Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 115

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 115

"Plak! Plak!" Laki-laki itu mengaduh. Dia menyerang, namun gagal. Dia kembali terbanting dan dua kali merasakan kepalanya seakan pecah. Maklumlah, tamparan jari-jari halus itu seakan terbuat dari besi baja.

Ketika ia merintih dan mencoba bangkit namun roboh kembali, dua temannya terkejut. Orang kedua segera mencabut ruyung, sementara orang ketiga mencabut golok lebar.

"Wu Hauw, Wu Hwi, wanita ini bukan wanita sembarangan. Awas, kita keroyok dia!" seru Swi Cu dengan nada mengejek.

Ia baru saja memberi pelajaran kepada lawan di depannya hingga gigi lawan rontok dan bibirnya pecah berdarah. Saat dua orang lainnya menerjang untuk menolong, sang nyonya yang telah mengukur tingkat kepandaian mereka segera bergerak. Ia berkelebat menghindari serangan ruyung dan golok. Sengaja ia bertangan kosong karena ingin mempermainkan para lelaki kasar yang tampak seperti kawanan perampok itu.

Begitu nyonya itu bergerak, lawan terkejut karena tubuhnya tiba-tiba lenyap, hanya membentuk bayangan yang naik-turun mengelilingi mereka. Golok maupun ruyung luput menyambar, hanya mengenai angin. Tujuh kali serangan golok dan tujuh kali serangan ruyung semuanya meleset.

Saat dua laki-laki itu terkejut karena lawan tak dapat disentuh—seakan-akan hanya asap atau bayangan—Swi Cu melancarkan tendangan dan tamparan hingga senjata mereka terpental.

"Pergi kalian dan belajarlah bersikap sopan kepada wanita!"

Kedua orang itu terlempar. Mereka menjerit karena wajah dan leher mereka terluka. Saat mereka meloncat bangun dengan gemetar, teman mereka yang sempat roboh sudah lebih dulu melarikan diri menggunakan kudanya.

"Hei!" kedua orang itu gagap. "Tunggu aku, Wu Hwi! Jangan tinggalkan kami!"

"Benar," si pembawa golok juga bergegas naik ke atas kudanya meski sempat terjatuh. "Kau membuat ulah, Wu Hwi. Keparat, jangan tinggalkan kami!"

Kedua orang itu menyusul dan melompat ke atas kuda, melupakan senjata mereka yang tergeletak di tanah. Swi Cu berdiri mengejek dan tidak mengejar. Namun, begitu ketiga orang itu bergegas pergi, kaki nyonya itu bergerak. Ruyung dan golok yang tergeletak di tanah tiba-tiba terbang menyambar ke arah mereka.

"Laki-laki kasar, senjata kalian tertinggal. Terimalah dan jangan biarkan ini!"

Ketiga laki-laki itu menjerit. Ruyung dan golok menancap di pundak mereka. Mereka berteriak kesakitan dan nyaris terjungkal, namun segera menelungkup dan memacu kuda sekuat tenaga hingga lenyap dari pandangan. Orang-orang di sekitar terbelalak kagum memandang Swi Cu, yang sudah kembali duduk di samping suaminya.

"Hujin luar biasa. Ah, aku yang tua ini benar-benar kagum. Istana benar-benar membutuhkan tenaga seperti Hujin. Pasti amat dihargai!" puji pemilik kedai.

"Hm, tutup mulutmu," bentak Swi Cu. Pemilik kedai itu terus saja bicara tentang istana. "Aku tak suka kau bicara seperti itu, Lopek. Aku tidak menjual tenaga dan tidak perlu dibutuhkan istana!"

"Ah, maaf... maaf!" pemilik kedai ketakutan. "Aku orang bodoh, hanya bicara apa adanya. Aku tidak akan bicara lagi jika Hujin tidak suka. Sudahlah, apa lagi yang Hujin butuhkan? Apakah mau tambah arak?"

"Kami akan pergi," Beng Tan tiba-tiba bangkit dan meletakkan sekeping emas. "Terima kasih untuk pelayananmu, Lopek. Kami tidak akan mengganggu lagi."

"Ah, yang tadi sudah cukup!" pemilik kedai terkejut, buru-buru ingin mengembalikan uang itu karena Swi Cu telah menancapkan emasnya di meja. "Yang tadi sudah cukup, Taihiap. Tidak menerima uang pun aku yang tua ini tidak apa-apa. Aku sudah merasa bangga orang sehebat kalian mau mampir di warungku!"

"Hm, itu untuk tambahan modal," Beng Tan tersenyum. Ia kemudian menyambar istrinya dan berkelebat pergi.

"Kami masih cukup dalam perjalanan, Lopek. Simpanlah!"

Pemilik kedai terkejut, Beng Tan tahu-tahu sudah lenyap. "Kalau begitu terima kasih, Taihiap. Semoga selamat di perjalanan!"

Beng Tan tidak menjawab. Ia bergegas membawa istrinya pergi karena sang istri masih meradang akibat tingkah tiga laki-laki kasar tadi. Pendekar itu melesat dan menghilang di luar warung makan. Beng Tan menunjukkan ilmu yang luar biasa, membuat orang-orang di warung terkesiap. Laki-laki itu tiba-tiba lenyap seperti siluman.

Di sepanjang perjalanan menuju kota raja, Swi Cu terus mengomel. Sang suami berusaha menghibur agar ia tidak perlu lagi mengingat peristiwa tadi.

"Laki-laki kasar seperti mereka memang biasanya begitu. Mari kita ke istana, Niocu. Kita lihat dan selidiki apa yang terjadi!"

"Kau mau sekarang juga? Tidak menunggu malam nanti?"

"Hm, kita lihat-lihat sekarang dari jauh saja. Malam nanti kita masuk dan selidiki lebih cermat!"

"Kalau begitu sesukamu. Tapi kalau ada lagi laki-laki kasar, aku akan membunuh mereka!"

"Baiklah, baiklah... tapi tidak akan ada lagi laki-laki kasar. Aku yang akan menghadapi mereka!"

Beng Tan tersenyum membawa istrinya berkelebat melewati tembok gerbang yang tinggi. Mereka memasuki kota raja, membuat para penjaga terbelalak dan mengucek mata, bingung apakah yang mereka lihat adalah burung terbang atau manusia.

"Nah, kita sudah masuk. Mari langsung saja ke istana."

Swi Cu tidak menjawab. Ia membiarkan suaminya membawa dirinya berkelebat melewati pos-pos penjagaan dengan mudah. Para penjaga kembali dibuat bingung, menduga apakah mereka melihat manusia atau hantu.

"Astaga, mataku rusak. Tadi seakan ada dua orang menyambar, tapi tahu-tahu lenyap seperti siluman."

"Benar, aku juga begitu. Apakah tadi siluman atau hantu penasaran?"

Namun, para penjaga tentu saja tidak menemukan apa-apa. Beng Tan telah berkelebat dan berada di tempat lain, memotong jalan. Ia mengenal daerah itu karena dulu pernah menjadi pelindung kaisar. Setelah melewati penjagaan demi penjagaan, Beng Tan berhenti di depan sebuah rumah kecil seperti paviliun.

"Sst, jangan berisik. Aku mencari Bo-ciangkun!"

"Siapa dia? Rumah siapa ini?"

"Ini tempat tinggalnya. Dia orang yang paling kupercaya dan jujur di sini. Awas, aku membuka pintunya!"

Baru saja Beng Tan menerobos masuk, tujuh panah kecil menyambar dari dalam.

"Siapa itu, manusia kurang ajar!"

Beng Tan tertawa. Ia segera mengenal suara parau itu dan mengebutkan tangannya hingga tujuh panah kecil itu rontok. Ketika Beng Tan menguak tirai kulit tiram, seorang laki-laki tampak duduk memandangnya dengan kaget.

"Astaga, Ju-taihiap rupanya. Ah, Pek-jit-kiam Ju Beng Tan!"

Laki-laki itu bangkit dengan semangat, menubruk, dan mencengkeram Beng Tan sambil tertawa bergelak. Ia bahkan mencium pipi Beng Tan. Keduanya tampak sangat gembira setelah sekian lama tidak berjumpa.

"Apa yang kau lakukan di sini, Bo-ciangkun? Kenapa duduk merenung sendirian? Tapi kau masih lihai, telingamu tajam dan panah-panahmu tadi cukup kuat bertenaga!"

"Wah, bertenaga apanya? Buktinya rontok kau sentuh. Aku sudah tua dan tak seperti dulu, lemah!"

"Ah, tidak," Beng Tan tertawa. "Sambaran anak panahmu masih kuat, Ciangkun. Kalau bukan aku, barangkali sudah roboh!"

"Hm, jangan panggil aku Ciangkun," kakek itu mengerutkan kening. "Aku sudah pensiun, Taihiap. Hanya berkat kebaikan kaisar saja aku masih di sini. Eh, siapa itu?" kakek itu mengalihkan perhatian ke arah Swi Cu. "Kau membawa seorang wanita?"

"Maaf," Swi Cu muncul dan menjura. "Aku Swi Cu, Bo-ciangkun. Kiranya kau yang disebut-sebut suamiku."

"Astaga! Ini Ju-hujin? Wah, aku tidak memiliki hidangan istimewa. Sungguh tamuku adalah tamu agung. Maaf, Ju-hujin. Aku tidak tahu kedatanganmu dan suamimu pun tidak menceritakannya!"

Kakek itu membungkuk hormat dan menegur Beng Tan karena tidak memberi tahu sebelumnya.

"Istriku memang di luar tadi. Kami tidak mau diketahui orang lain, terutama pengawal-pengawalmu!"

"Ah, pengawal apa? Aku sudah pensiun, Taihiap. Tak ada pengawal. Kalaupun ada, belum tentu aku mau dijaga. Aku ingin bebas!"

"Tapi kau masih tinggal di sini, di lingkungan istana..."

"Benar, semata berkat kebaikan kaisar, Taihiap. Kalau tidak, tentu aku sudah tinggal di luar."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment