Chapter 116
"Sudahlah, apa maksud kedatanganmu dan bagaimana kau tiba-tiba muncul secara mengejutkan!" Beng Tan menarik napas dalam-dalam.
Ditanya begitu, tentu saja dia teringat keperluannya, yakni tentang Giam Liong yang datang dan mengacau di istana. Ketika dia memandang istrinya dan melihat dahi istrinya berkerut dalam, pendekar ini mulai menjelaskan maksudnya.
"Aku datang untuk urusan pribadi, mungkin penting, mungkin tidak. Tentu kau telah mendengar tentang datangnya pemberontak Chu Wen yang diikuti seorang anak muda..."
"Ah, soal itu! Tentu saja. Tapi mari duduk dulu. Aku lupa mempersilakan kalian. Mari, silakan Hujin dan Taihiap duduk. Aku akan mengambilkan minuman untuk kalian!"
"Tidak, tak usah..." Beng Tan buru-buru menolak dengan gerakan tangan. "Kami baru saja mengisi perut, Ciangkun. Kami tak perlu minum!"
"Hm, Ciangkun... lagi-lagi Ciangkun!" Kakek itu mengomel, lalu tertawa. "Aku sudah bukan panglima lagi, Taihiap. Aku seorang purnawirawan!"
"Tapi kau tetap tegar dan gagah. Kau masih seperti seorang panglima!"
"Ha-ha, panglima ompong. Baiklah, aku akan berangan-angan seperti masih seorang Ciangkun agar Taihiap senang. Hm, apa yang kita bicarakan tadi? Taihiap bertanya apa?"
"Tentang datangnya pemberontak..."
"Oh, ya. Tapi aku tak tahu banyak. Yang tahu banyak tentu saja Coa-ongya!"
"Hm, aku tak suka kepadanya, Ciangkun, begitu pula kau."
"Sial, kenapa aku kau bawa-bawa? Aku memang tak suka kepadanya, Taihiap. Tapi aku orang kecil dan tak bisa apa-apa. Aku mengetahui tentang kekacauan itu namun tak seberapa banyak. Saat itu aku sedang memadamkan gedung Coa-ongya yang terbakar!"
"Hm, siapa saja pengikut Chu Wen itu?"
"Katanya banyak orang lihai, seperti si Pacul Sakti dan Tombak Maut."
"Dan siapa pemimpinnya?"
"Chu Kiang," kakek itu mengerutkan kening, matanya bersinar marah. "Orang bermarga Chu ini mengumpulkan banyak orang pandai, Taihiap. Tapi satu di antaranya adalah pemuda luar biasa itu, di samping seorang wanita cantik. Aku mendengar bahwa dia adalah keturunan mendiang Si Golok Maut!"
"Dia adalah Giam Liong, bocah yang dulu pernah kami asuh. Tapi sekarang membuat kerusuhan dan onar!" Swi Cu tiba-tiba berseru, mendahului suaminya. Ketika Bo-ciangkun terkejut, dia menambahkan dengan berapi-api, "Kalau bocah itu datang lagi, sebaiknya kita bunuh, Ciangkun. Wanita cantik itu adalah ibunya yang jahat dan penghasut!"
"Kalau begitu, Suci (kakak seperguruan perempuan) Hujin sendiri..."
"Aku tak mengakuinya lagi. Ia jahat dan curang!"
"Hm," Beng Tan menepuk dan meredakan istrinya, karena sang istri tiba-tiba meradang dan hendak menangis, teringat anaknya yang ditukar dan hilang. "Kami ingin mengetahui di mana kira-kira Chu Kiang dan pengikutnya itu berada, Ciangkun. Biarkan saja istriku yang sedang emosional ini. Ke mana mereka sekarang? Dan bagaimana dengan Coa-ongya atau si Kedok Hitam?"
"Kedok Hitam tak mampu menghadapi pemuda luar biasa itu, ia menghilang! Dan Coa-ongya, hmm... aku tak tahu ia di mana, Taihiap. Yang jelas ia pun lari dan bersembunyi seperti tikus!"
"Dan ke mana pemberontak-pemberontak itu lari?"
"Aku tak ikut mengejar, tapi mereka keluar lewat hutan sebelah barat."
"Dan tak ada pasukan yang mengejar?"
"Wah, mengejar bagaimana, Taihiap? Dikibas dan dipukul dari jauh saja mereka sudah maut. Siapa berani bunuh diri mengejar pemuda itu? Pimpinan mereka sendiri saja tak ada yang berani mengejar!"
"Hm, kalau begitu bagaimana keadaan istana sekarang? Bagaimana dengan Sri Baginda dan kerabat dekatnya?"
"Hampir tak ada perubahan. Tapi sejak tewasnya Golok Maut itu, tak ada pengacau yang berani datang, kecuali semalam ini. Bocah keturunan Si Golok Maut itu!"
"Dan bagaimana dengan Kedok Hitam? Ia masih di sini?"
"Masih, Taihiap. Tapi gerak-geriknya misterius sekali. Beberapa waktu yang lalu datang dua kakek India menjadi pembantunya. Tapi mereka pun tak dapat berbuat apa-apa kepada pemuda luar biasa itu. Semua orang tak berdaya!"
"Dan sekarang pemuda itu lolos..."
"Ya, ia menyelamatkan pengikut Chu Wen itu. Ia pergi!"
"Dan tak ada pembalasan dari pihak istana? Kaisar tak..."
"Wah, Sri Baginda marah besar, Taihiap. Dan Coa-ongya kabarnya didamprat habis-habisan. Ini persoalan lama yang bangkit kembali, lebih berbahaya daripada dulu!"
"Maksudmu?"
"Ah, Chu Kiang menarik pemuda ini sebagai tenaga andalan, Taihiap. Itu lampu merah bagi istana. Pemberontak bisa menggunakan tenaga pemuda ini untuk memulai perang. Rakyat kini di ambang kekacauan!"
"Benar, dan kau tak ingin menghalangi ini? Tak ingin membela negara?"
"Wah, aku tentu saja siap membantu, Taihiap, dengan jiwa ragaku. Aku siap mengorbankan nyawa dan darah!"
"Bagus, aku juga begitu. Tapi persoalan sekarang bertumpang-tindih. Anak muda itu sebenarnya berurusan dengan Coa-ongya, bukan dengan pemberontakan. Apakah Ciangkun dapat melihat ini?"
"Hm, aku melihat. Tapi aku tak mengerti apa maksud Taihiap selanjutnya. Apakah Taihiap hendak memilah persoalan ini; persoalan pribadi sebagai persoalan pribadi dan persoalan negara sebagai persoalan negara?"
"Benar, anak itu telah terjebak oleh Chu Kiang, Ciangkun. Dan aku tahu bahwa selama ini dia bukan pengikut pemberontak atau pencetus kekacauan. Aku hendak membawanya kembali ke persoalan semula dan harap Ciangkun membantuku untuk menghadapi pengikut Chu Wen itu!"
"Apa yang hendak kau lakukan?" sang istri tiba-tiba bertanya, alisnya kembali berkerut dalam. "Giam Liong telah membantu pemberontak, Suamiku. Dan anak itu sudah dicap sebagai pemberontak. Biarkan saja ia dengan Chu Kiang!"
"Tidak," Beng Tan menggelengkan kepalanya. "Aku tak ingin anak itu berbuat dosa atas muslihat orang lain, Istriku. Aku hendak menemui Giam Liong agar ia tidak melibatkan diri dengan generasi Chu Wen itu!"
"Tapi istana telah mencapnya sebagai pemberontak. Bocah itu tak mungkin selamat!"
"Hm, inilah yang hendak kubedakan, Nio-cu. Kita sama-sama tahu bahwa Giam Liong bertemu secara kebetulan dengan Chu Kiang. Kita pun tahu bahwa anak itu tidak bermaksud menjadi pemberontak. Ia datang ke sini karena urusannya dengan si Kedok Hitam, bukan yang lain!"
"Benar," Bo-ciangkun tiba-tiba berseru, membelalakkan mata. "Bocah itu memang datang untuk urusannya dengan si Kedok Hitam, Taihiap. Ia hendak menuntut balas atas kematian ayahnya di tangan si Kedok Hitam!"
"Tapi Kedok Hitam akan berlindung di balik nama kaisar," Swi Cu tiba-tiba tak kalah sengit. "Dan persoalan ini tak mungkin dipilah, Ciangkun. Kedok Hitam akan meminta perlindungan kaisar dan semua orang bisa dikerahkan untuk menghadapi pemuda itu!"
"Hm," Beng Tan mengerutkan kening, kali ini mukanya keruh. "Kedok Hitam memang bisa berdalih seperti itu, Nio-cu. Tapi kita berdua tahu bahwa ia melakukan itu karena ambisi dan kebencian pribadinya. Ia berkali-kali telah menipu dan memperdayai Golok Maut Sin Hauw. Ia laki-laki curang!"
"Siapa Kedok Hitam ini?" Bo-ciangkun tiba-tiba menyela. "Kalian rupanya tahu dan mengenalnya dengan baik. Apakah Taihiap dapat memberitahuku?"
"Tidak," Beng Tan tertegun. "Sementara ini aku tak dapat memberitahumu, Ciangkun. Tapi kelak mungkin kau akan tahu juga. Sekarang aku ingin minta bantuanmu agar Chu Kiang tidak sampai mengikat pemuda ini."
"Taihiap cari dan tangkap saja orang bermarga Chu itu, tentu beres!"
"Dan di sana ada pemuda itu," Swi Cu tiba-tiba mengejek. "Kau tak dapat memisahkan persoalan ini, Suamiku. Biarkan saja seperti itu dan kita mintakan bantuan istana untuk membunuh orang-orang itu!"
"Ya, istana sedang mengumpulkan banyak orang pandai. Kalau Taihiap menghadap Sri Baginda atau Coa-ongya, tentu Taihiap akan disambut gembira. Apakah aku harus mengantar?"
"Nanti dulu," Beng Tan menggoyang lengan. "Tadi istriku tak suka bergabung dengan istana, Ciangkun. Bagaimana sekarang tiba-tiba ia menghendaki itu!"
"Aku tidak menghendaki itu. Maksudku, kalau kau meminta bantuan istana boleh-boleh saja, tapi kita jangan di bawah perintahnya. Kita tetap sendiri-sendiri. Aku tak sudi diperintah, biarpun oleh Sri Baginda sendiri!"
"Hm, begitukah? Tapi bertemu Sri Baginda tak mungkin kita diperintahnya. Baginda tentu akan menyerahkan ini kepadaku dan kita memimpin orang-orang lain!"
"Tapi setan si Kedok Hitam itu akan kembali melangkahimu," Swi Cu mengejek, mengingatkan peristiwa yang lalu. "Jangan lupa kepada yang lama, Suamiku. Sri Baginda nyatanya tak berbuat apa-apa ketika kewibawaanmu dilanggar!"
"Hm, benar," jago pedang ini mengerutkan kening. "Kalau begitu bagaimana baiknya? Aku hanya ingin melepaskan Giam Liong dari pemberontak Chu Kiang itu. Dia tak boleh menjadi pemberontak karena bujukan orang lain!"
"Hm, jelek-jelek dia pernah menjadi anak kita, Nio-cu. Dan jelek-jelek ia adalah kemenakanmu. Ia putra dari suci-mu."
"Aku tak peduli semuanya itu. Enci Wi Hong telah melukai dan menghancurkan perasaanku!"
"Ada sebab ada akibat, Nio-cu. Ada perbuatan pasti ada alasan-alasannya. Aku pribadi tak dapat mendendamnya sejauh yang kau rasakan. Betapapun, ia telah mewarisi ilmu-ilmu dan secara tidak langsung ia adalah anak didikku!"
"Tapi itu yang justru membuat aku berang. Ibunya dengan licik menculik dan menukar anak kita, Suamiku. Dan sekarang setelah ia pandai, maka ia menjadi musuhmu. Aku benci ini, aku tak dapat melupakannya!"
"Apa yang telah terjadi?" Bo-ciangkun tiba-tiba bertanya, kembali menyela. "Rupanya ada peristiwa besar di keluarga Taihiap!"
"Kami ditipu," Beng Tan tiba-tiba muram, malu dan juga sedih. "Ibu anak itu menukar dan menculik anak kami, Ciangkun. Dan setelah ia besar, maka ibunya datang dan memberi tahu. Istriku sangat terpukul."
"Ah, begitukah?"
"Ya." Ketika Beng Tan menceritakan peristiwa itu, Bo-ciangkun terbelalak dan kakek bertubuh kekar itu menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. "Pantas... pantas. Pantas ia demikian lihai dan gagah."