Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 125

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 125

Orang itu datang dengan sikapnya yang menyeramkan, muncul begitu saja di depan pintu istana di hadapan belasan pengawal yang sedang berjaga.

Ketika pengawal terkejut dan membentak kakek berambut gimbal itu, mereka mencegat dan menyuruhnya berhenti.

"Stop! Mau ke mana dan siapa kau ini, si gila kotor?"

"Ha-heh..." kakek itu tertawa-tawa, rambut gimbalnya dikibaskan ke kanan dan kiri. "Aku mau menghadap kaisar, orang-orang tolol. Atau Kedok Hitam yang menjadi pembantu Coa-ongya. Aku mau melamar pekerjaan!"

"Pekerjaan apa?" pengawal membentak, tentu saja tak percaya. "Orang seperti kau tak dapat bekerja, tua gila! Pergi dan jangan main-main di sini!"

Pengawal itu menggerakkan tombaknya, bermaksud mengancam, tapi kakek itu tiba-tiba tertawa dan merampasnya. Ketika si pengawal terkejut karena tombaknya tahu-tahu telah berada di tangan kakek itu, sang kakek menekuk-nekuk lalu melempar tombak rampasan tersebut hingga menjadi tujuh potong.

"Heh-heh, kalian tikus-tikus busuk, jangan berlagak di depanku. Bawa aku ke kaisar atau aku mencarinya sendiri!"

Para pengawal terkejut. Pemilik tombak berteriak kaget dan hendak merebut senjatanya kembali, tetapi kakek itu menendangnya. Ketika si pengawal terbanting dan mengaduh tanpa bisa berdiri, teman-temannya tersentak, bergerak otomatis, dan mengurungnya. Kiranya kakek ini orang lihai.

"Kau siapa? Apakah antek pemberontak Chu Kiang?"

"Chu Kiang? Heh-heh, orang yang baru saja mengobrak-abrik istana itu? Wah, keliru, tikus cilik. Aku bukan antek siapa-siapa, justru aku datang untuk menghadapi pemberontak itu. Aku ingin mengisi lowongan membantu kerajaan. Aku mau mendaftar dan menjadi orang nomor satu di sini. Hayo, mana Sri Baginda atau Kedok Hitam yang katanya menjadi ketua panitia penguji orang-orang kang-ouw yang mau masuk?"

Para pengawal tertegun. Kakek yang tampak gila ini ternyata waras bicaranya. Bahkan, sekarang mereka tahu bahwa kakek ini hendak melamar pekerjaan untuk membantu kaisar menghadapi pemberontak. Namun, karena kakek ini tampak aneh dan tidak mereka kenal—padahal setiap pendaftar harus dicatat identitasnya—mereka ragu. Sang komandan memberi isyarat agar kurungan dirapatkan.

"Heh, mau apa kalian ini? Kenapa tidak minggir malah mengurung rapat? Apa mau kuhajar?"

"Hm, maaf," sang komandan maju bicara, matanya bergerak tajam. Ia memegang golok bertangkai panjang dengan gagang berhias benang warna-warni. "Kami tak mengenalmu dan tak tahu siapa kau, orang tua. Sebutkan dulu siapa dirimu dan kami akan melapor ke dalam."

"Weh, disuruh tunggu? Memangnya kalian orang-orang yang dapat bekerja cepat? Tidak, aku tak sabar disuruh menunggu, pengawal. Lebih baik cepat antar aku atau aku yang nanti akan mencari sendiri Sri Baginda Kaisar. Atau, mana itu si Kedok Hitam!"

"Kalau begitu kami akan mengantar, Locianpwe," sang komandan tiba-tiba mengubah sebutan menjadi "Locianpwe", sebutan hormat bagi orang persilatan yang sudah tua karena kakek ini tampak lihai. "Tapi sebaiknya beritahukan dulu identitas dirimu agar kami dapat memberi tahu."

"Weh, kalian tak perlu tahu sekarang. Namaku amat berharga. Biar di depan kaisar saja kuberitahu!"

"Ah, tak dapat, Locianpwe. Kami tentu kena marah!"

"Kau begitu cerewet?" kakek itu membentak. Tangannya bergerak cepat dan sudah menangkap leher baju sang komandan yang terkejut bukan main. "Kalau kau bukan calon anak buahku, tentu kucekik mampus, tikus busuk. Ayo antar aku atau kupatahkan batang lehermu nanti!"

*Brukk!* Sang komandan dilepas hingga terbanting. Kakinya hampir saja lumpuh. Tentu saja dia marah, namun juga gentar. Karena kakek ini luar biasa lihai, komandan itu buru-buru menegakkan tubuh dan dengan ramah—meski menyimpan dendam—ia membungkuk.

"Locianpwe sungguh tak sabar. Baik, mari kuantar sendiri dan kita menghadap Sri Baginda!"

Sang komandan memberi isyarat kepada anak buahnya, lalu mengajak kakek itu menuju samping istana. Kakek itu terkekeh-kekeh melangkah bagai seorang panglima. Si kakek tidak tahu bahwa ia ditipu; sang komandan membawanya ke sebuah asrama tempat orang-orang kang-ouw yang ingin membantu kaisar ditempatkan. Sepanjang jalan, komandan itu berkedip kepada pengawal lain agar diam-diam mengikuti mereka.

Kakek itu berhenti di depan sebuah gedung panjang yang terbagi menjadi tiga ruangan besar. Di situ banyak orang bercakap-cakap, sementara sebagian lagi tidur-tiduran. Gedung ini biasa saja, tidak berkesan sebagai tempat tinggal kaisar.

"Mana Sri Baginda? Kenapa tidak tampak para dayang atau putri-putri cantik? Tempat macam apa ini!"

"Sabar," sang komandan tersenyum. Di situ ada seratus lebih orang kang-ouw. "Aku telah melaporkannya kepada atasanku, Locianpwe. Dia akan menyambutmu sendiri. Lihat, dia keluar!"

Laki-laki yang tadi diajak bicara oleh komandan memang keluar, tetapi tidak sendirian; ia diikuti puluhan orang. Kakek itu tertegun karena tahu-tahu sudah dikurung. Semua orang menggeram dan mengeluarkan seruan marah.

Laki-laki yang dihadapi komandan itu berdiri di depan kakek, sikapnya angkuh. "Kau katanya mau melamar pekerjaan, tapi malam-malam begini datang dan tidak mau menunggu besok. Apakah ini pantas kaulakukan, tua bangka? Mana sopan santunmu kepada istana? Sri Baginda sedang istirahat. Kalau kau benar-benar mau bekerja di sini, silakan robohkan mereka ini dan kau dapat menjadi yang nomor satu."

"Eh, siapa mereka ini? Dan kenapa aku dimusuhi?"

"Kau tak mau menyebutkan dirimu, orang tua. Kau patut dicurigai dan ditangkap. Nah, sekarang menyerahlah atau kami akan membunuhmu!"

Begitu laki-laki itu mengangkat senjata, seratus lebih orang di situ membentak dan berlompatan menerjang.

"Hei, heii, apa-apaan ini? Kenapa kalian menyerang!"

"Tak usah banyak cakap!" orang-orang kang-ouw itu berteriak. "Kau sombong dan katanya lihai sekali, kakek siluman. Hayo tunjukkan kepandaianmu!"

*Sing-singgg!* Golok dan pedang menyambar-nyambar, membacok kakek itu dari segala penjuru. Kakek itu terbelalak, matanya berkilat. Ia sadar telah ditipu. Saat melihat sang komandan tertawa tergelak dan mundur bersembunyi, kakek itu membentak dan tubuhnya sekonyong-konyong lenyap, didahului sinar kuning keemasan.

"Kau penipu, jahanam keparat!"

Para pengeroyok terkejut karena kakek itu lenyap seperti siluman, berubah menjadi asap halus berwarna kuning keemasan. Ketika sang komandan terkejut karena asap itu menyambarnya, kakek itu muncul kembali dan menangkap lehernya.

"Sekarang kau mampus!"

Komandan itu menjerit karena tulang lehernya tiba-tiba patah; ia tewas seketika.

"Nah, siapa mau seperti ini?" kakek itu melempar korbannya.

Gerakan kakek yang cepat itu membuat para pengeroyok gempar. Hujan senjata kembali berdesing menyambar. Namun, si kakek berkelebatan tanpa terkena satu pun sabetan. Ia tertawa terkekeh-kekeh sementara rambut gimbalnya meledak ke kiri dan kanan.

"Ha-ha, ayo maju! Siapa kalian dan kenapa tidak berpakaian seperti pengawal?"

"Kami calon pembantu Kaisar! Kami orang-orang yang sudah diterima untuk menghadapi pemberontak!"

"Ah, kiranya tikus-tikus busuk dari dunia kang-ouw. Bagus, bagus... kalian harus tunduk kepadaku, anak-anak. Akulah yang akan memimpin!"

*Wut-wut-plak!*

Rambutnya menjulur menyambar, membuat sembilan orang menjerit dan roboh. Karena rambut gimbal itu sudah berubah seperti kawat baja yang bergumpal dan penuh tenaga sinkang, mereka pingsan seketika. Kakek itu terus memberi pelajaran hingga tujuh orang lagi roboh dengan kulit membiru. Namun, karena jumlah mereka sangat banyak dan pasukan pengawal mulai berdatangan, kakek itu dikepung dengan lebih rapat.

"Bunuh, babat dia!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment