atau kau boleh bunuh aku!"

"Hm!" Wi Hong berkelebat, marah oleh sikap gadis itu. "Kau liar dan tak tahu aturan, bocah. Roboh dan tutup mulutmu!"

Namun, saat totokan nyonya itu gagal, Yu Yin berteriak, "Kalian ibu dan anak boleh keroyok aku. Hayo, maju semua!"

"Hm," Giam Liong berkelebat dan menahan lengan ibunya. "Kau tak usah ikut campur, Ibu. Pergilah dan biarkan urusan ini kuselesaikan sendiri."

"Tidak!" sang ibu memberontak, marah melepaskan diri. "Bocah ini tak tahu aturan dan kurang ajar, Liong-ji, berani menyebut-nyebut ayahmu begitu saja. Aku ingin menghajarnya dan kaulah yang mundur!"

Giam Liong menyambar lengan ibunya lagi dan mengerahkan sinkangnya untuk mencengkeram erat, hingga sang ibu menjerit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment