Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 11

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 11

Beng Tan adalah pemuda berbatin bersih. Meskipun pemandangan di depannya mencoba membangkitkan berahinya, pemuda ini berhasil menekan debaran jantungnya dengan memberikan baju luarnya kepada Ki Bi. "Ki Bi, kau bisa kedinginan. Pakailah bajuku, dan jangan biarkan pundakmu terbuka," katanya.

Ki Bi mengeluh aneh, tetapi Beng Tan tidak melihat pandangan kecewa karena pemuda itu memang tidak berpikiran yang macam-macam. Beng Tan terlalu bersih untuk menduga yang tidak-tidak. Ketika Ki Bi mengucap terima kasih dan mereka menuju ke ruangan nomor dua, terjadi lagi gangguan lain. Beng Tan yang siap memasuki pintu ruangan mendadak mendengar kesiur angin dingin dari belakangnya. Belasan sinar merah atau cahaya yang kemerah-merahan menyambar ke arahnya.

Beng Tan terkejut dan menyampok, membentak perlahan, dan sinar-sinar merah itu mendadak saja terpental atau tertolak ke arah Ki Bi. "Aduh, kelabang...!" Beng Tan terkejut karena sinar-sinar merah yang disampoknya tadi adalah kelabang-kelabang keparat. Binatang itu terpental dan berjatuhan di tubuh Ki Bi, masuk dan menggigit serta menyelinap di balik pakaian wanita itu.

Kontan Ki Bi menjerit-jerit dan melepas seluruh pakaian luarnya, hal yang membuat Beng Tan terkesiap. Ki Bi berlarian ke sana kemari, dan Beng Tan melihat betapa tubuh yang indah menggairahkan itu bergerak atau berguncang ke sana ke mari. Ki Bi akhirnya menubruk dan menjerit minta diselamatkan. "Aduh, tolong, pangcu.... tolong...! Ada kelabang memasuki pahaku!" Beng Tan tersirap.

Ki Bi hendak membuka atau melepas pakaian dalamnya, padahal itu adalah satu-satunya sisa terakhir yang menutupi tubuh wanita itu. Beng Tan membungkuk dan membentak menjepit kelabang jahanam itu, meremasnya hancur. "Bedebah terkutuk!" Ki Bi mengeluarkan keluhan panjang. Akhirnya wanita ini roboh dan menangis di dada Beng Tan.

Beng Tan telah menahan gerakan tangannya tadi agar tidak membuka atau melepas pakaian dalam itu. Bayangkan, celana dalam Ki Bi akan dicopot. Beng Tan bisa mati kaku melihatnya! Tapi ketika pemuda itu telah meremas hancur dan kelabang itu dibuang dan diinjak, maka dengan cepat kelabang-kelabang lain yang menyusup atau bersembunyi nakal di tubuh gadis ini sudah dibanting atau ditarik mampus.

"Sudahlah, sudah....!" Beng Tan menahan debaran jantungnya yang tak keruan. "Kelabang-kelabang itu sudah kubunuh semua, Ki Bi. Kini kau tak apa-apa dan selamat!" "Ooohhh...!" wanita itu mengeluh panjang. "Binatang-binatang terkutuk itu sudah tak ada lagi, pangcu. Mereka tak menempel lagi di tubuhku?" "Tidak, tubuhmu sudah bersih. Lihatlah."

"Aku tak berani lihat!" wanita ini mendekap mukanya. "Aku jijik, pangcu. Aku ngeri. Dan ah.... rasanya di dadaku ada..." Beng Tan terkejut. Di dada wanita itu tiba-tiba saja memang benar ada seekor kelabang yang "nongkrong" dengan asyik. Ki Bi tersentak dan tentu saja menjerit kaget. Baju di bagian itu dibuka, dan wanita itu pun kontan menjerit.

Beng Tan mengeluarkan seruan tertahan karena "sepasang bola" bergoyang lebar, padat dan berisi, montok sekali! Dan ketika Ki Bi menjerit dan berteriak tak keruan, lari dan menubruk Beng Tan, maka Beng Tan pucat dan merah oleh pemandangan yang tidak disangka-sangka itu, milik Ki Bi yang amat pribadi! "Ah, jahanam keparat!" Beng Tan menotok dan menampar hancur kelabang itu.

"Sudah kubunuh, Ki Bi. Sudah kulempar mampus. Jangan berteriak-teriak dan ketakutan seperti ini. Pakai kembali bajumu!" "Tidak.... tidak!" wanita ini histeris ketakutan. "Aku tidak berani memakai bajuku, pangcu. Aku tidak berani melihat kelabang-kelabang itu. Kau periksalah semua tubuhku atau aku akan lari-lari telanjang bulat di sini!" "Ki Bi!" Beng Tan membentak. "Apa kau bilang? Kau gila? Jangan melepas semua pakaianmu, tahan dan lihat bahwa kau benar-benar sudah tidak apa-apa... plak!"

Dan Beng Tan yang terpaksa memukul atau menampar gadis itu akhirnya membuat Ki Bi terbanting roboh. Gadis ini mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Beng Tan maju berlutut, membebaskan totokan atau tamparannya tadi. Dan ketika pemuda itu menghibur dengan kata-kata gemetar karena apa yang dilihat tadi sungguh mengguncang perasaannya, maka Ki Bi diminta bangun berdiri dan mengenakan bajunya itu.

"Sudah tidak ada apa-apa lagi. Bangunlah, dan bagaimana binatang-binatang itu tiba-tiba saja ada di sini!" "Aku takut, ngeri..." Ki Bi menangis. "Aku tak tahu bagaimana binatang-binatang itu ada di sini, pangcu. Mungkin saja.... mungkin saja keparat itu yang melemparnya!" Beng Tan tertegun. Tiba-tiba dia teringat bahwa di situ masih ada musuh yang harus dicari-cari.

Mereka belum mendapatkan musuh itu, dan Beng Tan membuang semua kenangan yang dilihat. Tapi karena pemandangan tadi amatlah memukau dan darah mudanya bergolak cepat, panas, maka Beng Tan tak semudah itu menindas perasaannya. Benda pribadi yang dimiliki Ki Bi itu amat mengganggunya, demikian mengganggu hingga tak dapat dilupakannya!

Tapi karena Beng Tan adalah pemuda berwatak teguh, dan lagi-lagi pemuda ini memperlihatkan diri bahwa dia bukanlah hidung belang atau mata keranjang, maka akhirnya Beng Tan mampu menguasai dirinya itu, dan Ki Bi tertegun melihat Beng Tan sudah menyambar lengannya tanpa perasaan, tenang, dan tidak terpengaruh! "Ki Bi, kau benar, musuh masih ada di sini. Marilah kita lanjutkan dan tinggal dua ruangan yang harus kita periksa!" Ki Bi memejamkan mata.

Tiba-tiba kekecewaan hebat membayang di wajah gadis itu, namun sayang Beng Tan lagi-lagi tak melihatnya. Beng Tan tak tahu betapa kecewa dan gemasnya hati gadis itu, juga malu, di samping kagum. Dan ketika Beng Tan mengajak gadis itu ke kamar terakhir, Beng Tan sudah bersiap-siap ketika tiba-tiba Ki Bi tersentak dan mengeluarkan jerit tertahan. "Ada gerakan di atas!" Beng Tan terkejut.

Suara gemuruh tiba-tiba menyentakkannya dari perhatian ke depan. Dia sedang memperhatikan pintu ruangan itu karena siapa tahu musuh tiba-tiba muncul dari sana, menyerang. Tapi ketika justeru Ki Bi berteriak dan menuding ke atas, atap atau langit-langit ruangan itu jebol, maka Beng Tan terperanjat menggerakkan Suara itu disusul jatuhnya empat batu besar.

Beng Tan berteriak karena Ki Bi tak cepat menghindar, menjerit, dan tertimpa batu-batu itu. Dan karena saat itu Beng Tan meloncat ke kiri dan mengira Ki Bi juga meloncat mengikutinya, maka pemuda itu menjadi kaget karena Ki Bi justeru merintih dan terhimpit batu besar. "Ki Bi!" Beng Tan terpaksa mengebutkan lengan bajunya.

Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi debu tebal yang membuat pandangannya terhalang. Beng Tan terkejut karena mengapa Ki Bi tak menghindar, mungkin terperanjat dan bengong oleh longsoran tanah di atas. Kiranya langit-langit guha longsor. Namun ketika Beng Tan menolong gadis itu, dan Ki Bi terisak-isak bercucuran air mata mendadak, pemuda ini tertegun melihat seutas tali menjuntai lemah di sudut ruangan, bergoyang-goyang.

"Hm, apa itu?" Beng Tan tak memperlihatkan penemuannya kepada Ki Bi, curiga. "Bagaimana tali itu tahu-tahu ada di sini dan bergelantungan?" Melihat gelagatnya, tali itu sengaja dipasang orang. Dan aneh kalau tiba-tiba langit ruangan ambrol! Beng Tan tak membicarakan ini. Dia takut bahwa Ki Bi menjadi semakin tak keruan saja.

Sebenarnya dia agak heran bagaimana Ki Bi, yang merupakan murid utama di Hek-yanpang, bisa begitu penakut. Gadis ini sering menangis dan cengeng, padahal sehari-harinya tidak! Dan ketika Beng Tan membangunkan gadis itu dan membersihkan pakaiannya yang penuh debu, maka Beng Tan tertegun lagi melihat sebuah bungkusan terlempar di sudut, bungkusan yang bergerak-gerak lemah, seolah ada isinya, mahluk hidup!

Apa itu? Beng Tan ingin tahu. Namun karena lagi-lagi dia tak ingin membuat Ki Bi panik dan ketakutan, maka Beng Tan pura-pura tak melihat karena pikirnya itu mungkin ular atau sekumpulan cacing. Dan dia tentu saja tak takut. Beng Tan sudah mengajak Ki Bi ke ruangan nomor empat.

Tapi tepat dia membuka pintu ruangan itu dan berjaga untuk serangan gelap, tiba-tiba saja berkesiur angin dingin, dan sebuah bungkusan menghantam kepalanya. "Dess!" Beng Tan membuat bungkusan itu hancur. Beng Tan terkejut karena tiba-tiba dari dalam bungkusan ini berhamburan binatang-binatang luwing atau si kaki seribu.

Ki Bi terpekik dan menjerit karena binatang-binatang itu juga menimpanya. Beng Tan sendiri menggerakkan lengan bajunya, dan luwing-luwing itu terpental berjatuhan ke tanah, tidak seperti Ki Bi yang aneh sekali dapat tertimpa dan kejatuhan binatang-binatang menjijikkan ini, padahal seharusnya dapat mengelak! Dan ketika Beng Tan tertegun karena ruangan itu juga kosong, sementara Ki Bi berteriak-teriak dan menjerit kengerian, maka gadis ini sudah bergulingan melepas bajunya untuk telanjang.

"Ki Bi!" Beng Tan tiba-tiba berseru keras. Pemuda itu berkelebat dan marah melihat apa yang hendak dilakukan Ki Bi. Sesuatu melintas di otaknya, dan sepolos-polosnya Beng Tan tetaplah dia akhirnya dapat mencium apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata dia tertipu.

Bungkusan yang dihantamnya itu adalah bungkusan yang terlempar di sudut, dan dia pun diserang dari belakang, padahal yang ada di belakangnya adalah Ki Bi! Maka ketika Beng Tan membentak dan mengibas semua luwing-luwing yang ada di tubuh Ki Bi, tak membiarkan gadis itu melepas pakaiannya karena tentu dia akan dibuat panas dingin, maka Beng Tan sudah menotok dan merobohkan gadis itu.

"Kau menipu, kau gadis keparat!" "Oohh...!" Ki Bi tersentak, mengeluh. "Ap..... apa maksudmu, pangcu? Apa kau bilang?" "Kau gadis keparat, kau pembohong!" dan Beng Tan yang mengulangi bentakannya serta merah padam memandang gadis itu lalu menyambar dan mencengkeram Ki Bi, marah bukan main.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment