Chapter 113
Begitu nyonya itu tertegun dan terbelalak melihat bekas cap jari di pipi putranya, seketika ia terisak dan menubruk putranya, mencengkeram serta mengguncang-guncang kepala pemuda itu.
"Ah, kenapa kau tidak mengelak, Liong-ji? Kenapa membiarkan dirimu kutampar?"
"Aku tidak ingin mengelak, Ibu. Aku tahu akan kesalahanku dan kemarahanmu. Aku memang salah. Kau boleh menampar lagi kalau suka."
"Ah, tidak, tidak... Kau anakku, Liong-ji. Kau darah daging ayahmu. Aku tidak ingin menamparmu lagi karena kau pun sudah cukup lama menderita. Hanya saja, kenapa kau melepaskan gadis itu? Dia putri Coa-ongya!"
"Hm, aku teringat persahabatanku dengannya, Ibu. Dan aku masih ingat bahwa Yu Yin sebetulnya juga membenci ayahnya. Aku sekarang tahu kenapa dia meninggalkan ayahnya!"
"Kenapa?"
"Karena ia tahu bahwa ayahnya memang jahat!"
"Tapi ia datang membela ayahnya pula. Gadis itu hendak membunuh Chu-goanswe!"
"Hm, itu wajar, Ibu. Bagaimanapun seorang anak tidak dapat melupakan ikatan batinnya dengan ayah atau ibunya. Kau tahu ini. Sudahlah, kita tidak usah bicara itu lagi karena membuat hatiku perih. Sekarang bagaimana dengan Chu-goanswe? Aku minta maaf untuk kejadian ini!"
"Hm, tidak apa," Chu-goanswe mengangguk dan menarik napas dalam-dalam. "Aku berterima kasih bahwa kau telah menyelamatkan aku, Siauw-hiap. Kalau tidak ada kau, sungguh dua kali nyawaku bakal melayang. Hanya, aku tidak ingin kalau kau melepaskan gadis itu lagi kelak jika ia datang mengacau. Apakah Siauw-hiap dapat menjanjikannya?"
"Aku tidak berharap gadis itu datang lagi. Tapi kalau ia datang dan mengacau lagi, apa boleh buat, aku akan menawannya. Namun, Goanswe tidak boleh membunuhnya!"
"Apakah kau jatuh hati kepadanya?" tanya sang ibu jengkel. "Dibunuh atau tidak sama saja, Giam Liong. Coa-ongya atau putrinya sama-sama musuh kita. Dan ayahmu amat membenci Coa-ongya itu!"
"Hm, musuh utama kita adalah si Kedok Hitam, Ibu. Coa-ongya bagiku nomor dua..."
"Tapi dia yang memerintahkan penyerbuan ke Lembah Iblis. Orang itu juga sama-sama busuk!"
"Tapi bukan dia yang membunuh Ayah," Giam Liong menangkis. "Aku lebih menitikberatkan kepada pembunuh ayahku, Ibu. Sebab, meskipun Coa-ongya mengirim ribuan pasukan, kalau tidak ada si Kedok Hitam itu, tak mungkin Ayah terbunuh. Ayah amat hebat dan tinggi kepandaiannya."
"Benar," Chu-goanswe menimbrung. "Ayahmu memang hebat dan mengagumkan, Siauw-hiap. Ribuan orang pun bukan apa-apa baginya, asal tidak ada si Kedok Hitam itu. Orang ini memang licik, tapi kepandaiannya juga hebat. Dia musuh utama yang memang harus didahulukan."
"Tapi Coa-ongya pengatur rencana yang licik dan cerdik," si Papan Besi tiba-tiba memperingatkan, membela Sin-hujin. "Dia pun tidak boleh diabaikan, Goanswe. Aku lebih condong bahwa dua-duanya ini harus sama-sama diutamakan."
"Hm, benar," Chu-goanswe mengangguk. "Coa-ongya maupun Kedok Hitam sama-sama berbahayanya, Wan Mo. Dan kita memang harus sama-sama memperhatikannya. Sudahlah, tempat kita sudah diketahui gadis itu dan sebaiknya kita menyingkir. Kita kumpulkan teman-teman kita yang lain dan kita gempur lagi kota raja!"
"Hm, nanti dulu," Sin-hujin tiba-tiba terkekeh. "Kau belum bicara bagaimana nasib puteraku, Goanswe. Bukankah kalian amat mengandalkannya dan tidak mungkin bekerja sendirian!"
"Maksud Hujin?"
"Aku tidak mau nasib puteraku disia-siakan. Aku ingin kita bicara di muka bagaimana kelak kalau perjuangan kalian berhasil!"
Giam Liong tertegun, teringat sepak terjang ayahnya yang sendirian. Namun, ketika ia mengerutkan kening dan hendak membantah, ibunya berkata lagi, tidak mau didahului, "Ibumu sudah sepakat dengan Chu-goanswe bahwa kita bantu-membantu, Liong-ji. Ibu sudah bertanya tentang hadiah apa yang hendak diberikan Chu-goanswe bila perjuangannya ini berhasil. Nah, sekarang Ibu bertanya dan sudah dijawab. Kau calon Kok-su dan ini pantas untukmu. Negara yang kuat harus memiliki seorang Kok-su yang hebat dan tinggi kepandaiannya. Ibu sudah setuju. Bagaimana dengan yang lain-lain?"
"Setuju!" semua orang tiba-tiba serempak berseru. "Sin-kongcu memang pantas menduduki jabatan itu, Hujin. Kok-su adalah kedudukan yang sesuai untuk putramu. Negara akan terlindung dengan adanya seorang gagah macam Sin-kongcu ini!"
"Nah," Wi Hong berseri-seri, tidak menghiraukan kernyit putranya yang semakin dalam. "Ini bukan jual beli, Liong-ji, melainkan balas jasa dari calon kaisar yang pantas untukmu. Aku akan menjadi ibu Kok-su dan bahagia melihat puteraku menjadi orang!"
"Hm!" Giam Liong tersenyum pahit, tidak tertarik akan janji kedudukan itu. "Aku tetap tidak berpamrih menuntut jasa, Ibu. Kalau perjuangan berhasil, maka itu adalah keberuntungan Chu-goanswe. Aku sendiri hanya menghendaki kematian Kedok Hitam."
"Tapi dia bersembunyi di istana. Dan tanpa pasukan Chu-goanswe, tidak mungkin kau menggempur istana sendirian!"
"Sudahlah," Chu-goanswe menyela dan kagum memandang keturunan Si Golok Maut ini. "Sin-siauw-hiap sungguh perwira dan bersih sekali, Hujin. Aku menjadi kagum dan semakin menghormati saja. Perjuangan masih jauh, dan aku sendiri belum tentu menjadi kaisar kalau cita-cita ini gagal. Daripada kau bertengkar dengan putramu masalah ini, sebaiknya kita lakukan hal-hal yang nyata saja. Aku ingin menyerahkan pimpinanku kepadanya. Aku ingin mengangkatnya sebagai Siauw-goanswe (jenderal muda). Apakah Hujin setuju?"
"Ah, Siauw-goanswe! Bagus sekali, aku setuju, Goanswe. Tapi masa seorang jenderal hanya memimpin orang-orang yang berjumlah sedikit begini!"
"Aku masih menyimpan empat ribu pasukan rahasia. Mereka itu bersembunyi tidak jauh dari sini dan dapat kutemui sewaktu-waktu. Karena ini yang nyata dan konkret, biarlah putramu memimpin pasukanku itu dan menjadi Jenderal Muda Sin!"
"Hi-hik, bagus. Aku setuju!" Wi Hong bertepuk tangan, girang bahwa putranya tiba-tiba diangkat sebagai jenderal muda, biarpun jenderal yang oleh kaisar sekarang dianggap pemberontak.
"Aku tidak menolak, Goanswe. Dan kapan puteraku secara resmi memimpin pasukanmu itu?"
"Nanti dulu," Giam Liong tiba-tiba berseru dan kembali mencegah. "Aku tidak bisa memimpin pasukan, Ibu. Aku tidak berbakat seperti itu. Aku tidak digariskan menjadi militer!"
"Ah, aku dapat membimbingmu, Siauw-hiap. Dan ada Wan Mo pula di sini. Dia juga akan banyak membantumu dalam memimpin pasukan!"
"Benar," Papan Besi, si lelaki pendek kekar itu buru-buru maju. "Aku dan Chu-goanswe dapat menuntunmu, Kongcu. Dan ilmu-ilmu perang akan dapat kau peroleh banyak dari kami berdua!"
"Nah, apalagi?" sang ibu berseru. "Kau akan lebih hebat dari ayahmu, Liong-ji. Selain ilmu silat, kau juga tahu ilmu perang. Kau tidak salah menjadi jenderal muda!"
"Tapi aku kikuk sekali, canggung..."
"Hm, kecanggungan itu akan lenyap begitu kau belajar memimpin, Siauw-hiap. Kau punya bakat untuk itu. Lihat saja bahwa secara tidak sadar pun kau telah menguasai kami!"
"Ah, ini lain. Aku semata mengandalkan ilmu silat..."
"Sama saja!" Chu-goanswe tertawa. "Yang penting kau telah menunjukkan kepada kami bahwa kau selalu di depan, Siauw-hiap. Dan ini cukup untuk ancang-ancang memimpin pasukan!"
"Dan kau tentu tidak menolak ibumu yang ingin melihat putranya menjadi seorang yang ternama dan terkenal," Wi Hong menunjang lagi, mata tajam menyorotkan permohonan. "Atau kesempatan emas ini kau sia-siakan, Liong-ji, dan kau membuat ibumu kecewa seumur hidup!"
Giam Liong menarik napas dalam-dalam. Kalau ibunya sudah bicara seperti itu dan dia setengah dipaksa, ibunya ini begitu berambisi melihat dia menerima kedudukan, maka Giam Liong mengangguk dan apa boleh buat menerima semuanya itu. Dia pribadi sebenarnya tidak ingin diimingi kedudukan karena bukan maksudnya untuk tinggal sebagai seorang jenderal atau Kok-su, jabatan yang benar-benar tinggi dan banyak diidamkan orang. Maka, dengan tertawa getir dan tidak membantah lagi, akhirnya Giam Liong berkata kepada Chu-goanswe, "Baiklah, aku ingin menyenangkan ibuku, Goanswe. Aku tidak ingin membuatnya kecewa setelah belasan tahun hidup menderita. Bawa aku ke pasukanmu dan mari kita pergi. Gadis itu bisa saja kembali dan membuat ulah. Mari, kita berangkat!"
Chu-goanswe girang. Dia tertawa dan memberi tanda kepada pembantu-pembantunya, membawa yang baru saja sembuh, dan untuk sejenak melupakan kekecewaannya tentang Yu Yin. Putri Coa-ongya itu telah pergi dan tawanan yang sebenarnya cukup berharga terpaksa mereka lepaskan. Biarlah, itu urusan anak muda ini. Dan ketika dia bergerak dan meninggalkan hutan, Wan Mo dan lain-lain mengikuti, maka Giam Liong siap menjadi pimpinan sebuah pasukan besar yang jumlahnya ribuan orang. Agak aneh dan janggal mulanya, tiba-tiba berubah nasibnya menjadi seorang jenderal muda, orang kepercayaan yang amat diandalkan oleh keturunan dinasti Chu itu untuk merebut kekuasaan.
Dan ketika semua bergerak dan terjadi saling lirik aneh di antara Chu-goanswe ini dengan pembantunya, si Papan Besi, maka Giam Liong bersama ibunya meninggalkan hutan itu pula untuk menemui pasukan rahasia ini di tempat yang rahasia pula. Siap melancarkan perang dan serbuan ke kotaraja!
Kita tinggalkan dulu Giam Liong dan orang-orangnya Chu-goanswe itu. Mari kita ikuti dua bayangan yang malam itu bergerak di wuwungan rumah-rumah di kota raja. Sebab sehari setelah kota raja dibuat guncang, maka bayangan ini, seorang laki-laki dan wanita setengah baya, berkelebatan dan meluncur menuju istana. Siapakah mereka? Bukan lain adalah Pek-jit-kiam Ju Beng Tan beserta istrinya!
Hari itu, terlambat sehari dari peristiwa menggegerkan itu, Beng Tan tiba di luar kota raja mendengarkan berita heboh ini. Dia mendengar bahwa istana diobrak-abrik. Gedung Coa-ongya dibakar dan ratusan orang luka-luka oleh sepak terjang seorang pemuda luar biasa, yang katanya adalah pembantu pemberontak dari pengikut-pengikut Chu Wen.