Chapter 123
Pemuda itu tidak mau membawa-bawa pemberontak asal Kedok Hitam maupun Coa-ongya, juga tidak membawa-bawa pasukan. Hal itu mustahil dilakukan karena dua orang tersebut merupakan penghuni istana.
Ketika pendekar itu gemetar dan menggigil sendirian tanpa mampu menjawab, istrinya menariknya untuk pergi.
"Sudah, pembicaraan ini selesai. Anak ini tidak dapat dibujuk!"
"Tidak," pendekar itu tiba-tiba melepaskan diri. "Aku sekali lagi hendak bicara, Giam Liong. Janganlah membawa-bawa pemberontak kalau ingin mencari Kedok Hitam. Pancing dan ajaklah dia keluar jika ingin menyelesaikan urusan pribadi. Aku tidak mau rakyat terbawa-bawa!"
"Ayah boleh sampaikan undanganku kepadanya. Kalau tiga hari ia tidak datang di seberang hutan itu, maka aku akan menyerbu istana dan menghadapinya di sana. Nah, terserah Ayah apakah mau atau tidak!"
"Kau tetap bersama pemberontak?"
"Ayah ingin aku tidak bersama pemberontak?"
"Ya, tentu saja, Giam Liong. Aku tidak mau kau mengguncang rakyat dengan sepak terjangmu!"
"Kalau begitu, tolong Ayah beri tahu si Kedok Hitam itu agar menemuiku di hutan seberang itu. Aku tidak akan membawa-bawa Chu-goanswe asal dia datang sendiri!"
"Baik, akan kusampaikan, Giam Liong. Tapi jangan melanggar janjimu atau aku tidak akan menghormatimu lagi sebagai pemuda gagah keturunan Sin Hauw!"
Bingung serta marah oleh kejadian yang amat rumit ini, Beng Tan menyanggupi permintaan bekas putranya. Pendekar itu berkelebat dan tiba-tiba meluncur ke sungai. Sebuah perahu terapung-apung di sana. Sekali ia meloncat, perahu itu pun sudah didayungnya dengan cepat.
"Giam Liong, aku akan membawa lawanmu itu ke sini. Tunggulah tiga hari dan akan kuusahakan agar dia datang!"
"Baik, terima kasih, Ayah. Tapi kalau ia tidak datang, tentu aku akan menyerbu istana!"
Beng Tan menggigit bibirnya. Geraham pendekar itu sampai berkeriuk ketika digerak-gerakkan. Banjir darah bakal terjadi kalau Giam Liong sampai menyerbu istana. Sendirian saja sudah berbahaya, apalagi kalau bersama pemberontak Chu Kilang. Karena ia ingin menyelamatkan rakyat dan tidak ingin ada korban sia-sia, pendekar yang memang mulia itu cepat-cepat mendorong perahunya ke hutan di seberang. Ia meloncat dan berjungkir balik ketika perahunya masih beberapa meter dari tepian.
Ketika istrinya terkejut dan ikut berjungkir balik keluar dari perahu, pendekar itu menyambar istrinya dan diajak terbang ke istana.
"Kita tidak boleh menunda-nunda waktu lagi. Aku ingin mencegah peperangan."
"Hm, perang dalam arti luas mungkin dapat kaucegah, suamiku. Tapi perang dalam arti sempit tidak mungkin kaucegah. Giam Liong amat mendendam kematian ayahnya!"
"Aku akan membawa si Kedok Hitam itu. Aku akan menyuruhnya bertanding di sana. Tidak boleh ada pertumpahan darah yang lain!"
"Kau sangka gampang? Hm, Kedok Hitam bukan orang gagah yang dapat bertindak ksatria, suamiku. Kaupun pasti gagal dan tidak mungkin membujuknya. Pemberontak pasti menyerbu!"
"Ah, kau jangan membuat aku khawatir. Apa yang belum terjadi sebaiknya jangan dibayangkan terjadi dulu. Mari kita ke istana dan jangan membuatku gelisah..."
Beng Tan yang mengajak istrinya terbang, lalu meluncur dan meninggalkan hutan.
"Aku ingin bertemu dan bicara dengan Kedok Hitam," begitu Beng Tan berkata ketika berhadapan dengan Coa-ongya.
Pendekar ini kembali ke istana dan saat itu juga meminta bertemu Kedok Hitam ketika Coa-ongya bertanya apa keperluannya. Pangeran itu mengerutkan kening dan memandang tajam penuh selidik. Tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan dan Yu Yin, gadis cantik itu, muncul. Ketika gadis ini terheran kenapa malam-malam ayahnya menerima tamu, Beng Tan terkejut ketika gadis itu berseru, "Ah, Hek-yan-pangcu kiranya. Selamat malam, Pangcu. Dan kau tentu tidak akan bersembunyi di rumah Bo-ciangkun lagi!"
"Hm, maaf," Beng Tan mengangguk. Istrinya juga mengerutkan kening. "Aku datang tidak lagi sembunyi-sembunyi, Nona. Karena aku memang ingin bertemu ayahmu. Selamat malam dan mudah-mudahan kedatanganku tidak mengganggu."
"Ju-taihiap ada keperluan apa?" gadis itu bertanya kepada ayahnya. "Kenapa wajahnya tampak tegang?"
"Hm, Ketua Hek-yan-pang ini ingin bertemu gurumu. Dia datang ingin bertemu Kedok Hitam, Yu Yin. Apakah gurumu ada di belakang dan dapatkah kau memberitahunya?"
"Ingin bertemu Suhu? Ah, tadi tidak ada di belakang, tapi mungkin di lain tempat!"
"Kalau begitu coba tolong kau cari. Hek-yan-pangcu ada keperluan penting!"
"Baik, kucari, Ayah. Dan akan kuberi tahu," gadis itu berkelebat lenyap dan kini pendekar itu kembali berhadapan dengan Coa-ongya.
Ketika pangeran itu mengeluarkan senyum mengejek dan bertanya apakah keperluan pendekar itu tidak dapat diutarakan saja kepadanya, Beng Tan menggeleng. Pangeran ini mengangguk dan berkata, "Baiklah, kau tunggu di sini, Taihiap. Aku akan mencarinya dan kau tentu akan bertemu!"
Beng Tan memandang gemas. Ia mendengar istrinya mendengus pendek dan tiba-tiba muncul lagi putri Coa-ongya itu. Ia berkata bahwa gurunya tidak ada dan bertanya di mana ayahnya tadi. Ketika pendekar ini menjawab bahwa ayahnya pun pergi ke belakang mencari Kedok Hitam, gadis itu berkelebat lagi mencari ayahnya.
"Aku heran ke mana perginya Suhu. Tapi Ayah biasanya memang lebih tahu daripada aku. Baik, kau tunggu sebentar di situ, Hek-yan-pangcu. Ayah pasti akan segera kembali!"
Beng Tan mengangguk diam. Diam-diam ia saling pandang dengan istrinya, masing-masing menyorotkan rasa heran bahwa gadis itu tidak tahu di mana Kedok Hitam. Tapi ketika mereka hendak berbisik dan menyatakan keheranan ini, tiba-tiba berkesiur angin dingin dan Kedok Hitam—laki-laki tinggi tegap yang bermata seperti elang itu—muncul tanpa Coa-ongya.
"Hek-yan-pangcu, kau rupanya serius ingin bertemu dengan aku. Mari, kita keluar!"
Beng Tan tidak terkejut. Ia melihat bayangan laki-laki itu. Si Kedok Hitam yang selalu menutupi mukanya dengan saputangan hitam itu sudah berkelebat, langsung keluar gedung. Ketika laki-laki itu melayang dan bergerak cepat di atas wuwungan menuju ke selatan, Beng Tan bergerak dan tiba-tiba pendekar ini pun melesat ke atas.
"Orang yang kita cari sudah muncul. Mari, kita kejar dia!"
Swi Cu terkejut. Kedok Hitam yang lama tidak mereka temui, kini tiba-tiba sudah jauh di depan. Laki-laki itu berkelebatan dari satu rumah ke rumah lainnya, gerakannya bagaikan iblis. Tapi begitu suaminya menyendal dan mereka bergerak mengejar, Beng Tan telah berkelebat dan melayang naik di puncak wuwungan istana. Bayangan Kedok Hitam dikejar.
Mula-mula jarak mereka cukup jauh dan lawan rupanya memang menguji; laki-laki itu sudah hampir lenyap di luar istana. Tapi begitu Beng Tan mengeluarkan seruan pendek dan mengerahkan segenap tenaganya, kaki tiba-tiba menjejak dan melesat puluhan meter. Swi Cu terbawa dan terangkat lebih tinggi. Tiba-tiba pendekar itu telah berada di belakang laki-laki ini dan Kedok Hitam terkejut.
"Aih, hebat. Kepandaianmu pun maju pesat, Hek-yan-pangcu. Tapi mari kita berputar-putar sebentar mencari tempat yang enak. Di luar pintu gerbang ada pesanggrahan kaisar di kala berburu!"
Beng Tan mengeluarkan suara dari hidung. Berputar-putar sebentar berarti mengajak berlomba lari cepat. Benar saja, lawannya itu tancap gas dan melesat sejauh belasan meter. Sekali lompat, tahu-tahu ia melewati pintu gerbang yang tinggi. Ketika laki-laki itu turun dan berjungkir balik di sana, meluncur dan terbang meninggalkan dirinya, pendekar ini tertinggal. Beng Tan cepat berseru, "Kedok Hitam, tidak usah berbasa-basi. Kau ingin mengadu ilmu lari cepat, mari berlomba!"
"Ha-ha, Ju-taihiap cepat tanggap. Ah, aku hanya ingin mengeluarkan keringat, Taihiap, jangan terlalu perasa. Mari berputar-putar sebentar dan siapa lebih dulu sampai di pesanggrahan kaisar itu!"
Beng Tan terkejut. Lawan yang ada di depan tiba-tiba melesat dan terbang ke hutan kecil di pinggir sebuah sungai. Ada lampu kelap-kelip di sana karena itulah tempat kaisar beristirahat bila sedang berburu. Karena Kedok Hitam lebih dulu di depan dan jelas meninggalkannya di belakang, laki-laki itu licik mencari kemenangan. Tiba-tiba pendekar ini marah karena ditantang. Ia tidak takut, tapi watak licik lawan membuatnya gemas. Mana menantang sementara diri sendiri sudah lebih dulu di depan? Bukankah itu mempergunakan kesempatan secara tidak gagah?
Tapi karena pendekar ini adalah Ketua Hek-yan-pang yang berwatak gagah, tantangan itu diterima meskipun ia tertinggal belasan meter. Tiba-tiba Beng Tan mengeluarkan seruan nyaring dan tangan kirinya bergerak menghantam tanah.
"Blarr!"
Sinar keemasan mengejutkan Kedok Hitam. Laki-laki itu menoleh ketika tiba-tiba Beng Tan mengeluarkan kepandaiannya yang luar biasa, satu pukulan emas yang menghantam tanah. Ketika sinar emas itu melempar tubuh pendekar ini ke atas—Beng Tan mengeluarkan pukulan Kimlui (Sinar Emas Menghantam Guntur)—maka tiba-tiba dengan daya lontar pukulan itu, sang pendekar sudah melampaui dan lewat di atas kepala lawan.
"Heii..." Kedok Hitam terpekik kaget. Tentu saja ia kaget karena lawan yang tadinya ada di belakang mendadak sudah lewat di atas kepalanya, terlempar atau terdorong oleh Kim-kong-to-lui itu.
Ketika laki-laki ini membentak dan balas melepas pukulan ke tanah, sinar emas juga berkelebat menggetarkan bumi, maka tubuh Kedok Hitam terlempar atau terbawa oleh pukulan ini.
"Blar-blar!"
Beng Tan terkejut. Lawan mengeluarkan pukulannya pula dan angin pukulan itulah yang melempar si Kedok Hitam. Ketika laki-laki itu terbahak karena dapat menyusul, kini berendeng dan bersama Beng Tan, maka Beng Tan berseru tertahan melepas Kimluinya lagi. Kedok Hitam melepas dua pukulannya sementara dia tadi hanya sekali, jadi laki-laki itu licik. Tapi begitu pendekar ini melepas pukulannya dan lawan terkejut, Beng Tan sudah di depan. Kedok Hitam tidak mau kalah dan melepas pukulannya ke tanah.