Chapter 121
Beng Tan mendengus dan dengan cepat menggerakkan ujung bajunya ke sana ke mari. Ketika bunyi tamparan disusul teriakan atau jerit kaget orang-orang yang terlempar atau terpelanting ke kiri dan kanan itu terdengar, Wan Mo—si Papan Besi yang menjadi pembantu Chu-goanswe—membentak dan maju dengan senjatanya yang aneh, sepotong papan tebal segi empat.
"Hek-yan-pangcu, kau terlalu menghina kami. Coba kau hadapi ini dan perlihatkan kepandaianmu... plak-plak-plak!"
Beng Tan menangkis dan memutar tubuhnya. Dari sambaran angin atau serangan itu, segera dia tahu bahwa laki-laki pendek gempal ini adalah yang terkuat di antara semuanya. Tapi karena ia tidak takut dan ujung bajunya mengibas, maka laki-laki itu terpental dan papan segi empatnya hampir saja terlepas. Wan Mo kaget!
"Jangan dihadapi sendirian. Keroyok dia!" Inilah seruan atau teriakan Wi Hong.
Wanita itu sendiri sudah bertanding dengan Swi Cu. Kakak beradik seperguruan ini berkelebatan menyambar-nyambar. Swi Cu menjadi marah setelah sucinya itu menyerang bertubi-tubi tanpa memberinya kesempatan; jelas sucinya itu ingin merobohkan dirinya. Tapi karena ia sekarang bukan Swi Cu yang dulu dan nyonya Pek-jit-kiam ini sudah mendapat tambahan ilmu-ilmu dari suaminya—termasuk Pek-jit Kiam-hoat (Silat Pedang Matahari)—maka begitu senjata diputar, tiba-tiba pedang di tangan nyonya itu berkerelapan dan menyambar-nyambar, memancarkan sinar bagai bianglala atau matahari berpijar.
"Crang-crang!" Wi Hong mengumpat dan memaki sumoinya itu. Pedangnya terpental, tetapi pedang lawannya pun tertahan. Ternyata mereka berimbang. Karena dulu wanita ini tingkatnya di atas sumoinya dan sekarang tiba-tiba Swi Cu dapat melayani bahkan memiliki kepandaian sama tinggi, maka Wi Hong memekik marah.
"Swi Cu, kau wanita tidak tahu diuntung. Awas, mampus kau!"
"Hm, kaulah yang tidak tahu diri. Kau mengacau dan mempermainkan keluargaku, Suci. Kau wanita iblis dan biadab!"
"Aih, keparat. Kubunuh kau dan awas pedangku bicara... crang-crang!"
Pedang kembali bertemu dan terpental di udara. Hal ini membuat Wi Hong semakin beringas karena sumoinya dapat menahan serangannya. Swi Cu memang dapat menandingi sucinya, dan sang suci pun naik pitam. Dulu sumoinya tidak sekuat ini, tentu sekarang kemajuannya berkat suaminya. Saat wanita itu memekik dan menyerang lagi dengan ganas, kedua wanita itu bertanding sengit. Sementara itu, Beng Tan memukul-mukul ujung bajunya untuk mendorong atau melempar para pengeroyoknya.
"Mundur... mundur, aku tidak mau membunuh!"
Namun orang-orang itu nekat. Justru kelemahan dan kemurahan hati pendekar ini membuat mereka berani menerjang maju lagi. Beng Tan tidak membunuh mereka, dan hal ini membuat mereka tidak tahu diri; mereka menyangka atau menganggap pukulan-pukulan pendekar itu tidak kuat, buktinya mereka dapat bangun lagi setiap kali dirobohkan.
Karena hal ini memang kelemahan hati pendekar yang lembut dan berwatak asih itu, Beng Tan justru merasa gemas ketika orang-orang itu bangkit dan menyerangnya lagi. "Mundur... mundur, aku tidak ingin membunuh kalian!"
"Cerewet!" salah satu pengeroyok membentak. "Kau boleh bunuh kami kalau bisa, Pek-jit-kiam. Cabut pedangmu dan tunjukkan mana itu silat Pedang Mataharimu!"
Beng Tan marah. Sesabar-sabarnya pendekar ini, akhirnya dia merasa tidak senang dan naik darah juga. Laki-laki yang membentaknya tadi menusukkan tombak dan hampir saja mengenai telinganya. Saat Beng Tan mengebut senjata-senjata yang lain, tahu-tahu tombak itu nyelonong dengan licik. Beng Tan benar-benar tidak senang!
Ketika laki-laki itu membentak dan menyerangnya lagi setelah tombaknya luput, pendekar ini tiba-tiba berseru geram. Ia membalikkan badan, menangkap tombak tersebut, lalu mematahkannya.
"Kalian memang orang-orang tidak tahu diri. Baik, lihat dan saksikan ini. Apakah tulang kalian lebih keras daripada besi... pletak!"
Tombak yang patah menjadi dua itu membuat pemiliknya terkejut dan berseru kaget hingga terjerumus. Beng Tan menggerakkan kakinya untuk menendang. Ketika laki-laki itu menjerit dan terlempar dengan tulang iga patah, Beng Tan sudah berkelebat menangkap serta mematah-matahkan senjata yang lain.
"Tak-tak-pletak!"
Para pengeroyok gentar. Setelah Beng Tan mematah-matahkan senjata mereka, tiba-tiba saja wajah mereka pucat dan jerih. Pendekar itu menendangi mereka pula hingga tubuh-tubuh mereka berjatuhan sambil merintih. Kaki atau tangan mereka ikut patah pula. Ketika orang-orang itu pucat dan ngeri memandang pendekar ini, sementara yang lain mundur sambil berteriak-teriak, Beng Tan mengakhirinya dengan menangkap pergelangan tangan si Papan Besi dan menelikungnya ke belakang.
"Aku bukan pembunuh berdarah dingin. Mundurkan anak buahmu atau tubuhmu kulipat tiga!"
"Augh!" si Papan Besi meraung, papan tebalnya terlepas. "Hebat kau, Ju-taihiap. Tapi boleh bunuh aku, karena tidak mungkin aku menyuruh mereka mundur!"
"Kau tidak mau tunduk?"
"Chu-goanswe yang berwenang, aku tidak berani!"
Saat Beng Tan tertegun dan tawanannya merintih karena telikungannya diangkat lebih tinggi, sebatang panah besar tiba-tiba menyambar. "Bret!" Beng Tan terkejut dan menangkis. Ia menggerakkan tangannya yang lain, namun bajunya robek tertembus. Anak panah itu menancap di sana.
Ketika ia membalikkan badan dan melihat Chu-goanswe, laki-laki tinggi besar itu, Beng Tan menjadi marah dan menambah kekuatan tekukan pada tawanannya. Si Papan Besi berteriak dan tiba-tiba roboh pingsan karena pergelangannya dipatahkan oleh pendekar itu. Beng Tan kemudian menendang, membuat Chu-goanswe terkejut. Saat gendewa yang terpentang siap meluncurkan anak panah, sebuah batu hitam menghantam pergelangan tangan jenderal itu hingga gendewanya terlepas. Chu-goanswe sendiri berteriak tertahan.
"Jangan berbuat curang, atau aku akan melukai semua orang di sini dan kalian akan tahu rasa!"
"Ah," laki-laki itu terbelalak sambil memungut gendewanya lagi. "Kau hebat, Pek-jit-kiam. Dan aku sebagai orang gagah mengaku kalah. Kau boleh pergi dan biarkan kuperintahkan semua anak buahku mundur!"
Setelah membentak agar orang-orangnya mundur karena gentar oleh kehebatan ketua Hek-yang-pang itu, Beng Tan merasa lega. Namun, Wi Hong melengking-lengking memaki jenderal itu.
"Hei, jangan asal bicara! Aku mati-matian bertanding di sini, Goanswe. Serang dan bunuh laki-laki itu, atau aku akan menghajar kalian!"
"Tidak," jenderal ini menggeleng setelah melihat dan menyadari keadaan. "Pek-jit-kiam telah bermurah hati kepada anak buahku, Hujin. Nekat menyerang tentu membuat mereka celaka. Aku tidak mau mengorbankan anak buah."
"Tapi aku mati-matian bertanding di sini!"
"Kau hentikan saja, biarkan Pek-jit-kiam dan istrinya pergi."
"Ah, keparat kau, Goanswe! Kau pengecut dan licik. Aku justru akan membunuh lawanku ini... cring-crang!"
Pedang yang kembali bertemu dan saling bentur itu membuat Wi Hong semakin marah dan menekan Swi Cu. Swi Cu terdesak, namun ia pun menjadi marah. Ketika tujuh sinar bergulung pecah dari pedang Wi Hong—sebuah jurus berbahaya—wanita itu juga melenggang. Tiba-tiba keduanya melancarkan serangan maut dari ilmu pedang masing-masing.
"Berhenti!" Beng Tan bergerak karena tidak dapat membiarkan hal ini. Pendekar itu melihat Wi Hong mengeluarkan jurus dari silat Golok Im-hoat, di mana pedang menyambar dengan gaya golok. Istrinya pun terkejut dan tiba-tiba mengeluarkan jurus maut dari ilmu Pedang Matahari. Keduanya siap mengadu nyawa dengan jurus simpanan masing-masing. Keduanya sama-sama marah dan tidak lagi menghiraukan keselamatan, yang tentu saja sangat berbahaya.
Beng Tan yang terkejut tentu saja tidak tinggal diam. Ia berkelebat dan menggerakkan kedua ujung bajunya. Tamparan bagai ledakan petir mengenai pedang Wi Hong maupun Swi Cu.
"Plak-plak!"
Kedua wanita itu menjerit. Baik Wi Hong maupun Swi Cu sama-sama terlempar dan pedang mereka terlepas dari tangan. Keduanya terbanting oleh tamparan Beng Tan. Saat keduanya mengeluh dan meringis menahan sakit, Beng Tan bergerak menolong istrinya. Sementara itu, Wi Hong menangis dan bangkit sambil memegangi bagian belakang tubuhnya dengan gerakan terseok-seok.
"Keparat! Licik dan curang kau, Beng Tan. Coba hadapi putraku kalau berani menang. Kau laki-laki pengecut, beraninya hanya terhadap wanita!"
"Hm, aku memang hendak menemui Giam Liong. Suruh putramu ke mari, Wi Hong. Dan jangan kau bertingkah kalau tidak ingin kuhajar!"
"Ah, keparat! Kau jahanam!" Wi Hong membalikkan badan dan memekik marah. Ia berkelebat pergi meninggalkan tempat itu sambil memanggil-manggil Giam Liong.
Beng Tan menunggu sambil menarik napas dalam. Chu-goanswe dan yang lainnya akhirnya pergi, membiarkan pendekar itu berdua dengan istrinya. Namun, ketika satu jam kemudian Giam Liong tidak juga muncul dan tempat itu mulai sepi, Beng Tan bergerak menepuk pundak istrinya.
"Kita pergi..."
Baru saja dia berkata begitu, mendadak berkesiur angin dingin dan Giam Liong sudah ada di situ, berdiri dengan kening berkerut. Caping melekat di atas kepalanya, menutup rapat sebagian wajahnya.
"Maaf, selamat bertemu, Ayah. Aku di sini dan baru sekarang dapat datang."
Beng Tan membalikkan badan. Dia terkejut oleh kesiur angin dingin itu dan lebih terkejut lagi melihat gaya munculnya pemuda ini yang menyerupai Si Golok Maut. Tapi ketika dia sadar—dan Swi Cu juga kaget karena kemunculan Giam Liong sungguh mirip mendiang ayahnya—Beng Tan segera menguasai diri dan berdehem.
"Hm, kau Giam Liong. Kenapa baru muncul sekarang?"
"Maaf, aku tidak ada di tempat, Ayah. Dan baru sekarang dapat datang. Apa maksud Ayah mencari-cariku?"
"Dia bukan ayahmu lagi!" Swi Cu menyemprot, merasa panas teringat anaknya yang ditukar. "Kami bukan apa-apamu lagi, Giam Liong. Dan tidak perlu menyebut-nyebut itu."
"Hm, Bibi masih galak, tapi aku masih ingat budi baik dan segala yang pernah dilimpahkan kepadaku. Aku masih menganggap suamimu seperti ayahku sendiri, Bibi."