Chapter 110
Namun, ketika pemuda ini sadar dan mengendurkan tenaganya, dengan sungguh-sungguh dan tatapan tajam ia berkata, "Ibu, harap mundur. Ini perintah. Gadis ini urusanku, atau aku akan pergi!"
Ketika ibunya melotot namun tak dapat menolak karena tidak ingin putranya pergi meninggalkan tempat itu, Giam Liong maju dengan muka gelap. Pedang ia kembalikan dan Yu Yin menerimanya dengan wajah yang masih merah padam.
"Yu Yin, sikapmu aneh. Kata-katamu juga tidak bersahabat. Apa yang menyebabkan semuanya ini? Bagaimana kau bisa menganggap aku sebagai musuh besarmu?"
"Keparat!" gadis itu melengking. "Kau putra Si Golok Maut, Giam Liong. Ayahmu membunuh pamanku. Bagaimana aku tak jadi musuhmu jika pihakmu berutang sebuah jiwa!"
"Hm," Giam Liong tersenyum kecut, tahu bahwa ayahnya banyak membunuh orang semasa hidupnya, terutama mereka yang bermarga Coa atau Ci. "Kau bicara tidak terus terang, Yu Yin. Siapa pamanmu dan kenapa kau masih memusuhi ayahku yang sudah meninggal?"
"Kau ingin tahu?"
"Tentu saja."
"Aku Coa Yu Yin. Pamanku adalah Coa-ongya!"
"Ah, kau..."
"Benar!" gadis itu membentak, tiba-tiba tertawa aneh. "Aku putri Coa-ongya, Giam Liong. Nah, mari bertanding dan layani aku!"
Pedang yang bergerak disusul bayangan gadis itu membuat semua orang yang ada di situ berseru kaget. Giam Liong sendiri terpaku bagai dipukul palu godam. Yu Yin, gadis yang menjadi sahabatnya ini, ternyata putri Coa-ongya, musuh besar ayahnya!
Saat pemuda itu tertegun dengan wajah pucat, pedang tiba-tiba menusuk dadanya. Wi Hong berteriak keras melihat putranya tidak mengelak. "Awas...!"
Giam Liong tersadar. Ibunya berkelebat, melengking, dan seketika mencabut pedangnya. Sinar merah bergerak bertemu sinar hitam. Benturan nyaring terdengar dan Giam Liong ditendang oleh ibunya hingga terpental. Giam Liong akhirnya sadar sepenuhnya, sementara ibunya sudah bertanding hebat dengan putri Coa-ongya itu dengan amarah besar.
"Keparat jahanam, kau rupanya bedebah terkutuk itu. Mampuslah, aku yang akan membawa kepalamu kepada ayahmu, bocah. Tak usah sungkan kepadaku!"
*Cring-crang!* Pedang bertemu pedang, nyaring dan memekakkan telinga. Wi Hong sudah menerjang hebat. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres antara putranya dan gadis itu karena ia pun pernah muda. Namun, kebencian mendengar gadis ini putri Coa-ongya membuat ia menyerang bertubi-tubi dengan ilmu *Ang-in Kiam-sut*. Pedang di tangan nyonya itu bergulung naik turun bagaikan awan merah.
Yu Yin terkejut tapi ia pun marah besar. Ia tidak menyangka Han Han, pemuda yang sering ia ajak pergi bersama, ternyata adalah keturunan Si Golok Maut, Giam Liong. Gadis itu memekik dan menyambut serangan dengan pedang hitamnya.
*Crang!* Kedua orang itu terpental. Wi Hong yang marah dan mengerahkan tenaga ternyata bertemu dengan kekuatan yang seimbang. Gadis itu menangkis dan pedang di tangannya terpental, sama seperti pedang hitam di tangan gadis itu. Ketika Wi Hong kembali menerjang, dua wanita itu beradu cepat dan berkelebatan bagaikan walet yang saling menyambar.
Wi Hong terkejut karena lawannya yang masih muda ini mampu mengimbangi kecepatannya. Keduanya bagaikan elang atau rajawali haus darah. Sekali kena, tentu mencium darah. Ketika Wi Hong mempercepat gerakannya dan lawan melayaninya dengan sigap, dua wanita ini tiba-tiba menjadi dua gulungan merah dan hitam yang saling belit dan terkam.
*Crang-crang!* Orang-orang kagum. Gadis itu ternyata mampu mengimbangi Sin-hujin dengan amat baik. Giam Liong sendiri tidak merasa heran karena ia pernah melihat kepandaian bekas sahabatnya ini. Yu Yin memang hebat, namun melihat gadis itu bertempur dengan ibunya, sebuah rasa perih yang amat dalam menggores relung hati Giam Liong.
Di sisi lain, Jenderal Chu dan kawan-kawannya mulai berbisik. "Gadis itu musuh kita. Kita harus membantu Sin-hujin dan membunuhnya!"
"Sst, ada Sin-siauwhiap di sini, Goan-swe. Lagi pula Sin-hujin sedang bertempur. Kita tidak boleh gegabah!"
"Tapi tanganku gatal untuk menangkapnya. Coa-ongya harus diberi pelajaran!"
"Benar, tapi gadis itu lihai. Lihat betapa hebatnya ia melayani Sin-hujin!"
Saat bisik-bisik itu terhenti oleh dentang senjata yang amat nyaring, Sin-hujin membentak dan mengeluarkan pukulan *Ang-in-kang* (Pukulan Awan Merah). "Bocah, kali ini kau mampus!"
Yu Yin terbelalak. Ia mengelak dari sambaran uap merah. Ketika lawan mengejar dengan pedang, ia menangkis, namun tangan kiri lawan kembali menyambar. Yu Yin terpaksa menggerakkan tangan kirinya. *Dess!* Uap merah hancur bertemu sinar kuning. Yu Yin mengeluarkan pukulan *Kim-kang-ciang* (Pukulan Tangan Emas).
Keduanya kembali terpental. Saat Wi Hong hendak menerjang lagi dengan amarah yang meluap, Giam Liong bergerak dan mencoba menghentikan mereka. "Berhenti!"
Wi Hong gusar. Ia sedang dalam puncak amarah dan tidak terima putranya menghentikan pertandingan. Saat ia menerjang, Giam Liong justru maju ke tengah. Pemuda itu menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri; dua batang pedang itu tiba-tiba ditangkap dan dicengkeram oleh telapak tangannya.
*Cep-cep!* Kedua wanita itu terkejut. Wi Hong mengurangi tenaganya, namun Yu Yin yang masih gemas justru menambah tenaga. Begitu pedangnya bertemu telapak tangan Giam Liong, semacam tenaga lembut menghisap kekuatannya. Gadis itu terpekik karena tubuhnya tertarik ke depan dan jatuh ke pelukan pemuda tersebut.
*Aihhh...!* Giam Liong menyentak dan merampas kedua pedang itu dengan mudah. Ia kini jauh lebih lihai daripada saat masih menjadi putra ketua Hek-yanpang. Setelah merampas senjata, ia mengetuk dan menendang lutut keduanya hingga roboh.
"Keparat!" Wi Hong melengking. "Apa maksudmu, Giam Liong? Kurang ajar sekali kau merobohkan ibumu!"
"Maaf," Giam Liong menyambar ibunya dan melemparkannya kepada Chu-goanswe dan kawan-kawan. "Aku tak ingin kau bertanding lagi, Ibu. Biar aku yang menyelesaikan!"
Setelah ibunya diamankan, Giam Liong membebaskan Yu Yin yang masih menatapnya dengan merah padam.
"Giam Liong, kau penipu dan jahanam terkutuk. Kau merusak dan membakar gedung ayahku. Bunuhlah aku dan jangan kira aku takut!"
"Hm, aku tak merusak atau membakar gedung ayahmu. Orang lainlah yang melakukannya, Yu Yin. Tapi tak usah kita bicara tentang itu. Aku masih sakit oleh kejadian ini. Berdirilah dan terima kembali pedangmu."
"Kau mau apa?"
"Tak mau apa-apa..."
Baru saja Giam Liong menyelesaikan kata-katanya, Chu-goanswe dan pengikutnya melompat maju. "Siauw-hiap, gadis ini harus kita bunuh!"
"Atau kita sandera dia untuk menjatuhkan ayahnya!"
"Hm, tidak," jawaban itu mengejutkan mereka semua. "Aku tak ingin menangkap apalagi membunuh gadis ini, Goan-swe. Dia tidak tahu apa-apa tentang permusuhan kita dengan ayahnya. Aku hendak membebaskannya!"
"Apa, membebaskan? Siauw-hiap gila?"
Mata Giam Liong tiba-tiba menajam. Ia membalikkan badan dan menghadapi Chu-goanswe setelah jenderal itu menyebutnya gila.