Chapter 124
Dua laki-laki itu terbawa atau terloncat oleh ledakan sinar emas tersebut; masing-masing terlempar dan telah berjungkir balik meluncur lagi. Ketika Swi Cu tertegun karena ia sudah dilepas suaminya, Beng Tan tidak ingin membawa beban, sehingga baik Kedok Hitam maupun lawannya beradu cepat menuju hutan di pinggir sungai itu.
Ledakan-ledakan emas melempar keduanya seperti cahaya petir yang menyambar-nyambar. Namun, ketika pukulan Beng Tan lebih keras—yang berarti melempar pendekar itu lebih jauh—Kedok Hitam menjadi pucat. Tiba-tiba, laki-laki itu melepas pukulannya ketika Beng Tan sudah hampir tiba di pesanggrahan tersebut, bukan ke tanah, melainkan ke tubuh pendekar ini!
"Haii...!" Swi Cu terpekik.
Nyonya ini melihat ancaman ke tubuh suaminya, dan Beng Tan juga terkejut oleh perbuatan si Kedok Hitam itu. Dari dulu sampai sekarang, ternyata laki-laki ini curang! Namun, ketika Beng Tan membalik dan mendengar kesiur angin pukulan itu, sang istri memperingatkan dan memarahi Kedok Hitam. Pendekar itu menangkis, dan untuk ini, Kedok Hitam tertawa terbahak-bahak. Dia terpental dan mempergunakan daya tolak tersebut untuk melambung tinggi, berjungkir balik, dan melewati kepala Beng Tan.
Ketika Beng Tan tertegun karena lawan sudah hinggap di bangunan kecil, yakni pesanggrahan kaisar, lawannya berseru kepadanya bahwa dia kalah.
"Bagus, tapi aku menang. Ha-ha, aku lebih dulu tiba di sini, Hek-yan-pangcu. Kau kalah dan nomor dua!"
"Hm, kau licik!" Beng Tan bergerak dan berkelebat memasuki pesanggrahan itu. "Dari dulu sampai sekarang tetap saja kau curang, Kedok Hitam. Sungguh tak tahu malu!"
"Ha-ha, dalam adu kepandaian bukan hanya okol yang harus digunakan, tetapi juga akal. Kau kalah cerdik, Pangcu, dan tak usah marah-marah kepadaku!"
"Baiklah, kau menang meskipun curang." Ketika Swi Cu juga berkelebat dan memasuki rumah kecil ini, memaki si Kedok Hitam, laki-laki itu tertawa dan bertanya tanpa peduli pada kemarahan nyonya tersebut.
"Katakan apa yang ingin kaubicarakan. Kukira cukup dan aman di sini."
"Aku hendak menyampaikan tantangan Giam Liong," pendekar itu mengerutkan kening, mulai bicara. "Pemuda itu menantangmu di tepian hutan sana, Kedok Hitam. Kau diharapkan datang dan ditunggu dalam tiga hari ini. Kuharap kau datang, atau pemuda itu akan mencarimu di istana dan Chu Kiang akan menungganginya sebagai pemberontak!"
"Kau hendak menyampaikan ini? Kau berpihak kepada pemuda itu?" Kedok Hitam terkejut, tak menyangka, dan tiba-tiba saja ia marah memandang lawannya.
Namun, ketika Beng Tan menggeleng dan berkata bahwa ia tak membela siapa-siapa, hanya menyampaikan pesan, pendekar itu berkata, "Pemuda itu hendak menuntut balas; kau telah membunuh ayahnya. Dan karena kau amat bertanggung jawab dalam hal ini, sudah wajar bila pemuda itu mencarimu. Aku tidak membela atau berpihak kepada siapa-siapa, Kedok Hitam, melainkan semata ingin menjaga ketenangan rakyat. Chu Kiang telah membujuk dan memengaruhinya. Dia bukan Si Golok Maut Sin Hauw yang bergerak sendiri!"
"Hm, tapi kau menyampaikan pesan ini," Kedok Hitam mengejek, mata bersinar-sinar, tetap marah. "Kau tak mau dibilang berpihak, tapi kau mencari dan memberitahuku tantangannya, Hek-yan-pangcu. Berarti sama saja!"
"Kau tak mungkin muncul kalau pemuda itu mencari dan menantangmu di istana. Aku menengahinya agar rakyat tidak terlibat, Kedok Hitam. Dan pemuda itu juga berjanji untuk tidak membawa-bawa Chu Kiang asal kau datang, tidak bersama pasukan atau pengawal kerajaan," Beng Tan sengit, membalas berkata keras. Tiba-tiba Swi Cu juga membentak agar Kedok Hitam tidak menyalahkan suaminya. Nyonya itu berseru bahwa suaminya semata menjaga ketenteraman istana, atau semua bakal terlibat, padahal yang membuat gara-gara hanya satu orang, laki-laki itu.
Ketika Kedok Hitam tertegun karena nyonya ini berapi-api dan menuding, Swi Cu menutup dengan satu kata-kata keras, "Kalau kau benar-benar lelaki, semestinya tak usah kau takut menerima tantangan ini, atau marah-marah kepada suamiku dan menyalahkannya. Suamiku hanya ingin menyelesaikan persoalan ini tanpa melibatkan orang lain, Kedok Hitam. Baik pasukan istana maupun pemberontak Chu Kiang itu. Kau tentu tak takut kalau kau bukan pengecut!"
"Hm, aku tentu saja tak takut!" Kedok Hitam terbakar, membentak. "Bocah itu atau siapa pun tak perlu kutakuti, Hujin. Segala macam pemberontak liar tentu akan kuhadapi. Dulu aku bertindak bukan atas nama pribadi, melainkan negara. Sungguh kurang ajar kalau bocah itu mau menantangku sebagai pribadi. Baik, siapa takut kepadanya? Hanya penyampaianmu ini akan kulaporkan kepada kaisar, Ju Beng Tan. Dan biar kaisar sendiri yang menilai sikapmu!"
"Cih, kenapa membawa-bawa kaisar? Kau selalu bersembunyi di balik kekuasaan orang lain, Kedok Hitam. Dari dulu sampai sekarang tetap saja sama. Siapa pun tahu bahwa kau membunuh mendiang Si Golok Maut Sin Hauw atas dasar kekhawatiran dirimu menerima balasannya. Kau mempermainkan dan menghina keluarganya!"
"Tutup mulutmu!" Kedok Hitam tiba-tiba membentak. "Menghormati suamimu, jangan mengungkit-ungkit masa lalu, Hujin. Atau aku tak akan menghargaimu dan bersikap kasar!"
"Bersikap kasar? Boleh, dari dulu sampai sekarang kau sebenarnya kasar, Kedok Hitam. Hanya berpura-pura halus saja kalau kau berjubah pangeran. Ayo, lepas kedokmu dan kita bertanding seribu jurus!"
Beng Tan terkejut. Sang istri tiba-tiba marah dan mencabut pedangnya. Kedok Hitam tampak pucat dan merah berganti-ganti. Namun, ketika nyonya itu melengking dan siap menyerang, dengan jari dan kaki menggigil untuk bergerak, tiba-tiba Beng Tan menyambar istrinya dan merebut pedang itu.
"Niocu, hentikan. Tak usah membawa-bawa nama jabatannya. Yang kita hadapi adalah Kedok Hitam dan bukannya pangeran. Ayo simpan pedangmu dan mundur!" Tapi ketika sang istri ditarik dan Kedok Hitam terlanjur marah dan hampir saja menerkam, tiba-tiba lelaki itu berkelebat dan keluar dari pesanggrahan kaisar.
"Hek-yan-pangcu, istrimu sungguh tak tahu adat. Baik-baik aku mengikuti kehendakmu, tiba-tiba saja di sini aku dihina. Baiklah, tak usah kita bicara lagi dan katakan kepada bocah she Sin itu bahwa tiga hari lagi aku datang!"
Beng Tan tertegun, ia menyesal bahwa istrinya bicara yang bukan seharusnya. Kedok Hitam adalah Kedok Hitam dan bukan orang lain, baik dalam "jubah" pangeran ataupun jubah kaisar. Tapi karena omongan telah dilepaskan dan Kedok Hitam marah bukan main—untung dapat mengendalikan diri karena ada ia di situ—pendekar ini mencekal erat-erat pergelangan istrinya dan berseru memberi jawaban pada laki-laki itu, "Kedok Hitam, kuhargai kejantanan dan kegagahanmu. Terima kasih bahwa kau mau menerima tantangan Giam Liong. Tapi harap jangan membawa-bawa pasukan, atau pemuda itu juga akan membawa-bawa temannya, pemberontak Chu Kiang!"
"Hm!" laki-laki itu mendengus dari jauh. "Aku pribadi tak akan membawa-bawa siapa pun, Hek-yan-pangcu. Tapi yang jelas semuanya ini akan kulaporkan kepada kaisar!"
Beng Tan tertegun. Untuk kedua kali, ia menerima jawaban licik yang licin. Kedok Hitam telah berjanji untuk tidak membawa-bawa orang lain, tapi akan melaporkan semuanya ini kepada kaisar. Berarti, kaisar akan melakukan sesuatu dan itu berarti bantuan kepada si Kedok Hitam ini, meskipun Kedok Hitam telah mengatakan akan datang sendiri. Karena semuanya itu merupakan kata bercabang dan Kedok Hitam sungguh licik, Beng Tan mengerutkan keningnya, dan Swi Cu yang juga menangkap kata-kata yang tersirat lalu membanting dan memukul-mukulkan kakinya.
"Licik, pengecut. Bilang tak akan membawa-bawa orang lain, tapi kaisar diberi tahu agar membantunya. Nah, apa yang sekarang akan kaulakukan, suamiku? Apakah membantu Giam Liong atau orang itu, atau berdiam saja di tengah-tengah?"
"Aku akan memberi tahu Giam Liong," Beng Tan menjadi khawatir. "Tapi aku juga tidak akan membantu anak itu selama Kedok Hitam berhadapan secara langsung!"
"Dan kau tak ingat anak kita sendiri? Tak segera mencari dan mencampuri urusan dua orang itu?"
"Hm, aku pribadi tak bermaksud mencampuri urusan ini, Niocu, kalau semuanya berjalan secara jantan dan adil. Tapi kalau Kedok Hitam bersikap licik, tentu saja aku harus bertindak!"
"Kau membantu Giam Liong?"
"Bukan Giam Liong, tapi keadilan!"
"Baiklah, dan kita tunggu waktu yang tiga hari itu. Setelah ini kita kerjakan urusan kita sendiri."
Beng Tan mengangguk. Dia sendiri sebenarnya tidak akan mencampuri urusan dendam-mendendam itu apabila Kedok Hitam bersikap jantan. Namun, karena Kedok Hitam dikhawatirkan akan meminta bantuan kaisar—yang berarti akan melibatkan pasukan besar—maka tentu pihak Giam Liong juga tak akan tinggal diam dengan majunya pemberontak She Chu. Jenderal itu telah memengaruhi dan membujuk Giam Liong secara cerdik. Beng Tan sendiri tidak tahu bahwa semuanya itu karena ajakan Wi Hong, ibu yang ingin putranya kelak menjadi "orang", berkedudukan, dan mendapat pangkat; semuanya itu tentu saja dapat diperoleh kalau membantu Chu Kiang, jenderal yang akan merebut kekuasaan tersebut.
Ketika Beng Tan khawatir karena Giam Liong kini diperalat orang lain dan dipergunakan kepandaiannya, pendekar itu bergerak dan mengajak istrinya kembali ke hutan di seberang, tempat di mana siang tadi mereka menemui anak itu. Namun celaka, Giam Liong tidak mereka temui. Beng Tan juga sudah bergerak ke tengah hutan, tempat gerombolan pemberontak kira-kira berada, namun nihil, pendekar ini tidak menemukan pemuda itu. Karena malam semakin larut sementara istrinya sudah tampak tidak senang, lelah, dan cemberut, maka Beng Tan menghentikan usahanya dan mengajak istrinya beristirahat.
Sementara pendekar itu termangu-mangu dan menghabiskan waktu dengan perasaan tidak tenang menanti hari pertama, di istana terjadi kegemparan dengan datangnya seseorang yang amat lihai!
Waktu itu, ketika Kedok Hitam meninggalkan pesanggrahan dengan marah besar akibat kata-kata Swi Cu, di istana datang seseorang yang terkekeh-kekeh.