Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 126

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 126

"Jangan biarkan menyambar-nyambar!"

"Ha-ha, kalian tak tahu siapa aku. Boleh bunuh dan babat kalau bisa, kecoa-kecoa busuk. Tapi lihat bahwa aku sekarang menjadi seribu."

Si kakek meledakkan tangannya, bayangannya bergerak-gerak lebih cepat, dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah menjadi seribu orang. Ketika pengeroyok terkejut karena jumlah si kakek yang amat banyak, mereka justru dikeroyok. Menghadapi empat sampai enam orang seperti kakek gimbal itu, seratus orang kang-ouw tersebut berteriak dan tunggang-langgang.

"Iblis, kakek ini bukan manusia! Dia iblis!"

"Benar, hati-hati, kawan-kawan. Kita menghadapi siluman!"

"Kerahkan pasukan, keroyok... aduh!"

Para pengeroyok yang berteriak dan jatuh bangun akhirnya buyar dan kacau tidak karuan. Mereka kini malah dikeroyok seribu kakek gimbal yang terkekeh-kekeh dan meledakkan rambutnya. Setiap disabet, tentu mereka terjungkal. Ketika pasukan terbelalak, kaget, dan pucat melihat kakek itu berubah menjadi seribu orang, seratus orang kang-ouw itu tiba-tiba roboh dan tumpang-tindih. Tak ada satu pun yang selamat.

"Serbu, panggil Kedok Hitam!"

Pengawal terkesima. Mereka terpukau dan terkejut oleh kehebatan kakek ini. Si kakek bukan manusia, melainkan rupanya benar-benar siluman. Tapi ketika terdengar bentakan dan laki-laki yang tadi bicara dengan sang komandan memberi aba-aba, dari belakang tiba-tiba berkelebat bayangan seorang gadis cantik. Pengawal tergugah, dan gadis itu sendiri sudah menyambar serta menukik seperti burung.

"Siapa pengacau di sini? Berani mencari mampus!"

Si kakek terkejut. Dia sudah mengubah dirinya menjadi seribu bayangan, namun gadis yang baru datang menyambar ini langsung menuju ke inti tubuhnya. Gadis itu tidak ke mana-mana, melainkan langsung menukik ke tengah, karena memang di situlah ia berada. Ketika gadis itu membentak dan sebuah pukulan menyambar dingin, tentu saja ia menangkis. Gadis itu terpental, sementara kakek itu sendiri terhuyung.

"Dukk!"

Gadis ini adalah Yu Yin. Ia berteriak tertahan ketika terlempar di udara, membentur tangan yang kuat dari kakek gimbal itu. Tapi ketika gadis ini berjungkir balik dan menyerang lagi, ia langsung mencabut pedangnya. Sinar hitam menyambar-nyambar mengelilingi kakek itu.

"Ah, silat pedang yang bagus. Ha-ha, ilmu pedang yang lihai!"

Gadis itu terkejut. Si kakek mengelak dan menghindar ke sana-sini sementara kuku-kuku jarinya mulai bergerak, *crang-cring-crang-cring*, menangkis pedangnya bila dikejar tak sempat mengelak. Ketika pengawal menyerbu dan membantunya, kakek itu tak menjadi seribu lagi. Gadis ini membentak dan bertanya siapa lawannya itu.

"Ha-ha, aku adalah aku. Aku adalah calon nomor satu yang akan menumpas pemberontak Chu Kiang. Aku calon pelindung kaisar nomor wahid. Siapa kau dan bagaimana ilmu pedangmu demikian bagus!"

"Keparat!" Yu Yin melengking. "Kau tua bangka tak tahu malu, orang tua. Orang nomor satu di tempat ini adalah guruku, si Kedok Hitam. Kau bukan apa-apa!"

"Wah, kau murid si Kedok Hitam? Mana gurumu itu? Ha-ha, kebetulan, bocah. Aku memang mencarinya karena ingin mengadu kepandaian. Hayo suruh dia keluar dan nanti kutundukkan dia!"

Yu Yin menjerit marah. Ia disampok miring dan hampir saja pedangnya terlepas dari tangan. Bunyi "cring" dari kuku jari kakek itu amatlah kuat, pedangnya tergetar dan terpental. Tapi karena di situ banyak pengawal yang menyerbu membantu, seratus orang kang-ouw itu merintih dan mengerang-erang di sana. Kakek ini tertawa bergelak ketika dikeroyok dan dihujani serangan. Ia mengelak dan berkelebat ke sana-sini, sementara pengawal didorong atau dipukul mundur.

Mereka itu tak ada yang mampu mendekati kecuali gadis cantik ini, murid si Kedok Hitam. Ketika ia mulai gembira karena orang yang dicari-cari tentu segera akan bertemu, kakek ini melecutkan rambut gimbalnya dan robohlah delapan pengawal yang berteriak mengaduh.

"Hayo, minggir semua!"

Delapan orang itu terlempar. Mereka memang bukan tandingan kakek ini dan ia bergerak ke arah pengawal-pengawal yang lain. Yu Yin masih terhuyung dan membetulkan letak posisinya, ia hampir saja mencelat. Ketika gadis itu membelalakkan mata, kaget, serta marah karena para pengawal didorong atau dijungkir balik, ia menerjang lagi dan kakek itu terkekeh menyambut serangan pedangnya.

"Bagus, bagus, ulet dan tak kenal menyerah. Tapi sekarang aku akan merobohkanmu... plak!"

Pedang yang diterima dan digubat rambut tiba-tiba terhenti dan tersentak di tangan Yu Yin. Gadis ini melancarkan bacokan dari samping, tapi si kakek menyambut dan menerimanya dengan enak; rambutnya meledak dan kini sudah menggubat pedangnya. Ketika pedang ditarik namun gagal, Yu Yin pucat dan kaget, maka jari kakek itu nyelonong dan tepat mengenai ketiaknya.

"Bluk!"

Yu Yin roboh dan terbanting. Gadis itu tepat sekali tertotok dan si kakek terbahak-bahak, mengira gadis itu tak dapat bergerak lagi. Tapi ketika Yu Yin mengeluh dan mampu bergulingan menjauh, meloncat, dan bangun di sana, maka kakek itu tertegun dan membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Eh, kau bocah aneh. Masa totokanku tak persis mengenai?"

Yu Yin memekik dan menerjang si kakek. Ia telah mempergunakan ilmunya yang disebut *Pihiat* (Tutup Hawa Lindungi Jalan Darah). Ia sudah waspada ketika kakek itu tadi menotoknya, maka begitu tertotok namun selamat, ia telah menutup jalan darahnya. Kakek itu tertegun dan mendecak, diserang tapi mengelak, dan secepat itu pula ia kembali menotok. Tapi ketika totokannya gagal dan Yu Yin hanya kesakitan, terbanting, dan menjerit bergulingan, sadarlah kakek itu bahwa gadis ini memiliki *Pihiat*.

"Ha-ha, kiranya ilmu menutup jalan darah. Wah, hebat dan luar biasa kau ini, bocah. Dan aku mulai percaya bahwa gurumu itu pasti hebat sekali!"

"Tak usah banyak cakap!" gadis itu melengking. "Tak dapat merobohkan muridnya berarti tak dapat pula mengalahkan gurunya, kakek siluman. Hayo maju dan totok aku lagi!"

"Wehh!" kakek itu terbahak-bahak. "Kau hebat dan mengagumkan. Tapi aku tentu dapat merobohkanmu. Tak dapat kutotok, tentu dapat kupukul. Baik, apa boleh buat aku harus memberimu pelajaran keras... siap!"

Si kakek yang lenyap mempergunakan ilmu silumannya tiba-tiba menghilang dan entah berada di mana. Yu Yin sedang bergulingan meloncat bangun dan tertegun tak melihat kakek itu. Ia terkesiap, celingukan, dan pucat. Tiba-tiba kakek itu muncul di belakangnya.

"Heh-heh, aku di sini, anak manis. Maaf aku terpaksa memukulmu pingsan!"

Yu Yin kaget. Ia melihat kakek gimbal itu sudah berada di belakangnya, sangat dekat, dan tahu-tahu menepuk tengkuknya. Tak mungkin lagi ia mengelak!

Namun, ketika gadis itu menjerit dan tangan si kakek tiba, seberkas cahaya putih menyambar dan menghajar kakek itu.

"Lam-ciat (Hantu Selatan), jangan main-main di sini!"

Kakek itu terkejut. Ia sedang melancarkan serangan ketika tiba-tiba sinar putih yang amat dingin menyambar punggungnya. Hawanya terasa dingin dan begitu menyeramkan! Karena hawa ini jauh lebih berbahaya dibanding serangannya kepada gadis itu, kakek ini membentak dan meledakkan kedua tangannya, lalu menghilang.

"Crat!"

Hawa dingin itu menghajar pohon di depan. Pohon itu tumbang dan keluarlah suara hiruk-pikuk. Yu Yin tertegun karena tahu-tahu sudah disambar seseorang, berdiri, dan selamat dari timpaan pohon. Di situ sudah tegak dengan muka merah gurunya yang luar biasa, Kedok Hitam!

"Suhu...!"

Sang guru tak menjawab. Kedok Hitam telah menyelamatkan muridnya dan kini berdiri melindunginya. Para pengawal girang melihat laki-laki ini muncul. Tokoh itu telah datang!

Ketika Yu Yin juga girang karena selamat dari pukulan lawan, ia tertegun mendengar bentakan gurunya tadi. Menyambarlah sinar kuning emas ke arah gurunya ini; bayangan si kakek yang penasaran kini membalas. Sinar putih dari golok yang menyambar telah lenyap di punggung laki-laki berkedok hitam ini.

"Kedok Hitam, kiranya kau. Ha-ha...!"

Kedok Hitam mengelak. Sinar kuning itu menyambarnya namun ia tak menangkis, hanya menggerakkan tangannya ke kiri. Ketika sinar kuning itu meledak tapi Kedok Hitam sendiri juga terhuyung, Yu Yin di belakangnya terpental, maka kakek itu terbahak-bahak dan tampaklah ia kini tergetar di depan.

"Dess!"

Para pengawal mencelat. Kakek itu telah muncul lagi dan melepas pukulan, menyerang atau membokong lawannya, namun Kedok Hitam mengetahui, membalik, dan menangkis. Ketika mereka sama-sama mundur dan Kedok Hitam terbelalak, maka Lam-ciat, kakek gimbal itu, mendapat teguran.

"Hantu Selatan, tak perlu main-main di sini. Kalau kau ingin membuat onar maka kau akan mampus. Nah, apa maumu dan kenapa kau membunuh komandan itu!"

"Ha-ha, komandan busuk itu? Ia patut mampus. Ia menipuku, Kedok Hitam, menyatakan hendak mempertemukan aku dengan kaisar, tapi nyatanya malah dibawa ke tempat ini. Huh, kalau ia punya nyawa rangkap, aku justru ingin membunuhnya lagi!"

Ia gemas memandang komandan yang tadi membawanya itu. Ia kemudian menghadapi lagi si Kedok Hitam dengan mata yang bersinar-sinar.

"Aku ingin mengisi lowongan kerja."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment