Chapter 128
"Hek-yan-pang sekarang diketuai pendekar itu!"
"Hm, hebat kalau begitu, dan aku benar-benar tak tahu perubahan dunia kang-ouw. Tapi aku tak takut, asal kakek jahanam Bu-beng Sian-su tidak maju sendiri, tentu aku dapat mengalahkan pendekar itu!"
"Kau bukan bermusuhan dengan si Pedang Matahari, Ju Beng Tan. Kau berhadapan dengan keturunan Si Golok Maut, Sin Hauw!"
"Ya, ya, aku tahu. Tapi siapa pun lawanku, aku tak gentar, Kedok Hitam. Dan akan kubabat mereka!"
"Hm, bagus. Kalau begitu kita membagi tugas. Tiga hari lagi aku akan bertemu pemuda itu dan wakililah aku menghadapinya. Aku di belakang!"
"Dan kau, kenapa di belakang? Apa yang kau lakukan?"
"Aku akan menyiapkan diri kalau kau kalah..."
"Ha-ha!" si kakek gimbal tertawa bergelak, memutus omongan orang. "Kau jangan merendahkan aku, Kedok Hitam. Kau telah kalah, tapi aku belum. Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa pemuda itu dapat kuatasi. Kau tak perlu khawatir!"
"Hm, takabur sebelum ada bukti adalah congkak, Lam-ciat. Kau boleh bersombong kalau kau benar-benar dapat mengalahkan pemuda itu. Tapi kalau kau tidak kalah, maka si Pedang Matahari, Ju Beng Tan, harus kita waspadai. Ia cenderung membela pemuda ini daripada kita!"
"Hm, aku tak takut. Akan kuhadapi pula lawanmu itu!"
"Kau memang akan menghadapi siapa saja yang bersekutu dengan pemberontak. Aku belum membuktikan pendekar itu memusuhi kerajaan, tapi kau harus hati-hati, ada istrinya pula di sana!"
"Hm, siapa lagi? Dan apakah pemberontak she Chu juga ada di sana?"
"Aku kira tidak. Pemuda ini telah menantangku secara pribadi, dua orang tanpa ikut campurnya orang lain. Tapi aku tak mau kali ini gagal, Lam-ciat. Dan aku ingin membunuh pemuda itu karena dia adalah orang yang amat berbahaya. Chu Kiang menungganginya!"
"Ya, ya, aku tahu. Tapi bagaimana rencanamu sekarang? Apakah benar tiga hari lagi pemuda itu baru muncul? Bagaimana kalau dipercepat?"
"Maksudmu?"
"Aku tak sabar menunggu waktu itu, Kedok Hitam. Bagaimana kalau sekarang saja aku berangkat dan kita tantang dia!"
"Hm," Kedok Hitam tiba-tiba berkilat girang, pandang matanya memancarkan sesuatu yang licik. "Aku menemukan akal bagus, Lam-ciat. Bagaimana kalau besok saja kau cari dan temui pemuda itu? Tantang dan robohkan dia sebelum hari pertandingan tiba!"
"Wah, kau setuju?"
"Kenapa tidak? Kalau kau ingin cepat-cepat menemui lawanmu itu, maka aku pun juga ingin cepat-cepat melihat pemuda itu dilenyapkan, Lam-ciat. Besok kau pergi dan boleh cari dia!"
"Ha-ha, kalau begitu bagaimana dengan upahku? Sekarang aku ingin tahu apa yang akan kudapat bila aku berhasil melenyapkan pemuda itu!"
"Aku menyerahkan kedudukanku kepadamu. Kau boleh menjadi orang nomor satu di sini dan seabrek hadiah lagi dari kaisar!"
"Ha-ha, dan kau orang nomor dua?"
"Kalau kau berhasil. Tapi kalau gagal, jangan-jangan nyawamu melayang!"
"Ha-ha, nyawaku kusimpan baik-baik, Kedok Hitam. Aku memiliki Hoan-eng-sut untuk menyelamatkan diri. Aku tak mungkin gagal!"
"Kalau begitu bagus, beristirahatlah dan kulaporkan hal ini kepada ongya!"
"Eh, kau mau ke mana?" si Hantu Selatan terkejut. Kedok Hitam sudah berdiri dan siap meninggalkannya. Namun, ketika laki-laki itu tertawa dan berkata bahwa dia akan menghadap junjungannya, Coa-ongya, maka kakek itu ditinggal di situ menempati gedung si Kedok Hitam ini.
"Kau telah berjanji, dan kita adalah sahabat. Pakai dan tinggal saja di gedungku ini karena aku akan menghadap ongya."
"Aku ikut!"
"Hm, kau bukan anak kecil yang harus selalu ikut ke mana-mana, Lam-ciat. Ongya tentu masih takut berhadapan denganmu sebelum aku memberi laporan. Kau tinggal saja di sini dan aku pergi dulu!"
"Tapi aku ingin bertemu sri baginda!"
"Besok juga dapat. Tinggallah di situ dan lihat pelayan datang melayanimu!"
Ketika benar saja dua dayang cantik datang dan merunduk ke situ, Kedok Hitam telah memanggil. Kakek ini tertegun dan tuan rumah pun berkelebat keluar. Kedok Hitam tertawa dan menyeringailah kakek itu melihat dua dayang ini. Ketika mereka datang mendekat dan meletakkan minuman, si kakek bersinar-sinar. Ia menepuk pantat dua wanita itu dan terkekeh minta dipanggilkan pula dua pelayan laki-laki.
"Heh-heh, aku telah mendapat kehormatan. Bagus, bagus... Kedok Hitam tahu kesukaanku. Eh, temani aku minum-minum di sini, anak manis. Tapi panggil dua temanmu laki-laki dan kita bersenang-senang!"
"Locianpwe minta ditemani?" dua dayang itu terkejut. "Bukankah sudah ada kami berdua?"
"Ha-ha, kurang yang laki-laki, anak manis. Aku tak biasa berpasangan sendiri. Panggil dua temanmu laki-laki dan temani aku minum-minum!"
"Ah, tapi Kedok Hitam..."
"Tak perlu takut padanya. Aku telah diberi hak dan kebebasan tinggal di sini. Ayo, panggil dua temanmu laki-laki atau nanti aku marah!"
Dua pelayan cantik itu terbelalak. Mereka tadi datang setelah mendapat isyarat dari si Kedok Hitam, tersenyum-senyum dan tahu apa yang harus dilakukan, meskipun diam-diam jijik melihat kakek gimbal itu. Tugas mereka adalah melayani. Kakek ini telah membuat gempar di luar! Maka dengan terkejut tapi juga girang, permintaan kakek itu sungguh tak disangka. Tiba-tiba dua pelayan ini berhamburan dan masing-masing bersicepat mencari dua pelayan laki-laki, masuk, dan tak lama kemudian sudah membawa apa yang dimaksud.
Lam-ciat tertawa-tawa melihat dua pelayan muda terbelalak di situ. Dia sedang minum arak dari apa yang baru saja disuguhkan dua pelayan wanita tadi. Dan ketika ia menarik kursi dan menggapai, minta agar keempatnya duduk menemani, maka dua pelayan laki-laki tertegun, tapi yang wanita sudah terkekeh dan duduk lebih dulu, tahu akan kebiasaan orang-orang kang-ouw yang aneh-aneh.
"Sie-twako, locianpwe ini mengundang kita untuk menemani minum-minum. Mari, duduk dan mendekatlah!"
"Benar, dan Kedok Hitam menyuruh kita melayani baik-baik locianpwe ini, ah twako. Ayo, duduk dan kita ngobrol-ngobrol!"
"Ha-ha, benar. Kalian maju dan mendekatlah, jangan takut-takut. Aku ingin kalian menghibur aku!"
Lam-ciat yang terbahak dan girang melihat keberanian dayang perempuan, sudah meraih dan menyambar seorang di antaranya. Itu adalah yang paling genit dan berani, tadi sewaktu masuk pun matanya sudah meliar-liar dan merangsangnya untuk menggoda. Dan ketika sekali sambar ia telah meraih dan mendudukkan pelayan wanita ini di pangkuannya, maka kakek itu mencium dan terdengar bunyi kecupan keras ketika bibir dan mulutnya bertemu pipi si dayang.
"Ha-ha, kau benar, anak manis. Mari, mari, dan beri ucapan selamat datang kepada Lam-ciat. Aku calon orang nomor satu di sini... ngok!"
Pelayan itu menggelinjang. Ia mula-mula terkejut dan takut ketika tahu-tahu disambar, duduk, dan sudah di pangkuan kakek itu. Tapi ketika si kakek tertawa bergelak dan ia hanya dicium saja, kini didorong dan didudukkan di sebelah kakek itu, maka Lam-ciat sudah menyambar yang lain dan berturut-turut ia mencium pipi keempat pelayan itu, termasuk yang laki-laki!
"Uwah, tegap dan bersih-bersih. Haha, ayo duduk dan minum arak!"
Pelayan laki-laki gemetar. Mereka tadi dipanggil dan mula-mula merasa seram dan ngeri berhadapan dengan kakek ini. Maklumlah, Lam-ciat memang menyeramkan dan ia yang telah membunuh seorang pengawal membuat dua pelayan itu mengkirik. Mereka mula-mula menolak, tapi teman mereka yang wanita memaksa. Kakek itu tidak garang meskipun tampaknya menyeramkan. Dan ketika mereka masuk namun masih merasa ragu-ragu, kakek itu menenggak arak, maka mereka heran dan kaget ketika disuruh duduk, disambar, dan tahu-tahu diciumi pula. Kakek itu mencium mereka, laki-laki dengan laki-laki!
Tapi ketika mereka terkejut dan akan meronta, si kakek tak berbuat lebih jauh dan sudah melepaskan mereka. Meja besar di mana kakek itu menghadapi minumannya sudah dipenuhi oleh mereka berlima.
"Hayo, aku ingin senang-senang... Aku ingin dihibur. Siapa di antara kalian pandai menari?"
"Menari?" dua pelayan wanita melengak, yang paling berani sudah timbul keberaniannya lagi. "Ah, kami tak ada yang pandai menari, locianpwe. Kerja kami sehari-hari adalah pelayan, bukan penari!"
"Ha-ha, kalau begitu minum dulu. Hangatkan tubuh dengan arak ini dan setelah itu kau pasti akan pandai menari. Hayo, minum dan minum dulu!"
Si kakek sudah menyambar empat cawan arak, mengisinya dengan cepat, dan tanpa diketahui empat orang itu, bergeraklah kuku jarinya menyentil bubukan putih. Lam-ciat telah memasukkan sesuatu ke dalam cawan arak itu. Dan ketika ia melemparkan empat cawan ke kiri-kanan, pelayan menjerit namun arak tak ada yang tumpah—itulah demonstrasi kepandaian kakek ini—maka si Hantu Selatan sudah menyuruh semua minum.
"Ayo, iringi aku minum!"
Empat pelayan itu kagum. Mereka tiba-tiba menjadi gembira karena baru pertama kali ini ada tamu yang bahkan melayani mereka, menyuruh duduk bersama dan menikmati pula arak harum! Dan ketika mereka tertawa dan sudah menyambar arak masing-masing, mengiringi kakek itu minum, maka disedotlah bau memabukkan yang membuat mereka semakin gembira.
"Hi-hik, terima kasih, locianpwe. Kau sungguh baik!"
"Ha-ha, aku selamanya memang baik. Ayo, minum dan minum lagi. Tambah kalau kurang!"
"Ah, tapi itu milik locianpwe..."
"Sekarang milik kalian berempat. Ayo minum dan setelah itu menari!"
Lam-ciat sudah mengisi cawan arak itu lagi, melihat empat pelayan itu tertegun tapi sudah merasa gembira melihat kebaikannya. Mereka tak tahu bahwa sesuatu sedang dikerjakan kakek ini, kakek yang amat aneh, luar biasa, dan ganjil. Dan ketika arak dipenuhi lagi namun dua pelayan wanita sudah tak kuat minum, tiga cawan sudah membuatnya pusing, maka kakek itu terbahak-bahak melihat dua pelayan laki-laki juga tampak bingung dan merah mukanya. Sesuatu tampak mulai mempengaruhi mereka, berahi!
"Ayo, ayo minum lagi, anak-anak. Minum dan puaskan kalian!"
Dua pelayan wanita mengeluh. Mereka bangkit dan terhuyung memandang pelayan pria, yang pria pun sudah terbelalak dan memandang lawan jenisnya pula.