Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 120

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 120

Ia membebaskan dua orang itu dan lagi-lagi harus bersabar menghadapi istrinya yang terus mengomel. Perempuan biasanya memang begitu, lebih cerewet.

Ketika dua orang ini dibebaskan, Beng Tan merasa lega karena akan menemui Giam Liong. Ia tidak takut kepada Chu Kiang maupun pengikut-pengikutnya, maka dengan tenang ia mengikuti dua orang itu yang sudah bangkit berdiri.

"Kami adalah pengintai yang ditaruh di sini. Sinsiauwhiap dan Chu-goanswe sudah tidak di sini karena telah menyeberangi hutan."

"Hm, dari mana orang she Chu itu mendapat pangkat? Siapa yang memberinya julukan goanswe (jenderal)!"

Dua orang itu terkejut. Swi Cu membentak mereka dan mengejek pimpinan mereka. Namun, karena ketua dan istri ketua Hek-yan-pang ini memang lihai—seperti yang telah mereka rasakan ketika bersembunyi di atas pohon tadi—dua laki-laki itu tidak menjawab, melainkan menyelinap dan menerobos semak belukar keluar hutan. Bukan lewat jalan masuk, melainkan terus menyeberang hingga tiba di hutan lain yang terpisah oleh sebuah sungai lebar.

Ketika mereka lenyap dan muncul kembali dengan sebuah perahu yang talinya baru saja dilepas, dua laki-laki itu mempersilakan suami-istri tersebut masuk.

"Mari, kita ke hutan di seberang. Silakan Taihiap masuk dan duduk di sini!"

"Hm, jauhkah? Dan kalian hendak membawa kami ke mana? Ke orang she Chu itu atau ke Giam Liong?"

"Sin-siauwhiap tinggal bersama pimpinan kami, Taihiap. Dan membawa Taihiap ke sana tentu saja sekaligus membawa Taihiap ke Chu-goanswe!"

"Kami tidak ingin menemui orang she Chu itu. Nanti darah kami menggelegak!" Swi Cu membentak.

"Kalau begitu, ji-wi akan kami antarkan kepada Sinsiauwhiap di luar hutan itu. Nanti kami akan memanggilnya dan ji-wi menunggu!"

"Baik, antarkan kami, Sobat. Dan jangan hiraukan istriku!" Beng Tan tidak ingin ribut. Istrinya sekarang bertambah galak karena kekecewaannya kehilangan putra benar-benar menekan batinnya. Swi Cu gampang marah dan mudah sekali naik pitam. Karena tidak ingin dua orang itu dihajar atau dibunuh, Beng Tan meminta agar mereka tidak usah banyak cakap dan segera mengantarkannya.

Dua laki-laki itu menurut dan mendayung perahu memotong sungai. Tak lama kemudian, mereka menepi. Beng Tan berkelebat mendarat, disusul istrinya.

"Nah, sesuai kata-katamu, kami akan menunggu. Panggilkan Giam Liong dan cepat bawa ke mari!"

Dua laki-laki itu mengangguk. Mereka memang pengikut Chu Kiang dan sebenarnya adalah orang-orang gagah yang tidak terbiasa dihina. Namun, karena yang dihadapi adalah ketua Hek-yan-pang dan istrinya—orang yang masih merupakan sanak dekat Sin Giam Liong—mereka menekan rasa tidak puas di hati lalu pergi.

Beng Tan menunggu, sementara istrinya duduk menyendiri dengan muka merah padam. Itu adalah tanda bahwa istrinya sedang menahan marah. Ia harus membujuknya. Saat dua orang itu pergi, Beng Tan mendekati istrinya, duduk, menghela napas panjang, lalu memegang lengan istrinya.

"Niocu, kuharap kau tidak akan bicara apa-apa jika nanti aku bertemu Giam Liong. Diam dan duduk sajalah di sini. Aku juga tidak akan melakukan apa-apa. Harap kauturuti permintaanku ini, setelah itu kita pergi!"

"Baik, tapi kalau pihak sana menghina atau mengejek, aku tidak mungkin berdiam diri. Lihat, orang-orang itu datang, Suamiku. Para pemberontak itu rupanya mengepung kita!"

Beng Tan menengok. Ia mengerutkan kening ketika tiba-tiba dari dalam hutan berkelebatan orang-orang berpakaian hitam yang mengepung tempat itu. Ketika dari sungai juga meluncur perahu-perahu hitam, pendekar ini semakin mengerutkan kening. Terdengar kekeh dan tawa yang amat ia kenal.

"Hi-hik, selamat datang, Ketua Hek-yan-pang. Sungguh suatu kehormatan besar bahwa kau dan istrimu mencari kami. Tentu kau akan membantu perjuangan!"

Beng Tan terkejut. Wi Hong, wanita cantik itu, tiba-tiba muncul. Suci dari istrinya ini berkelebat dari dalam hutan dan menegurnya. Ia berdiri, diikuti istrinya yang bangkit dengan gemetar. Beberapa orang lain muncul mendampingi Wi Hong yang terkekeh-kekeh di depannya, sombong bagai seorang ratu.

"Hek-yan-pangcu, kukenalkan ini kawan-kawanku. Ini adalah Chu-goanswe yang gagah dan itu si Papan Besi Wan Mo!"

"Hm," Beng Tan tertegun karena tidak melihat Giam Liong. "Mana Giam Liong dan kenapa orang-orang ini yang muncul? Aku tidak butuh yang lain. Aku ingin bertemu Giam Liong!"

"Aku ibunya, sama saja," Wi Hong terkekeh. Ia menoleh kepada dua laki-laki yang tadi mengantar suami-istri itu. "Dua orang itu memberitahuku bahwa kau mencari Giam Liong, Pangcu. Tapi karena putraku sedang tidur, biarlah aku yang menyambutmu. Kami percaya bahwa kau tidak membawa niat jahat!"

Wanita itu lalu memandang dan tertawa kepada Swi Cu. "Cu-moi, kau datang di saat yang tepat. Kami butuh tenaga seperti kalian dan Chu-goanswe tentu girang mendapat kunjungan kalian."

"Benar," seorang laki-laki tinggi besar yang gagah berdiri dan tersenyum di samping Wi Hong, lalu menjura. "Aku benar-benar mendapat kehormatan untuk kunjungan ini, Ji-wi Pangcu. Selamat datang, perkenalkan, aku adalah Chu Kiang."

"Hm, aku tidak butuh berkenalan dengan nama-nama pemberontak. Kami ke mari untuk mencari Giam Liong, Suci. Suruh dia keluar atau kami pergi!"

"Eh-eh, siapa yang berkenalan dengan para pemberontak? Mereka ini adalah para pejuang, Sumoi. Justru kehormatan besar bagimu dapat bertemu langsung dengan Chu-goanswe. Mereka bukan pemberontak!"

"Aku tidak butuh berkenalan dengan mereka. Kami datang untuk mencari Giam Liong. Suruh putramu keluar atau kami pergi!"

"Hi-hik, untuk apa? Untuk menerima lagi kekalahan?"

"Jangan sombong. Kalah-menang adalah hal biasa bagi orang-orang gagah, Suci. Di atas langit masih ada langit. Suamiku perlu menyadarkan putramu itu agar tidak sesat!"

"Heh, sesat? Hi-hik, kau lucu dan ngawur bicara, Sumoi. Kalau bukan kau, tentu sudah kutampar. Apa maksud suamimu dengan menyadarkan puteraku itu? Katakan saja di sini!"

"Hm, aku ingin bertemu Giam Liong langsung," Beng Tan tampil ke depan dan menggamit istrinya. "Kami tidak ada urusan dengan siapa pun, Wi Hong. Tolong panggil putramu atau kami pergi!"

"Aku ibunya, sama saja!"

"Tidak, tidak sama. Aku tidak berbicara denganmu, melainkan ingin bicara dengan putramu itu. Kalau ia tidak ada di sini, baiklah aku pergi dan lain kali saja kita bertemu!"

"Eh-eh, begitu enak? Jangan kurang ajar. Kami telah menyambutmu baik-baik, Hek-yan-pangcu. Jangan balas sambutan ini dengan sikap sombongmu. Kau tidak boleh pergi kalau kami tidak mengizinkan!"

"Hm, apa maumu?"

"Kau telah menghina Chu-goanswe, menolak maksud hatinya yang baik. Karena kau adalah tamu sementara kami adalah tuan rumah, kau harus tunduk dan jangan bersikap seenak perutmu. Kau harus minta maaf dulu kepada Chu-goanswe!"

"Hm," Beng Tan mengejek. "Aku tidak merasa berkenalan dengan orang yang kau sebut itu. Orang yang merasa jenderal tapi belum pernah diangkat kaisar adalah orang liar. Kami tidak dapat lama-lama di sini, Wi Hong. Maaf, kami harus pergi!"

Beng Tan menarik istrinya, bergerak, dan tahu-tahu meloncat tinggi di atas kepala orang-orang itu. Saat mereka terkejut dan berteriak, pendekar ini telah meninggalkan mereka dan "terbang" melewati kepala orang-orang di situ untuk kembali ke sungai.

"Wut-wut!" Orang-orang itu terbelalak. Namun, begitu mereka sadar dan pendekar itu celingukan mencari perahu yang tadi sudah lenyap, pengikut Chu-goanswe mengejar dengan seruan marah.

"Tangkap, jangan sampai dia lolos!"

Chu-goanswe dan Wi Hong terkejut. Mereka tercekat oleh gerakan cepat pendekar ini. Chu-goanswe sampai kagum, maklum, baru kali itu ia bertemu Ketua Hek-yan-pang ini dan menyaksikan kelihaiannya. Namun, saat ia sadar dan anak buahnya berteriak memburu, Wi Hong melengking dan berkelebat ke depan.

"Beng Tan, jangan melarikan diri! Hadapi kami kalau gagah!"

"Benar, jangan lari kalau berwatak ksatria, Hek-yan-pangcu. Hadapi kami dan jangan terbirit-birit!"

"Hm, siapa terbirit-birit!" Swi Cu membentak. "Kami bukan melarikan diri, orang she Chu, melainkan menyelamatkan dirimu itu agar pedang kami tidak bicara!"

"Tidak, kalian tak boleh pergi. Pokoknya harus di sini dulu dan tunduk atau menghargai tuan rumah..."

*Singgg!*

Wi Hong membentak, mendahului yang lain, berjungkir balik di atas kepala orang-orang Chu-goanswe, dan menusuk Swi Cu. Beng Tan belum diserang karena Swi Cu yang lebih dekat, juga karena Beng Tan lebih ditakuti. Saat Swi Cu marah, ia membalik, mengelak, sekaligus mencabut pedangnya. Dua batang pedang bertemu dan mengeluarkan suara nyaring di udara.

"Crang!" Bunga api berpijar.

Wi Hong terkekeh dan menyerang lagi, cepat berkelebatan mengurung sumoinya dengan gulungan atau sambaran pedang yang naik-turun. Saat Swi Cu melengking meladeni sucinya dan Beng Tan dikeroyok anak buah Chu-goanswe, suami-istri itu pun mau tidak mau harus menghadapi mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment