Chapter 127
Kabarnya kau kewalahan menghadapi pemberontak Chu Kiang dan kini aku ingin maju membantu. Apa yang akan diberikan istana dan berapa bayaranku?
"Hm, kau datang untuk maksud ini! Membunuh? Ia menipuku, Kedok Hitam, dan itu patut untuknya. Kalau kau tak terima, aku siap menerima kemarahanmu. Ayo, kita bertanding dan boleh tentukan siapa yang lebih lihai!"
"Kakek kurang ajar!" Yu Yin tiba-tiba membentak. "Tangkap dan bunuh kakek ini, Suhu. Dan gunduli kepalanya yang gimbal itu. Rambutnya bau!"
"Ha-ha, ini muridmu yang luar biasa," si kakek tidak peduli, malah kagum. "Hebat benar kau mempunyai murid seperti ini, Kedok Hitam. Tapi kalau boleh, biarkan ia bersamaku, akan kugembleng lebih hebat!"
"Cih, menjadi muridmu? Melawan guruku saja kau sudah tunggang-langgang, Kakek Siluman. Jangan bicara macam-macam yang membuat perutku mau muntah. Kau kakek jijik yang apek dan bau!"
"Ha-ha, nanti bersamamu tentu tak apek atau bau lagi. Kau dapat menggosok tubuhku supaya bersih. Ha-ha, kau gadis cantik yang suka berceloteh seperti monyet!"
"Kurang ajar!" Namun, ketika Yu Yin hendak menerjang dan dicekal gurunya, Kedok Hitam mendengus dan menahan muridnya itu agar laki-laki ini menghadapi lawannya.
"Lam-ciat, tak usah bicara dengan anak kecil. Kau telah mampu merobohkan semua peserta orang-orang kang-ouw, tanda bahwa kepandaianmu lumayan. Kalau kau benar-benar ingin mengabdi dan membantu istana, tentu saja dapat diterima. Tapi imbalan atau kedudukannya tentu harus sesuai dirimu!"
"Maksudmu?"
"Kau harus diuji..."
"Uwah, sudah kudengar itu!"
"Tidak, nanti dulu, Lam-ciat. Ujian untukmu bukan di sini, melainkan di lain tempat. Kalau kau berani dan lulus, maka kau diterima..."
"Uwah, ha-ha... apa-apaan ini! Apa maumu dan mana Sri Baginda Kaisar? Aku ingin menghadap!"
"Tanpa aku, tak mungkin kau bisa menghadap. Maksud dan kedatanganmu diterima istana, Lam-ciat. Namun, berhasil atau tidak, kau masih harus diuji. Mari ke tempatku dan kita bicara di sana!"
Kakek gimbal itu tertegun. Kedok Hitam sudah mengenalnya dan itu berarti bahwa tokoh istana ini memang hebat. Tadi pun ia sudah merasakan kelihaiannya; golok yang berkelebat dan lenyap lagi di punggung lawannya itu benar-benar digerakkan oleh sebuah tangan yang lihai. Kalau ia tidak berhati-hati, barangkali ia sudah roboh, meskipun roboh karena sebuah serangan curang.
Namun, karena ia sendiri juga bukan manusia baik-baik dan semua yang ada di situ terkejut mendengar namanya—inilah Hantu Selatan yang kesohor di wilayahnya sana—maka pengawal maupun orang-orang kang-ouw yang ada di situ tergetar. Dulu, tokoh ini tak pernah mencampuri urusan negara; ia malang-melintang seorang diri untuk kepentingannya sendiri. Tapi karena sudah belasan tahun tokoh ini tak pernah muncul lagi dan menghilang begitu saja, orang dibuat heran dan kaget ketika tiba-tiba saja malam itu ia muncul.
Apa yang menjadi sebab? Mungkin karena keinginannya untuk mendapat kedudukan, hidup mewah, dan senang di istana. Lam-ciat sudah belasan tahun menghilang, kini tiba-tiba ia membuat semua orang tertarik perhatiannya. Ia adalah kakek iblis yang memiliki *Hoan-eng-sut* (Sihir Menukar Bayangan). Karena ia adalah Lam-ciat, tak heran kalau tadi ia telah mengubah dirinya menjadi seribu orang yang membuat lawan-lawannya jatuh bangun.
Lam-ciat memang hebat dan karena itu terdengarlah bisik-bisik kagum setelah semua orang mengetahui siapa dirinya. Tapi ketika ia diajak Kedok Hitam dan tokoh istana itu mempersilahkannya ke gedungnya, kakek ini tampak ragu. Maka, Kedok Hitam mengeluarkan suara dari hidung dan mengejek kakek itu.
"Lam-ciat, kau takut ke tempat tinggalku? Kau masih ragu dan bimbang menerima tawaranku? Hm, kalau begitu batalkan saja niatmu bekerja di sini, Kakek Siluman, dan pulang atau kembali saja ke selatan!"
"Ha-ha, siapa takut! Seribu Kedok Hitam pun tak perlu membuat aku takut! Mari, aku hanya waspada akan undanganmu ini, Kedok Hitam. Kau telah terkenal licik dan culas terhadap lawan. Aku hanya berhati-hati!"
"Kau bukan lawan, kau calon kawan," Kedok Hitam tertawa mengejek. "Kalau kau lawan, tentu aku akan menyerangmu di sini, Lam-ciat. Sudahlah, kau mau bicara di tempatku atau tidak? Aku tak ingin diketahui banyak orang!"
"Suhu mau bicara apa?" Yu Yin tiba-tiba melompat dan tak puas. "Kakek ini telah menghina dan merendahkan aku, Suhu. Hajar dan pukul dia dulu, baru kemudian bicara!"
"Ha-ha, gurumu tak akan sesembrono itu," si kakek tertawa bergelak. "Dia tahu siapa aku, bocah, dan diakui atau tidak, aku adalah calon kawan yang dapat diandalkan. Eh, kau diam saja dan jangan berceloteh!"
"Keparat!" gadis itu melengking. "Aku bukan monyet, Kakek Iblis. Dan kaulah yang monyet karena rupamu gimbal!"
"Ha-ha, tapi aku suka padamu. Kau dapat menjadi monyet cilik kalau suka... wut!" Kakek itu bergerak dan menyambar gadis ini dengan cepat. Yu Yin terpekik kaget. Untuk kedua kalinya gadis itu akan ditangkap; sekali kena, tentu ia tak berkutik. Tapi ketika Kedok Hitam bergerak dan membentak kakek itu, menangkis dan melindungi muridnya, maka untuk kedua kalinya pula lengan dua tokoh ini beradu.
"Dukk!" Lam-ciat terhuyung dan lawannya pun terdorong setindak. Kedok Hitam memandang marah dan Hantu Selatan itu pun terbelalak. Tapi ketika Kedok Hitam berseru agar kakek itu tidak merusak suasana—karena tuan rumah sudah menyambut baik-baik—maka kakek itu terbahak dan memuji lawannya.
"Hebat, kau benar-benar tidak bernama kosong, Kedok Hitam. Baiklah, aku mengikuti dirimu!"
"Mari, dan kuharap kau tak main-main lagi. Muridku bukan tandinganmu!" Kedok Hitam berkelebat membawa lawannya ke barat istana, pengawal dan orang-orang lain disuruh mundur. Kakek gimbal itu telah berada di suatu ruangan indah dan dipersilakan duduk.
Kedok Hitam mengusir muridnya. "Aku hendak bicara berdua dengan kakek ini. Harap kau pergi."
Yu Yin melotot tak puas. Ia hendak memprotes, tapi sorot mata gurunya memancarkan kewibawaan besar. Gurunya itu benar-benar ingin berdua dan tak mau diganggu. Ketika gadis itu pergi dan si kakek tersenyum menyeringai, Lam-ciat bertanya apa yang hendak dibicarakan lawannya itu dan ujian apa yang hendak ia terima.
"Kau aneh-aneh saja, kenapa mengusir semua orang termasuk muridmu itu? Apakah kau tidak khawatir kalah menghadapi aku?"
"Hm, kau tak perlu sombong. Kepandaianmu telah kuketahui, Lam-ciat. Dan *Hoan-eng-sut*-mu itu tak perlu kutakuti. Aku dapat menandingimu..."
"Ha-ha, kalau begitu mari bertanding, tanganku juga sudah gatal!"
"Tidak, aku perlu menghemat tenaga, Lam-ciat, dan kau pun juga begitu. Aku hendak memberitahumu bahwa seseorang yang amat lihai akan kita hadapi. Kita tak perlu membuang-buang tenaga secara percuma!"
"Hm, siapa gerangan? Kau tampaknya serius dan bersungguh-sungguh!"
"Aku memang bersungguh-sungguh, dengarlah!" Tuan rumah yang matanya bersinar tajam memandang lawannya lalu mulai memberi tahu, "Kau sudah diterima sebagai calon pembantu yang penting di sini, dan untuk itu kau tentu saja harus menunjukkan jasa. Kebetulan aku menghadapi masalah berat, Lam-ciat. Bocah andalan Chu-goanswe menantangku bertanding dalam waktu singkat ini. Dan kau barangkali sudah mendengar atau tahu siapa bocah itu!"
"Hm, aku hanya mendengar berita selentingan saja. Tapi, kalau tidak salah, dialah keturunan Si Golok Maut! Apakah benar?"
"Benar, dan kepandaiannya luar biasa. Kau barangkali tak dapat menang!"
"Ha-ha, kaulah yang lari terbirit-birit!" kakek itu tertawa bergelak. "Kudengar kabar bahwa orang yang amat kautakuti adalah keturunan Sin Hauw itu, Kedok Hitam, dan ia telah mengobrak-abrik istana. Kiranya kau hendak mengadu aku dengan bocah itu!"
"Hm, kau cerdas, tapi tak perlu mengejek," Kedok Hitam merah mukanya. "Aku bukan terbirit-birit, Lam-ciat, melainkan mencari akal waktu itu. Sayang, ketika aku keluar lagi, bocah itu bersama pemberontak Chu sudah lari meninggalkan istana!"
"Ha-ha, karena harus menyelamatkan kawan-kawannya..."
"Hm, kau tak usah meledek. Kalau kau sanggup mengalahkan bocah itu, aku mau menyerahkan kedudukanku kepadamu. Jangan sombong!"
"Wah, betul?" si kakek berjingkrak. "Aku memang ingin menjadi orang nomor satu di istana, Kedok Hitam. Kalau aku dapat mengalahkan bocah itu, maka kau memang di bawahku. Ha-ha, aku dapat merobohkan keturunan Si Golok Maut itu. *Hoan-eng-sut*-ku mampu membunuhnya!"
"Kau boleh coba," tuan rumah tertawa mengejek. "Kalau kau dapat membunuh pemuda itu, maka inilah jasa besar bagi istana, Lam-ciat. Aku akan melapor pada Sri Baginda untuk memberikan kedudukan dan kekuasaan sebagai pengawal nomor satu. Tapi kau belum membuktikan omonganmu, dan kau tak boleh besar kepala dulu!"
"Ha-ha, mana bocah itu? Aku jadi tak sabar menemuinya. Hayo, mana keturunan Si Golok Maut Sin Hauw itu dan kutelan batok kepalanya!"
"Kau akan menemuinya lagi tiga hari kemudian," Kedok Hitam tersenyum bersinar-sinar. "Dan karena baru saja aku menerima tantangannya, maka sungguh kebetulan kalau kau datang ke sini, Lam-ciat. Hadapi dan bunuh pemuda itu di hutan sebelah selatan. Ia akan datang dan kau boleh mewakili aku kalau begitu. Tapi awas, ada orang ketiga yang akan melihat pertandingan ini!"
"Uwah, siapa itu? Apakah pemberontak bermarga Chu?"
"Bukan... bukan orang bermarga Chu itu, melainkan ketua Hek-yan-pang."
"Heh, murid dari Hek-yan Tai-bo itu? Ha-ha, kecil bagiku, Kedok Hitam. Sekali pencet tentu mampus!"
"Kau rupanya sudah terlalu lama tidak keluar ke dunia kang-ouw," Kedok Hitam mengerutkan keningnya. "Bukan Hek-yan Tai-bo, Lam-ciat, melainkan pendekar gagah perkasa, Si Pedang Matahari Ju Beng Tan!"
"Ha, Pek-jit-kiam Ju Beng Tan? Bukankah ia murid Kakek Dewa Bu-beng Sian Su?"
"Hm, kau sudah terlalu lama menyembunyikan diri, Lam-ciat. Kau tak tahu bahwa dua orang murid Hek-yan Tai-bo itu masing-masing telah mendapat jodoh. Yang pertama dengan mendiang Si Golok Maut itu, sedang yang kedua dengan Si Pedang Matahari ini."