Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 118

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 118

Ia benar-benar kaget dan tercengang karena kaisar tiba-tiba mengutus orangnya. Begitu cepat! Namun, ketika ia sadar dan Bo-ciangkun keluar, ia bertanya dengan terkejut dari mana Lim-ciangkun mengetahui kedatangan tamunya. Perwira itu tersenyum dan menjawab, "Istana saat ini dijaga ketat, tak seekor semut pun dapat lolos. Sri Baginda mendapat tahu dari Coa-ongya, rekan Bo. Dan Coa-ongya mendapat tahu dari Kedok Hitam. Bolehkah aku masuk, atau Ju-taihiap menerima panggilan kaisar ini?"

Beng Tan keluar. Akhirnya ia tahu apa yang terjadi; bukan para pengawal yang mengetahui, melainkan Kedok Hitam berkat laporan pengawal, atau lebih tepatnya laporan dari muridnya, Yin, yang baru saja meninggalkan mereka. Menyadari bahwa Kedok Hitam mengintainya di dekat situ—mungkin tadi bersama muridnya—pendekar ini tersenyum kecut dan menyambut panggilan kaisar itu dengan hormat, disusul oleh istrinya.

"Luar biasa, Kedok Hitam benar-benar penjaga yang baik, Lim-ciangkun. Kedatanganku dapat diketahuinya dengan demikian cepat. Ah, kehormatan bagiku menerima panggilan kaisar. Aku akan ke sana meskipun sebenarnya aku akan segera pergi!"

"Terima kasih," Lim-ciangkun tertawa gembira. "Tugasku telah selesai, Taihiap. Mari bersama kami, Sri Baginda tentu gembira menerima kedatanganmu!"

"Aku akan mendahului kalian," Beng Tan menolak diantar. "Silakan kalian kembali, Ciangkun. Biar aku bersama istriku ke sana!" Sekali bergerak, pendekar itu menyambar dan menarik istrinya.

Beng Tan melihat barisan pengawal muncul di segala sudut. Ternyata ia sudah dikepung! Menyadari bahwa ia tidak boleh keluar sebelum menemui kaisar, dengan dongkol ia menuju ke bangsal agung tempat kaisar biasanya menerima tamu. Ia berkelebat melewati orang-orang itu, yang terbelalak melihat gerakannya yang luar biasa cepat, seperti burung yang terbang lalu lenyap.

Ketika para pengawal yang berjaga sadar bahwa itulah "burung" atau "hantu" yang mereka lihat, decak kagum terdengar dari mulut mereka. "Ah, kiranya Pek-jit-kiam Ju-taihiap. Pantas, aku tak dapat mengikuti gerakannya yang seperti siluman! Dan kiranya ini 'burung' yang kulihat itu. Kiranya yang terhormat Ketua Hek-yan-pang! Dan ia bersama istrinya. Ah, masih cantik dan gagah!"

Beng Tan tidak menghiraukan omongan itu. Swi Cu sendiri tidak peduli, namun diam-diam ia merasa senang karena dipuji masih cantik dan gagah. Ketika dua orang itu menghilang, Beng Tan sudah tiba di bangsal agung. Benar saja, kaisar telah ada di situ, duduk didampingi Coa-ongya yang tersenyum simpul. Kaisar tampak berseri-seri dan gembira.

"Ha-ha, selamat datang, Pek-jit-kiam. Sungguh kebetulan dan kedatanganmu menggembirakan sekali. Bangkitlah, kau masih gagah dan tampan, begitu pula istrimu!"

Kaisar turun dari kursinya untuk menyambut mereka. Ketika Coa-ongya juga bangkit, suami-istri itu melirik pangeran tersebut yang tampak kian gagah, tegap, dan berotot kencang dengan mata tajam seperti rajawali.

"Kuhaturkan selamat datang pula," sang pangeran tertawa sambil memandang Nyonya Swi Cu. "Kalian berdua kian matang dan hebat saja, Taihiap. Kalau tak ada penjagaan seketat ini, tentu kami tak akan tahu."

"Ah, kami tak merasa bertambah hebat, Ongya, terima kasih. Kami justru merasa bodoh karena kami diketahui. Pembantumu, Kedok Hitam itu, benar-benar lihai!"

"Ha-ha, mari duduk dan tak usah berbasa-basi," kaisar mengayunkan lengan, mengisyaratkan pengawal untuk menjauh. "Kedatanganmu bertepatan dengan musibah yang menimpa kami, Ju-taihiap. Kau tentu telah tahu dari sahabatmu, Bo-ciangkun. Mari duduk!"

Beng Tan mengangguk dan duduk berhadapan dengan kaisar. Ia tahu bahwa dengan kecerdikannya, Kedok Hitam berhasil mengidentifikasi tamu di rumah Bo-ciangkun. Setelah basa-basi selesai, kaisar langsung menuju persoalan pokok: istana membutuhkan orang pandai, dan kaisar meminta pendekar itu membantunya seperti dulu.

Beng Tan mengerutkan kening karena ia tidak ingin membantu istana; peristiwa belasan tahun yang lalu telah menggores perasaannya. Kaisar pun menutup dengan kata-kata yang memojokkan:

"Chu Kiang, keturunan pemberontak, telah datang ke sini dibantu pemuda lihai keturunan Si Golok Maut. Kudengar pemuda itu pernah menjadi murid Hek-yan-pang. Aku yakin kau tak akan membiarkan nama Hek-yan-pang dicoreng oleh pemuda yang membantu pemberontak ini. Aku percaya Hek-yan-pang bukan orang yang mudah dihasut, dan Taihiap sebagai ketuanya dapat membuktikan ini dengan menghadapi pemberontak itu."

"Hm, harap Sri Baginda dapat membedakan masuknya pemuda itu sebagai pihak luar, bukan anggota atau murid Hek-yan-pang," jawab Beng Tan dengan nada dongkol. "Meskipun ia pernah menjadi murid Hek-yan-pang, sesungguhnya kami tidak tahu bahwa ia adalah putra mendiang Sin Hauw!"

Kaisar secara halus mengingatkannya agar Hek-yan-pang tidak memihak pemuda itu, karena memihak berarti dicap sebagai pemberontak. Namun, karena Beng Tan tidak suka bermain sembunyi-sembunyi dan mengakui bahwa Giam Liong adalah putranya, ia menjawab dengan tegas. Ia tidak takut akan ancaman kaisar. Karena pada dasarnya ia memang tidak menyukai pemberontak, ia menangkis tuduhan kaisar dengan berani.

Kaisar tertawa. "Pemuda itu tetap harus ditangkap. Bergabung dengan pembantuku, si Kedok Hitam, tentu bocah itu dapat dikalahkan!"

"Atau Pek-jit-kiam ini mencoba dulu dengan istrinya..."

"Tak mungkin menang," Coa-ongya menggeleng dengan kening berkerut. "Di sana ada pula ibunya, Sri Baginda. Kalau Ju-hujin maju, tentu wanita itu akan maju pula. Satu-satunya jalan ialah Kedok Hitam membantu Ju-taihiap ini. Tentu berhasil!"

"Hm, aku tak suka keroyokan," Beng Tan berkata marah, wajahnya memerah. "Bagi seorang gagah, kalah tetaplah kalah, Ongya. Jangan untuk mencari kemenangan lalu berbuat licik dan mengeroyok. Aku pantang melakukan itu!"

"Kalau begitu, bagaimana pendapat Taihiap? Apakah membiarkan saja pemuda itu dan Chu Kiang menyerbu ke sini dan mengobrak-abrik istana? Ini sudah menyangkut keamanan negeri!"

"Benar," kaisar mengangguk. "Kalau pemuda itu dibiarkan, tentu pemberontak menjadi kuat. Dan kau sendiri mengatakan bahwa kau tak dapat mengalahkannya. Kau harus dibantu!"

"Tapi Hamba tak mau mengeroyok!"

"Demi negara, Hamba siap mengorbankan jiwa raga, Sri Baginda. Tapi sebelum Hamba melakukan itu, Hamba akan menemui dan membujuk dulu pemuda itu. Giam Liong datang karena urusannya dengan Kedok Hitam. Sebenarnya tak ada sangkut-pautnya dengan pemberontak Chu Kiang!"

"Hm, baiklah. Kalau begitu bagaimana pendapatmu?"

"Hamba akan mencari dan menemukan pemuda ini, lalu membujuk dan mengingatkannya agar menjauhi pemberontak. Urusan pribadi tidak boleh dicampuradukkan dengan urusan negara. Anak itu akan Hamba tarik!"

"Kalau ia tak mau?" Coa-ongya tiba-tiba mengejek. "Bapak dan anak sama-sama berwatak keras, Ju-taihiap. Masing-masing tak gampang dibujuk. Sejak zaman kakeknya, bocah itu memang sudah mewarisi kekerasan hati yang tak dapat ditekuk. Apalagi di sana ada ibunya!"

"Ini gara-gara pembantu Ongya yang bernama Kedok Hitam itu!" Beng Tan tiba-tiba naik darah saat teringat peristiwa belasan tahun yang lalu. "Kalau Paduka tidak mengirim orang dan licik berbuat curang, tentu pemuda itu tak akan datang ke sini. Paduka telah membuat pemuda itu gila dendam dan ingin membalas kematian ayahnya. Paduka menjadi biang penyebabnya!"

"Eh-eh, mendiang Sin Hauw adalah iblis yang harus dibasmi. Dia telah mengacau dan membunuh banyak orang di sini, Pek-jit-kiam. Dan adikku, Ci Bao, menjadi korban. Aku tak dapat membiarkan itu dan Si Golok Maut enak saja merajalela!"

"Tapi Hamba telah menentukan pertarungan mati-hidup. Golok Maut adalah bagian Hamba, bukan untuk diserang atau dikeroyok oleh lima ribu pasukan. Paduka licik!"

"Eh-eh, aku mengirim pasukan atas izin Sri Baginda, Ju-taihiap. Jangan lalu menyalahkan aku!"

"Tapi Paduka menarik keuntungan di air keruh, tidak sportif karena saat itu Golok Maut sedang luka-luka. Ia bagianku dan seharusnya Paduka tidak ikut campur. Ini pertandingan orang-orang gagah!"

"Hm, gagah atau tidak gagah bukan urusanku, Taihiap. Aku hanya menjalankan titah Sri Baginda untuk melenyapkan Si Golok Maut itu. Kalau kau marah kepadaku, maka kau salah alamat. Kau harus marah kepada Sri Baginda!"

"Sudahlah," Beng Tan tertegun mendengar suara kaisar. "Waktu itu pun aku mengizinkan adikku demi membantumu juga, Ju-taihiap. Aku tak mau kehilangan seorang gagah macam dirimu ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment