Chapter 112
Laki-laki kedua terpelanting, lalu melompat bangun dengan terhuyung-huyung. Meski tampak kaget dan pucat, ia kembali menerjang dengan nekat. Saat Yu Yin melayani serangannya, pedang hitam bergulung naik turun membungkus kedua orang itu. Terbukti, gadis ini masih terlalu tangguh bagi mereka.
"Ayo, siapa lagi yang lain? Maju dan tidak usah sungkan!" tantang Yu Yin. Beberapa orang mulai berlompatan maju.
Chu-goanswe merah padam, sementara para pembantunya merasa marah dan gusar. Mereka merasa terhina karena terus diejek, sehingga tidak mampu mengendalikan diri. Sin-kongcu membiarkan hal itu terjadi, dan karena gadis itu menantang secara terang-terangan, delapan orang maju mengeroyoknya sekaligus.
"Bagus," Yu Yin terkekeh. "Maju semua kalian, tikus-tikus busuk! Dan kau juga, Chu-goanswe. Ayo!"
"Hm!" Chu-goanswe bergetar. "Jangan terlalu sombong, bocah pongah. Aku pasti maju jika anak buahku tidak sanggup meringkusmu!"
"Ah, kau menunggu mereka roboh? Baiklah, lihat ini, aku akan merobohkan mereka... Crat!"
Sepotong pundak terbabat sobek, diiringi pekik kesakitan dari pemiliknya. Pedang hitam itu bergerak melingkar bagaikan gulungan pelangi. Yu Yin tertawa nyaring, berkelebatan bagai walet menyambar-nyambar hingga membuat lawan-lawannya kehilangan jejak. Yu Yin bergerak luar biasa cepat sampai tidak dapat diikuti oleh mata. Ketika pedang hitam itu bergerak bagai kilat menyengat dan tangan kirinya menampar, delapan orang itu roboh tunggang-langgang dengan kaki atau tangan yang terluka.
"Aduh!" Delapan orang itu berteriak susul-menyusul. Mereka terpelanting hampir bersamaan. Si Papan Besi, Wan Mo, menjerit karena pangkal lengannya tersayat. Jika ia tidak segera melemparkan tubuhnya, lengannya pasti sudah buntung. Laki-laki pendek ini tampak sangat pucat dan ketakutan. Saat mereka terhuyung bangun, Yu Yin sudah berdiri tegak dengan tawa mengejek.
"Nah, apa kataku? Semua sebaiknya maju, dan Chu-goanswe itu boleh sekalian dengan gendewanya!"
Jenderal Chu merah padam. Darahnya mendidih. Gadis, puteri Coa-ongya itu, telah mempermalukannya habis-habisan. Delapan pembantunya diselesaikan dengan mudah, dan kini ia ditantang sambil tersenyum-senyum. Jenderal itu membentak, gendewanya bergerak, dan sebatang anak panah melesat menyambar ke arah sang gadis.
"Sing!"
Desing anak panah itu membuat Yu Yin terkejut. Matanya mulai berkilat, memancarkan aura membunuh. Jenderal ini adalah sumber malapetaka; dialah biang keladi yang menyebabkan gedung ayahnya terbakar dan Giam Liong ada di sana! Namun, dengan mengelak dan memiringkan kepala, panah itu luput dan menancap di batang pohon di belakangnya.
"Hm, curang dan licik," ejek gadis itu. "Pantas anak buahmu juga curang dan licik, Goanswe. Ternyata pemimpinnya pun begitu!"
"Kau membuat darahku mendidih!" Jenderal itu membentak dan berkelebat menyerang dengan gendewanya. Deru angin serangannya sungguh dahsyat. "Mari perlihatkan kepandaianmu kepadaku, bocah! Coba robohkan aku jika bisa... Wher-wherr!"
Yu Yin mengelak. Sang jenderal menyerang dengan penuh amarah. Setelah gagal melepaskan panah yang mematikan, ia kehilangan kendali. Saat Papan Besi dan tujuh temannya merintih bangun, Yu Yin melayani serangan jenderal itu dengan gembira dan mata bersinar-sinar.
Chu-goanswe menghantamkan batang gendewanya dengan sekuat tenaga. Deru angin pukulannya membuat baju lawannya berkibar dan dedaunan rontok. Setiap kali ia menghantam pohon, pohon itu langsung tumbang. Yu Yin berloncatan, mengelak, dan menangkis serangan gendewa yang bertenaga besar tersebut. Ia sempat tergetar, namun tidak merasa takut. Ketika ia menangkis lagi, sang jenderal justru yang mundur karena tergetar.
"Bagus, kau hebat, bocah she Coa. Ayahmu pastilah menyiapkan dirimu sebagai ahli silat yang baik!"
"Hi-hik, tentu saja. Guruku juga orang pandai, Goanswe. Dan aku pikir kau dapat kurobohkan sebelum dua puluh jurus!"
"Apa? Kau begitu congkak? Kurang ajar, coba terima ini!"
"Bummm!"
Sebatang pohon tumbang akibat hantaman jenderal itu saat Yu Yin melesat ke kiri. Gadis itu menghilang, membuat gendewa itu menghantam pohon di belakangnya. Orang-orang terpekik mundur tertimpa dahan pohon yang roboh. Yu Yin melesat lagi ke kanan. Saat sang jenderal mengejar, Yu Yin mulai membalas dengan tusukan pedang sambil menghitung jurus-jurusnya.
"Bagus, lihat dan buktikan ini. Jurus kesatu, Goanswe, awas!"
Pedang yang bergerak menahan pukulan gendewa tiba-tiba melejit, menggelincir, dan melakukan serangan miring. Chu-goanswe merasakan hawa dingin yang tajam dari gerakan pedang itu. Meski ditangkis, gendewanya tetap tergetar. Gadis itu tertawa dan terus melakukan jurus-jurus berikutnya. Tiba-tiba, Yu Yin lenyap bersama gulungan sinar.
"Aku atau kau yang mampus!" teriak sang gadis sambil menerjang dan menghantam lawannya. Kedua tangannya mengeluarkan uap hitam. Giam Liong mengerutkan kening melihat itu; ia mencium bau amis. Dengan cepat ia mengerahkan sinkang untuk menahan, sehingga kepalanya tidak pening seperti yang dialami Chu-goanswe. Saat pukulan itu menyambar dan Giam Liong menangkis, gadis itu terkejut dan terlempar bergulingan.
"Dess!" Yu Yin berteriak tertahan.
Giam Liong berkelebat dan melihat pembantu Chu-goanswe mengejar dengan senjata di tangan. Mereka girang melihat gadis itu terlempar ke arah mereka. Namun, saat Giam Liong berseru keras dan mengibaskan lengan ke kiri dan ke kanan, orang-orang itu terlempar, dan ia segera mencengkeram Yu Yin.
"Yu Yin, kau tidak perlu lagi menuruti amarahmu di sini. Pergilah, kau telah memenangkan pertandingan dan jangan ganggu Chu-goanswe serta teman-temannya lagi!"
Gadis itu mengeluh, menangis, dan memaki-maki Giam Liong. Ia merasa malu karena dua kali ditundukkan. Namun, karena Giam Liong telah menyelamatkannya, ia terpaksa berterima kasih. Ia berjungkir balik dan keluar dari hutan.
"Giam Liong, kau pemuda keparat! Awas, aku tidak mau tahu kalau kita bertemu kembali!"
"Heii!" orang-orang Chu-goanswe hendak mengejar. "Jangan lari, siluman betina! Aku ingin mencincangmu!"
Giam Liong membentak mereka agar berhenti. Beberapa orang yang nekat tetap maju, namun Yu Yin melepaskan Hek-tok-kang sehingga mereka menjerit dan jatuh pingsan dengan kulit menghitam. Giam Liong segera berkelebat membersihkan racun tersebut hingga mereka sadar kembali dengan muka pucat.
"Jangan mengejar atau mengganggu gadis itu lagi. Atau aku tidak mau menolong kalian jika ia melepaskan Hek-tok-kang lagi!"
Mereka menjadi gentar dan menuruti nasihat Giam Liong. Saat Chu-goanswe menyatakan kekecewaannya karena pemuda itu membiarkan puteri Coa-ongya pergi, Giam Liong menjawab dengan dingin.
"Aku dan dia pernah bersahabat, dan aku masih memandang bekas persahabatan itu. Kalau kalian tidak berniat mencelakainya, tentu aku setuju menawannya. Tapi sekarang aku melepasnya, dan mudah bagiku jika kelak ingin menangkapnya lagi."
"Atau mungkin kau jatuh cinta kepadanya!" sebuah suara melengking nyaring mengejutkan mereka. "Lepaskan aku atau bunuh saja ibumu, Liong-ji. Kau anak kurang ajar yang menyiksa ibu sendiri sampai seperti ini!"
"Ah," Giam Liong tersentak. "Aku menotokmu karena tidak ingin kau mengacau, Ibu. Maafkan aku, sekarang kau bebas."
Setelah totokannya dibuka, sang ibu melompat dan melayangkan tiga tamparan ke wajah puteranya.
"Kau membuat malu Ibu, keparat! Plak-plak-plak!"
Giam Liong terhuyung dan membiarkan saja tamparan itu. Ibunya tiba-tiba tertegun. Melihat wajah Giam Liong yang sedih mengingatkannya pada mendiang suaminya. Seperti itulah dulu suaminya menatapnya saat sedang bersedih.