Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 119

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 119

"Kau tak dapat menyalahkan adikku karena ia hanya menjalankan perintah!"

"Kalau begitu, Paduka tak usah mengirim hamba dulu. Biar diselesaikan saja oleh pasukan kerajaan dan hamba tak usah ikut campur."

"Hm, aku pribadi tak bermaksud membuatmu malu, Taihiap. Semuanya ini kulakukan demi dirimu juga. Aku terlalu sayang dan tak mau kehilangan dirimu. Itu alasanku!"

Beng Tan dijawil istrinya. Swi Cu khawatir karena melihat suaminya tiba-tiba marah dan melotot kepada Coa-ongya. Mereka sedang di istana dan tak seharusnya seorang tamu marah-marah di tempat orang, apalagi mereka diundang datang. Ketika Beng Tan sadar dan terkejut dijawil sang istri, pandang matanya bergerak dan bertemu Kaisar. Tiba-tiba ia menunduk dan menarik napas dalam-dalam, mendinginkan darah yang akan mendidih.

"Maaf, hamba khilaf, Sri Baginda. Maaf dan ampunkan sikap hamba. Hamba memang tahu kebaikan hati Paduka, tapi hamba juga tahu bahwa Kedok Hitam yang licik dan culas itu sengaja mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Hamba mohon pamit, biarlah sekarang juga hamba mencari anak itu!"

"Benar," Swi Cu kini bicara. Sorot mata Coa-ongya tiba-tiba berubah garang. Dua orang itu seakan siap bermusuh. "Hamba ingin menemani suami hamba, Sri Baginda. Biarlah kami melaksanakan tugas dan mencari anak itu. Suami hamba tentu melaksanakan tugasnya dengan cara ksatria!"

"Hm, baiklah," Kaisar mengangguk-angguk. "Aku mengerti dan menghargai sikap suamimu, Hujin. Ju-taihiap memang seorang gagah sejati. Aku justru semakin hormat dan mengaguminya. Tapi bagaimana kalau pemuda itu tak berhasil dibujuk? Ia akan menjadi musuh yang amat berbahaya bagi negara!"

"Hamba akan mempertaruhkan jiwa hamba," Beng Tan berkata gagah. "Kalau anak itu tak dapat dibujuk dan ikut pemberontak, tentu hamba akan berpihak pada istana, Sri Baginda. Mati atau hidup, tentu hamba ingin membela negara!"

"Bagus, kalau begitu berangkatlah. Aku memberi restu!"

Beng Tan mengangguk. Sang istri sudah berdiri dan lega karena Sri Baginda sendiri sudah mengizinkan mereka pergi. Ini berarti permusuhan dengan Coa-ongya bisa dihindari. Ketika suami-istri itu memberi hormat dan izin pergi, Beng Tan memang tak mau lama-lama tinggal di istana. Kaisar mengangguk dan mengulapkan lengannya, diam-diam melirik adiknya, Pangeran she Coa.

"Pergilah, dan terima kasih, Pek-Jit-kiam. Cepat kembali kalau ingin bantuan!"

Beng Tan sudah berkelebat. Meloncat dan menyambar istrinya, tiba-tiba pendekar ini sudah lenyap dari depan Sri Baginda, menghilang dan keluar dari istana. Tapi ketika ia terbang dan melewati tembok istana, istrinya memperingatkan akan Bo-ciangkun yang mereka tinggal. Pendekar ini tertegun, namun bergerak dan meneruskan langkahnya lagi.

"Kita biarkan dulu Bo-ciangkun itu. Aku tak ingin ke sana lagi. Banyak orang mengawasi kita!"

"Kalau begitu langsung kita ke hutan?"

"Ya, kita cari Giam Liong, istriku. Akan kutarik dia dari tangan Chu Kiang!"

"Ah, kau memang keras hati, keras kemauan. Baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau nanti Enci Wi Hong menyerang dan menghina aku!"

"Hm, sebisa mungkin aku menghindari pertandingan. Kedatangan kita hanya untuk menyadarkan Giam Liong!"

"Kalau gagal?"

"Kita pergi, dan baru akan berhadapan kembali kalau anak itu menyerang istana, resmi sebagai pemberontak!"

"Hm, baik. Dan mudah-mudahan gagal!"

Ketika Beng Tan terkejut mendengar kata-kata istrinya ini, Swi Cu melengos dan memandang arah lain. Pendekar itu menarik napas dalam-dalam namun mencengkeram dan menarik istrinya, tidak menjawab atau memberi komentar. Tiba-tiba mereka melayang ke atas seperti burung besar, tinggi melewati tembok gerbang yang dijaga belasan pengawal. Pengawal-pengawal itu berseru kagum, sudah tahu bahwa itulah Pek-jit-kiam Ju Beng Tan yang amat lihai, lawan tanding Si Golok Maut yang seimbang. Beng Tan meluncur dan sebentar saja sudah meninggalkan istana. Begitu pasangan suami-istri itu bergerak ke selatan menuju hutan di depan, mereka lenyap dan tak kelihatan lagi.

"Nah, di sini. Kita berhenti!" Beng Tan sudah memasuki hutan dan melihat tanda-tanda adanya manusia. "Bekas tempat ini diinjak-injak orang, istriku. Giam Liong tentu di sini, mari masuk ke tengah!"

Swi Cu mengangguk. Nyonya itu juga melihat tanda-tanda itu, bahkan percikan darah kering. Ia menunjuk dan Beng Tan pun mengiyakan. Tapi ketika mereka bergerak dan masuk ke tengah, hutan itu diselidik dan ternyata kosong. Sang pendekar mengerutkan kening.

"Melihat bekasnya, orang-orang itu pernah ke sini. Tapi di mana mereka dan kenapa tak ada orangnya? Mungkinkah mereka pergi?"

"Kita lihat saja. Mungkin saja mereka pergi atau mungkin juga masih ada di sini!" Sang istri berkelebat, gemas dan tak sabar karena Giam Liong maupun orang-orang pemberontak Chu Kiang itu tak ada. Ketika nyonya ini bergerak lebih ke dalam, bekas api unggun terlihat olehnya. Mendadak ia tertegun ketika telinganya yang tajam menangkap suara perlahan di atas pohon di sebelah kirinya, suara orang mengintai.

"Turun!" Swi Cu tiba-tiba menyambit sehelai daun dengan cepat. Nyonya ini membalik dan saat itu daun menyambar ke atas, cepat melebihi sebatang anak panah. Terdengar teriakan dan seseorang roboh berdebuk. Di sana, suaminya juga membentak dan mengayun lengan ke atas, membuat seorang laki-laki terbanting dan jatuh dari pohon yang tinggi.

"Bluk!"

Dua laki-laki itu bersamaan terlempar oleh sambitan daun Swi Cu dan sambaran angin pukulan Beng Tan. Mereka berteriak karena gerakan suami-istri itu amat cepat dan mengejutkan. Ketika Swi Cu maupun suaminya menyambar dua laki-laki ini dan mencengkeram leher mereka, dua orang itu merintih, namun tampak bersikap gagah.

"Siapa kalian, mau apa memasuki hutan ini!"

"Eh!" Swi Cu menghardik. "Kamilah yang seharusnya bertanya, tikus-tikus busuk. Bukan kalian atau siapapun. Siapa kalian dan kenapa bersembunyi di atas pohon itu? Apakah kalian orangnya pemberontak she Chu!"

Dua orang itu saling berkedip. Mereka tak mengenal siapa wanita dan laki-laki lihai itu. Tapi dibentak, mereka mengangkat kepala dengan gagah.

"Kami tak tahu siapa itu pemberontak she Chu. Tapi kami adalah para pejuang!"

"Hm, pejuang apa!" Swi Cu gemas, menendang pantat laki-laki yang ditangkapnya. "Di sini tak ada pejuang selain pemberontak, tikus-tikus busuk. Kalau begitu kalian adalah orang-orangnya Chu Kiang, mana pemimpin kalian itu!"

"Aduh!" laki-laki ini menjerit. "Siapa kau, siluman betina? Kenapa bicara sombong dan semena-mena? Hayo lepaskan aku dan jangan berbuat curang!"

"Benar," temannya juga berteriak marah. "Lepaskan aku, laki-laki gagah, kalau kau jantan! Siapa kalian dan mau apa!"

"Hm," Beng Tan menyambar dan menarik istrinya yang mau menghajar laki-laki tangkapannya. "Mereka ini orang-orangnya Chu Kiang, Niocu, dan kita belum ada urusan dengannya. Kita hendak mencari Giam Liong, bukan pemberontak untuk sementara ini!"

"Kau tidak ingin menghajar mereka?" sang istri sewot. "Tidak ingin menutup mulut mereka yang kurang ajar dan memaki kita berdua? Lepaskan, aku ingin memberi pelajaran lagi, suamiku. Kebetulan orang-orangnya Chu Kiang ada di sini!"

"Sabar, sementara ini kita mencari Giam Liong. Biarkan aku bicara dan jangan kau ikut campur." Pendekar itu membalik menghadapi dua laki-laki tersebut. "Kami ingin mencari Giam Liong, kalian tentu tahu. Di mana pemuda itu dan dapatkah kalian mempertemukan aku dengannya?"

"Kau siapa?" laki-laki kedua tertegun. Ia heran Giam Liong yang ditakuti banyak orang justru dicari pendekar ini. "Aku memang tahu pemuda itu, namun tak akan memberitahumu kalau kau tak menyebutkan siapa dirimu!"

"Dia Ketua Hek-yan-pang!" Swi Cu membentak. "Cepat kau bicara atau kusobek mulutmu nanti, tikus busuk. Hayo, keterangan apa lagi yang kalian minta atau kami akan melenyapkan kalian!"

"Hek-yan-pangcu (Ketua Hek-yan-pang)?" dua laki-laki itu terkejut, seketika tersentak dan berubah mukanya. "Dan kau kalau begitu adalah Ju-hujin?"

"Ya, mau bicara apalagi? Masih juga cerewet?"

"Ah, kalau begitu maafkan, Hujin. Kami adalah orang-orangnya Chu-goanswe dan tentu saja tahu di mana adanya putra kalian itu. Sin-siauwhiap telah menceritakan hubungan ini. Selamat datang, Ji-wi (kalian berdua) menemui kami!"

"Siapa itu yang bicara memuakkan? Dia bukan putraku dan aku adalah musuhnya!"

"Ah," Beng Tan cepat-cepat menenangkan istrinya. "Kalian tak usah menyebut-nyebut soal keluarga, Sobat-sobat. Aku mencari Giam Liong untuk urusan pribadi. Cepat kalian katakan atau beri tahu di mana anak itu berada!"

Dua laki-laki itu tertegun. Mereka saling pandang dengan kecut. Mereka telah mendengar bahwa Sin-siauwhiap atau Sin Giam Liong adalah orang yang pernah menjadi putra Ketua Hek-yan-pang. Mereka girang bahwa tokoh seperti ketua Hek-yan-pang datang, berarti kehormatan bagi mereka. Namun, sikap istri ketua Hek-yan-pang yang tampak bermusuhan membuat mereka kembali waspada.

"Baik," dua orang ini mengangguk. "Tentu saja kami akan mengantarkan kalian berdua, Taihiap. Tapi bebaskan kami dan jangan kami ditotok!"

Beng Tan bergerak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment