Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 114

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 114

Ketika jago pedang itu mengerutkan alis karena bertanya-tanya, pemilik kedai yang pagi itu mereka masuki menyatakan dengan muka gentar bahwa pemuda tersebut katanya adalah jelmaan iblis.

"Bayangkan, dua pembantu Coa-ongya dikalahkannya dengan mudah. Katanya, ratusan orang lagi dilempar oleh pemuda ini hanya dengan kibasan ujung bajunya hingga luka-luka dan patah tulang. Apakah pemuda macam itu tak mengerikan? Tapi ada yang lebih mengerikan lagi, Taihiap. Pemuda itu memiliki rambut kemerah-merahan seperti dicat darah. Dia tidak mirip manusia, melainkan siluman, iblis haus darah!"

"Hm, itu tentu Giam Liong. Tapi bagaimana dia bisa bersama pengikut-pengikut Chu Wen? Apa yang terjadi?" Beng Tan berbisik kepada istrinya.

"Entahlah, kita tanya saja lopek ini, suamiku. Malam nanti kita datang menyelidiki!"

"Hm, aku enggan ke istana. Tapi apa boleh buat, rupanya urusan sudah berubah."

"Maksudmu?"

"Giam Liong sudah menjadi antek pemberontak, dan aku tak suka ini!"

Swi Cu, sang istri, terlihat bersinar-sinar. Berbicara menyebut Giam Liong tiba-tiba saja membangkitkan kebenciannya. Anak yang dulu disangka keturunan mereka itu ternyata keturunan Si Golok Maut, dan ibunya telah menculik atau menukarkan anak mereka. Ah, bukan main panas dan marahnya hati ini. Kalau saja Giam Liong tak selihai sekarang dan suaminya sampai kalah, barangkali ia sudah mencekik dan membunuh pemuda itu. Sudah lama ia memang curiga bagaimana wajah anak itu lama-lama mirip Sin Hauw dan bukannya mirip suaminya sendiri. Tak tahunya memang bukan anaknya.

Ketika ia mendengus dan bertanya mengapa tidak sekarang juga memasuki kota raja, suaminya menjawab, "Kita sudah dikenal orang-orang istana, padahal bukan maksudku untuk berhadapan dengan mereka secara langsung. Sebaiknya malam nanti saja kita ke sana, Niocu. Kita periksa apakah cerita ini betul."

"Kukira pasti betul, tak mungkin omong kosong! Kau ini selalu ingin membuktikan sendiri, suamiku. Orang sudah bercerita banyak, masih juga kau kurang percaya?"

"Hm, berita orang suka ditambah-tambahkan. Aku bukannya tidak percaya, Niocu, melainkan ingin melihat sendiri untuk meyakinkan hatiku."

"Maksudmu?"

"Aku heran bagaimana istana bisa kebobolan. Dan siapa dua orang yang dimaksud sebagai pembantu Coa-ongya itu?"

"Mereka kakek-kakek India yang dulu pernah ke sana," pemilik kedai tiba-tiba berseru. Beng Tan berbicara memang agak keras. "Katanya mereka itu bekas pembantu lama Coa-ongya, Taihiap. Kabarnya istana sekarang mencari dan mengumpulkan orang-orang pandai untuk menjaga keselamatan Ongya!"

"Kakek-kakek India?"

"Ya, Jiwi (Anda berdua) tentu memenuhi undangan istana, bukan? Ah, orang-orang seperti Jiwi tentu amat diharapkan sekali tenaganya. Tadi belasan orang juga ke sana dan melamar pekerjaan dengan upah besar. Konon katanya diberi gaji seribu tail emas untuk orang yang betul-betul pilihan. Dan Jiwi tampaknya seperti itu!"

"Hm, kami tidak mengisi lowongan," Swi Cu mendongkol. "Kami perantau yang tidak menggubris urusan istana, Lopek. Kami datang untuk urusan lain!"

"Ah, Jiwi tidak mempergunakan kesempatan emas ini? Seribu tail bukan main-main, Hujin. Ditambah dengan gedung indah dan makan enak!"

"Aku tidak butuh itu!" Swi Cu meremas hancur pinggiran meja. "Aku ingin arak dan bawakan lagi sepiring roti kering untuk kami. Nih, kami sendiri sudah cukup punya uang!" Wanita ini melemparkan sekeping uang emas yang menancap dan amblas setengahnya lebih ke meja makan. Orang-orang di situ membelalakkan mata melihat demonstrasi ini.

Namun, karena Swi Cu rupanya cukup galak sementara Beng Tan yang ada di situ duduk penuh wibawa, Beng Tan diam dan menyambar istrinya agar tidak marah-marah. Pendekar itu berbisik agar istrinya tidak menarik perhatian.

"Tak perlu ribut-ribut, mereka itu bukanlah Giam Liong atau orang-orang yang tidak kausenangi. Duduklah, itu arak dan roti kering pesananmu."

Swi Cu sadar. Memang dia naik darah begitu pemilik kedai agak cerewet bicara macam-macam. Semuanya itu pasti kembali pada masalah Giam Liong yang membuat geger di istana, karena pemuda itu memang menjadi topik pembicaraan selain Chu-goanswe dan para pengikutnya.

Tepat ketika arak dan roti kering diantarkan ke mejanya, pemilik kedai tampak ketakutan karena mendadak terdengar derap tiga ekor kuda besar yang langsung berhenti dan meringkik di depan warung.

"Ha-ha, ada arak dan wanita cantik! Ah, hausku datang, Huai-twako. Berhenti sejenak dan kita mengaso di sini!" seorang laki-laki tinggi besar mendadak turun dan meloncat dari punggung kudanya. Ia masuk dan tahu-tahu sudah menyambar arak dan roti kering di atas nampan.

Pemilik kedai menyediakan itu untuk suami istri tersebut dan tentu saja ia terkejut melihat perbuatan si tinggi besar ini. Ketika ia mengejar dan berteriak hendak merampas miliknya kembali, laki-laki itu memutar tubuhnya dan sebuah tendangan membuat pemilik kedai tersebut terpental.

"Ha-ha, kau mengecewakan aku, orang tua. Kukira tamu wanitamu itu masih muda, tak tahunya sudah setengah baya. Ah, kau menyebalkan, biar aku melanjutkan perjalananku lagi!" Dess! Pemilik warung menjerit, roboh menabrak mejanya, dan hiruk-pikuklah isi meja itu tertimpa tubuhnya.

Laki-laki itu menenggak araknya sementara dua temannya yang lain berhenti di muka kedai sambil tertawa bergelak. Botol arak dilempar dan hancur mengenai meja di dekat Swi Cu.

"Sial, cantik tapi sudah tua. Ha-ha, mari kita lanjutkan perjalanan lagi. Mataku terkecoh oleh tubuh dan rambut si nyonya itu!"

Swi Cu terbakar. Mula-mula dia terkejut melihat tiga kuda datang dengan terburu-buru, lalu berhenti dan mengganggunya karena disangkanya wanita muda. Karena Swi Cu memang merawat tubuhnya hingga tampak menggairahkan meskipun sudah empat puluh tahun, orang memang mudah terkecoh. Si tinggi besar yang kecewa karena melihat wanita itu sudah senja tiba-tiba menyambar arak serta melempar hancur botolnya.

Perbuatannya berlangsung cepat. Begitu ia tertawa bergelak dan melayang ke atas kudanya, ia tiba-tiba menabrak sebuah lengan yang menahan dadanya.

"Tikus busuk, jangan lari dulu!"

Laki-laki ini terkejut. Entah kapan tahu-tahu wanita cantik itu telah berada di depannya, menghadang antara pintu keluar dengan kuda tunggangannya. Karena ia tak menduga dan sedang melayang ke atas, begitu lengan itu berkelebat mendorong dadanya, laki-laki ini berteriak kaget dan menangkis. Namun, sebelum ia mampu menolak, lengan halus itu sudah menampar dadanya dan membantingnya hingga jatuh.

Swi Cu sudah berdiri di sana. Nyonya ini bergerak dari tempat duduknya dan mempergunakan ilmu meringankan tubuh hingga tahu-tahu melewati si tinggi besar itu, menghadang, dan membentak. Karena laki-laki itu menangkis, dengan gerakan *Le-hi-tateng* (Ikan Le Melejit), ia menyelinapkan lengannya. Tangan yang semula hanya ingin mendorong berubah menjadi sebuah tamparan keras yang membuat lawan terbanting kesakitan.

Ketika laki-laki itu berteriak dan bergulingan bangun, nyonya ini sudah tersenyum dingin dengan tangan bertolak pinggang. Ia tegak tanpa menyerang, namun sikapnya membuat laki-laki itu pucat, gentar, dan kaget.

"Kau siapa?"

"Hm, bukan aku yang ditanya, melainkan kau. Siapa kau dan kenapa demikian kurang ajar menyambar makanan orang lain? Gerombolan rampok dari mana ini yang berani coba-coba kurang ajar di depan nyonya besarmu!"

Laki-laki itu marah. Ia terkejut, namun begitu dua temannya yang lain bergerak turun dari kuda, ia mendapat keberaniannya lagi. Dorongan atau tamparan yang tadi tak dilihatnya itu dianggap sebagai kelengahannya sendiri. Ia tak menduga kedatangan wanita ini karena tadi sedang duduk di dalam bersama seorang laki-laki gagah yang mungkin suaminya. Maka, sambil membentak dan mencabut ruyung, laki-laki ini memutar-mutar senjatanya dan memaki.

"Heh, kau sombong dan congkak, wanita siluman, juga tidak tahu malu. Baik-baik aku pergi, tiba-tiba kau mengejar aku. Kau kira aku akan menarikmu sebagai istri? Bah, kau sudah tua, sudah empat puluh tahun. Aku tak suka wanita tua biarpun cantik. Pergi atau ruyungku akan menghancurkan kepalamu!"

"Hm!" kilat berbahaya memancar dari wanita Hek-yan-pang ini. "Kau yang sombong dan tak tahu malu, tikus busuk. Sangkamu aku datang untuk merayu dirimu? Cih, pongah dan tak melihat keadaan diri sendiri. Aku mencegahmu pergi karena ingin menghajarmu. Nah, terima ini dan awas pelajaran pertama!"

Swi Cu berkelebat. Mukanya merah karena disangka mengejar-ngejar lelaki, padahal maksudnya ingin menghajar orang ini. Begitu ia bergerak dengan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, lawan terkejut karena hanya tampak bayangan menyambar dan tahu-tahu dua pipinya kena gaplokan enam kali pulang-balik.

"Plak! Plak! Plak!"

Laki-laki itu terpelanting. Ia menjerit karena sepasang pipi yang ditampar pulang-balik itu tahu-tahu matang biru, bibirnya bahkan pecah. Ketika si nyonya tertawa mengejek dan ia melompat bangun, Swi Cu kembali berdiri tegak menanti. Laki-laki ini memekik dan menerjang dengan ruyungnya. Senjata itu menderu naik turun, namun Swi Cu mengelak lincah; kian cepat diserang, kian cepat pula ia mengelak. Ketika lawan terbelalak, Swi Cu kembali menghadiahi dua tamparan yang membuat gigi laki-laki itu patah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment