Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 117

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 117

"Kiranya telah mewarisi semua ilmu taihiap!"

"Dan ia memiliki pula ilmu dari mendiang ayahnya. Anak itu lebih hebat dari aku!"

"Taihiap kalah?"

"Begitulah," Beng Tan tak perlu menutupi rahasia. "Aku telah dikalahkannya, Ciangkun. Dan aku sekarang ingin tahu apa yang hendak dilakukannya. Aku tahu ia akan ke kota raja karena pasti mencari Kedok Hitam. Tapi sebelum aku di sini, ternyata aku mendengar bahwa anak itu telah membuat gempar, bersatu dengan pemberontak!"

"Ya, dan Kedok Hitam juga tak mampu menandinginya, lari dan menyelamatkan diri. Kalau begitu, bagaimana menurut Taihiap?"

"Aku tak dapat memberi saran karena Taihiap tentunya lebih pandai daripada aku!"

"Hm, jangan begitu. Soal ilmu silat barangkali aku lebih pandai daripada dirimu, Ciangkun. Tapi dalam tata keperajuritan jelas kau lebih hebat. Aku ingin bicara, bagaimana kalau kau menghadapi Chu Kiang itu dan aku menarik Giam Liong dari sahabat barunya itu!"

"Apa-apaan ini!" sang istri tiba-tiba kembali memprotes. "Untuk apa kaulakukan itu, suamiku? Biarkan saja ia sebagai pemberontak dan biar kaisar mencapnya sebagai antek Chu Wen!"

"Giam Liong masih kurang pengalaman," sang suami berkata sabar. Pendekar ini memang lembut dan mulia hati. "Aku tak dapat membiarkan bekas putra kita itu sebagai pemberontak dan penyebab penderitaan rakyat kecil, Niocu. Aku akan menyadarkannya dan mencoba menjauhkannya dari Chu Kiang. Kalau tidak berhasil, maka aku akan membiarkannya dan selanjutnya terserah dirinya. Tapi aku akan berusaha, karena bagaimanapun dia pernah menjadi anakku juga, anak yang dekat denganku!"

"Tapi aku tak dapat membawa pasukan," Bo-ciangkun tiba-tiba berseru, mendahului sang nyonya yang kembali hendak membuka mulutnya. "Aku panglima yang sudah pensiun, Taihiap. Aku sudah tak memiliki kekuasaan!"

"Tapi Sri Baginda masih menaruhmu di sini," Beng Tan tak peduli, matanya bersinar-sinar. "Kalau aku menghadap dan memohon beliau, tentu Sri Baginda memperkenankan, Ciangkun. Kau sahabatku dan Sri Baginda tahu akan hal ini!"

"Benar, dan justru karena sungkan kepada itulah maka aku diberi tempat tinggal di sini. Kalau tidak, tentu aku disuruh keluar!"

"Tapi aku tak setuju kau menemui Giam Liong!" Swi Cu bersuara keras. "Bocah itu musuh kita, suamiku. Dia sudah bukan apa-apa lagi. Kau tak usah memedulikannya!"

"Aku tak akan peduli kalau ia benar-benar orang lain. Tapi ia putra sucimu, dan mendiang ayahnya Sin Hauw adalah seorang gagah yang kukagumi. Tidak, aku tak dapat membiarkannya begitu saja, Niocu. Aku akan berusaha menjauhkannya dari Chu Kiang selama ini bisa. Tapi kalau gagal, aku akan melepaskannya dan tak akan peduli. Ini keputusanku!"

Swi Cu terbelalak. Tiba-tiba ia merasa aneh dan tak mengerti sikap suaminya ini. Ia tak tahu bahwa diam-diam jago pedang ini memiliki kekaguman besar kepada Giam Liong. Pemuda itu adalah anak didiknya dan mampu mengalahkannya. Karena bagi seorang pendekar amatlah penting untuk menghargai hal semacam ini, Beng Tan mampu memisahkan perasaan pribadinya dengan perasaan keluarga. Dia merasa sayang kalau anak didiknya yang hebat itu sampai menjadi pemberontak.

Dia dapat menerima dan membiarkan saja kalau Giam Liong membalas dendam kepada si Kedok Hitam, karena anak itu akan membalas kematian ayahnya. Tapi kalau Giam Liong sampai menjadi pemberontak, mengacau, dan mencelakakan rakyat kecil, maka dia akan mencegah dan tak dapat menerima hal tersebut. Pemuda itu boleh saja melampiaskan dendam pribadi, orang per orang. Tapi kalau dia menjadi pengikut Chu Wen dan ini bakal menyengsarakan rakyat, di mana peperangan atau pertumpahan darah pasti terjadi, maka jago pedang ini tak dapat membiarkan hal itu di depan matanya.

Dia akan mencegah dan Giam Liong akan ditemui. Karena sejak lama ia sudah membantu istana, maka pendekar ini mengambil keputusan tetap bahwa ia akan mencari dan menemui pemuda itu. Bukan untuk membalas kekalahannya, melainkan semata mengingatkan pemuda itu akan bahayanya membantu pemberontak. Seumur hidup bakal dicap pemberontak dan anak cucu pun akan dicap atau dicurigai sebagai pemberontak. Inilah yang tak dikehendaki pendekar itu.

Ketika dia bersikap tegas dan sang istri tertegun, Swi Cu tak dapat mengerti dan kaget memandang suaminya. Belum pernah suaminya bersikap setegas ini, padahal baru saja dikalahkan Giam Liong. Namun ketika ia menarik napas dalam-dalam dan memilih menurut—karena tak baik bertengkar di hadapan orang lain—ia membanting kaki sekadar menyatakan kesal.

"Baiklah, terserah dan sesukamu, suamiku. Tapi kalau ada apa-apa jangan salahkan aku. Jangan tumpahkan kekecewaanmu kepadaku!"

"Tidak," Beng Tan menarik napas dan mencekal lengan istrinya, sedikit melunakkan sikap. "Aku tahu ketidaksenanganmu, Niocu. Maaf kalau kita berbeda pendapat. Tapi percayalah bahwa aku tak akan memaksa anak itu untuk menuruti nasihatku. Kalau aku gagal tentu aku tak akan bersikeras dan terserah anak itu!"

"Kau berjanji?"

"Tentu."

"Baik, kalau begitu mari segera mencari anak itu. Aku ingin kau cepat menyelesaikan urusanmu!"

"Nanti dulu," sang Ciangkun berseru. "Kalian jangan buru-buru pergi, Taihiap. Bagaimana aku setelah kalian ajak bicara seperti ini? Aku juga ingin menumpas pemberontak dan membunuh Chu Kiang!"

"Hm, sebaiknya kau membawa pasukan," Beng Tan bicara. "Sendiri menghadapi pemberontak itu tentu berbahaya, Ciangkun. Aku ingin menemui dulu bekas anak didikku itu dan baru setelah itu mengurus Chu Kiang."

"Tapi aku ikut. Aku tak mau sendirian lagi setelah kalian datang!"

"Hm, ada orang!" Swi Cu tiba-tiba berseru. Keributan itu hampir membuatnya lengah sekejap. "Kita kedatangan tamu, Bo-ciangkun. Aku bersembunyi, dan siapa gadis itu!"

Beng Tan melihat dan terkejut. Di luar tampak bayangan seorang gadis dan tahu-tahu terdengar seruan nyaring. Ketika Bo-ciangkun juga terkejut karena seorang gadis muncul dan berkelebat di pintu rumahnya, maka kakek ini bergerak dan Beng Tan sendiri sudah lenyap berkelebat.

"Paman Bo, pintu rumahmu terbuka. Apakah ada orang di sini!"

"Ah, ha-ha, Coa-siocia kiranya. Aih, kau membuat aku terkejut saja, Siocia. Dari mana kau dan bagaimana tiba-tiba memperhatikan rumahku!" Bo-ciangkun berkelebat dan menyambut keluar, sudah berhadapan dengan seorang gadis cantik yang terbelalak dan celingukan memperhatikan rumahnya.

Mata tajam gadis itu menyambar-nyambar dan Beng Tan diam-diam kagum karena gadis ini memiliki gerakan yang ringan dan gesit. Hampir saja Beng Tan terlambat jika istrinya tidak berseru tadi. Istrinya lupa menutup pintu dan kini gadis itu menegur.

Dan ketika Bo-ciangkun tertawa dan menyambut, berdiri menggoyang lengan, maka bekas panglima yang sudah lama bersahabat dengan Beng Tan ini menggeleng. "Tak ada siapa-siapa... tak ada siapa-siapa. Ha-ha, aku baru saja mau berkebun, Siocia, membuka pintu dan belum menutupnya lagi. Ah, kau rupanya melihat sesuatu yang mencurigakan sampai datang ke sini!"

"Aku mendengar beberapa penjaga melihat hantu terbang. Cerita mereka aneh dan aku curiga bahwa ada orang mendatangi istana. Karena aku melihat pintu rumahmu terbuka, maka aku ke sini untuk melihatnya!"

"Hantu terbang? Ha-ha, sungguh pengkhayal. Mereka itu penjaga-penjaga yang lamur, Siocia. Barangkali sedang mimpi dan mengada-ada. Ah, mereka itu suka membuat cerita bohong dan membual. Aku tak melihat apa-apa dan jangan percaya mereka!"

"Tapi katanya ada dua orang mendatangi ke sini. Aku khawatir bahwa ada orang lihai menyelundup!"

"Ah, begitukah? Baik, kalau begitu aku turut berjaga-jaga. Siocia tak usah khawatir karena tempat ini aman!" Bo-ciangkun diam-diam terkejut, sadar bahwa yang dimaksud adalah sepasang suami istri itu.

Beng Tan sendiri juga terkejut karena dari situ tahulah dia bahwa penjagaan di istana amatlah ketat. Istana mengerahkan semua pengawal untuk berjaga setelah kejadian semalam, peristiwa datangnya pemberontak dan hadirnya pemuda selihai Giam Liong. Ketika Beng Tan terkejut dan mengerutkan kening, istrinya berdebar dan menyenggol lengannya, maka Bo-ciangkun mengangguk-angguk dan berkata lagi bahwa dia tak melihat apa yang dilihat para pengawal itu. Tempatnya aman dan tak ada siapa-siapa di situ.

Ketika gadis itu mengangguk percaya dan berkelebat pergi, gadis itu berseru agar ia berhati-hati. "Aku tak menganggap mereka bohong. Pasti ada orang lihai datang ke sini. Harap Paman beri tahu aku kalau melihat dua orang itu!"

"Tentu," sang bekas panglima mengangguk. "Aku akan memukul tanda bahaya kalau diperlukan, Siocia. Dan terima kasih untuk pemberitahuanmu!"

Gadis itu lenyap. Bo-ciangkun menghela napas dan sekarang masuk lagi ke dalam, sementara dua tamunya keluar.

"Kita tak perlu bicara tentang Kedok Hitam, Ciangkun. Kita bicara saja tentang yang lain dan benar katamu bahwa sebaiknya kita cepat-cepat pergi. Gadis itu telah mencium jejakku, dia tak gampang percaya kepada laporan pengawal. Mari kita keluar dan kau ikut aku!"

"Benar, mari pergi, Taihiap. Aku siap, namun baru saja kata-kata ini dihentikan, mendadak terdengar seruan-seruan di luar dan tiba-tiba saja di sekeliling rumah itu muncul puluhan orang pengawal, dipimpin seorang laki-laki tinggi besar yang brewokan dan bermata tajam.

"Rekan Bo, kami utusan Sri Baginda ingin bertemu yang terhormat Pek-jit-kiam Ju-taihiap!"

Beng Tan terkejut. Sebelum ia keluar, tahu-tahu tempat itu telah dipenuhi banyak orang. Ketika ia tertegun dan terbelalak karena orang telah menyebut namanya, maka perwira tinggi besar itu datang dan membungkuk di luar, penuh hormat.

"Ju-taihiap, Sri Baginda mohon bertemu denganmu. Aku Lim-ciangkun memberikan tanda kaisar!" Beng Tan tertegun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment