Chapter 122
"Apalagi karena kau adalah sumoi ibuku."
"Tutup mulutmu, aku benci kepada ibumu itu!"
Namun, ketika Beng Tan cepat-cepat menyambar dan menarik lengan isterinya, Giam Liong tak acuh dan dingin memandang mereka. Jago pedang ini mengangguk-angguk dan memandang bekas puteranya itu dengan tatapan yang sama-sama tajam dan angker.
"Giam Liong, kau sungguh seperti mendiang ayahmu. Gagah dan mengagumkan. Tapi kedatanganku bukan untuk memuji, melainkan bicara denganmu tentang ikut masuknya kau ke kaum pemberontak."
"Maksud Ayah?"
"Kau jangan terbujuk orang she Chu itu. Lepaskan dirimu dari mereka dan pisahkan urusan pribadi dengan urusan negara!"
"Hm, kupikir aku lebih tahu dari Ayah. Aku hanya membantu orang yang kebetulan mendapat tekanan yang sama, Ayah. Dan kupikir aku dapat membedakan mana urusan pribadi dan mana urusan negara."
"Bagus, tapi kenapa kau bersama para pemberontak itu? Tidakkah kau tahu bahwa sejak dulu Dinasti Chu adalah orang-orang pemberontak? Negara sudah aman dan tenteram, Giam Liong. Jangan bantu orang-orang itu agar tak ada perang atau kekacauan. Itu salah!"
"Hm, aku tak membantu pemberontak, aku membantu pejuang."
"Pejuang apa!" Swi Cu tiba-tiba membentak, lagi-lagi mendahului suaminya. "Kau dan ayahmu sama saja, Giam Liong. Sama-sama keras kepala dan tak mudah disadarkan!"
"Sudahlah, kau tak usah bicara," Beng Tan terkejut dan mencengkeram isterinya. "Jangan gagalkan usahaku, Niocu. Biarkan aku dengan Giam Liong."
Giam Liong mengangkat sedikit wajahnya. Pemuda itu tak bergeming oleh kata-kata atau bentakan wanita itu, tatapan matanya dingin dan tetap beku. Dan ketika di bibirnya tersungging senyuman sedingin es, Beng Tan meminta maaf atas kekasaran isterinya tadi.
"Tak apa, aku sudah tahu. Silakan Ayah bicara lagi dan akan kudengarkan sampai selesai."
Beng Tan tertegun. Dia melihat persamaan watak dan sikap pemuda ini dengan mendiang Si Golok Maut; beku, dingin, serta tak acuh! Tapi ketika ia mengeretakkan giginya dan harus bicara, suara pendekar ini mulai berubah menjadi berat dan kaku.
"Giam Liong, aku datang untuk menyadarkan dirimu agar tidak membantu pemberontak. Siapapun tahu bahwa Chu Kiang bukanlah pejuang, melainkan pemberontak. Bagaimana kau tidak tahu bahwa orang itu pemberontak? Rakyat sudah aman dan tenteram, Giam Liong, dan Kaisar telah berhasil memadamkan pemberontakan-pemberontakan yang lalu. Sekarang ini tak ada yang patut disebut pejuang kecuali pemberontak. Chu Kiang adalah pemberontak dan kau jangan ikut membelanya!"
"Hm, pandangan kita berbeda. Justru pejuang dan pemberontak tak dapat kau beda-bedakan, Ayah. Orang yang kaudebut baik adalah jahat, sedangkan yang jahat kaudebut baik. Aku justru menganggap Chu-goanswe pejuang karena ia betul-betul memperjuangkan kepentingan rakyat, kepentingan masa depan!"
"Rakyat? Kepentingan masa depan? Ah, kau telah dibius laki-laki itu, Giam Liong. Kau ditipu. Kau tak tahu siapa pejuang siapa pemberontak. Pemberontak itu tak harus ada di masa aman. Orang she Chu itu pengacau! Dan pejuang, ah, apa yang harus diperjuangkan lagi? Rakyat tenang dan tenteram, Giam Liong. Tak ada yang diperjuangkan karena semuanya telah dipenuhi Kaisar!"
"Hm, itu menurut pendapat Ayah, pandangan Ayah. Tapi apakah buktinya bisa begitu? Baik, kalau benar begitu, coba berikan kepada kami Coa-ongya dan Kedok Hitam itu, Ayah. Buktikan bahwa Kaisar dapat memberikan semuanya kepada rakyat!"
Beng Tan tertegun. "Ayah dapat mengusahakan ini?"
Giam Liong tertawa mengejek. "Coba buktikan kepadaku bahwa Kaisar telah memenuhi semuanya kepada rakyat, Ayah. Dan berikan kepadaku si Kedok Hitam yang keji itu. Rakyat yang tenteram tak boleh dihuni iblis seperti si Kedok Hitam itu. Dan Chu-goanswe tak menghendaki pula adanya Coa-ongya yang licik dan culas. Konon katanya dia amat mempengaruhi Kaisar!"
"Hm-hm!" Pendekar ini terpojok; bekas puteranya itu tiba-tiba saja pandai bicara. "Kau pintar dan maju bersilat lidah, Giam Liong. Tapi sebagian tak dapat diterima. Seperti halnya Kedok Hitam dan Coa-ongya itu. Mana mungkin aku memberikannya kepadamu? Mereka bukan benda mati, melainkan manusia hidup. Dan Coa-ongya pun adalah keluarga dekat Sri Baginda yang tak mungkin diminta begitu saja. Kau tidak tepat meminta bukti!"
"Ayah pandai mengelak," si pemuda tak mau kalah. "Kalau begitu begini saja, Ayah. Bagaimana pendapat Ayah tentang si Kedok Hitam atau Coa-ongya itu? Apakah mereka orang-orang baik yang memang pantas tinggal di istana? Apakah patut mereka itu memimpin atau melindungi rakyat?"
Beng Tan tertegun, matanya terbelalak, tak dapat menjawab.
"Bagaimana, Ayah? Apakah Ayah menilai orang-orang itu baik dan patut bersama rakyat? Apakah orang-orang macam begini tak sepantasnya ditendang atau dibunuh?"
"Hm, aku mengakui mereka itu memang orang-orang yang kurang baik, Giam Liong. Tapi itu adalah urusan mereka sendiri. Tak seharusnya urusan atau pandangan pribadi lalu dikembangkan menjadi urusan negara!"
"Tapi mereka bersembunyi di balik negara, mereka bersembunyi di balik kekuasaan Kaisar!"
"Benar, tapi mereka tetaplah mereka, Giam Liong. Jangan lalu dikembangkan menjadi urusan negara. Pemberontakan atau calon pemberontakan yang dilakukan Chu-goanswe itu adalah salah. Dua orang yang jahat lalu semuanya hendak dibasmi! Apakah ini adil?"
"Kalau begitu serahkan dua orang itu kepada kami. Si Kedok Hitam dan Coa-ongya."
"Aku tak dapat melakukan ini," Beng Tan tiba-tiba bingung. "Aku mengaku bahwa mereka kurang baik, tapi tidak seharusnya urusan pribadi dikembangkan menjadi sebuah pemberontakan!"
"Kalau begitu Ayah tidak adil," Giam Liong tertawa dingin. "Jelas ada orang bersalah tapi masih juga dilindungi. Hm, di sinilah letak perbedaan kita, Ayah. Kau menghendaki ketidakkacauan, namun justru kau sendiri yang berbuat kacau!"
"Aku tidak berbuat atau berpikiran kacau. Aku hanya menghendaki bahwa urusanmu pribadi dengan si Kedok Hitam jangan dicampuradukkan dengan rencana pemberontakan!"
"Jadi Ayah menghendaki aku berdepan dengan si Kedok Hitam itu? Tidak melibatkan orang lain?"
"Ya, tentu saja!"
"Kalau si Kedok Hitam melibatkan orang lain, bukan aku?"
"Maksudmu?"
"Lihat, laki-laki itu licik mengerahkan pengawal-pengawal istana, Ayah. Bahwa ia tak ksatria dan menarik banyak orang untuk menghadapi aku. Kalau aku dikeroyok dan kemudian membabat mereka, apakah ini salah? Bukankah aku sendirian sementara laki-laki pengecut itu dibantu banyak orang? Lihat, siapa yang tak adil dan melibatkan orang lain, Ayah. Aku atau dia!"
Beng Tan tertegun.
"Dan ingat ketika dulu si Kedok Hitam membunuh ayahku. Dia datang dan mengeroyok bersama lima ribu pasukan. Apakah ini adil dan pantas? Apakah ini gagah dan ksatria? Aku pribadi siap bertindak dan berbuat secara ksatria, Ayah. Tapi kalau lawan menggunakan pasukan dan tentara kerajaan, maka aku akan mengimbanginya dengan bergabung bersama Chu-goanswe dan orang-orangnya itu. Mereka juga membenci dan mengutuk istana!"
"Ah!" Beng Tan terkejut, termangu-mangu.
"Tapi ini berarti kekacauan, Giam Liong. Ini berarti menyusahkan rakyat. Rakyat yang tidak berdosa bakal terseret dan terbawa-bawa. Ini yang tidak kukehendaki!"
"Kalau begitu Ayah bawa si Kedok Hitam dan Coa-ongya itu. Kami berdua akan menghadapinya secara jantan, tidak membawa-bawa rakyat! Sanggup?"
Sang pendekar tertegun, pucat. "Giam Liong..." kata-katanya berubah ngeri. "Beberapa saat saja kau meninggalkan kami, tapi tiba-tiba sekarang kau demikian pandai bicara dan mengadu kata. Ah, apa yang harus kukatakan kepadamu? Aku hanya menghendaki agar urusanmu pribadi jangan dicampuradukkan dengan urusan pemberontakan. Kalau kau mau mencari si Kedok Hitam itu, silakan cari, tapi jangan bersama-sama Chu Kiang!"
"Tapi lawanku itu licik berlindung di balik jubah Kaisar. Dia berlindung dan bersembunyi di balik ribuan pasukan. Apakah aku harus sendirian saja menghadapi orang selicik ini? Aku siap bertanding dan menyelesaikan urusan pribadiku secara ksatria, Ayah. Tapi lawanku itu juga harus bersikap sama dan jangan licik bersembunyi di balik istana. Suruh dia keluar dan kita berdua mengadu jiwa!"
"Aku tak dapat mengajak Kedok Hitam kemari. Dia bukan benda mati melainkan manusia hidup!"
"Kalau begitu jangan Ayah menyalahkan aku kalau aku akan mendatangi istana dan mencarinya di sana. Chu-goanswe tentu membantuku karena ia juga ingin menangkap Coa-ongya!"
"Ah-ah, aku bingung..." sang pendekar menggigil di tempat. "Aku tahu dan mengerti bahwa dua orang itu memang bukan orang baik-baik, Giam Liong. Tapi rasanya tak mungkin bagiku membiarkan kau bersama pemberontak menyerbu istana. Itu pengacauan.."
"Kalau begitu Ayah bujuk mereka kemari...."
"Tak mungkin. Coa-ongya bangsawan terhormat yang tak mungkin mau ke sini, Giam Liong. Dan Kedok Hitam, ah... dia tentu melindungi Coa-ongya. Aku tak dapat melakukan semuanya itu. Kau harus mendapatkannya sendiri, tapi jangan membawa-bawa pemberontak!"
"Tentu, kalau musuh-musuhku itu juga bukan manusia-manusia curang yang licik. Tapi kau tahu sendiri watak mereka, Ayah. Bagaimana sepak terjang mereka menghadapi aku; mengeroyok dan lalu lari bersembunyi!"
"Hm, kau sudah gagal!" Swi Cu kini tiba-tiba bicara, mengejek suaminya. "Kau tak dapat memaksa anak ini, suamiku. Daripada capek lebih baik pulang!"
Beng Tan pucat. Akhirnya dia menjadi bingung oleh sergahan atau tanggapan pemuda ini. Giam Liong yang dulu tenang dan tak banyak bicara, tiba-tiba kini dapat menangkis dan selalu memojokkannya. Dia benar-benar bingung. Dan karena dua orang itu memang licik dan licin—Kedok Hitam maupun Coa-ongya adalah orang-orang yang penuh tipu muslihat—maka pendekar ini gemetar mencengkeram lengan isterinya, beradu pandang dengan bekas puteranya itu, namun tatapan puteranya dingin dan tak dapat ditekuk.