Chapter 111
Chu-goanswe tertegun dan mundur dengan kaget ketika tiba-tiba dari sepasang mata pemuda itu meluncur hawa dingin yang amat menyeramkan. Wajah pemuda itu tiba-tiba beku dan Chu-goanswe bergidik. Mata itu seperti setan! Ketika jenderal ini terkejut dan sadar, orang-orangnya tiba-tiba bergerak melindungi dirinya, maka Chu-goanswe berseru perlahan melepas rasa gentarnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud memakimu, Siauw-hiap. Namun, kata-katamu sungguh membuat kami bingung. Kami ingin bertanya bagaimana pendapat ibumu dengan masalah gadis ini. Kalau ibumu menghendaki seperti itu, biarlah kami tunduk!"
Jenderal ini dengan cepat menguasai rasa bergidiknya menghadapi Wi Hong. Ia maklum bahwa tak mungkin nyonya itu seperti puteranya, sehingga buru-buru berseru dengan cerdik memanfaatkan keadaan, "Hujin, puteramu akan membebaskan gadis ini. Tolong tanya bagaimana pendapatmu, apakah kau setuju dengan perbuatannya!"
"Siapa setuju?" Wi Hong tentu saja melengking-lengking. "Aku hendak membunuhnya, Goanswe. Bawa aku kepadanya dan biar kubeset siluman betina itu!"
"Nah," jenderal ini menghadapi pemuda itu lagi. "Kau dengar kata-kata ibumu, Siauw-hiap. Kami dan dia sependapat. Kau tak boleh melepaskan gadis ini, atau kau akan berhadapan dengan ibumu!"
"Benar, dia akan berhadapan dengan aku kalau berani melepaskan gadis itu. Biar aku dibunuhnya agar dia menjadi anak durhaka!"
Giam Liong tertegun. Ibunya menangis dan memaki-maki dirinya kalang-kabut, minta dibebaskan, tapi dia ragu. Maklumlah, ibunya tentu menerjang dan akan bertempur lagi dengan Yu Yin. Ketika ia marah karena Chu-goanswe membawa-bawa ibunya, padahal urusan itu hendak diselesaikannya sendiri, mendadak Yu Yin juga memakinya dan membentaknya agar cepat membunuh.
"Giam Liong, anjing-anjing di sini semuanya menggonggong ingin membunuhku. Nah, kau yang gagah dan telah merobohkan aku, silakan berikan aku kepada mereka itu. Cepat, mereka sudah kelaparan! Alangkah gagahnya teman-temanmu itu menangkap seorang gadis yang telah tidak berdaya lewat tangan orang lain!"
"Hm," Giam Liong bergerak maju, melihat Chu-goanswe dan orang-orangnya merah padam. "Bagaimana, Goanswe? Apakah kalian benar-benar ingin membunuhnya?"
"Aku bahkan ingin mengerat lidahnya itu," jenderal ini membentak. "Mulut anak ini tajam dan berbisa, Siauw-hiap. Aku sungguh ingin melumat tubuhnya!"
"Benar," yang lain-lain juga berseru. "Anak ini tajam dan lihai sekali mulutnya, Siauw-hiap. Dia suka memaki-maki dan kami ingin mengerat lidahnya!"
"Dan kalian orang-orang jantan yang sungguh gagah sekali. Menangkap dan membunuh seorang gadis tidak atas hasil usaha sendiri. Cih, malu aku melihat mukamu, Chu-goanswe. Para pengikut Chu Wen ternyata manusia-manusia pengecut yang beraninya hanya berlindung di belakang orang lain!"
"Keparat!" jenderal itu membentak. "Aku tidak takut kepadamu, gadis siluman. Lepaskan dia dan mari bertanding seribu jurus!"
"Benar," yang lain-lain juga berseru kepada Giam Liong. "Kami tidak takut kepadamu, gadis siluman. Ayo maju dan lihat bahwa pengikut Chu-goanswe bukan manusia-manusia pengecut!"
Giam Liong bersinar. Tiba-tiba Yu Yin terkekeh dan berseru padanya agar membebaskan totokan dan menghadapi orang-orang itu. Gadis ini menyambut gembira dan membakar Chu-goanswe beserta orang-orangnya dengan kata-kata tajam bahwa mereka penakut yang hanya berani berlindung di punggung Giam Liong. Bahwa untuk menangkap seorang gadis saja mereka meminta bantuan orang lain. Ketika nama junjungan mereka juga disebut-sebut sebagai manusia pengecut yang tak pantas menjadi pengikut Chu Wen, Chu-goanswe sendiri sudah bergerak dan menggetarkan gendewanya dengan amat marah.
"Siauw-hiap, lepaskan gadis ini. Aku tak tahan mendengar kata-katanya yang amat merendahkan!"
"Tapi biar aku yang maju dulu!" Si Papan Besi, laki-laki pendek kekar, melompat mendahului junjungannya. "Kau tak usah mengotori tanganmu, Goanswe. Mundur dan biar serahkan kepadaku. Lihat bahwa para pengikut Chu-ong bukan laki-laki sebangsa keroco!"
Giam Liong tersenyum. Dia melirik bekas temannya dan kagum melihat kecerdikan Yu Yin. Dengan akal bulusnya, gadis ini mencoba menyelamatkan diri dengan jalan membakar orang-orang itu. Yu Yin tahu bahwa dia sendiri tak mungkin menawan apalagi membunuh, biarpun gadis itu kini diketahui sebagai puteri Coa-ongya, karena musuh besar yang dicari bukanlah Coa-ongya melainkan si Kedok Hitam, orang yang telah membunuh ayahnya. Maka, begitu orang-orang itu berteriak marah, omongan Yu Yin yang pedas menusuk hati membuat Giam Liong bergerak dan membebaskan gadis itu.
"Baiklah, begini baru adil, Goanswe. Aku juga tak senang melihat kalian dikata pengecut. Tangkap dan robohkan gadis ini, tapi betapapun jangan dibunuh. Dan kau...!" Giam Liong memandang gadis itu. "Jangan menurunkan tangan kejam, Yu Yin. Aku tak mengizinkan membunuh atau menumpahkan darah sahabat-sahabatku ini. Kau boleh meloloskan diri kalau bisa. Kalau tidak, yah... apa boleh buat. Kau harus menjadi tawanan Chu-goanswe!"
"Aku tak takut!" Yu Yin bergerak dan berjungkir balik, girang bahwa dirinya dibebaskan. "Orang-orang ini boleh membunuh aku, Giam Liong, kalau bisa. Tapi kalau ada pertumpahan darah, aku tak berani jamin. Hayo, kalian maju semua, jangan satu per satu!"
Sambil melayang turun menerima pedangnya, gadis ini berseru pada orang-orang itu. Si pendek kekar yang berdiri di depannya ternyata tak dipandang sebelah mata. Yu Yin berteriak pada yang lain agar maju berbareng. Tentu saja si pendek kekar menjadi marah. Sambil menantang congkak, tiba-tiba laki-laki itu membentak dan menerjang maju.
"Bocah, kau tak perlu sombong. Coba sambut seranganku ini dan mari kita mulai!"
Yu Yin, yang mulai diserang dan menerima deru angin keras, tiba-tiba sudah dikemplang atau disambar hantaman papan segi empat. Suaranya dahsyat dan tiupan anginnya pun kencang sekali. Tapi ketika gadis itu mengelak dan kaki melayang dari bawah, tiba-tiba ia sudah membalas. Namun dengan cepat lawannya menurunkan senjatanya yang aneh dan kaki gadis itu diterimanya dengan papan yang sekeras besi ini.
"Dukk!"
Si pendek kekar terhuyung. Dia ternyata kalah tenaga dan tentu saja kaget bukan main, terbelalak, namun tiba-tiba sudah menerjang lagi dengan permainan papan besinya. Ketika Yu Yin mengelak dan membabatkan pedangnya, pedang di tangan gadis itu berdentang nyaring bertemu senjata lawan yang ternyata kuat sekali. Selanjutnya mereka bergebrak dan Wan Mo, laki-laki itu, terkejut karena lawan yang dihadapi ternyata benar-benar lihai.
Setingkat dengan Sin-hujin dan dua tingkat di atas kepandaiannya sendiri, gadis itu mampu menerima atau menyambut papan besinya. Setiap bertemu, tentu dia terpental. Ketika laki-laki itu membentak dan menerjang marah, lawan terkekeh-kekeh, maka pedang mulai naik turun membungkus si pendek kekar.
"Hi-hik, awas, Pendek. Meskipun senjatamu kuat, tapi kulit tubuhmu tentu tak sekuat senjatamu. Awas kulit tubuhmu pecah.... bret!"
Baju si pendek tiba-tiba tersambar, robek, dan pemiliknya melempar tubuh bergulingan karena sinar pedang menyambar bagai elang, tak memberi kesempatan ia menangkis. Tiba-tiba saja lawan sudah mengejar padahal ia masih bergulingan dan belum sempat bangun. Ketika laki-laki tang-ting bertemu pedang, maka Wan Mo keteter hebat dan belum apa-apa sudah sebagai pihak yang di bawah angin!
"Chu-goanswe, pembantumu terlalu lemah. Suruh yang lain membantu atau dia nanti mampus!"
"Keparat!" si kekar berteriak. "Kau tak usah sombong, Nona. Aku belum mampus dan masih dapat bertahan!"
"Tapi kau tinggal menunggu waktu. Lihat, pedangku tak bermata dan awas lubang hidungmu.... cret!"
Pipi tiba-tiba tergores, sebuah luka mulai diterima dan pucatlah si pendek itu melihat kehebatan lawannya. Tadi gadis ini dengan mudah dikalahkan Giam Liong, tapi dia lupa bahwa Giam Liong bukanlah dirinya. Pemuda itu jauh di atasnya dan robohnya si nona dianggap seperti robohnya ayam kampung saja. Wan Mo tak mengira bahwa pertandingan yang seru antara gadis itu dengan Sin-hujin ternyata juga tak seberapa banyak menguras tenaga, terbukti gadis ini masih lihai.
Begitu papan besinya tak banyak berguna karena kalah oleh bayangan sinar hitam pedang di tangan si gadis, laki-laki ini benar-benar kaget karena begitu bergebrak, begitu pula ia terpental. Gadis ini ternyata bukan hanya memiliki kecepatan gerak melainkan juga kekuatan sinkang, tenaga yang membuat lengannya pegal dan ngilu; kalau tak kuat memegang senjata, tentu papan besinya itu mencelat!
Laki-laki ini segera pucat karena begitu bergebrak ia tahu kelihaian lawan. Pantas mampu menandingi Sin-hujin yang tinggi kepandaiannya itu. Ketika ia terdesak dan papan besinya terdorong mundur, laki-laki ini berkeringat dan mengeluh gemetar. Belum juga mampu melompat bangun, Chu-goanswe memandang Giam Liong dan melihat pemuda itu mengangguk.
"Silakan," Giam Liong memberi tanda. "Gadis itu sendiri menantang, Goanswe. Majulah dan bawa orang-orangmu."
"Tapi kami tak mau keroyokan!"
"Ah, ini permintaannya sendiri, Goanswe. Gadis itu sombong dan patut diberi pelajaran. Majulah atau suruh orang-orangmu maju. Atau nanti terlambat!"
"Benar," Yu Yin tiba-tiba melengking. "Maju dan kerahkan semua orangmu, Goanswe. Atau nanti pembantumu ini kubunuh dan kalian terlambat!"
"Keparat!" seseorang tiba-tiba melompat dan menerjang, mencabut golok tebarnya yang berkeredep menyilaukan mata. "Kau pongah dan tinggi hati, gadis siluman. Kalau kau menghendaki keroyokan, tentu kami mengeroyok.... trang!"
Namun golok yang terpental dan disusul pekik kaget laki-laki itu segera membuat Chu-goanswe dan lain-lain terkejut. Si Papan Besi sudah melompat bangun, namun pedang hitam kembali bergerak dan menyerang.