Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 12

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 12

Kau menipu aku bahwa sebenarnya tak ada apa-apa di sini, Ki Bi. Bahwa tak ada musuh seperti katamu itu. Kau berdusta dan menyerangku dengan bungkusan itu. Dan semua perbuatan ini kiranya hanyalah ulahmu belaka!

Ki Bi terkejut, menangis. "Bagaimana... bagaimana kau menuduhku seperti itu, pangcu? Bagaimana kau mendakwa aku seperti ini?"

Hm, tak usah bohong. Bungkusan yang menyerangku itu sudah kulihat di sudut tadi, Ki Bi, dan sekarang tak ada! Kau mengambilnya dan melemparnya ke kepalaku, sengaja dan hendak membuat aku terjebak! Ah, tahulah aku. Kau kiranya hendak menjerat aku dan mengajak berbuat hina. Kau cabul dan tak tahu malu!

Pangcu...! gadis ini menjerit. Ada akibat pasti ada sebab. Ada asap pasti ada api. Jangan membentak-bentakku kalau ingin tahu yang sebenarnya. Lepaskan cengkeramanmu, dan setelah itu kau boleh bunuh aku!

Beng Tan tertegun. Ki Bi, yang tadi penakut dan cengeng tiba-tiba saja beringas dan penuh kemarahan. Bukannya dia yang membentak-bentak melainkan dia yang dibentak-bentak. Beng Tan terkejut!

Tapi ketika dia melepaskan cengkeramannya dan Ki Bi jatuh terduduk maka gadis itu menangis tersedu sebelum memberikan jawaban. Aku... aku memang salah. Memang benar bahwa aku berbohong. Tapi kaupun juga tak mengenal perasaan, pangcu. Kau membuat aku dan anak-anak murid Hek-yan-pang yang lain penasaran!

Hm, Beng Tan terbelalak. Apa maksudmu ini, Ki Bi. Dan kenapa aku kau sebut tak berperasaan? Tentu saja! gadis itu melengking. Kau bermesra-mesraan dan berbahagia dengan isterimu, pangcu. Kau bersenang-senang dan membuat para murid yang lain kepingin! Wanita mana tidak ingin bahagia dengan pasangannya? Wanita mana tak ingin didekati lelaki apalagi kalau lelaki itu gagah perkasa dan berwatak mulia? Kau membuat cemburu murid-murid Hek-yan-pang, pangcu, dan satu di antaranya adalah aku!

Benar. Kau boleh buktikan kata-kataku, pangcu. Kau boleh selidiki gerak-gerik murid Hek-yan-pang. Mereka... mereka mendambakanmu. Mereka mencintaimu!

Hm, aku adalah pangcu disini, mereka adalah anggota. Kalau aku dicintai mereka adalah wajar, Ki Bi. Aneh sekali kata-katamu ini kalau disangkut-pautkan dengan urusan kita. Aku tak jelas juntrungannya?

Pangcu tak melek? Maksudmu? Mereka mencintaimu sebagaimana layaknya wanita mencintai laki-laki, pangcu. Mereka mencintaimu dan iri kepada Hu-pangcu yang mendapatkan suami dan pria yang baik!

Beng Tan terperanjat. Ki Bi selanjutnya menangis tersedu-sedu dan menceritakan diam. Bukan cinta dari seorang murid kepada ketuanya melainkan cinta seorang wanita terhadap pria!

Beng Tan memang masih muda dan anak-anak murid Hek-yan-pang pun rata-rata juga masih muda. Beng Tan dibuka matanya bahwa sesungguhnya kalau dia bermesra-mesraan atau bercumbu dengan isterinya itu maka banyak anak murid yang cemburu. Mereka semuanya wanita, kecuali dia yang laki-laki.

Dan karena perkawinan Beng Tan menggetarkan sesuatu di hati murid-murid itu dan kebahagiaan sang Hu-pangcu membuat mereka kepingin dan ingin merasakan maka Beng Tan akhirnya sadar bahwa kehadirannya disitu sebagai pria tunggal telah menimbulkan masalah!

Hm-hm! pemuda ini merah padam. Kau mengejutkan aku dengan semua kata-katamu ini, Ki Bi. Tapi aku tentu saja akan menyelidikinya. Dan kau, kenapa melakukan semuanya itu? Apakah juga...

Benar! Ki Bi memotong. Aku tak tahan dan akulah orang terdekat setelah isterimu, pangcu. Aku mencintaimu seperti juga cinta anak-anak murid yang lain itu. Aku tak tahan... aku... aku lalu coba merayumu dengan segala tingkahku itu. Aku sekarang puas. Kau boleh bunuh aku karena aku juga tak ingin hidup lebih lama setelah apa yang kulakukan ini!

Hm! Beng Tan tergetar, tersentuh perasaannya. Kau jujur, Ki Bi, meskipun ... meskipun tak tahu malu. Aku menghargaimu, tapi kupikir tak perlu kau kubunuh!

Pangcu tak membunuhku? Pangcu ingin membuat aku malu lebih hebat setelah semuanya itu? Hm, jelek-jelek kau telah memberikan informasi penting, Ki Bi. Aku berterima kasih dan kini memaklumimu. Tapi kalau kau bohong, dusta, tentu saja tak ada ampun untuk kedua kali dan kau mendapat hukuman berat!

Jadi pangcu mengampuniku? Tidak, kalau begitu aku yang bunuh diri, pangcu. Aku malu bertemu isterimu dan siap mati..... plak! Beng Tan tiba-tiba bergerak, cepat dan luar biasa karena Ki Bi tiba-tiba menghantam kepalanya sendiri dengan pukulan sinkang.

Gadis itu menjerit dan terlempar. Beng Tan seketika terbelalak karena apa yang dikatakan gadis itu benar-benar hendak dilaksanakannya. Tapi ketika Beng Tan menotok dan mengerutkan kening dengan muka berubah-ubah maka Ki Bi berteriak-teriak agar dibunuh.

Pangcu, aku gadis tak tahu malu. Bunuhlah, jangan biarkan aku hidup! Tidak, aku mulai percaya padamu, Ki Bi, dan aku menghargai kejujuranmu ini. Aku ingin meyakinkan hatiku dan membuktikan semuanya ini... tapi ketika Beng Tan berhenti dan menoleh ke belakang, mendengar dan melihat berkelebatnya lima bayangan maka tahu-tahu disitu telah berlutut lima orang anak murid Hek-yan-pang yang lain, sumoi atau adik-adik seperguruan Ki Bi.

Pangcu, apa yang dikatakan enci Bi adalah benar. Kami adalah bukti-bukti yang lain! Beng Tan terkejut. Disitu muncul Lin Siu dan empat saudaranya, semua berlutut dan menunduk penuh hormat. Muka mereka kemerah-merahan, sekilas melirik pemuda ini namun cepat menunduk lagi dengan wajah bersinar.

Beng Tan tertegun melihat lima anak murid itu tahu-tahu muncul, berlutut dan membenarkan apa yang dikata Ki Bi. Dan ketika pemuda itu menjublak dan tentu saja kaget, tergetar, maka Lin Siu berkata bahwa merekapun boleh dibunuh kalau menyatakan cinta kepada pangcu mereka itu.

Kami semua murid Hek-yan-pang sebetulnya membutuhkan laki-laki. Kami mendambakan sekali pria atau suami seperti pangcu ini. Dan karena kami tak menemukan dan peraturan selama ini tak memperbolehkan kami berdekatan dengan lelaki maka kebahagiaan dan kemesraan pangcu bersama Hu-pangcu sungguh membuat kami iri dan cemburu. Harap pangcu memberikan jalan keluarnya!

Beng Tan tertegun. Segera dia semburat merah karena teringat bahwa ketika bermesra-mesraan dengan isterinya kadang-kadang mereka terlihat anak-anak murid Hek-yan-pang, yakni ketika umpamanya mereka berada di taman atau kolam ikan. Swi Cu sering tak mendengarkan nasihatnya bahwa sebaiknya mereka di kamar saja, jangan di luar.

Karena anakanak murid tentu ada yang mengintai dan berbisik-bisik. Tapi karena Swi Cu berkata bahwa itu adalah tempat tinggalnya dan anak-anak murid dapat diusir, kalau mengintai maka Beng Tan mendiamkan saja dan isterinya tak tahu bahwa di balik pohon atau semak-semak gerumbul, jauh dari situ sedang terdapat beberapa murid yang berkasak-kusuk membicarakan kemanjaan isterinya itu, karena Swi Cu sering merebahkan tubuh atau kepala di dadanya, di saat mereka berduaan di taman atau kolam umpamanya.

Nah, Lin Siu menyambung lagi. Sekarang kami juga sudah berterus terang, pangcu. Dan kami siap mendapatkan hukuman bila pangcu merasa perlu. Kami memang mencintaimu, bukan sebagai ketua melainkan juga sebagai kekasih atau suami!

Lin Siu...? Maaf, kami tak perlu menutup-nutupi lagi, pangcu. Apa yang kami katakan adalah mewakili semua anak murid Hek-yan-pang. Kami butuh lelaki, kami butuh pendamping setelah Hu-pangcu sendiri menikah denganmu!

Beng Tan pucat. Akhirnya dia menggigil dan gemetar mendengar semua kata-kata itu. Dia tahu bahwa kalau sudah begini maka anak-anak murid Hek-yan-pang tak salah. Dulu mereka tak timbul keinginannya ketika Hek-yan-pang masih belum dihadiri lelaki, yakni ketika dia belum masuk dan menjadi suami Swi Cu.

Tapi begitu dia disitu dan Swi Cu kerap berduaan dengannya, berkasih-kasihan, karena mereka pengantin baru maka tak heran kalau anak-anak murid Hek-yan-pang menjadi kepingin dan cemburu. Dan untung cemburu mereka tak buta! Untung selama ini anak-anak murid Hek-yan-pang hanya memendamnya di hati.

Mereka masih dapat menahan perasaan dan takut sebagaimana murid yang baik. Tapi karena mereka adalah manusia dan betapapun pemandangan sehari-hari tentulah berkesan dan menimbulkan keinginan yang amat hebat maka terjadilah peristiwa malam itu dengan perbuatan Ki Bi yang sampai berusaha menjebak dirinya.

Dan Beng Tan ngeri. Kalau saja dia tak memiliki iman yang kuat tentu dia sudah roboh oleh perbuatan Ki Bi yang nekat itu. Masih terbayang jelas di ingatan Beng Tan tubuh serta bagian-bagian tubuh yang menggairahkan dari murid yang satu ini. Masih tak dapat terlupakan oleh Beng Tan keindahan dan kemontokan buah dada Ki Bi.

Hm, siapapun pasti ngiler! Dan ketika Beng Tan menelan ludah dan menggigil memandang lima murid yang berlutut itu akhirnya dia berkata bahwa dia akan memikirkan semuanya ini demi kebahagiaan murid-murid Hek-yan-pang.

Aku maklum, dan kini aku mengerti. Tapi tak mungkin aku melayani kalian seperti yang kalian inginkan itu. Aku bukan kaisar, mana mungkin memperisteri kalian? Tidak, cintaku hanya untuk isteriku, Lin Siu, hanya untuk Swi Cu. Kalau kalian butuh lelaki dan ingin adanya pendamping maka akan kupikirkan untuk kalian jalan keluarnya!

Lin Siu dan lain-lain semburat. Mereka terpukul juga oleh kata-kata Beng Tan bahwa pemuda itu hanya mencinta Swi Cu, bukan mereka dan betapa pemuda itu amat setia sekali menjaga cintanya. Ah, bahagianya kalau mendapatkan suami seperti ini! Lin Siu dan lain-lain kagum tapi sekaligus juga kecewa mendengar itu.

Tapi karena Beng Tan memang benar dan tak mungkin bagi pemuda itu harus melayani sekian banyak wanita maka Lin Siu mintakan ampun untuk Ki Bi. Sekarang kami hanya mengharap belas kasihan pangcu kepada enci Ki Bi. Sukalah membebaskan totokannya dan peristiwa ini tak disebarkan keluar.

Hm, aku memang tak bermaksud menyebarkan kejadian ini kepada siapapun, Lin Siu. Bahkan kepada isteriku sekali pun! Aku memang tak akan menghukum Ki Bi meskipun tak kalian minta.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment